On Sep 16, 2011 10:05 AM, "Airlangga Bhumintara" <[email protected]>
wrote:
>
> > Open Source tidak identik dengan gratis. Hanya kita di Indonesia yang
> > 'menyalahartikan' demikian.
>
> Cak Ditya dalam paragraf yang kedua dan keempat sudah memberikan pernyatan
> bahwa :
>
> Pengguna Linux mengusung tema bahwa setiap orang atau individu berhak
> mendapatkan, memiliki, dan merasakan teknologi yang murah (ada yang
> beranggapan gratis). - dr paragraf 2
>
> Banyak orang yang salah mengartikan semangat kemerdekaan dalam dunia
> piranti perangkat lunak, serta lupa akan makna yang jauh lebih besar
> daripada hanya ngomongin soal gratisan ! - dr paragraf 2
>

Betul, tapi di paragraf2 selanjutnya, beberapa kali disampaikan situasi
dimana penggunaan Open Source kembali dikaitkan dengan masalah biaya. Jadi
penting untuk saya menegaskan bahwa 'Free' dalam dunia Open Source *hanya*
dikaitkan dengan 'kebebasan' bukan 'gratis'.

> >
> > Prinsip Open Source adalah 'kebebasan', dalam hal ini, bebas mendapatkan
> > Source Code dari suatu aplikasi.
> >
> > Tujuannya?
> >
> > 1. Trust. Kita bisa memastikan tidak ada hal2 yang tidak diinginkan
> > seperti
> > spyware dll.
>
> pengalaman saya, baik pengguna penguin maupun mikocok, menggunakan
> perangkat lunak khusus untuk menangkal ancaman spyware, phising, dan
> serangan virus.

Bukan masalah malware yang sifatnya eksternal terhadap suatu aplikasi, akan
tetapi apakah aplikasi itu sendiri mengandung muatan yang tidak diinginkan.

Dengan aplikasi Open Source, asalkan kita punya cukup pengetahuan akan
bahasa dan lingkungan pemrograman yang digunakan, kita bisa yakin 100% bahwa
aplikasi yang digunakan memang bebas dari maksud jahat.

> >
> > 2. Audit. Kita bisa melihat kualitas dari program tersebut, apakah
> > didalamnya terdapat hal2 yang potensial menimbulkan ancaman terhadap
> > keamanan data/sistem.
>
> pengalaman saya, baik pengguna penguin dan mikocok yang saya pandang sudah
> senior dan bahkan pegang sertifikat (ini artian positif lho - gak pakai
> main joki, atau semacam), dalam implementasi kedua teknologi, melihat
> kualitas dari suatu produk (maksud saya distro) berdasarkan pengalaman
> masing-masing dan kebutuhan.
>
> Teman dekat saya suka Suse, sedangkan mantan konco SMP saya mati-matian
> belain Fedora.
>
> Ketika saya tanya, kenapa kamu milih A dan alasan kamu milih B, tidak ada
> yang menjawab bahwa pernah melakukan audit terhadap teknologinya - silakan
> mengacu pada ISO 27001.
>
> Namun lebih kepada pengalaman dan kebutuhan saat itu

Windows juga bisa dipakai untuk mengendalikan mesin CNC, tapi apakah kita
semua mengoperasikan mesin CNC?

Maksud dari point kedua saya adalah 'memberikan kemampuan' melakukan audit.
Tanpa Source Code, mustahil kita bisa melakukan code audit.

> >
> > 3. Profiling. Dengan memiliki source code, saya bisa melakukan
> > penyelidikan
> > bila aplikasi tertentu ada masalah di sistem saya.
>
> Pengalaman saya, tentu dengan source code, kita bisa menyelidiki sampai
> sedalam yang kita mau, mau dirubah juga silakan.
>
> Namun sekali lagi, beberapa teman baik saya yang pengguna Open Source
> ternyata TIDAK pernah bongkar sampai baris kode, dan jujur saja, gak bisa
> programming...mereka memang jago-nya di bidang infrastruktur.

Saya tidak menulis bahwa Open Source = *harus* melakukan profiling. Tapi
tanpa source code, susah melakukan profiling yang baik.

Jadi sekali lagi, Open Source adalah 'enabler', bukannya berarti bahwa kita
harus melakukan audit dan/atau profiling.

> >
> > 4. Improvement. Karena ada akses ke source code, maka bila saya ada ide
> > untuk penambahan fitur, perbaikan algoritma, dll, tinggal dicodingkan
> > saja,
> > lalu di-submit kembali pada upstream. Dan kalau upstream tidak setuju,
> > saya
> > bebas untuk melakukan 'forking'.
>
> True enough! beberapa distro bikinan Indonesia sudah ada
> >
> > 5. Innovation. Saya bebas (sebatas hak2 yang diberikan dalam lisensi)
> > untuk
> > membuat aplikasi baru berdasar source code tersebut, bahkan aplikasi
yang
> > samasekali tidak ada hubungannya dengan aplikasi aslinya tapi
menggunakan
> > sebagian kode nya.
>
> Ini sama seperti no 4, Improvement (pengembangan) erat kaitannya dengan
> Innovation (pembaharuan) - sorry, agak susah cari padanannnya - saya
> sendiri kurang "pas" dengan terjemahan diatas.
>

Improvement itu sifatnya internal, yaitu perbaikan atas aplikasi yang
bersangkutan, seperti bugfix atau fitur baru.

Innovation itu sifatnya eksternal, dimana kita membuat sesuatu yang baru
atas dasar yang sudah ada. Contoh sederhananya: kita bisa bebas menggunakan
library yang dirilis dengan lisensi LGPL, sementara kalau saya butuh library
yang proprietary, kemungkinan besar selain saya harus bayar, belum tentu
saya akan mendapat source code nya. Akibatnya saya sangat tergantung pada
dokumentasi dari pembuatnya. Kalau kita pakai Open Source kita bisa
'ngintip' isinya, dan kalau sebetulnya kita cuma butuh sebagian kemampuannya
dan/atau ingin dibuat inline/static-linked, ya tinggal copas saja.

> >
> > Itu sedikit koreksi dari saya. Terlepas dari koreksi ini, secara umum
saya
> > setuju dengan blog Om Ditya: gunakan apapun yang paling sesuai dengan
> > kebutuhan, dengan pendekatan yang objektif, bukan fanatisme semata.
>
> Podo Cak! apa yang saya sampaikan sebagai balasan di email dari
> panjenengan ini juga sebagai tambahan agar semua di MUGI ini bisa
> menyikapi lebih obyektif terhadap teknologi.
>
> Kita semua juga belum pernah membahas bagaiman persaingan antara Android
> dan Win Phone 7 serta BlackBerry OS..... :)
>
> Meski data yang saya dapat, nampaknya Win Phone 7 berada diurutan
> ketiga...... :)

Rgds,
_______________________________________________
To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
Get Free 5 GB mailbox Check this http://www.mugi.or.id

Powered by bisnismedia.com
www.x-phones.com (all about ponsel)

Kirim email ke