hmmm sarjana pertanian kok bisa jadi gubenur bank ya pak.....? kok bukan jadi menteri pertanian?
On 11/17/05, Wardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Burhanuddin Abdullah (1) > Gubernur BI Era Keterbukaan > > Dia Gubernur Bank Indonesia (BI) pertama yang terpilih secara demokratis. > Baginya, menjadi Gubernur BI suatu amanah dan prestasi, sebagai > accomplishment dari perjalanan hidupnya yang meniti karir dari bawah. Hidup > mantan Menko Perekonomian (2001) ini bukan lagi untuk diri dan keluarga > semata, tetapi untuk bangsa, untuk melayani orang banyak. > > Dia Gubernur Bank Indonesia (BI) era keterbukaan. Ia adalah Gubernur Bank > Indonesia (BI) ketujuh setelah Syahril Sabirin, Soedrajat J. Djiwandono, > Adrianus Mooy, Arifin M. Siregar, Rachmat Saleh, dan Radius Prawiro. Hanya > saja, berbeda dengan para pendahulunya, sarjana pertanian lulusan > Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung tahun 1974 ini > > dipilih secara demokratis setelah melalui mekanisme proses uji kepatutan dan > kelayakan (fit and propher test) oleh anggota Komisi IX DPR RI, Senin, 12 > Mei 2003. > > Proses pemilihan dimulai dengan mendengarkan misi dan visi masing-masing > calon gubernur. Miranda S Goeltom mendapat kesempatan pertama di siang hari, > Cyrillus Harinowo mendapat giliran kedua, dan Burhanuddin mendapat > kesempatan paling akhir pada malam hari. > > Kata kunci yang menjadi penentu kemenangan Burhanuddin Abdullah adalah > tatkala menjawab pertanyaan anggota Komisi IX DPR. Ia, dengan terus terang > mengakui bahwa kebijakan moneter BI juga bisa dapat digunakan untuk hal-hal > yang tidak diinginkan dalam menjalankan kehiduan berbangsa dan bernegara. Ia > bahkan memberikan contoh kejadian pada tahun 1965, waktu itu inflasi > menyebabkan Presiden Soekarno turun dari panggung kekuasaannya. Demikian > pula dengan Presiden Soeharto, yang juga turun karena rupiah yang jatuh > merosot. Hal yang sama pernah pula terjadi di Argentina. > > Oleh sebab itu, lanjut Burhanuddin masih menjawab pertanyaan anggota Komisi > IX DPR, bank sentral harus dipimpin oleh orang yang profesional dan > berakhlak baik serta memiliki jiwa negarawan. Mengenai otoritas jasa > keuangan (OJK), yang sebelumnya sudah diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 1999 > tentang BI, Burhanuddin meminta masalah itu ditunda dulu lima hingga 10 > tahun lagi. > > "Kita ini belum siap. Jadi, harus mempelajari lagi. Ada negara lain yang > OJK-nya di dalam bank sentral, berhasil. Tetapi ada juga yang di luar bank > sentral berhasil. Jadi, lebih baik kalau ditunda lebih dulu," ujar > Burhanuddin Abdullah mantap. > > Pria kelahiran Garut, 10 Juli 1947, yang memulai karir pertamanya sebagai > pegawai negeri sipil (PNS) pada Departemen Pertanian (Deptan), malam itu > berhasil mendapatkan kepercayaan maksimal 34 anggota Komisi IX DPR. > Sedangkan dua kandidat lain, Miranda S. Gultom hanya meraih 18 suara dan > Cyrillus Harinowo malah tak mendapatkan satu suara pun. > > Beberapa hari setelah terpilih, 17 Mei 2003 Presiden Megawati Soekarnoputri > mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres), yang menetapkan mantan Menko > Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini sebagai Gubernur BI yang > baru. > > Belum 'habis' > Burhanuddin Abdullah sempat menjabat sebagai Menko Perekonomian, dilantik > pada 12 Juni 2001 menggantikan Rizal Ramli. Namun jabatan itu disandang > hanya beberapa bulan sebab tak lama berselang Presiden Wahid diturunkan oleh > MPR berdasarkan Sidang Istimewa MPR RI, pada akhir Juli 2001. > > Pengangkatan Burhanuddin sebagai Menko Perekonomian sendiri tergolong > mengejutkan, sebab ia sesungguhnya sudah berstatus sebagai pensiunan pegawai > BI sejak akhir 2000. Mantan Ketua Umum Ikatan Pegawai Bank Indonesia (1999), > itu terakhir kali menjabat sebagai Deputi Gubernur BI berdasarkan Keppres RI > No. 218/M Tahun 2000 tertanggal 20 Agustus 2000, ditandatangani oleh > Presiden Abdurrahman Wahid. Ketika itu Burhanuddin dianggap oleh banyak > kalangan perbankan sebagai telah 'kehabisan' karir. > > Namun penikmat buku Dale Carnigie berjudul "How to Win Friends and Influence > People", serta buku-buku "Quick Fix" dari Stephen R. Covey, yang di dalamnya > ada disebutkan bahwa apabila Anda ingin menjadi seseorang, katakanlah > sesering mungkin bahwa Anda akan menjadi seseorang, itu berhasil menjaga > determinasi diri. Buku-buku yang disebutkannya sebagai bacaan masa > kanak-kanak, telah menimbulkan self suggestion yang maha dahsyat dalam diri > Burhanuddin bahwa ia pasti masih akan kembali ke 'habitat' aslinya di BI. > > Dari dua tahun masa 'menganggur' sebelum terpilih menjadi Gubernur BI, jika > saja dihitung dengan hari, praktis hanya tiga bulan saja ia merasakan > jangan-jangan tidak akan kembali ke BI dan 'terkubur' selama-lamanya. > Sedangkan waktu sisanya ia terus pompakan semangat untuk ber-self suggestion > bahwa akan kembali ke BI dan sebagai gubernur pula. Dan itu terbukti benar. > > Berkarier dari bawah > Sejak awal terjun memperebutkan kursi gubernur, dia sudah sangat yakin akan > berhasil memenangkan pertarungan. Dasarnya adalah setelah melihat peta, > melihat kepada diri sendiri, melihat pergaulan yang luas, dan melihat > kecenderungan republik. > > Burhanuddin merasa bakal menjadi pemenang walau keyakinan kuat itu > sesungguhnya secara tersembunyi masih disertai dengan seringnya muncul > kesangsian-kesangsian, atau up and down dari waktu ke waktu. > > Burhanuddin merintis karier di Bank Indonesia sungguh-sungguh dari bawah. > Pertama-tama pada tahun 1981 ia bekerja sebagai Staf Urusan Kredit dan > Urusan Riset Ekonomi & Statistik Bank Indonesia. Lulusan master of arts (MA) > dalam bidang Ekonomi dari Department of Economics, Michigan State > University, AS, tahun 1984, ini kemudian diangkat menjadi Staf Gubernur > Fixed-Term Staff di IMF, berkedudukan di Washington DC, AS berlangsung > antara tahun 1989-1990. Burhanuddin masih tetap bermukim di Washington > antara tahun 1990-1993, ia diangkat sebagai Assistant Executive Director > IMF. > > Kehidupan selama menjalani penugasan dan bermukim di AS pernah meniupkan isu > tak sedap tentang Burhanuddin. Isu itu sengaja dilontarkan pihak-pihak tak > jelas menjelang dan selama pemilihan gubernur BI berlangsung. Ketika itu, > beredar kabar berupa data dari BI bahwa Burhanuddin me-mark up rumah dinas > di Sugarbush Lane, Washington DC seharga 600 juta dolar AS padahal waktu mau > dijual BI tahun 2002 hanya sekitar 450 juta dolar saja. > > Dia tak reaktif menepis isu yang makin gencar beredar justru pada saat > pemilihan gubernur BI tengah berlangsung di dalam Gedung DPR/MPR RI Senayan, > Jakarta. Ia menjawab isu tersebut baru beberapa hari kemudian setelah > terpilih. Di lounge sebuah hotel berbintang lima, kepada wartawan sebuah > harian nasional Burhanuddin bertanya balik apakah rumah itu sudah dijual. > > Ini, menandakan bahwa ia sesungguhnya tak mengikuti perkembangan terbaru > tentang apa yang ditudingkan sebab memang tak terkait dengannya. Burhanuddin > kemudian menegaskan dirinya tak ikut membeli rumah itu. Yang membeli bukan > dia sebab hanya kebagian menempati saja sebagai rumah dinas. > > "Yang beli adalah kantor perwakilan BI New York. Saya itu hanya pegawai, > yang menempati saja setelah dibeli oleh kantor perwakilan BI itu. Sama > dengan rumah-rumah yang di Jakarta. Saya kan seumur hidup kan hanya tinggal > di rumah dinas saja," kata Burhanuddin, sekaligus menepis pula isu lain soal > town house di pinggiran Washington DC, yang diisukan dibeli ternyata telah > diberikan kepada anak yang diakui sebagai sepupu. > > "Ndak ada itu," tegas ayah dari Putik Rindu, Sultan Bestari, Arsy Syaikhan, > dan Rizki Firdaus sebagai buah dari hasil perkawinannya dengan Ike > Yuliawati. > > Penentu 'Rapor' Pemerintah > Burhanuddin banyak menghadapi tudingan saat maju sebagai kandidat gubernur > BI. Maklum, ia adalah calon terkuat di sebuah lembaga yang tak bisa > semena-mena diturunkan oleh lembaga lain apapun selama lima tahun periode > jabatannya. Kepastian itu pernah dibuktikan oleh pendahulu Syahril Sabirin, > yang tetap kukuh sebagai Gubernur BI kendati Presiden Wahid pernah > memasukkannya ke sel tahanan. > > Hal itu sesuai dengan semangat independensi bank sentral yang tertuang > sebagai amanat Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang > membuat sepak terjang lembaga bank sentral ini bisa jadi akan sangat > menentukan rapor setiap pemerintahan yang sedang berkuasa apakah merah atau > biru. > > Karena itulah Burhanuddin selalu harus tegar menghadapi beragam isu dan > fitnah. Sebelum terpilih pun ia seperti sudah menganut filosofi pohon > kelapa. Semakin menjulang ke atas semakin besar terpaan angin namun secara > alamiah semakin kuat pula pohon kelapa menghadapi padahal santan yang > dihasilkan semakin kental saja. Itulah Burhanuddin Abdullah, yang sering > diterpa beragam isu miring namun bersamaan itu posisinya semakin kuat pula > dan memperoleh dukungan luas dari berbagai kalangan. > > Seperti isu tentang Fuad Bawazier, mantan Menteri Keuangan yang > disebut-sebut sebagai figur yang sangat berperan pada terpilihnya > Burhanuddin. Ia menyebutkan bahwa Fuad Bawazier tidak punya peran apa pun. > Secara kategoris Bawazier tidak punya peran apapun. "Yang punya peran besar > dalam kemenangan itu adalah saya," tegas pejabat karir BI yang sekembalinya > dari Washington DC, menempati pos baru di Jakarta walau urusannya tetap > berhubungan dengan urusan luar negeri. > > Burhanuddin adalah Kepala Bagian Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan > Internasional BI, hingga tahun 1995. Sebelum diangkat menjadi Deputi > Gubernur BI 12 Juli 2000, Burhanuddin adalah Wakil Kepala Urusan Luar Negeri > (1996), dan Wakil Kepala Urusan Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI > hingga tahun 1998. Sejak tahun 1998 hingga tahun 2000 Burhanuddin adalah > Direktur Direktorat Luar Negeri Bank Indonesia. > > Kehidupan Burhanuddin yang sangat pribadi pernah pula untuk dicoba digoyang. > Seperti, di sebuah koran daerah, disebutkan, berdasarkan pernyataan salah > seorang pesaing terkuat Miranda S. Gultom tersiar kabar bahwa Burhanuddin > sudah memiliki dua istri. Namun tudingan itu ditanggapi Burhanuddin dengan > menyebutnya sebagai baru wacana. "Boleh kan, punya wacana," katanya singkat > beretorika. > > Demikian pula dengan pernyataan lain Miranda, yang menyebutkan dirinya > dizalimi dalam pemilihan. Salah satu bentuk penzaliman, diantaranya > disebutkan, dengan beredarnya selebaran yang menyudutkan pribadi Miranda. > Burhanuddin mengatakan janganlah dirinya dituduh demikian sebagai orang yang > seolah-olah ikut berperan di situ. > > "Ndak boleh itu. Mungkin itu perasaan saja. Saya tidak ada dan tidak punya > niat serta tidak ada keinginan," aku Ketua Umum ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi > Indonesia) periode 2003-2005, yang terpilih dalam Kongres XV ISEI di Batu, > Malang, 13-15 Juli 2003 dengan mengalahkan Rudjito (Direktur Utama Bank > Rakyat Indonesia), dan Muhammad Jusuf Kalla (Wakil Presiden, ketika itu > masih menjabat Menko Kesra). > > Sebelum pemilihan Ketua Umum ISEI berlangsung, baik Rudjito maupun Jusuf > Kalla sepakat mengundurkan diri dari pemilihan sehingga secara aklamasi > Burhanuddin terpilih sebagai ketua umum baru. Ketika berpidato di depan > sidang pleno, Burhanuddin menyatakan tekadnya akan meningkatkan peran ISEI. > Peranan itu antara lain memberikan pertimbangan pembangunan dan mengarahkan > ISEI sebagai organisasi pembelajaran. Tapi agar ISEI tetap independen dan > kritis, sebagai organisasi intelektual dan profesional, Burhanuddin > mengatakan ISEI akan tetap menjaga jarak dengan pemerintah. > > Ketika pemilihan gubernur BI berlangsung antara Burhanuddin dengan Miranda > Gultom seolah seperti musuh bebuyutan walau di kemudian hari keduanya bisa > membuktikan diri sebagai tim yang solid. Yang satu gubernur satu lagi > akhirnya terpilih sebagai deputi senior gubernur. Namun ketika dahulu > memasuki momen yang sangat menentukan pemilihan gubernur BI nama Burhanuddin > seolah-olah masih berada di bawah bayang-bayang Miranda dalam hal > popularitas. > > Tidaklah heran jika kepada Burhanuddin ada-ada saja muncul tuduhan yang sama > sekali tak logis. Seperti soal bocornya catatan-catatan soal pemenang lelang > SBI di kalangan DPR, yang disebutkan Miranda sebagai ditopang oleh > orang-orang dalam BI padahal itu rahasia negara. > > "Kalau itu berasal dari orang dalam, saya sendiri kan bukan orang dalam. > Yang bukan orang dalam tentu saja saya," ucap Burhanuddin, lugas, selugas > keberhasilannya merengkuh jabatan tertinggi sebuah bank sentral di republik > terbesar keempat penduduk di dunia. > > Antara Burhanuddin Abdullah dengan Miranda Gultom sesungguhnya mempunyai > hubungan sangat baik. Keduanya sering main golf bersama sehingga tidak > pernah ada masalah diantara mereka. Burhanuddin tidaklah yakin benar sumber > berbagai isu itu berasal dari pihak Miranda. Sebab terbukti bukan hanya itu > isu miring yang pernah menimpanya. Perkara penyaluran bantuan atas gempa di > Garut pun nama Burhanuddin ikut digadang-gadang. > > Dia dituding menyetorkan dana bantuan kepada Bupati Garut Rp 50 juta saja, > dari dana Rp 176 juta yang berhasil dikumpulkan dari sejumlah donatur dalam > sebuah acara. Bupati Garut sempat dituduh macam-macam ketika itu padahal > dana ada di tangan Burhanuddin, dan sisanya baru diserahkan setelah ramai. > Uniknya, kendati beredar isu demikian, Burhanuddin malah meluruskan jumlah > dana yang terkumpul adalah Rp 270 juta. Disetorkan ke Bupati yang pertama > untuk bencana Papandayan Rp 50 juta. > > Usai menyerahkan bantuan ia meminta progresnya, sebab dia waktu itu meminta > didirikan kamar mandi, cuci, dan kakus. Kemudian bantuan kedua kali > diserahkan lagi Rp 52 juta, sebagian yang Rp 22 juta dikasihkan kepada > penduduk secara langsung yang mengalami kematian. > > Sisanya lagi langsung dikasihkan ke Bupati, seperti Rp 100 juta diberikan ke > Bupati, termasuk buku tulis, minyak goreng, beras, dan sebagainya sehingga > total Rp 203 juta. Yang Rp 70 juta, sebagian Rp 50 juta untuk proses hukum > class action teman-teman yang terkena musibah, lalu Rp 20 juta yang masih di > tangan itu sudah selesai dibagi-bagikan. "Bagi saya, uang segitu tidak akan > membuat saya kaya. Ha-ha-ha…. Malah membuat saya dosa," cetus Burhanuddin. > > Sudah terpilih sebagai gubernur pun isu tak sedap masih saja tak henti > berhembus. Semisal, keinginan karyawan BI yang mendambakan munculnya sosok > Gubernur BI seperti Rachmat Saleh yang ideal dan tidak primordialis terhadap > karyawan BI. Kemunculan wacana pegawai BI yang demikian seolah-olah > menempatkan Burhanuddin sebagai seorang pribadi yang sangat primordalis. > Atau, dipaksa untuk meniru 100 persen sosok Rachmat Saleh. Mantan Ketua Umum > Ikatan Pegawai Bank Indonesia, itu menyebutkan dirinya hanya ingin menjadi > seorang Burhanuddin Abdullah. > > "Saya pernah mengatakan kepada Rachmat Saleh. Saya katakan you are a living > legend di dunia perbankan Indonesia itu. Tanpa, meniru dia, saya juga punya > keinginan seperti itu," papar Burhanuddin, menyakinkan para karyawan BI yang > sebelumnya pernah dipimpinnya dalam organisasi serikat pekerja. > > Ingin jadi novelis > Itulah Burhanuddin Abdullah. Kekayaan bukan lagi tujuan hidupnya. Karena itu > ia menganggap uang, seperti yang pernah dituduhkan pada kasus dana bantuan > bencana alam Garut, bisa membuatnya dosa. > > Menjadi Gubernur BI dianggapnya sebagai memberikan sesuatu kelebihan yang > ada dalam dirinya untuk melayani orang banyak. Hidupnya bukan lagi untuk > diri dan keluarga semata, tetapi sudah untuk bangsa. Jabatan Gubernur BI > bagi Burhanuddin Abdullah adalah sebuah prestasi, tepatnya sebagai > accomplishment dari perjalanan hidup seseorang seperti dirinya yang meniti > karir dari bawah. > > Namun lebih dari itu jabatan itu sebetulnya juga bukan dianggapnya sebagai > telah berjalan mengikuti ladder (jenjang) dari step (langkah) satu ke step > dua, sampai step yang terakhir sebagai Gubernur BI. > > Melainkan, dia menganggap ada satu titik di dalam perjalanan kehidupan > orang-orang seperti seumurnya yang kemudian merasakan sesuatu harus > diperbuat bukan untuk diri sendiri lagi. Tetapi, sudah untuk yang banyak, > untuk yang lain, berbuat sesuatu yang lain yang bisa disebut sebagai > panggilan. Sebab, jika itu masih dilakukan hanya untuk diri sendiri menjadi > sudah tidak ada artinya. > > "Anak-anak sudah bersekolah, semuanya dengan sederhana bisa disediakan. > Barangkali itulah aktualitas yang sebenarnya, di dalam memberikan kepada > yang lain, bukan di dalam menerima dari yang lain," kata Burhanuddin. > > Sosoknya lumayan diterima pasar karena pandangan-pandangannya yang dinilai > cukup propasar. Mantan Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian pada tahun > 2001 semasa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid ini dinilai sebagai > sosok yang paling sedikit menghadapi resistensi publik dibandingkan dua > calon Gubernur BI yang bersaing dengannya. > > Dia adalah Gubernur Bank Indonesia di era keterbukaan. Sosoknya banyak > dipojokkan namun ia berhasil melewatinya dengan mulus. Dia pun berjanji akan > sungguh-sungguh terbuka memimpin bank sentral ini. Komunikasi dengan semua > pihak akan dibangunnya untuk menghindarkan kesan Bank Indonesia bisa > dijadikan sebagai alat pemukul rejim yang tak propasar. > > Sesudah menjadi Gubernur BI, dia malah menyatakan obsesi baru ingin menjadi > novelis. Ia memang sangat terkesima dengan tulisan Elie Weisel. Apresiasi > singkat terhadap tulisan Elie Weisel disebutnya sebagai bukan main, kecil, > pendek, bahasa Inggrisnya simpel. Judulnya "Twilight" bercerita tentang > pelarian Polandia. Dengan buku itu Elie Weisel mendapatkan hadiah Nobel. "Ia > itu orang Yahudi," kata penyuka buku filosofi Cina karya Lin Yuntang. > ►e-ti/haposan tampubolon, dari berbagai sumber. > > Miranda S. Goeltom > Menjadi Deputi Senior Gubernur BI > > Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini ter pilih kembali menjadi Deputi > Senior, mengggantikan Anwar Nasution. Ia dipilih Komisi IX DPR setelah > melalui rangkaian penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) > yang berlangsung lebih dari 10 jam, Selasa (8/6/2004), dengan memperoleh 41 > suara mengungguli S Budi Rochadi (12 suara) dan Hartadi A Sarwono (1 suara) > dari 54 anggota Komisi IX DPR yang hadir. Jumlah anggota Komisi IX DPR 56, > dua tidak hadir. > > Konon, Miranda mendapat dukungan penuh dari PDI Perjuangan dan Golkar. Namun > pemilihan bukanlah per fraksi tetapi per anggota atau orang per orang. > Menurut Ketua Komisi IX Emir Miranda memang dalam banyak hal cukup unggul > dalam memberikan penjelasan, jawaban, maupun visi dan misinya. > > Dalam penyampaian visi dan misi Miranda menekankan reposisi BI dalam > mendukung perekonomian. Pertama reposisi itu meliputi tantangan perekonomian > dan peranan BI sendiri, di antaranya dukungan BI terhadap pencapaian > kestabilan ekonomi makro dan peningkatan fungsi intermediasi perbankan, > kebijakan suku bunga dan nilai tukar, serta usaha kecil menengah dan Bank > Syariah. Kedua, peranan BI dalam menciptakan stabilitas sistem keuangan dan > kaitannya dengan stabilitas moneter. Ketiga, peningkatan good governance. > > Miss Telat > Alumni FE Universitas Indonesia ini nyaris jadi korban bom di Hotel JW > Marriot Jakarta. Siang itu, ia memang tengah menuju restoran Syailendra di > Hotel JW Marriot itu untuk memenuhi janji makan siang di di hotel itu dengan > Hans WinkelBolen, Direktur Rabo Bank yang akan mengakhir masa tugasnya di > Jakarta. Tapi karena ia telat seperti kebiasaannya -- sehingga > teman-temannya menjulukinya 'Miss Telat' -- ia selamat tak terkena bom. > > Miranda berjanji akan datang pukul 12.00 Wib untuk makan siang itu. Tapi > sampi pukul 12.30 Wib ia masih sedang menuju tempat. Alasannya klasik, > jalanan seputar lokasi itu macet. Sopirnya Zaenal sudah mencoba potong > jalan, tetapi tetap juga telat. Beberapa puluh meter dari hotel itu, ia pun > sempat menelepon Hans memberitahu keterlambatannya karena macet. > > Tiba-tiba terdengar suara ledakan, lalu nyala api menyembur, asap tebal > mengepul dan jerit tangis melengking. Miranda meminta sopirnya putar balik. > Ia bersyukur terhindar dari maut itu. Ia pun mencoba menelepon Hans > berulangkali, tapi tidak ada jawaban. Belakangan diketahui, Hans WinkelBolen > tewas akibat ledakan bom itu. > > Wanita cerdas ini dilahirkan di Jakarta tanggal 19 Juni 1949. Menyelesaikan > pendidikannya sebagai Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia, meraih gelar > Master in Political Economy di Boston University , USA dan gelar Ph D dalam > Ilmu Ekonomi juga di Boston University, USA. Disertasinya berjudul > "Financial Liberalization, Capital Structure, and Investment: An Empirical > Analysis of Indonesian Panel Data, 1981-1988". > > Pengalaman kerjanya di samping sebagai staf pengajar di berbagai lembaga > juga sebagai anggota kelompok kerja Dewan Moneter, anggota Tim Teknis > Pengkajian Proyek Pemerintah, BUMN dan Swasta yang berkaitan dengan > Pemerintah/BUMN, serta sebagai Deputi Asisten Menko Ekku Wasbang, Republik > Indonesia. > > Dengan disahkannya UU No 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, maka > berdasarkan Keppres Nomor 150/M Tahun 1999 tanggal 17 Mei 1999, ia diangkat > menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk masa jabatan selama 4 (empat) > tahun. > > Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri mengajukannya salah satu dari tiga > calon Gubernur Bank Indonesia (BI), untuk menggantikan Syahril Sabirin yang > berakhir masa jabatannya, 17 Mei 2003, yakni Miranda S Goeltom, Burhanuddin > Abdullah, dan Cyrillus Harinowo, Jumat 14 Februari 2003. > > Pada proses pencalonan, terutama proses fit and proper test (uji kelayakan > dan kepatutan) yang dilakukan DPR dirasakannya berlangsung tidak fair. > banyak hal-hal yang menyimpang dari substansi. mantan suaminya, Siregar, > juga mengumbar cerita-cerita kurang baik tentang dia. > > DPR pun terbawa, sengaja atau tidak, ke arah cerita Siregar itu. Dalam > proses fit and proper test yang dimulai sejak pukul 10.00 pagi, > masing-masing calonmenyampaikan misi dan visi. Miranda S Goeltom mendapat > kesempatan pertama, Cyrillus Harinowo mendapat giliran kedua dan Burhanuddin > mendapat kesempatan paling akhir pada malam hari. > > Pemungutan suara berlangsung hingga tengah malam, Senin (12/5/03),. Akhirnya > Burhanuddin Abdullah terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang > baru. Ia meraih 34 suara dari 52 anggota Komisi IX DPR. Miranda S Goeltom > hanya meraih 18 suara dan Cyrillus Harinowo tidak meraih satu suara pun. > > Cyrillus Harinowo > Integritas Seorang Banker > Mantan nominator calon Gubernur Bank Indonesia 2003 ini dikenal memiliki > intregritas dan kredibilitas tinggi dalam dunia perbankan. Berpengalaman > selama puluhan tahun di Bank Sentral (Bank Indonesia) dan IMF sebagai > Alternate Executive Director, membuktikan kehandalannya dalam dunia > perbankan, sekaligus membuat pergaulannya dengan komunitas finansial > internasional sangat luas. > > Meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai Technical Assistance Advisor, > Monetary and Exchange Affairs Departement di Dana Moneter Internasional > (IMF), Washington DC, AS, kemudian tidak berhasil menjabat Gubernur BI tidak > berarti dunia kiamat bagi karier pria yang sudah puluhan tahun melanglang > buana di dunia perbankan ini. Dengan kemampuan, integritas, kredibilitas dan > pengalamannya yang sangat handal itu, akhirnya menarik hati kelompok Farindo > (Farallon dan Djarum) sebagai pemegang saham mayoritas Bank BCA > 'meminang'-nya jadi komisaris di bank tersebut. > > Walupun gagal menduduki jabatan tertinggi di lembaga keuangan negeri ini > namun berhasil menjadi salah satu dari tiga besar pilihan utama bersama > Miranda S.Goeltom dan Burhanuddin Abdullah, telah menunjukkan integritas dan > kredibilitas tersendiri bagi penulis buku Utang Pemerintah: Perkembangan, > Prospek dan Pengelolaannya ini. > > Karena sebelumnya, sejumlah nama yang juga disebut-sebut bakal menjadi calon > Gubernur BI waktu itu, seperti Kwik Kian Gie (Menteri Perencanaan > Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas), Laksamana Soekardi (Menteri Negara > BUMN), Boediono (Menteri Keuangan), ECW Neloe (Presiden Direktur Bank > Mandiri), Jusuf Anwar (mantan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal/Bapepam), > Edwin Gerungan (mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan > Aulia Pohan (Deputi Gubernur BI) masih diunggulinya. > > Masih mengenai integritas dan krediblitasnya. Dalam masalah BLBI (Bantuan > Likuiditas Bank Indonesia) namanya tidak tersangkut dalam daftar 80 orang > yang menurut Badan Pengawas Keuangan. Menurutnya, saat krisis terjadi dia > memegang tanggung jawab operasi pengendalian moneter. Tugasnya menangani > instrumen-instrumen moneter seperti SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan SBPU > (Surat Berharga Pasar Uang). Namun di akhir 1997, karena saldo debet yang > begitu banyak, penanganannya dialihnamakan menjadi SBPU khusus. Jadi bukan > SPBU instrumen yang sehari-hari digeluti operasi pengendalian moneter. > Sehingga, dia tidak mungkin dikaitkan dengan saldo debet itu, karena bukan > termasuk wewenangnya. > > Di bank sentral, ayah empat orang anak, ini memulai karier sejak tahun1978 > sebagai staf perencanaan kredit BI. Pernah menjadi andalan bank sentral > meraih posisi Direktur Eksekutif IMF untuk kawasan Asia Tenggara. Sayang > langkahnya terjegal aturan yang menyebut pejabat BI yang bisa menjadi > Direktur Eksekutif IMF harus pernah menjadi anggota dewan gubernur. > > Dia memang pernah gagal menjadi Deputi Gubernur. Pada Maret, 2000 lewat > proses beauty contest yang berlangsung maraton sejak pukul 20.00 Rabu hingga > pukul 05.30 pagi Kamis, di Komisi IX DPR, Aulia Pohan mengungguli dua > kandidat pesaingnya, yaitu Burhanuddin Abdullah dan dirinya. Dengan begitu, > Aulia Pohan yang waktu itu masih menjabat Deputi Gubernur BI, kembali > menduduki posisi tersebut setelah habis masa jabatannya. Setelah itu dia > sendiri menempati posisi sebagai pegawai utama setingkat direktur di > Direktorat Sumber Daya Manusia. > > Pria yang meraih Sarjana Ekonomi Akuntansi tahun 1977 dari Universitas Gajah > Mada, Yokyakarta ini akhirnya ditugaskan ke IMF Washington sebagai Alternate > Executive Director setelah kurang lebih dua puluh tahun berkarier di Bank > Sentral. > > Mulai November 2000 hingga mencalonkan diri menjadi Gubernur BI, dia > ditunjuk sebagai Technical Assistance Advisor, Monetary and Exchange Affairs > Departement di Dana Moneter Internasional (IMF), Washington DC, AS. > > Kembali ke sekitar pencalonannya jadi Gubernur Bank Indonesia. Pria > kelahiran Yogyakarta 9 Pebruari 1953 ini kala itu baru sepekan lewat dua > hari kembali ke tanah air dari Washington DC, AS. Tiba-tiba datang kabar > dari istana. Sekretaris Negara, Bambang Kesowo memintanya mengirimkan daftar > riwayat hidupnya sekaligus juga diminta menyiapkan diri dalam pencalonan > Gubernur Bank Indonesia. > > "Saya dapat surat cinta," katanya menanggapi kabar dari istana, yang pas > saat 'valentine day' itu. Bahkan dia menyebut tugas berat itu sebagai > 'kejutan yang manis'. > > Menantu Palaoensoeka –anggota dewan dari PDI juga PDI Perjuangan selama 40 > tahun -- ini, sebelumnya yakin akan menggantikan posisi Syahrill Sabirin > sebagai Gubernur BI saat itu. Jika tidak yakin, tentu dia akan berpikir dua > kali mengambil keputusan untuk melepas pekerjaannya sebagai technical > assisttant advisor di lembaga donor dunia (IMF). Apalagi dari pekerjaan itu > dia memperoleh hasil sekitar Rp 1 miliar setahun. Bahkan bukan hanya > pekerjaan yang ditinggal, keluarganya pun ketika itu masih menetap di > Amerika Serikat > > Alumni Doctor in Economic Monetary Vanderbilt, Masschusett Amerika Serikat > (1985), ini berencana akan membawa optimisme bagi bangsa ini jika terpilih > jadi Gubernur BI. Namun persaingan menuju kursi penguasa bank sentral > terbukti tidak mudah. Dewan memilih Burhanuddin Abdullah sebagai Gubernur > Bank Indonesia. Mengalahkannya dan Miranda Goeltom sebagai calon yang > diusulkan Presiden Megawati Soekarnoputri untuk dipilih DPR. > > Namun tidak terpilih menjadi Gubernur BI bukan berarti kariernya tamat. > Tidak lama, > oleh penentu kata akhir dari Farallon di Amerika Serikat dan di Djarum > (Parindo) sebagai pemegang saham mayoritas Bank Central Asia (BCA) > menawarkannya jabatan komisaris. > > Dengan Integritas dan kredibilitasnya yang tinggi, dia memang pantas duduk > sebagai pengawas BCA. "Saya tidak akan mengkompromikan integritas saya di > sini," kata putra Yogyakarta yang selalu bertutur sapa dengan tingkat > kesantunan prima kepada siapa pun. > > Menurutnya, faktor atau alasan yang mendorongnya menerima tawaran tersebut > karena BCA itu merupakan bank aset bangsa. Disamping itu, dua hal yang > menurutnya sejalan dengan misinya, misi pemerintah dan misi Bank Indonesia, > yaitu bagaimana mengembangkan bank ini dan bagaimana mempercepat pertumbuhan > kreditnya. > > Pihak Farallon yang mempercayainya sebagai komisaris berharap, bagaimana > agar BCA dijalankan secara profesional, sebagaimana halnya bank-bank di AS. > Mengenai komitmennya di Bank BCA ini dia mengatakan bahwa sama seperti > harapan masyarakat agar bank ini semakin berguna bagi bangsa. > > Setelah dia masuk, memang dia melihat bank ini kuat sekali sebagai bank > transaksi dengan luas jaringannya. Kekuatannya mengumpulkan dana luar biasa, > ada 6,5 juta nasabah. Itu elemen sangat penting bagi suatu bank. Namun di > sisi penyaluran kredit, boleh dikata kurang aktif. Itulah yang akan mereka > coba lebih perkuat lagi. > > Sebagai indikasinya total kredit BCA yang sudah disepakati untuk dikucurkan > mencapai Rp 29 triliun. Tetapi sampai 26/6-2003, baru terserap oleh nasabah > sebesar Rp 22 triliun sehingga masih ada Rp 7 triliun yang belum terserap. > Dalam hal pertumbuhan kredit ada empat area yang betul-betul dicoba. Keempat > area itu adalah sektor ritel, sektor komersial, sektor konsumen, dan sektor > korporasi. > > Menurutnya, saat ini (Juni 2003) kekuatan BCA itu di level menengah ke > bawah, yakni sektor komersial dan ritel dengan kredit Rp 50 miliar ke bawah. > Tetapi, infrastrukturnya harus dikembangkan sedemikian rupa dengan cepat > sehingga dapat melayani transaksi dengan cepat dan efisien. Mereka akan > mengembangkan sentra-sentra kredit di wilayah tertentu. Bagaimana > sentra-sentra ini bisa cepat mengambil keputusan dalam hal penyaluran > kredit. > > Sedangkan sektor korporat juga harus dikembangkan sedemikian rupa karena > sektor ini juga menurutnya menghadapi persaingan. Maksudnya bukan persaingan > antar bank, tetapi bersaing dengan instrumen obligasi. Nasabah bisa saja > menerbitkan obligasi, lalu melunasi utangnya pada bank sehingga bank harus > mencari nasabah lainnya. > > Mengenai penilaian orang bahwa BCA akan dipakai oleh kelompok Djarum sebagai > kendaraan untuk meraup kredit lebih besar, dia kira itu tidak benar. Sebelum > Farindo (kelompok Farallon dan Djarum) membeli saham pemerintah, Djarum > sudah menjadi nasabah BCA dan kreditnya pun memang sudah besar. Setelah > masuk, jumlah kreditnya justru lebih rendah. > > > > Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? > *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** > > > ________________________________ > YAHOO! GROUPS LINKS > > Visit your group "mm-ugm" on the web. > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > ________________________________ > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/ExDolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
