Mungkin “Penghalusan “Istilah tidak lebih
baik dari istilah lain seperti
halnya Kenaikan jadi Penyesuaian, Pelacur jadi Tunasusila
dsb. Hasilnya tidak ada penghalusan
aspek apapun kecuali istillah, kecuali semata-mata krn adanya keterbatasan anggaran perusahaan untuk mengakomodasi prestasi keryawan, akibat kebijakan SDM yang tidak akurat dalam melihat
perkembangan dalam organisasi, sehingga langkah yang diambil sifatnya lebih Situasional melalui Pemaksaaan Kehendak dengan cara-cara yang Ilmiah/ Kebarat-baratan.
Prayudha Moelyo
Commercial
Agribusiness Unit
Jl. HR.
Rasuna Said Kav. X-0 lt. 17
Jakarta
telp.
021.25517000 ext. 7143 fax. 021. 2525579
-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, November 28, 2005
3:08 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [mm-ugm] tentang
Forced Ranking Evaluation
Kalau boleh sedikit berbagi (CMIIW) dengan ilustrasi sbb.
Katakanlah
perusahaan X mempunyai sistem evaluasi karyawan yang menggolongkan prestasi
karyawan menjadi 5 level:
1.
Unsatisfactory (paling jelek)
2.
Need improvement
3.
Satisfactory
4.
Strong
5.
Outstanding (paling ok)
Jika
departemen A di perusahaan tersebut mempunyai 40 karyawan, maka jika dipakai
distribusi normal pembagiannya prestasi karyawan dapat berupa:
1-2
orang Unsatisfactory
1-3
orang Need Improvement
sebagian
besar Satisfactory
1-3
orang Strong
1-2
orang Outstanding
Manager
mau tidak mau akan selalu dan diharuskan menentukan karyawan dengan prestasi
terjeblok relatif dibandingkan dengan karyawan lain di departemen tersebut.
Bukan cuma karyawan, manager saja pasti tidak suka karena harus menentukan
siapa yang akan menjadi "korban" dan akan dibenci karyawan. Biasanya
jika 2 tahun berturut-turut terkena Unsatisfactory atau level performance
terjelek, maka karyawan tersebut subject to terkena PHK. Besar kenaikan gaji
tentu saja berbeda untuk tiap level.
Kelemahan
sistem ini salah satunya, selain tidak disukai karyawan, adalah bila sebuah
departemen terdiri dari beberapa sub-departemen maka akan tidak apple to apple
membandingkan karyawan dengan tanggung jawab yang berbeda (bahkan sangat
berbeda). Contoh: sekretaris dibandingkan dengan sales engineer. Pencapaian
sesuai KPI atau target menjadi tidak relevan jika ternyata karyawan lain
melebihi target.
Kelebihannya,
karyawan (seharusnya) akan dipacu untuk bekerja/berkompetisi lebih baik dari
karyawan lain. Namun bila tidak terkendali dapat menjadi hypercompetition di
tingkat mikro (bukan antar perusahaan tapi antar karyawan).
Nama
lain (yang lebih halus) untuk sistem ini kalau tidak salah Relative Clustering
performance evaluation.
Regards,
Hary
|
|
Prayudha Moelyo
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent
by: [email protected]
Phone:
11/23/2005 02:55 PM
Please
respond to mm-ugm
|
To: [email protected]
cc: (bcc: Hary
Wibowo/IDSUB01/Power/ALSTOM)
Subject: RE: [mm-ugm] tentang
Forced Ranking Evaluation
|
Kami pernah mengalami hal tsb bbp kali, tentu hal
tsb sangat menyakitkan
bagi pekerja, krn, sebelumnya semua pekerja dari lini paling atas hingga
bawah telah mengisi lembar bisnis target dan KPI nya, namun diakhir
periode perusahaan mengambil keputusan sepihak krn satu dan lain hal,
melakukan apa yang di namakan "pemaksaan peringkat"
Jadi menurut hemat saya saya metode yang bersifat "Pemaksaan" pasti
akan
tidak menguntungkan. Krn :
1. Target dan KPI sudah disepakati diawal tahun anggaran, namun
dilakukan perubahan sepihak oleh perusahaan.
2. Metofde Pemaksaan Peringkat ini, dilakukan krn keterbatasan Anggaran
dan Perasaan
3. Teori ini selalu dikaitkan/ berlindung pada teori distribusi Normal,
walaupun kenaytaan dilapangan selalu jauh berbeda.
4. Cara ini menjadi populer krn menggunakan istilah asing, tapi sangat
tidak baik bila menggunakan terjemahan bebas dengan kata "Evaluasi
Pemakasaan Peringkat"
Mudah2an saya tidak salah mengnerti.
Prayudha Moelyo
Commercial Agribusiness Unit
Jl. HR. Rasuna Said Kav. X-0 lt. 17
Jakarta
telp. 021.25517000 ext. 7143 fax. 021. 2525579
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of vian adzhar
Sent: Wednesday, November 23, 2005 8:43 AM
To: [email protected]
Subject: [mm-ugm] tentang Forced Ranking Evaluation
Bapak-bapak,
Selamat pagi.
mohon sharing informasi dan pengalaman mengenai
penerapan "Forced Ranking Evaluation" dalam mengevaluasi kinerja
karyawan. apakah cara tersebut sosok untuk semua perusahaan?
apa kurang dan lebihnya?
Regards,
Vian A
Exec.9B
Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
Yahoo! Groups Links
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/ExDolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
:._______________
CONFIDENTIALITY : This e-mail and any attachments are
confidential and may be privileged. If you are not a named recipient,
please notify the sender immediately and do not disclose the contents to
another person, use it for any purpose or store or copy the information in any
medium.
Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
YAHOO! GROUPS LINKS