-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of Wardoyo
Sent: Friday, December 23, 2005 11:07 AM
To: [email protected]
Subject: [mm-ugm] Prospek Perekonomian Indonesia Tahun 2006No.7/107/PSHM/Humas
Prospek Perekonomian Indonesia Tahun 2006
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi A. Sarwono, pada hari Kamis, 15 Desember 2005, menjelaskan hasil-hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 13 Desember 2005 mengenai prospek perekonomian Indonesia tahun 2006, yang mencakup pula prakiraan sejumlah indikator makroekonomi tahun 2006. Angka prakiraan yang mengindikasikan prospek perekonomian 2006 tersebut adalah sebagai berikut :Tabel 1: Prakiraan Indikator Makroekonomi 2005-2006
(%, y-o-y)
<<image003.gif>>
Asumsi yang Digunakan
Prospek perekonomian Indonesia ini disusun berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan, yaitu meliputi kondisi eksternal dan internal, serta stance kebijakan yang akan ditempuh di bidang moneter dan fiskal.
Kondisi eksternal diasumsikan :
- Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan relatif stabil pada level 4,3% dengan didukung oleh perekonomian AS dan Jepang.
- Harga minyak dunia diprediksikan sedikit meningkat dari rata-rata US$ 53 per barrel tahun 2005 menjadi US$57 per barrel pada 2006.
- Siklus kebijakan moneter ketat di AS diperkirakan akan berakhir pada triwulan II-2006.
- Nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak stabil di tahun 2006.
Tabel 2 : Asumsi Kondisi Eksternal
<<image004.gif>>
Kondisi internal diasumsikan :
- Akan terjadi penurunan daya beli masyarakat, namun sebagian dapat dikompensasi dengan kenaikan gaji PNS, UMP, dan masih akan berlanjutnya kredit konsumsi.
Kebijakan Moneter diasumsikan:
- Upaya-upaya untuk menurunkan tekanan inflasi tetap ditempuh secara konsisten.
- Kenaikan BI Rate dan pengendalian likuiditas yang ketat akan berlanjut sampai tekanan inflasi mereda. Kondisi ini mulai berdampak pada penurunan investasi swasta, khususnya di awal tahun 2006.
Kebijakan Fiskal diasumsikan :
- Terjadi kemajuan dalam kebijakan Pemerintah untuk perbaikan iklim investasi dan sektor riil, a.l. UU Penanaman Modal, perpajakan, perburuhan, infrastructure summit, dan koordinasi antara Pemerintah pusat dan daerah. Di samping itu, hambatan administrasi fiskal Pemerintah diperkirakan akan berkurang sehingga realisasi belanja barang dan belanja modal di tahun 2006 dapat lebih cepat dibandingkan tahun 2005.
Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi
Atas dasar asumsi tersebut, Bank Indonesia memandang bahwa secara keseluruhan perekonomian 2006 diperkirakan tumbuh dalam kisaran 5,0%-5,7%, meskipun masih akan melambat pada triwulan II dan triwulan III-2006. Perlambatan terjadi karena adanya penurunan kegiatan konsumsi dan investasi masyarakat sehubungan dengan melemahnya daya beli akibat kenaikan harga BBM, melemahnya nilai tukar, dan meningkatnya suku bunga. Sementara itu, kinerja ekspor belum menunjukkan kemajuan yang berarti karena terkendala oleh permasalahan daya saing dan menurunnya harga komoditas internasional.
Pertumbuhan ekonomi 2006 akan sangat ditentukan oleh kinerja konsumsi dan investasi, yang pada triwulan IV-2006 diperkirakan akan membaik. Perkiraan membaiknya kondisi permintaan domestik yang akan menopang kinerja perekonomian ini didukung oleh kemajuan dalam perbaikan iklim investasi dan sektor riil serta dampak dari arah kebijakan moneter dan fiskal yang ditempuh. Dari sisi kebijakan moneter, sejalan dengan penurunan tekanan inflasi, suku bunga secara berangsur dapat diturunkan untuk mendorong konsumsi dan investasi. Dari sisi kebijakan fiskal, jika belanja modal pemerintah baik dari anggaran tahun 2006 maupun dari dana luncuran tahun 2005 dapat direalisasikan secara maksimal, maka pertumbuhan ekonomi diperkirakan pada batas atas kisaran 5,0 - 5,7%.
Dari sisi pembiayaan, tantangan bagi pembiayaan investasi dalam tahun 2006 diperkirakan cukup berat. Melihat kepada pencapaian petumbuhan kredit pada tahun ini yang telah mencapai 21% sampai dengan Oktober, Kredit perbankan di tahun depan diperkirakan tumbuh dalam kisaran 15 - 20%. Alternatif pembiayaan dari non-perbankan diperkirakan juga menghadapi tantangan berat. Meskipun demikian, pembiayaan ekonomi diperkirakan juga akan terbantu oleh mengalirnya pembiayaan dari luar negeri, terutama memasuki paruh kedua tahun 2006. Hal ini sejalan dengan mulai membaiknya kondisi makroekonomi di semester II-2006 dan perkiraan mulai bergulirnya proyek-proyek hasil kerjasama maupun investasi bilateral dengan beberapa investor asing.
Tabel 3 : Indikator Perbankan
<<image005.gif>>
Secara umum, kondisi perbankan tahun depan masih akan membaik. Kenaikan GWM yang dikaitkan dengan pencapaian LDR diharapkan dapat mendorong perbankan untuk meningkatkan ekspansi kreditnya. Kondisi likuiditas perbankan ke depan diperkirakan akan tetap likuid karena reserve yang ada masih mencukupi. Tingginya tingkat suku bunga simpanan akan mendorong masyarakat untuk menyimpan dananya di bank sehingga semua komponen DPK diperkirakan akan tumbuh. Sementara itu, stabil dan menguatnya kembali nilai tukar rupiah juga akan meringankan risiko pasar yang dihadapi perbankan. Dengan pengambilan Posisi Devisa Neto (PDN) pada tingkat yang relatif rendah (jauh di bawah 20%) dan tidak bersifat spekulatif maka perbankan diperkirakan akan dapat mengelola risiko pasarnya dengan baik. Dengan permodalan yang dinilai tetap memadai, perbankan diperkirakan akan dapat menghadapi dan mengelola risiko pasar (perubahan suku bunga dan nilai tukar) dengan baik.
Di sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh sektor-sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor perdagangan serta sektor transportasi/komunikasi, yang diperkirakan masih akan tumbuh cukup tinggi. Di sektor pertanian, langkah-langkah Pemerintah untuk menjamin kecukupan benih, pupuk, dan obat-obatan lainnya diperkirakan dapat meningkatkan produksi di sektor pertanian. Selain itu, langkah untuk mendorong perluasan lahan dan gangguan iklim yang relatif minimal juga merupakan faktor penting bagi perbaikan kinerja sektor pertanian. Sementara itu, kinerja sektor industri pengolahan dan perdagangan lebih didorong oleh meningkatnya kegiatan konsumsi dan permintaan negara mitra dagang, serta upaya pemerintah merealisasikan rencana investasi di 2006.
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)
Meskipun kinerja neraca transaksi berjalan menurun, NPI 2006 diperkirakan masih mencatat surplus dengan peningkatan arus modal khususnya FDI. Transaksi berjalan menghasilkan surplus sebesar USD1,5 miliar, lebih rendah daripara surplus di tahun 2005 sebesar USD2,3 miliar. Kinerja neraca modal terbantu oleh aliran masuk swasta dalam bentuk FDI dan portofolio investasi. Peningkatan FDI terkait dengan mulai diimplementasikannya proyek infrastruktur dan membaiknya iklim investasi serta proyek kerjasama bilateral. Di bidang portofolio investasi, imbal hasil penanaman rupiah yang masih menarik tercermin dari selisih suku bunga dalam dan luar negeri (interest rate differential) serta membaiknya indeks risiko. Sementara itu, defisit pada lalu lintas modal pemerintah terkait dengan berakhirnya masa debt moratorium.
Dengan masih surplusnya NPI tersebut, posisi cadangan devisa 2006 diperkirakan masih relatif stabil, yaitu pada level USD33,9 miliar, atau sedikit lebih tinggi dibanding dengan tahun 2005 sebesar USD33,8 miliar. Jumlah tersebut masih dapat menopang kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri selama sekitar 4 bulan.
Tabel 4: Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)
<<image006.gif>>
Nilai Tukar
Untuk keseluruhan tahun 2006, nilai tukar rupiah diperkirakan cenderung stabil. Tekanan kurs rupiah berpotensi muncul pada Triwulan I-2006 sehubungan dengan masih berlangsungnya siklus pengetatan moneter di AS dan ketergantungan pada aliran modal masuk portofolio. Arus modal masuk yang cukup signifikan dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) diperkirakan baru akan mengalir pada Semester II-2006.
Secara fundamental, penguatan dan stabilnya nilai tukar khususnya sejak triwulan II-2006 didukung oleh meningkatnya aliran modal masuk baik berbentuk investasi portofolio maupun FDI, a.l. terkait dengan interest rate differential yang tetap terjaga, siklus kebijakan moneter ketat global yang diperkirakan mulai menurun, membaiknya premi risiko, dan mulai berjalannya proyek infrastruktur yang dicanangkan oleh Pemerintah. Di samping itu, penguatan kurs rupiah juga didukung oleh penurunan permintaan valas untuk kebutuhan impor minyak pasca kenaikan harga BBM.
Inflasi
Bank Indonesia berpendapat bahwa tingkat laju inflasi di akhir 2006 diperkirakan akan jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2005. Secara triwulanan (qtq) inflasi mengalami penurunan, yaitu diperkirakan sekitar 3,19% pada triwulan 1-2006 karena kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan kemudian menurun menjadi sekitar 0,88% dan 1,08% pada triwulan 2 dan triwulan 3-2006. Pada triwulan 4-2006 inflasi meningkat menjadi sekitar 2,36% karena hari raya keagamaan. Namun begitu, secara statistik, inflasi tahunan (yoy), inflasi IHK masih akan tinggi hingga mencapai sekitar 18,0% pada triwulan 1-2006 dan 16,7% pada triwulan 3-2006, setelah itu berangsur-angsur menurun menjadi sekitar 8% pada akhir tahun 2006.
Penurunan laju inflasi 2006 ini didasarkan atas asumsi bahwa kebijakan kenaikan harga BBM telah dilakukan seluruhnya di 2005 dan diharapkan akan mengurangi tekanan inflasi yang berasal dari administered prices. Perkiraan penurunan inflasi ini juga telah memperhitungkan kenaikan TDL sebesar 30%. Selain itu, Bank Indonesia juga memperkirakan bahwa kondisi pasokan dan distribusi barang selama 2006 diperkirakan tetap terjaga, dan kurs rupiah diperkirakan relatif stabil, sehingga dampak pass-through nilai tukar terhadap inflasi juga diperkirakan tidak signifikan. Dari sisi kesenjangan output, ekspansi ekonomi yang masih di bawah kapasitas potensialnya turut mendukung berkurangnya tekanan inflasi di akhir 2006.
"Meskipun kegiatan perekonomian di tahun 2006 berpeluang tumbuh lebih baik dan kondisi moneter di semester II-2006 diperkirakan semakin stabil, beberapa faktor risiko dan ketidakpastian seperti harga minyak dunia dan global imbalances masih berpotensi menjadi faktor penghambat pertumbuhan ekonomi", tambah Hartadi.
Jakarta, 15 Desember 2005
Direktorat Perencanaan Strategis dan
Hubungan MasyarakatD. Virgoana Gandhi
Kepala Biro
Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
SPONSORED LINKS
Undergraduate business schools Business school essay Business school and education Top business schools Best business schools Business school minnesota
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "mm-ugm" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
Title: Prospek Perekonomian Indonesia Tahun 2006
Mas
Wardoyo,
Diskusi politik dan ke-tatanegaraan penting untuk membuka wawasan kita
asal tidak prejudice supaya argumennya tidak patah ditengah jalan. Tapi bagi
saya informasi prospek perekonomian 2006 ini lebih penting. Trimakasih Mas
Wardoyo.
Salam
Agus
