Di Indonesia ada lelucon yang tentunya sudah basi.... Kita memiliki sebuah Institute yang mencetak berbagai ahli dalam berbagai bidang. Anda pernah tahu atau dengar? Pasti tahu, tapi sering Kura-Kura dalam Perahu sepertinya.....
Betul sekali...yakni IPB, yaitu Institute Pleksible Banget, bisa Institute Perbankan, Institute Perhotelan, Institute Publistik, Perdagangan, Perminyakan dsb. Yang berada di kota "B..."di Indonesia. Wass. Prayudha Moelyo Commercial Agribusiness Unit Jl. HR. Rasuna Said Kav. X-0 lt. 17 Jakarta telp. 021.25517000 ext. 7143 fax. 021. 2525579 -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of vian adzhar Sent: Thursday, November 17, 2005 1:26 PM To: [email protected] Subject: Re: [mm-ugm] OOT ; 3 banker hmmm sarjana pertanian kok bisa jadi gubenur bank ya pak.....? kok bukan jadi menteri pertanian? On 11/17/05, Wardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Burhanuddin Abdullah (1) > Gubernur BI Era Keterbukaan > > Dia Gubernur Bank Indonesia (BI) pertama yang terpilih secara demokratis. > Baginya, menjadi Gubernur BI suatu amanah dan prestasi, sebagai > accomplishment dari perjalanan hidupnya yang meniti karir dari bawah. Hidup > mantan Menko Perekonomian (2001) ini bukan lagi untuk diri dan keluarga > semata, tetapi untuk bangsa, untuk melayani orang banyak. > > Dia Gubernur Bank Indonesia (BI) era keterbukaan. Ia adalah Gubernur Bank > Indonesia (BI) ketujuh setelah Syahril Sabirin, Soedrajat J. Djiwandono, > Adrianus Mooy, Arifin M. Siregar, Rachmat Saleh, dan Radius Prawiro. Hanya > saja, berbeda dengan para pendahulunya, sarjana pertanian lulusan > Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung tahun 1974 ini > > dipilih secara demokratis setelah melalui mekanisme proses uji kepatutan dan > kelayakan (fit and propher test) oleh anggota Komisi IX DPR RI, Senin, 12 > Mei 2003. > > Proses pemilihan dimulai dengan mendengarkan misi dan visi masing-masing > calon gubernur. Miranda S Goeltom mendapat kesempatan pertama di siang hari, > Cyrillus Harinowo mendapat giliran kedua, dan Burhanuddin mendapat > kesempatan paling akhir pada malam hari. > > Kata kunci yang menjadi penentu kemenangan Burhanuddin Abdullah adalah > tatkala menjawab pertanyaan anggota Komisi IX DPR. Ia, dengan terus terang > mengakui bahwa kebijakan moneter BI juga bisa dapat digunakan untuk hal-hal > yang tidak diinginkan dalam menjalankan kehiduan berbangsa dan bernegara. Ia > bahkan memberikan contoh kejadian pada tahun 1965, waktu itu inflasi > menyebabkan Presiden Soekarno turun dari panggung kekuasaannya. Demikian > pula dengan Presiden Soeharto, yang juga turun karena rupiah yang jatuh > merosot. Hal yang sama pernah pula terjadi di Argentina. > > Oleh sebab itu, lanjut Burhanuddin masih menjawab pertanyaan anggota Komisi > IX DPR, bank sentral harus dipimpin oleh orang yang profesional dan > berakhlak baik serta memiliki jiwa negarawan. Mengenai otoritas jasa > keuangan (OJK), yang sebelumnya sudah diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 1999 > tentang BI, Burhanuddin meminta masalah itu ditunda dulu lima hingga 10 > tahun lagi. > > "Kita ini belum siap. Jadi, harus mempelajari lagi. Ada negara lain yang > OJK-nya di dalam bank sentral, berhasil. Tetapi ada juga yang di luar bank > sentral berhasil. Jadi, lebih baik kalau ditunda lebih dulu," ujar > Burhanuddin Abdullah mantap. > > Pria kelahiran Garut, 10 Juli 1947, yang memulai karir pertamanya sebagai > pegawai negeri sipil (PNS) pada Departemen Pertanian (Deptan), malam itu > berhasil mendapatkan kepercayaan maksimal 34 anggota Komisi IX DPR. > Sedangkan dua kandidat lain, Miranda S. Gultom hanya meraih 18 suara dan > Cyrillus Harinowo malah tak mendapatkan satu suara pun. > > Beberapa hari setelah terpilih, 17 Mei 2003 Presiden Megawati Soekarnoputri > mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres), yang menetapkan mantan Menko > Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini sebagai Gubernur BI yang > baru. > > Belum 'habis' > Burhanuddin Abdullah sempat menjabat sebagai Menko Perekonomian, dilantik > pada 12 Juni 2001 menggantikan Rizal Ramli. Namun jabatan itu disandang > hanya beberapa bulan sebab tak lama berselang Presiden Wahid diturunkan oleh > MPR berdasarkan Sidang Istimewa MPR RI, pada akhir Juli 2001. > > Pengangkatan Burhanuddin sebagai Menko Perekonomian sendiri tergolong > mengejutkan, sebab ia sesungguhnya sudah berstatus sebagai pensiunan pegawai > BI sejak akhir 2000. Mantan Ketua Umum Ikatan Pegawai Bank Indonesia (1999), > itu terakhir kali menjabat sebagai Deputi Gubernur BI berdasarkan Keppres RI > No. 218/M Tahun 2000 tertanggal 20 Agustus 2000, ditandatangani oleh > Presiden Abdurrahman Wahid. Ketika itu Burhanuddin dianggap oleh banyak > kalangan perbankan sebagai telah 'kehabisan' karir. > > Namun penikmat buku Dale Carnigie berjudul "How to Win Friends and Influence > People", serta buku-buku "Quick Fix" dari Stephen R. Covey, yang di dalamnya > ada disebutkan bahwa apabila Anda ingin menjadi seseorang, katakanlah > sesering mungkin bahwa Anda akan menjadi seseorang, itu berhasil menjaga > determinasi diri. Buku-buku yang disebutkannya sebagai bacaan masa > kanak-kanak, telah menimbulkan self suggestion yang maha dahsyat dalam diri > Burhanuddin bahwa ia pasti masih akan kembali ke 'habitat' aslinya di BI. > > Dari dua tahun masa 'menganggur' sebelum terpilih menjadi Gubernur BI, jika > saja dihitung dengan hari, praktis hanya tiga bulan saja ia merasakan > jangan-jangan tidak akan kembali ke BI dan 'terkubur' selama-lamanya. > Sedangkan waktu sisanya ia terus pompakan semangat untuk ber-self suggestion > bahwa akan kembali ke BI dan sebagai gubernur pula. Dan itu terbukti benar. > > Berkarier dari bawah > Sejak awal terjun memperebutkan kursi gubernur, dia sudah sangat yakin akan > berhasil memenangkan pertarungan. Dasarnya adalah setelah melihat peta, > melihat kepada diri sendiri, melihat pergaulan yang luas, dan melihat > kecenderungan republik. > > Burhanuddin merasa bakal menjadi pemenang walau keyakinan kuat itu > sesungguhnya secara tersembunyi masih disertai dengan seringnya muncul > kesangsian-kesangsian, atau up and down dari waktu ke waktu. > > Burhanuddin merintis karier di Bank Indonesia sungguh-sungguh dari bawah. > Pertama-tama pada tahun 1981 ia bekerja sebagai Staf Urusan Kredit dan > Urusan Riset Ekonomi & Statistik Bank Indonesia. Lulusan master of arts (MA) > dalam bidang Ekonomi dari Department of Economics, Michigan State > University, AS, tahun 1984, ini kemudian diangkat menjadi Staf Gubernur > Fixed-Term Staff di IMF, berkedudukan di Washington DC, AS berlangsung > antara tahun 1989-1990. Burhanuddin masih tetap bermukim di Washington > antara tahun 1990-1993, ia diangkat sebagai Assistant Executive Director > IMF. > > Kehidupan selama menjalani penugasan dan bermukim di AS pernah meniupkan isu > tak sedap tentang Burhanuddin. Isu itu sengaja dilontarkan pihak-pihak tak > jelas menjelang dan selama pemilihan gubernur BI berlangsung. Ketika itu, > beredar kabar berupa data dari BI bahwa Burhanuddin me-mark up rumah dinas > di Sugarbush Lane, Washington DC seharga 600 juta dolar AS padahal waktu mau > dijual BI tahun 2002 hanya sekitar 450 juta dolar saja. > > Dia tak reaktif menepis isu yang makin gencar beredar justru pada saat > pemilihan gubernur BI tengah berlangsung di dalam Gedung DPR/MPR RI Senayan, > Jakarta. Ia menjawab isu tersebut baru beberapa hari kemudian setelah > terpilih. Di lounge sebuah hotel berbintang lima, kepada wartawan sebuah > harian nasional Burhanuddin bertanya balik apakah rumah itu sudah dijual. > > Ini, menandakan bahwa ia sesungguhnya tak mengikuti perkembangan terbaru > tentang apa yang ditudingkan sebab memang tak terkait dengannya. Burhanuddin > kemudian menegaskan dirinya tak ikut membeli rumah itu. Yang membeli bukan > dia sebab hanya kebagian menempati saja sebagai rumah dinas. > > "Yang beli adalah kantor perwakilan BI New York. Saya itu hanya pegawai, > yang menempati saja setelah dibeli oleh kantor perwakilan BI itu. Sama > dengan rumah-rumah yang di Jakarta. Saya kan seumur hidup kan hanya tinggal > di rumah dinas saja," kata Burhanuddin, sekaligus menepis pula isu lain soal > town house di pinggiran Washington DC, yang diisukan dibeli ternyata telah > diberikan kepada anak yang diakui sebagai sepupu. > > "Ndak ada itu," tegas ayah dari Putik Rindu, Sultan Bestari, Arsy Syaikhan, > dan Rizki Firdaus sebagai buah dari hasil perkawinannya dengan Ike > Yuliawati. > > Penentu 'Rapor' Pemerintah > Burhanuddin banyak menghadapi tudingan saat maju sebagai kandidat gubernur > BI. Maklum, ia adalah calon terkuat di sebuah lembaga yang tak bisa > semena-mena diturunkan oleh lembaga lain apapun selama lima tahun periode > jabatannya. Kepastian itu pernah dibuktikan oleh pendahulu Syahril Sabirin, > yang tetap kukuh sebagai Gubernur BI kendati Presiden Wahid pernah > memasukkannya ke sel tahanan. > > Hal itu sesuai dengan semangat independensi bank sentral yang tertuang > sebagai amanat Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang > membuat sepak terjang lembaga bank sentral ini bisa jadi akan sangat > menentukan rapor setiap pemerintahan yang sedang berkuasa apakah merah atau > biru. > > Karena itulah Burhanuddin selalu harus tegar menghadapi beragam isu dan > fitnah. Sebelum terpilih pun ia seperti sudah menganut filosofi pohon > kelapa. Semakin menjulang ke atas semakin besar terpaan angin namun secara > alamiah semakin kuat pula pohon kelapa menghadapi padahal santan yang > dihasilkan semakin kental saja. Itulah Burhanuddin Abdullah, yang sering > diterpa beragam isu miring namun bersamaan itu posisinya semakin kuat pula > dan memperoleh dukungan luas dari berbagai kalangan. > > Seperti isu tentang Fuad Bawazier, mantan Menteri Keuangan yang > disebut-sebut sebagai figur yang sangat berperan pada terpilihnya > Burhanuddin. Ia menyebutkan bahwa Fuad Bawazier tidak punya peran apa pun. > Secara kategoris Bawazier tidak punya peran apapun. "Yang punya peran besar > dalam kemenangan itu adalah saya," tegas pejabat karir BI yang sekembalinya > dari Washington DC, menempati pos baru di Jakarta walau urusannya tetap > berhubungan dengan urusan luar negeri. > > Burhanuddin adalah Kepala Bagian Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan > Internasional BI, hingga tahun 1995. Sebelum diangkat menjadi Deputi > Gubernur BI 12 Juli 2000, Burhanuddin adalah Wakil Kepala Urusan Luar Negeri > (1996), dan Wakil Kepala Urusan Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI > hingga tahun 1998. Sejak tahun 1998 hingga tahun 2000 Burhanuddin adalah > Direktur Direktorat Luar Negeri Bank Indonesia. > > Kehidupan Burhanuddin yang sangat pribadi pernah pula untuk dicoba digoyang. > Seperti, di sebuah koran daerah, disebutkan, berdasarkan pernyataan salah > seorang pesaing terkuat Miranda S. Gultom tersiar kabar bahwa Burhanuddin > sudah memiliki dua istri. Namun tudingan itu ditanggapi Burhanuddin dengan > menyebutnya sebagai baru wacana. "Boleh kan, punya wacana," katanya singkat > beretorika. > > Demikian pula dengan pernyataan lain Miranda, yang menyebutkan dirinya > dizalimi dalam pemilihan. Salah satu bentuk penzaliman, diantaranya > disebutkan, dengan beredarnya selebaran yang menyudutkan pribadi Miranda. > Burhanuddin mengatakan janganlah dirinya dituduh demikian sebagai orang yang > seolah-olah ikut berperan di situ. > > "Ndak boleh itu. Mungkin itu perasaan saja. Saya tidak ada dan tidak punya > niat serta tidak ada keinginan," aku Ketua Umum ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi > Indonesia) periode 2003-2005, yang terpilih dalam Kongres XV ISEI di Batu, > Malang, 13-15 Juli 2003 dengan mengalahkan Rudjito (Direktur Utama Bank > Rakyat Indonesia), dan Muhammad Jusuf Kalla (Wakil Presiden, ketika itu > masih menjabat Menko Kesra). > > Sebelum pemilihan Ketua Umum ISEI berlangsung, baik Rudjito maupun Jusuf > Kalla sepakat mengundurkan diri dari pemilihan sehingga secara aklamasi > Burhanuddin terpilih sebagai ketua umum baru. Ketika berpidato di depan > sidang pleno, Burhanuddin menyatakan tekadnya akan meningkatkan peran ISEI. > Peranan itu antara lain memberikan pertimbangan pembangunan dan mengarahkan > ISEI sebagai organisasi pembelajaran. Tapi agar ISEI tetap independen dan > kritis, sebagai organisasi intelektual dan profesional, Burhanuddin > mengatakan ISEI akan tetap menjaga jarak dengan pemerintah. > > Ketika pemilihan gubernur BI berlangsung antara Burhanuddin dengan Miranda > Gultom seolah seperti musuh bebuyutan walau di kemudian hari keduanya bisa > membuktikan diri sebagai tim yang solid. Yang satu gubernur satu lagi > akhirnya terpilih sebagai deputi senior gubernur. Namun ketika dahulu > memasuki momen yang sangat menentukan pemilihan gubernur BI nama Burhanuddin > seolah-olah masih berada di bawah bayang-bayang Miranda dalam hal > popularitas. > > Tidaklah heran jika kepada Burhanuddin ada-ada saja muncul tuduhan yang sama > sekali tak logis. Seperti soal bocornya catatan-catatan soal pemenang lelang > SBI di kalangan DPR, yang disebutkan Miranda sebagai ditopang oleh > orang-orang dalam BI padahal itu rahasia negara. > > "Kalau itu berasal dari orang dalam, saya sendiri kan bukan orang dalam. > Yang bukan orang dalam tentu saja saya," ucap Burhanuddin, lugas, selugas > keberhasilannya merengkuh jabatan tertinggi sebuah bank sentral di republik > terbesar keempat penduduk di dunia. > > Antara Burhanuddin Abdullah dengan Miranda Gultom sesungguhnya mempunyai > hubungan sangat baik. Keduanya sering main golf bersama sehingga tidak > pernah ada masalah diantara mereka. Burhanuddin tidaklah yakin benar sumber > berbagai isu itu berasal dari pihak Miranda. Sebab terbukti bukan hanya itu > isu miring yang pernah menimpanya. Perkara penyaluran bantuan atas gempa di > Garut pun nama Burhanuddin ikut digadang-gadang. > > Dia dituding menyetorkan dana bantuan kepada Bupati Garut Rp 50 juta saja, > dari dana Rp 176 juta yang berhasil dikumpulkan dari sejumlah donatur dalam > sebuah acara. Bupati Garut sempat dituduh macam-macam ketika itu padahal > dana ada di tangan Burhanuddin, dan sisanya baru diserahkan setelah ramai. > Uniknya, kendati beredar isu demikian, Burhanuddin malah meluruskan jumlah > dana yang terkumpul adalah Rp 270 juta. Disetorkan ke Bupati yang pertama > untuk bencana Papandayan Rp 50 juta. > > Usai menyerahkan bantuan ia meminta progresnya, sebab dia waktu itu meminta > didirikan kamar mandi, cuci, dan kakus. Kemudian bantuan kedua kali > diserahkan lagi Rp 52 juta, sebagian yang Rp 22 juta dikasihkan kepada > penduduk secara langsung yang mengalami kematian. > > Sisanya lagi langsung dikasihkan ke Bupati, seperti Rp 100 juta diberikan ke > Bupati, termasuk buku tulis, minyak goreng, beras, dan sebagainya sehingga > total Rp 203 juta. Yang Rp 70 juta, sebagian Rp 50 juta untuk proses hukum > class action teman-teman yang terkena musibah, lalu Rp 20 juta yang masih di > tangan itu sudah selesai dibagi-bagikan. "Bagi saya, uang segitu tidak akan > membuat saya kaya. Ha-ha-ha…. Malah membuat saya dosa," cetus Burhanuddin. > > Sudah terpilih sebagai gubernur pun isu tak sedap masih saja tak henti > berhembus. Semisal, keinginan karyawan BI yang mendambakan munculnya sosok > Gubernur BI seperti Rachmat Saleh yang ideal dan tidak primordialis terhadap > karyawan BI. Kemunculan wacana pegawai BI yang demikian seolah-olah > menempatkan Burhanuddin sebagai seorang pribadi yang sangat primordalis. > Atau, dipaksa untuk meniru 100 persen sosok Rachmat Saleh. Mantan Ketua Umum > Ikatan Pegawai Bank Indonesia, itu menyebutkan dirinya hanya ingin menjadi > seorang Burhanuddin Abdullah. > > "Saya pernah mengatakan kepada Rachmat Saleh. Saya katakan you are a living > legend di dunia perbankan Indonesia itu. Tanpa, meniru dia, saya juga punya > keinginan seperti itu," papar Burhanuddin, menyakinkan para karyawan BI yang > sebelumnya pernah dipimpinnya dalam organisasi serikat pekerja. > > Ingin jadi novelis > Itulah Burhanuddin Abdullah. Kekayaan bukan lagi tujuan hidupnya. Karena itu > ia menganggap uang, seperti yang pernah dituduhkan pada kasus dana bantuan > bencana alam Garut, bisa membuatnya dosa. > > Menjadi Gubernur BI dianggapnya sebagai memberikan sesuatu kelebihan yang > ada dalam dirinya untuk melayani orang banyak. Hidupnya bukan lagi untuk > diri dan keluarga semata, tetapi sudah untuk bangsa. Jabatan Gubernur BI > bagi Burhanuddin Abdullah adalah sebuah prestasi, tepatnya sebagai > accomplishment dari perjalanan hidup seseorang seperti dirinya yang meniti > karir dari bawah. > > Namun lebih dari itu jabatan itu sebetulnya juga bukan dianggapnya sebagai > telah berjalan mengikuti ladder (jenjang) dari step (langkah) satu ke step > dua, sampai step yang terakhir sebagai Gubernur BI. > > Melainkan, dia menganggap ada satu titik di dalam perjalanan kehidupan > orang-orang seperti seumurnya yang kemudian merasakan sesuatu harus > diperbuat bukan untuk diri sendiri lagi. Tetapi, sudah untuk yang banyak, > untuk yang lain, berbuat sesuatu yang lain yang bisa disebut sebagai > panggilan. Sebab, jika itu masih dilakukan hanya untuk diri sendiri menjadi > sudah tidak ada artinya. > > "Anak-anak sudah bersekolah, semuanya dengan sederhana bisa disediakan. > Barangkali itulah aktualitas yang sebenarnya, di dalam memberikan kepada > yang lain, bukan di dalam menerima dari yang lain," kata Burhanuddin. > > Sosoknya lumayan diterima pasar karena pandangan-pandangannya yang dinilai > cukup propasar. Mantan Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian pada tahun > 2001 semasa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid ini dinilai sebagai > sosok yang paling sedikit menghadapi resistensi publik dibandingkan dua > calon Gubernur BI yang bersaing dengannya. > > Dia adalah Gubernur Bank Indonesia di era keterbukaan. Sosoknya banyak > dipojokkan namun ia berhasil melewatinya dengan mulus. Dia pun berjanji akan > sungguh-sungguh terbuka memimpin bank sentral ini. Komunikasi dengan semua > pihak akan dibangunnya untuk menghindarkan kesan Bank Indonesia bisa > dijadikan sebagai alat pemukul rejim yang tak propasar. > > Sesudah menjadi Gubernur BI, dia malah menyatakan obsesi baru ingin menjadi > novelis. Ia memang sangat terkesima dengan tulisan Elie Weisel. Apresiasi > singkat terhadap tulisan Elie Weisel disebutnya sebagai bukan main, kecil, > pendek, bahasa Inggrisnya simpel. Judulnya "Twilight" bercerita tentang > pelarian Polandia. Dengan buku itu Elie Weisel mendapatkan hadiah Nobel. "Ia > itu orang Yahudi," kata penyuka buku filosofi Cina karya Lin Yuntang. > ►e-ti/haposan tampubolon, dari berbagai sumber. > > Miranda S. Goeltom > Menjadi Deputi Senior Gubernur BI > > Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini ter pilih kembali menjadi Deputi > Senior, mengggantikan Anwar Nasution. Ia dipilih Komisi IX DPR setelah > melalui rangkaian penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) > yang berlangsung lebih dari 10 jam, Selasa (8/6/2004), dengan memperoleh 41 > suara mengungguli S Budi Rochadi (12 suara) dan Hartadi A Sarwono (1 suara) > dari 54 anggota Komisi IX DPR yang hadir. Jumlah anggota Komisi IX DPR 56, > dua tidak hadir. > > Konon, Miranda mendapat dukungan penuh dari PDI Perjuangan dan Golkar. Namun > pemilihan bukanlah per fraksi tetapi per anggota atau orang per orang. > Menurut Ketua Komisi IX Emir Miranda memang dalam banyak hal cukup unggul > dalam memberikan penjelasan, jawaban, maupun visi dan misinya. > > Dalam penyampaian visi dan misi Miranda menekankan reposisi BI dalam > mendukung perekonomian. Pertama reposisi itu meliputi tantangan perekonomian > dan peranan BI sendiri, di antaranya dukungan BI terhadap pencapaian > kestabilan ekonomi makro dan peningkatan fungsi intermediasi perbankan, > kebijakan suku bunga dan nilai tukar, serta usaha kecil menengah dan Bank > Syariah. Kedua, peranan BI dalam menciptakan stabilitas sistem keuangan dan > kaitannya dengan stabilitas moneter. Ketiga, peningkatan good governance. > > Miss Telat > Alumni FE Universitas Indonesia ini nyaris jadi korban bom di Hotel JW > Marriot Jakarta. Siang itu, ia memang tengah menuju restoran Syailendra di > Hotel JW Marriot itu untuk memenuhi janji makan siang di di hotel itu dengan > Hans WinkelBolen, Direktur Rabo Bank yang akan mengakhir masa tugasnya di > Jakarta. Tapi karena ia telat seperti kebiasaannya -- sehingga > teman-temannya menjulukinya 'Miss Telat' -- ia selamat tak terkena bom. > > Miranda berjanji akan datang pukul 12.00 Wib untuk makan siang itu. Tapi > sampi pukul 12.30 Wib ia masih sedang menuju tempat. Alasannya klasik, > jalanan seputar lokasi itu macet. Sopirnya Zaenal sudah mencoba potong > jalan, tetapi tetap juga telat. Beberapa puluh meter dari hotel itu, ia pun > sempat menelepon Hans memberitahu keterlambatannya karena macet. > > Tiba-tiba terdengar suara ledakan, lalu nyala api menyembur, asap tebal > mengepul dan jerit tangis melengking. Miranda meminta sopirnya putar balik. > Ia bersyukur terhindar dari maut itu. Ia pun mencoba menelepon Hans > berulangkali, tapi tidak ada jawaban. Belakangan diketahui, Hans WinkelBolen > tewas akibat ledakan bom itu. > > Wanita cerdas ini dilahirkan di Jakarta tanggal 19 Juni 1949. Menyelesaikan > pendidikannya sebagai Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia, meraih gelar > Master in Political Economy di Boston University , USA dan gelar Ph D dalam > Ilmu Ekonomi juga di Boston University, USA. Disertasinya berjudul > "Financial Liberalization, Capital Structure, and Investment: An Empirical > Analysis of Indonesian Panel Data, 1981-1988". > > Pengalaman kerjanya di samping sebagai staf pengajar di berbagai lembaga > juga sebagai anggota kelompok kerja Dewan Moneter, anggota Tim Teknis > Pengkajian Proyek Pemerintah, BUMN dan Swasta yang berkaitan dengan > Pemerintah/BUMN, serta sebagai Deputi Asisten Menko Ekku Wasbang, Republik > Indonesia. > > Dengan disahkannya UU No 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, maka > berdasarkan Keppres Nomor 150/M Tahun 1999 tanggal 17 Mei 1999, ia diangkat > menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk masa jabatan selama 4 (empat) > tahun. > > Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri mengajukannya salah satu dari tiga > calon Gubernur Bank Indonesia (BI), untuk menggantikan Syahril Sabirin yang > berakhir masa jabatannya, 17 Mei 2003, yakni Miranda S Goeltom, Burhanuddin > Abdullah, dan Cyrillus Harinowo, Jumat 14 Februari 2003. > > Pada proses pencalonan, terutama proses fit and proper test (uji kelayakan > dan kepatutan) yang dilakukan DPR dirasakannya berlangsung tidak fair. > banyak hal-hal yang menyimpang dari substansi. mantan suaminya, Siregar, > juga mengumbar cerita-cerita kurang baik tentang dia. > > DPR pun terbawa, sengaja atau tidak, ke arah cerita Siregar itu. Dalam > proses fit and proper test yang dimulai sejak pukul 10.00 pagi, > masing-masing calonmenyampaikan misi dan visi. Miranda S Goeltom mendapat > kesempatan pertama, Cyrillus Harinowo mendapat giliran kedua dan Burhanuddin > mendapat kesempatan paling akhir pada malam hari. > > Pemungutan suara berlangsung hingga tengah malam, Senin (12/5/03),. Akhirnya > Burhanuddin Abdullah terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang > baru. Ia meraih 34 suara dari 52 anggota Komisi IX DPR. Miranda S Goeltom > hanya meraih 18 suara dan Cyrillus Harinowo tidak meraih satu suara pun. > > Cyrillus Harinowo > Integritas Seorang Banker > Mantan nominator calon Gubernur Bank Indonesia 2003 ini dikenal memiliki > intregritas dan kredibilitas tinggi dalam dunia perbankan. Berpengalaman > selama puluhan tahun di Bank Sentral (Bank Indonesia) dan IMF sebagai > Alternate Executive Director, membuktikan kehandalannya dalam dunia > perbankan, sekaligus membuat pergaulannya dengan komunitas finansial > internasional sangat luas. > > Meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai Technical Assistance Advisor, > Monetary and Exchange Affairs Departement di Dana Moneter Internasional > (IMF), Washington DC, AS, kemudian tidak berhasil menjabat Gubernur BI tidak > berarti dunia kiamat bagi karier pria yang sudah puluhan tahun melanglang > buana di dunia perbankan ini. Dengan kemampuan, integritas, kredibilitas dan > pengalamannya yang sangat handal itu, akhirnya menarik hati kelompok Farindo > (Farallon dan Djarum) sebagai pemegang saham mayoritas Bank BCA > 'meminang'-nya jadi komisaris di bank tersebut. > > Walupun gagal menduduki jabatan tertinggi di lembaga keuangan negeri ini > namun berhasil menjadi salah satu dari tiga besar pilihan utama bersama > Miranda S.Goeltom dan Burhanuddin Abdullah, telah menunjukkan integritas dan > kredibilitas tersendiri bagi penulis buku Utang Pemerintah: Perkembangan, > Prospek dan Pengelolaannya ini. > > Karena sebelumnya, sejumlah nama yang juga disebut-sebut bakal menjadi calon > Gubernur BI waktu itu, seperti Kwik Kian Gie (Menteri Perencanaan > Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas), Laksamana Soekardi (Menteri Negara > BUMN), Boediono (Menteri Keuangan), ECW Neloe (Presiden Direktur Bank > Mandiri), Jusuf Anwar (mantan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal/Bapepam), > Edwin Gerungan (mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan > Aulia Pohan (Deputi Gubernur BI) masih diunggulinya. > > Masih mengenai integritas dan krediblitasnya. Dalam masalah BLBI (Bantuan > Likuiditas Bank Indonesia) namanya tidak tersangkut dalam daftar 80 orang > yang menurut Badan Pengawas Keuangan. Menurutnya, saat krisis terjadi dia > memegang tanggung jawab operasi pengendalian moneter. Tugasnya menangani > instrumen-instrumen moneter seperti SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan SBPU > (Surat Berharga Pasar Uang). Namun di akhir 1997, karena saldo debet yang > begitu banyak, penanganannya dialihnamakan menjadi SBPU khusus. Jadi bukan > SPBU instrumen yang sehari-hari digeluti operasi pengendalian moneter. > Sehingga, dia tidak mungkin dikaitkan dengan saldo debet itu, karena bukan > termasuk wewenangnya. > > Di bank sentral, ayah empat orang anak, ini memulai karier sejak tahun1978 > sebagai staf perencanaan kredit BI. Pernah menjadi andalan bank sentral > meraih posisi Direktur Eksekutif IMF untuk kawasan Asia Tenggara. Sayang > langkahnya terjegal aturan yang menyebut pejabat BI yang bisa menjadi > Direktur Eksekutif IMF harus pernah menjadi anggota dewan gubernur. > > Dia memang pernah gagal menjadi Deputi Gubernur. Pada Maret, 2000 lewat > proses beauty contest yang berlangsung maraton sejak pukul 20.00 Rabu hingga > pukul 05.30 pagi Kamis, di Komisi IX DPR, Aulia Pohan mengungguli dua > kandidat pesaingnya, yaitu Burhanuddin Abdullah dan dirinya. Dengan begitu, > Aulia Pohan yang waktu itu masih menjabat Deputi Gubernur BI, kembali > menduduki posisi tersebut setelah habis masa jabatannya. Setelah itu dia > sendiri menempati posisi sebagai pegawai utama setingkat direktur di > Direktorat Sumber Daya Manusia. > > Pria yang meraih Sarjana Ekonomi Akuntansi tahun 1977 dari Universitas Gajah > Mada, Yokyakarta ini akhirnya ditugaskan ke IMF Washington sebagai Alternate > Executive Director setelah kurang lebih dua puluh tahun berkarier di Bank > Sentral. > > Mulai November 2000 hingga mencalonkan diri menjadi Gubernur BI, dia > ditunjuk sebagai Technical Assistance Advisor, Monetary and Exchange Affairs > Departement di Dana Moneter Internasional (IMF), Washington DC, AS. > > Kembali ke sekitar pencalonannya jadi Gubernur Bank Indonesia. Pria > kelahiran Yogyakarta 9 Pebruari 1953 ini kala itu baru sepekan lewat dua > hari kembali ke tanah air dari Washington DC, AS. Tiba-tiba datang kabar > dari istana. Sekretaris Negara, Bambang Kesowo memintanya mengirimkan daftar > riwayat hidupnya sekaligus juga diminta menyiapkan diri dalam pencalonan > Gubernur Bank Indonesia. > > "Saya dapat surat cinta," katanya menanggapi kabar dari istana, yang pas > saat 'valentine day' itu. Bahkan dia menyebut tugas berat itu sebagai > 'kejutan yang manis'. > > Menantu Palaoensoeka –anggota dewan dari PDI juga PDI Perjuangan selama 40 > tahun -- ini, sebelumnya yakin akan menggantikan posisi Syahrill Sabirin > sebagai Gubernur BI saat itu. Jika tidak yakin, tentu dia akan berpikir dua > kali mengambil keputusan untuk melepas pekerjaannya sebagai technical > assisttant advisor di lembaga donor dunia (IMF). Apalagi dari pekerjaan itu > dia memperoleh hasil sekitar Rp 1 miliar setahun. Bahkan bukan hanya > pekerjaan yang ditinggal, keluarganya pun ketika itu masih menetap di > Amerika Serikat > > Alumni Doctor in Economic Monetary Vanderbilt, Masschusett Amerika Serikat > (1985), ini berencana akan membawa optimisme bagi bangsa ini jika terpilih > jadi Gubernur BI. Namun persaingan menuju kursi penguasa bank sentral > terbukti tidak mudah. Dewan memilih Burhanuddin Abdullah sebagai Gubernur > Bank Indonesia. Mengalahkannya dan Miranda Goeltom sebagai calon yang > diusulkan Presiden Megawati Soekarnoputri untuk dipilih DPR. > > Namun tidak terpilih menjadi Gubernur BI bukan berarti kariernya tamat. > Tidak lama, > oleh penentu kata akhir dari Farallon di Amerika Serikat dan di Djarum > (Parindo) sebagai pemegang saham mayoritas Bank Central Asia (BCA) > menawarkannya jabatan komisaris. > > Dengan Integritas dan kredibilitasnya yang tinggi, dia memang pantas duduk > sebagai pengawas BCA. "Saya tidak akan mengkompromikan integritas saya di > sini," kata putra Yogyakarta yang selalu bertutur sapa dengan tingkat > kesantunan prima kepada siapa pun. > > Menurutnya, faktor atau alasan yang mendorongnya menerima tawaran tersebut > karena BCA itu merupakan bank aset bangsa. Disamping itu, dua hal yang > menurutnya sejalan dengan misinya, misi pemerintah dan misi Bank Indonesia, > yaitu bagaimana mengembangkan bank ini dan bagaimana mempercepat pertumbuhan > kreditnya. > > Pihak Farallon yang mempercayainya sebagai komisaris berharap, bagaimana > agar BCA dijalankan secara profesional, sebagaimana halnya bank-bank di AS. > Mengenai komitmennya di Bank BCA ini dia mengatakan bahwa sama seperti > harapan masyarakat agar bank ini semakin berguna bagi bangsa. > > Setelah dia masuk, memang dia melihat bank ini kuat sekali sebagai bank > transaksi dengan luas jaringannya. Kekuatannya mengumpulkan dana luar biasa, > ada 6,5 juta nasabah. Itu elemen sangat penting bagi suatu bank. Namun di > sisi penyaluran kredit, boleh dikata kurang aktif. Itulah yang akan mereka > coba lebih perkuat lagi. > > Sebagai indikasinya total kredit BCA yang sudah disepakati untuk dikucurkan > mencapai Rp 29 triliun. Tetapi sampai 26/6-2003, baru terserap oleh nasabah > sebesar Rp 22 triliun sehingga masih ada Rp 7 triliun yang belum terserap. > Dalam hal pertumbuhan kredit ada empat area yang betul-betul dicoba. Keempat > area itu adalah sektor ritel, sektor komersial, sektor konsumen, dan sektor > korporasi. > > Menurutnya, saat ini (Juni 2003) kekuatan BCA itu di level menengah ke > bawah, yakni sektor komersial dan ritel dengan kredit Rp 50 miliar ke bawah. > Tetapi, infrastrukturnya harus dikembangkan sedemikian rupa dengan cepat > sehingga dapat melayani transaksi dengan cepat dan efisien. Mereka akan > mengembangkan sentra-sentra kredit di wilayah tertentu. Bagaimana > sentra-sentra ini bisa cepat mengambil keputusan dalam hal penyaluran > kredit. > > Sedangkan sektor korporat juga harus dikembangkan sedemikian rupa karena > sektor ini juga menurutnya menghadapi persaingan. Maksudnya bukan persaingan > antar bank, tetapi bersaing dengan instrumen obligasi. Nasabah bisa saja > menerbitkan obligasi, lalu melunasi utangnya pada bank sehingga bank harus > mencari nasabah lainnya. > > Mengenai penilaian orang bahwa BCA akan dipakai oleh kelompok Djarum sebagai > kendaraan untuk meraup kredit lebih besar, dia kira itu tidak benar. Sebelum > Farindo (kelompok Farallon dan Djarum) membeli saham pemerintah, Djarum > sudah menjadi nasabah BCA dan kreditnya pun memang sudah besar. Setelah > masuk, jumlah kreditnya justru lebih rendah. > > > > Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? > *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** > > > ________________________________ > YAHOO! GROUPS LINKS > > Visit your group "mm-ugm" on the web. > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > ________________________________ > Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** Yahoo! Groups Links ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> AIDS in India: A "lurking bomb." Click and help stop AIDS now. http://us.click.yahoo.com/VpTY2A/lzNLAA/yQLSAA/ExDolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
