Title: OOT-Presiden Pun Terguncang

Mereka yang terlupakan dan yang diabaikan. Air mata, darah, dan keringat
-yang sudah menetes sejak teguh hati meninggalkan kampong halaman- bagai
tidak ada artinya. Padahal mereka membawa devisa langsung ke desa-desa.
Profesi mereka adalah solusi alternative yang masuk akal, disaat
pemerintah negeri sendiri gagal mencari jalan keluar atas persoalan
pengangguran. Ironisnya, mereka justru dijadikan sapi perahan oleh para
birokrat-birokrat pemerintahan negaranya sendiri.

Mereka itu -para TKI- dibandingkan dengan para pemerasnya -para birokrat
pemerintah negara ini yang mendudukkan dirinya bagaikan bangsawan
ningrat feodal sebagaimana layaknya dulu para pegawai VOC kompeni- lebih
berjasa kepada negara dan sesamanya. Para birokrat negeri itu hidup dari
gaji yang -sebagian besar- berasal dari pajak rakyat negeri ini,
kemewahannya -sebagian- didapatkan dari memeras dan korupsi, sedangkan
mereka -para TKI- justru menghasilkan uang dari negeri lain yang dibawa
kenegri ini kemudian menggerakkan ekonomi negeri ini, selanjutnya
pendapatan Negara bertambah, dan gaji para birokrat pemerintah pun naik
dan proyek-proyek pembangunan bermunculan dan menjadi bertambah gemuk
serta siap dikorupsi oleh para birokrat negara. 

Semenjak mereka -para TKI- berniat pergi, mereka sudah harus menyediakan
segepok uang, diperas kanan kiri. Ketika mereka -para TKI- pulang,
diperlakukan seperti 'kambing' -digiring ke jalur khusus TKI- yang
dipisahkan tempatnya dari para warganegara lain yang berpergian keluar
negeri, mungkin, agar para birokrat menjadi lebih mudah memeras para
TKI.

Presiden tersentak, ketika Presiden yang didampingi Ibu Negara menyimak
'laporan miring tentang kerja aparat pemerintah' yang selama ini
diterimanya mendapatkan penjelasan rinci langsung dari para korbannya.

"Tahun pertama, saya masih persuasif. Saya beri waktu untuk berbenah.
Cukup satu tahun untuk berbenah. Tahun kedua, saya ingin lebih nyata",
janji Presiden. Semoga janji Presiden ini dapat dipercaya oleh
rakyatnya,  

***
"Tahun pertama, saya masih persuasif. Saya beri waktu untuk berbenah.
Tahun kedua, saya ingin lebih nyata. Tidak ada lagi komentar, 'Kami
belum tahu. Kami perlu waktu'. Tidak! Cukup satu tahun untuk berbenah.
Sekarang kita akan menuju sistem dan praktik yang baik."
Penegasan langkah pemerintah ke depan dengan nada setengah mengancam itu
disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setelah menginstruksikan
Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal Sutanto untuk mengusut sejumlah
kejahatan dan penyimpangan di Imigrasi. Kejahatan dan penyimpangan itu
telah memalukan Indonesia di mata dunia internasional.

Keterangan Presiden menjadi penutup kunjungan kerjanya ke Kuala Lumpur,
Malaysia, dalam rangka KTT Asean dan Asia Timur. Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia Hamid Awaludin hadir terlambat dengan setumpuk berkas di
tangan dalam keterangan pers di Hotel Nikko, Kuala Lumpur, Rabu (14/12)
petang.

Seusai keterangan pers, Hamid tak bersedia memberikan komentar atas
kejahatan dan penyimpangan aparat di bawahnya. Hamid tergopoh-gopoh
menyusul Presiden yang telah naik terlebih dahulu ke kamarnya
menggunakan lift. Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra, yang
menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM sebelum Hamid dan hadir dalam
keterangan pers itu, juga tampak gundah.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, yang telah berganti batik lengan
panjang, memberi penjelasan mengapa Presiden tampak begitu geram. "Data
yang diperoleh Presiden tentang kejahatan dan penyimpangan di Imigrasi
terakumulasi di Malaysia," ujarnya tenang.

Presiden mengemukakan, sudah lama ia mendapat laporan kejahatan dan
penyimpangan di Imigrasi. Membuktikan kebenaran laporan itu, Presiden
didampingi Ny Ani Yudhoyono dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi
mengunjungi secara mendadak Kantor Imigrasi terminal keberangkatan
Bandar Udara Soekarno-Hatta awal Mei 2005.

Presiden terperangah dan mengerutkan dahi ketika mendapati komputerisasi
daftar ribuan nama orang yang dicegah dan ditangkal berjalan sangat
lambat dan tak sempurna beroperasi. Presiden mengecek dan mencocokkan
pendapatan negara dari biaya fiskal. Presiden juga ke Terminal 3, tempat
kedatangan tenaga kerja Indonesia, untuk membuktikan ada tidaknya
pungutan liar.

Dari data awal yang diperolehnya langsung dari lapangan, Presiden
memerintahkan aparat Imigrasi berbenah dan tertib memberikan laporan
penerimaan negara dari biaya fiskal. Namun, waktu satu tahun berjalan,
perubahan karena pembenahan belum juga terjadi. Sebaliknya, Presiden
mendapatkan tambahan laporan kejahatan dan sejumlah penyimpangan lain.

Temuan Ibu Negara.

Di sela-sela kesibukan Presiden dalam KTT Asean dan Asia Timur, Ibu
Negara bersama ibu-ibu pejabat mengadakan kegiatan lain. Mengenakan
celana panjang hitam, Ny Ani Yudhoyono mendatangi barak penampungan
tenaga kerja wanita Indonesia di Kantor Kedutaan Besar RI di Kuala
Lumpur. Di tempat itu, ditampung 84 TKW bermasalah.

Seperti kebiasaan Presiden, dalam kesempatan itu, Ibu Negara berdialog
langsung dengan beberapa TKW di samping barak tempat mereka tidur. Ibu
Negara dengan lancar mencari tahu penyebab munculnya masalah yang
melilit TKW. Para TKW umumnya masih muda belia usianya. Beberapa TKW
menggendong bayi yang masih merah.

Setelah mendatangi barak, dialog formal lantas digelar. Dari rangkaian
kegiatan inilah terkuak sebuah masalah besar yang lagi-lagi melibatkan
aparat Imigrasi, yaitu perdagangan perempuan (woman trafficking). Secara
terperinci, Ibu Negara mencatat penuturan Lastri (21), korban
perdagangan perempuan asal Medan, Sumatera Utara.

Kembali ke hotel, Ibu Negara lantas bertutur kepada Presiden mengenai
data kejahatan yang diperolehnya dari kunjungannya ke barak penampungan
TKW di KBRI Kuala Lumpur. Presiden mengaku terguncang mendengar cerita
istrinya mengenai kejahatan perdagangan perempuan yang melibatkan
sindikasi di Medan dan Malaysia.

"Malam itu juga, saya menghubungi Kepala Polri untuk mengambil tindakan
segera. Sekian jam kemudian, dua anggota sindikat kejahatan ditangkap di
Asahan, Sumatera Utara, dan satu orang di Malaysia. Kebetulan Lastri
bertemu Ibu Negara sehingga langsung bisa ditangani. Bagaimana dengan
yang lain?" ujar Presiden dalam dialog dengan masyarakat Indonesia di
Malaysia.

Lastri yang hadir dalam dialog itu tertunduk mendengar penjelasan
langkah cepat pemerintah atas kasus yang menimpanya. Sementara ratusan
warga Indonesia yang dengan santai berkeluh kesah kepada pemimpinnya
serentak menjawab, "Masih banyak kasus yang lain, Pak!"

Sebelum Lastri tampil menuturkan masalahnya dalam dialog itu, beberapa
warga Indonesia tampil lebih dahulu membeberkan buruk dan bobroknya
pelayanan aparat kepada para TKI. Sebagian besar mengeluhkan banyaknya
pungutan liar yang dikenakan kepada TKI ketika kembali ke Tanah Air atau
akan berangkat ke Malaysia.

"Pekerja Filipina yang pulang dari Malaysia ke negaranya disambut
seperti menteri dan dibukakan pintu taksi. Pekerja Indonesia disamakan
dengan gembel, duduk di lantai, dan dilayani seperti sampah oleh para
petugas di bandara," ujar Mustofa, warga Indonesia, sambil terisak
menahan tangis.

Di atas panggung, Presiden didampingi Ibu Negara menyimak lalu mencatat
sejumlah keluhan dan masalah serius yang mengemuka dari rakyat yang
dipimpinnya. Presiden kembali tersentak. Laporan miring tentang kerja
aparat pemerintah yang selama ini diterimanya mendapatkan penjelasan
rinci langsung dari para korbannya.

Presiden telah menegaskan bagaimana posisi istrinya dalam kaitan dengan
tugasnya sebagai kepala negara dan kepada pemerintahan. Istrinya diberi
ruang dalam kegiatan sosial dan kesejahteraan rakyat.

Presiden Pun Terguncang Mendengar Cerita Lastri, Wisnu Nugroho, Kompas,
Jumat, 23 Desember 2005.
***



Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***




SPONSORED LINKS
Undergraduate business schools Business school essay Business school and education
Top business schools Best business schools Business school minnesota


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke