Tinjauan Islam Terhadap Perayaan Maulid Nabi Shollallohu alaihi was
sallam
oleh : Diterjemahkan dari majalah Al-Usroh edisi 120 tahun ke-10
Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shollallohu
alaihi was sallam dan seburuk-buruk perkara (dalam agama) adalah yang
diada-adakan dan setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid'ah
dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Fakta Sejarah
Melihat perjalanan hidup Nabi Shollallohu alaihi was sallam, juga
sejarah para sahabat Beliau serta para Tabi'in –semoga Alloh Subhanahu
wa Ta'ala ridho kepada mereka semua- demikian juga orang-orang yang
mengikuti mereka, bahkan sampai tahun 350 H, maka tidak kita temukan
seorangpun dari mereka mengatakan, memerintahkan apalagi mendorong
untuk melakukan perayaan hari lahirnya Nabi Shollallohu alaihi was
sallam baik itu dari kalangan ulama, tidak juga hakim bahkan sampai
masyarakat biasa.
Al-Hafidz Ash-Sakhowi dalam fatwanya mengatakan: " memperingati hari
kelahiran Nabi Shollallohu alaihi was sallam tidak pernah dinukil dari
seorangpun kalangan as-salaf ash-sholih (para pendahulu dari kalangan
sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka) hingga sekitar
tahun 300-an Hijriah, akan tetapi perbuatan itu diketemukan setelah
tahun tersebut".
Dengan demikian ada soal penting yang perlu dijawab yaitu: "Kapan
perbuatan ini pertama kali terjadi? Dan siapa yang pertama kali
melakukannya? Apakah dari kalangan ulama, atau hakim atau raja-raja
yang merupakan penerus-penerus ahli sunnah dan orang-orang yang
mengikuti mereka? Atau orang lain di luar mereka?
Pertanyaan di atas dijawab oleh seorang ahli sejarah yang berpegang
teguh kepada sunnah, yaitu al-Imam Al-Maqrizi (semoga Alloh
merahmatinya), yang mengatakan dalam bukunya: Al-Khutut jilid 1 hal
490 dan setelahnya sebagai berikut : " Hari-hari yang dijadikan oleh
penguasa Fatimiyah sebagai perayaan, keadaan-keadaan rakyatnya dan
kemeriahan-kemeriahan pada hari itu". Beliau berkata: " Penguasa
Fatimiyah dalam sepanjang tahun mempunyai hari-hari raya dan perayaan
yaitu, akhir tahun, awal tahun, hari Ashuro (1-10 dzilhijjah),
kelahiran Nabi Shollallohu alaihi was sallam, kelahiran Ali ibn Abi
Tholib -semoga Alloh ridho kepadanya-, kelahiran Hasan dan Husein
–semoga keselamatan dilimpahkan kepada mereka berdua-, kelahiran
Fatimah binti Zahro –semoga keridhoan Alloh dilimpahkan kepadanya-,
kelahiran penguasa, malam awal bulan rojab, malam pertengahan bulan
rojab, perayaan malam romadhon, perayaan awal romadhon, akhir
romadhon, perayaan malam penutupan romadhon, idhul fitri, idhul adha,
perayaan Al-Ghodir, perayaan kiswatus Syita, ulang tahun, perayaan
khomisul a'das, dan perayaan hari-hari rukubaat".
Beliau juga mengatakan dalam bukunya yang berjudul Ittiatul Hunafaa
(2/48) tahun 394 H : "dan pada bulan Robiul Awwal orang-orang
mengharuskan untuk memasang lampion di sepanjang jalan dan gang-gang
sempit dalam kota".Dalam buku yang lain (3/9 9) tahun 517 Beliau
berkata: " dan kegiatan-kegiatan perayaan maulid yang mulia Nabi
Shollallohu alaihi was sallam pada bulan Robiul Awwal menjadi
kebiasaan ". Dalam buku Ittiatul Hunafaa Beliau juga menggambarkan
bentuk-bentuk perayaan yang diadakan untuk memperingati kelahiran Nabi
Shollallohu alaihi was sallam.
Tinjauan Islam Terhadap Perayaan Maulid Nabi Shollallohu alaihi was sallam
oleh : Diterjemahkan dari majalah Al-Usroh edisi 120 tahun ke-10
Bid'ah yang Bertumpuk-Tumpuk
Dari cuplikan – cuplikan di atas Anda dapat melihat bagaimana
peringatan maulid Nabi Shollallohu alaihi was sallam terkumpul bersama
dengan bid'ah-bid'ah lain yang agung ( Bid'ah: segala sesuatu baik
keyakinan, ucapan maupun amalan yang diada-adakan dalam agama Islam)
pent seperti:
Bid'ah Syiah Rofidhoh dan berlebih-lebihan dalam menyanjung ahlul bait
(keluarga Nabi Shollallohu alaihi was sallam), hal ini dapat dilihat
dari perayaan-perayaan untuk memperingati hari lahir Ali, Fatimah,
Hasan dan Husein – semoga Alloh ridho kepada mereka semua-.
Merupakan satu hal yang sudah diketahui bahwa daulah Ubaidiah yang
mengaku dirinya keturunan Fatimah (semoga Alloh ridho kepada beliau).
Fatimiah adalah daulah syiah batiniah rofidhiah yang memerangi Alloh
dan Rosul-Nya, menghancurkan sunnah dan orang-orang yang berpegang
teguh kepadanya.
Bid'ah perayaan tahun baru Persia maupun kelahiran Isa alaihi salam
yang merupakan hari raya umat Kristen.
Tentang kedua hari raya umat Kristen ini, Ibnu Tarkamanie mengatakan
dalam buku beliau yang berjudul Al-lamu'fil hawaadist wal bida'
(1/293-316): " Termasuk perbuatan bid'ah rendahan adalah apa yang
dilakukan oleh kaum muslimin di tahun baru Persia dan
perayaan-perayaannya dengan menggalakan infak". Beliau mengatakan: "
Ini adalah infak yang tidak ada artinya, dan keburukannya akan kembali
kepada yang berinfak dalam waktu dekat atau lama". Selanjutnya Beliau
mengatakan: " dan dari sedikitnya taufik adalah apa yang dilakukan
oleh seorang muslim yang jelek dengan perayaan yang dikenal dengan
istilah Natal (kelahiran Isa Al-Masih)". Telah dinukil dari ulama
kalangan Hanafiah bahwa barang siapa (muslim) melakukan perayaan yang
telah disebut di atas, kemudian dia tidak bertobat dari perbuatan itu
maka dia telah kafir seperti mereka. Disebutkan juga dari mereka
tentang beberapa perayaan umat Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat
yang bodoh, keharaman mengikutinya menurut Al-Quran dan As-Sunnah,
serta penyimpangannya dari kaidah –kaidah syariat secara umum.
Selanjutnya Al-Maqrizi mengatakan dalam tulisannya (1/432): " Dahulu
Al-Afdhol ibn Umair Al-Juyus telah memberantas peringatan-peringatan
hari kelahiran yang empat; Maulid Nabi, Maulid Ali, Maulid Fatimah dan
Penguasa, dengan sungguh-sungguh sampai semua peringatan-peringatan
itu dilupakan, hingga kemudian ada pengajar-pengajar yang kembali
menyebut-nyebutnya kepada penguasa dan memperbaharuinya (memasukan)
dengan ajaran-ajaran Alloh ke dalamnya, berdiskusi dengannya hingga
akhirnya perayaan itu kembali dilakukan".
Pengakuan yang Tertolak
Dengan demikian kita mengetahui bahwa yang pertama kali mengadakan
peringatan maulid Nabi adalah bani Ubaid yang terkenal dengan sebutan
orang-orang Fatimiah. Bagaimana perkataan para ulama tentang daulah
Fatimiah Al-Ubaidiah yang telah menciptakan peringatan ini?.
Al-Imam Abi Syaamah seorang ahli sejarah masa sekarang yang juga
penulis buku: Ar-Roudhoutaini fi Akhbaari Ad-Daulatain (Dua Taman
Mengenai Berita-berita Dua Daulah)" hal: 200-202 mengatakan tentang
orang-orang Fatimiah Al-Ubaidiah: " Mereka menampakkan kepada
orang-orang bahwa dirinya adalah orang-orang yang mulia Fatimiah,
hingga selanjutnya mereka menguasai negeri dan memaksa hamba-hamba
Alloh. Beberapa ulama-ulama besar telah menyebutkan bahwa mereka
tidaklah mempunyai hak untuk itu termasuk juga klaim mereka sebagai
keturunan Fatimah – semoga Alloh ridho kepada Beliau-. Justru mereka
dikenal dengan bani Ubaid. Dimana orang tua Ubaid ini merupakan
keturunan Majusi (Bangsa Penyembah Api)pent yang menyimpang dari
kebenaran. Ada juga yang mengatakan bahwa orang tua Ubaid adalah orang
Yahudi dari keluarga Salimah yang berasal dari negeri Syam (Syiria),
dan dia seorang pandai besi.
Dahulu Ubaid ini bernama Sa'id, ketika ia masuk ke Magrib (Maroko) ia
dipanggil dengan nama Ubaidillah, dan mengaku bahwa dirinya adalah
keturunan Fatimah, padahal hal ini tidaklah benar (tidak ada satupun
penulis-penulis silsilah keturunan yang menyebutkan bahwa dia
merupakan keturunan Fatimah, bahkan sekelompok ulama menyebutkan hal
yang sebaliknya). Selanjutnya keadaan menjadi lunak kepadanya, sampai
kemudian ia menjadi raja dengan gelar Al-Mahdi. Pada langkah
selanjutnya keturunannya membangun silsilah (Al-Mahdiah) di Maroko
yang disandarkan kepadanya, dimana mereka adalah orang-orang yang
zindiq dan jelek. Menjadi musuh Islam dan merupakan pendukung Syiah
secara sembunyi-sembunyi, sangat berambisi untuk menghilangkan jalan
Islam, membunuh banyak para ahli fikih dan ahli hadist, dengan tujuan
membiarkan orang-orang hidup seperti binatang ternak, sehingga mudah
untuk menyebarkan aqidah mereka, maka rusak dan sesatlah orang-orang.
Akan tetapi Alloh akan selalu menyempurnakan cahaya-Nya sekalipun
orang-orang kafir benci.
Keturunan-keturunan mereka terus berkembang. Mereka menampakkan diri
jika ada kesempatan dan bersembunyi apabila keadaan tidak
memungkinkan. Dai-dai mereka terus bergerak menyesatkan manusia.
Hingga tinggallah musibah ini dalam Islam sejak awal dan akhir
kekuasaan mereka (bulan dzil hijjah tahun 299 H sampai 567 H ).
Fatwa Ulama Tentang Maulid Nabi Shollallohu alaihi was sallam
Fadhilatus Syaikh Dr. Sholih ibn Fauzan ibn Al-Fauzan salah seorang
anggota dari haiatu kibaaril Ulama Kerajaan Saudi Arabia memberikan
nasihat dan fatwa seputar masalah perayaan maulid Nabi Shollallohu
alaihi was sallam (hingga akhir tulisan), berikut ini nasihat dan
fatwa beliau – semoga Alloh Ta'ala selalu menjaganya-:
Dari sekian banyak perbuatan bid'ah yang dilakukan oleh orang-orang
adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad Shollallohu alaihi was
sallam pada bulan Robiul Awwal. Mereka yang melakukan hal ini terbagi
menjadi beberapa macam; diantara mereka ada yang hanya sekedar
berkumpul dan membaca kisah kelahiran Beliau, atau mengadakan ceramah
dan membaca syair-syair ( di Indonesia lebih terkenal dengan istilah
puji-pujian)Pent. Diantara mereka ada juga yang membuat berbagai macam
hidangan dan memberikannya kepada siapa saja yang datang dalam acara itu.
Demikian juga tempat penyelenggaraannya, ada diantara mereka yang
mengadakannya di masjid atau hanya di rumah-rumah. Lebih parah lagi
diantara mereka dalam memperingati maulid bukan sekedar
menyelenggarakan acara-acara biasa, seperti yang telah disebutkan di
atas akan tetapi mereka menjadikan perkumpulan itu penuh dengan
perkara-perkara haram dan mungkar. Bercampur-baur antara laki-laki dan
perempuan dalam satu tempat, tari-tarian serta lagu-lagu. Demikian
juga perbuatan-perbuatan syirik seperti istighosah (memohon
diselamatkan dari bencana) kepada Rosul Shollallohu alaihi was sallam,
berdoa, serta memohon kemenangan dari musuh kepada Beliau dan
lain-lainnya. Tidak diragukan lagi bahwa semua perkara-perkara di atas
merupakan perbuatan bid'ah yang diharamkan, merupakan berbuatan baru
dalam agama yang sudah berlangsung berabad-abad.
Argumen-Argumen Seputar Masalah
Orang-orang yang mengerjakan atau mendukung perayaan maulid Nabi
Shollallohu alaihi was sallam mempunyai klaim, dakwaan dan subhat
untuk melegalkan tindakan bid'ah mereka, yaitu:
Perayaan Maulid Nabi Shollallohu alaihi was sallam merupakan bentuk
pengagungan kepada Beliau Shollallohu alaihi was sallam.
Jawaban terhadap pengakuan ini adalah:
Sesungguhnya pengagungan terhadap Nabi Shollallohu alaihi was sallam
adalah dengan taat, mengerjakan perintah dan meninggalkan
larangan-larangan Beliau, serta mencintai Nabi Shollallohu alaihi was
sallam.
Pengagungan terhadap Nabi Shollallohu alaihi was sallam bukanlah
dengan mengerjakan perbuatan bid'ah, khurofat, dan maksiat serta
perayaan untuk memperingati kelahiran Beliau sebab semua perbuatan ini
merupakan bentuk pertentangan kepada Beliau Shollallohu alaihi was
sallam.
Adapun orang yang paling besar kecintaannya kepada Nabi Shollallohu
alaihi was sallam mereka tiada lain adalah para sahabat Beliau –semoga
Alloh ridho kepada mereka semua- Seperti yang dikatakan oleh Urwah ibn
Mas'ud kepada orang-orang suku Quraish:
" Hai kaum! Demi Alloh, saya telah diutus kepada Kisro (gelar raja
Persia)pent, demikian juga kepada Kaisar (gelar raja Romawi)pent serta
raja-raja, belum pernah aku melihat seorang rajapun diagungkan oleh
sahabat –sahabatnya seperti pengagungan sahabat-sahabat Muhammad
Shollallohu alaihi was sallam, Demi Alloh belum pernah ada pengagungan
yang seperti itu".
Namun demikian, pengagungan para sahabat kepada Nabi Shollallohu
alaihi was sallam yang begitu besar tidak membuat mereka merayakan
hari kelahiran (maulid) Beliau Shollallohu alaihi was sallam.
Seandainya perayaan ini dianjurkan pasti para sahaabat –semoga Alloh
ridho kepada mereka semua- tidak akan meninggalkannya.
Peringatan dan Perayaan Maulid Nabi Shollallohu alaihi was sallam
banyak dilakukan oleh kebanyakan orang di berbagai negeri.
Jawaban terhadap terhadap pernyataan di atas adalah:
Telah tetap dalil dari Rosululloh Shollallohu alaihi was sallam
tentang pelarangan bid'ah secara umum, dan peringatan maulid merupakan
bagian dari bid'ah. Demikian juga perbuatan kebanyakan orang yang
bertentangan dengan dalil tidaklah menjadi alasan legalitas atau
hujjah untuk diperbolehkannya hal itu. Alloh Subhanahu wa Ta'ala telah
berfirman :
Artinya: " Seandainya kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi
niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh" (QS. Al-An'an: 116)
Padahal selalu ada orang (ulama) yang menginkari perbuatan bid'ah ini
serta menjelaskan kesalahannya di setiap masa,. Maka tidak ada alasan
bagi orang yang terus-menerus menghidupkan perbuatan bid'ah ini
setelah datangnya kebenaran tentang hal ini. Diantara ulama-ulama itu
–semoga Alloh ridho kepada mereka semua- adalah: Syaikhul Islam Ibn
Taimiyyah dalam bukunya " Iqtidhous Shirotil Mustaqim" Imam
Ash-Shatibi dalam bukunya " Al-I'tishom" Ibnul Haj dalam bukunya yang
berjudul " Al-Madhol" bahkan Syaikh Tajuddin Ali ibn Umar Al-Khumai
mengingkari bid'ah ini dalam buku tersendiri.
Kemudian diantara ulama yang menjelaskan kerusakan perbuatan ini
adalah Syaikh Muhammad Basyir As-Sahsawani Al-Hindi dalam bukunya yang
berjudul " Siyanatul Insan" demikian juga Sayyid Muhammad Rosyid Ridho
telah mengarang secara tersendiri masalah ini, juga Syaikh Muhammad
ibn Ibrohim Ali Syaikh serta Samahatus Syaikh Abdul Aziz ibn Baz serta
lain-lainnya yang senantiasa menginkari bid'ah maulid ini melalui
tulisan-tulisan sepanjang tahun, pada saat kebid'ahan ini ada.
Orang-orang yang mengerjakan maulid mengatakan: " Sesungguhnya
perayaan maulid ini merupakan upaya menghidupkan dzikir kepada Nabi
Shollallohu alaihi was sallam
Jawaban terhadap hal ini:
Menghidupkan dzikir kepada Nabi Shollallohu alaihi was sallam adalah
dengan cara yang telah disyariatkan oleh Alloh Ta'ala seperti dalam
adzan dan iqomah, ketika khotbah, sholawat, bacaan tasyahud ketika
sholat, membaca hadits, serta mengikuti apa-apa yang datangnya dari
Beliau Shollallohu alaihi was sallam. Hal ini berlangsung
terus-menerus siang dan malam tidak terbatas hanya satu kali dalam
setahun.
Kadang-kadang mereka mengatakan " Perayaan maulid Nabi itu dipelopori
oleh seorang raja yang adil dan alim (berilmu) dengan tujuan untuk
mendekatkan diri kepada Alloh"
Jawaban terhadap hal ini:
Bid'ah itu tidak bisa diterima dari siapapun datangnya, demikian juga
niat baik harus diwujudkan dengan perbuatan baik pula bukan dengan
perbuatan jelek. Adapun keberadaan raja itu sebagai seorang yang adil
dan alim tidak menjamin dirinya sebagai seorang yang ma'sum (bebas
dari dosa).
Mereka mengatakan: Perayaan Maulid Nabi itu merupakan bid'ah hasanah
(baik), karena hal itu sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh yang
telah mengirim Rosul-Nya yang mulia.
Pernyataan ini kita jawab:
" Tidak ada kebaikan dalam bid'ah. Bukankah Nabi Shollallohu alaihi
was sallam telah bersabda: " Barang siapa yang mengada-adakan dalam
urusan kami, sesuatu yang tidak ada asalnya maka ia tertolak" .
Kemudian kita katakan kepada mereka: "mengapa bentuk rasa syukur ini
(menurut sangkaan mereka) terlambat, baru diadakan pada abad ke-enam?
Sedangkan sebaik-baik generasi yaitu generasi sahabat, tabi'in dan
pengikut tabi'in belum melaksanakannya? Padahal mereka –semoga Alloh
ridho kepada mereka semua- adalah generasi yang paling mencintai Nabi
Shollallohu alaihi was sallam , serta manusia-manusia yang paling
bersemangat dalam urusan kebaikan dan golongan yang paling pandai
bersyukur. Apakah pelopor perbuatan bid'ah ini lebih lurus? Apakah
rasa syukurnya kepada Alloh Ta'ala lebih besar dari generasi
pendahulunya?
Terkadang mereka juga mengatakan: Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi
Shollallohu alaihi was sallam dibangun di atas kecintaan kepada Beliau
Shollallohu alaihi was sallam. Dan perayaan ini adalah salah satu dari
tanda-tanda cinta kepada Nabi. Bukankah menampakkan rasa cinta kepada
Beliau dianjurkan?
Jawaban:
Tidak diragukan lagi bahwa mencintai Nabi Shollallohu alaihi was
sallam wajib hukumnya bagi setiap muslim melebihi cintanya kepada
diri-sendiri, orang tua, anak-anaknya bahkan semua orang. Akan tetapi
bukan seperti itu caranya, yaitu dengan mengada-adakan perkara dalam
agama yang belum pernah Beliau ajarkan kepada kita, akan tetapi
kecintaan kepada Beliau mengandung tuntutan untuk taat dan
mengikutinya, dan inilah bentuk kecintaan yang paling besar kepada
Beliau Shollallohu alaihi was sallam.
Cinta kepada Nabi Shollallohu alaihi was sallam mengandung konsekuensi
menghidupkan sunnah Beliau, berpegang teguh kepadanya,
mengenyampingkan hal-hal yang menyelisihinya baik ucapan maupun
perbuatan. Dan tidak diragukan lagi bahwa segala sesuatu yang
berseberangan dengan sunnah adalah bid'ah yang tercela serta sebagai
suatu bentuk maksiat yang nyata. Salah satunya adalah perayaan untuk
memperingati kelahiran Nabi Shollallohu alaihi was sallam atau yang
biasa dikenal dengan maulid Nabi ini.
Sebuah Nasihat untuk Saudaraku
Perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Shollallohu alaihi was
sallam atau biasa dikenal dengan istilah Maulid Nabi dengan segala
macam bentuk dan ragamnya adalah bid'ah. Menjadi kewajiban bagi
seorang muslim untuk tidak melakukannya dan mencegah orang lain turut
serta di dalamnya. Seyogyanya seorang muslim itu sibuk dengan
perkara-perkara sunnah serta berpegang teguh kepadanya bukan malah
sebaliknya, tidak terperdaya dengan orang-orang yang menyebarkan serta
mempertahankan bid'ah maulid ini.
Kelompok orang yang mempertahankan bid'ah ini kepedulian mereka
terhadap bid'ah lebih besar dari pada kepeduliannya untuk menghidupkan
sunnah, bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Oleh karena itu tidak
boleh seseorang itu untuk fanatik dan mengekor kepada mereka,
sekalipun mereka itu mayoritas. Akan tetapi seorang muslim hendaknya
mengikuti orang-orang yang berjalan di atas sunnah dari golongan
salafus sholih dan orang-orang yang mengikuti mereka sekalipun mereka
minoritas. Kebenaran itu tidaklah diketahui dari orangnya, akan tetapi
seseorang itu akan diketahui dengan kebenaran.
Nabi Shollallohu alaihi was sallam telah bersabda: " Sesungguhnya
barang siapa diantara kalian yang hidup setelahku, maka dia akan
melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang
teguh kepada sunnah-ku dan sunnah Al-Khulafa Al-Rosyidin Al-Mahdiyyin
setelahku, gigitlah (sunnah) dengan geraham kalian. Tinggalkan oleh
kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena setiap bid'ah
itu adalah sesat".
Hadist ini memberi petunjuk kepada kita, siapa gerangan yang harus
kita ikuti ketika terjadi perselisihan?. Sebagaimana telah dijelaskan
bahwa setiap ucapan maupun perbuatan yang bertolak-belakang dengan
sunnah maka itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat.
Kita melihat bahwa perayaan maulid Nabi tidak ditemukan asalnya sama
sekali dalam sunnah Rosululloh Shollallohu alaihi was sallam juga
dalam sunnah para pengganti Beliau Al-Khulafa Ar-Rosyidin. Dengan
demikian perayaan maulid Nabi merupakan perkara yang baru, bid'ah
dalam agama ini. Inilah dasar yang terkandung dalam hadist yang mulia
di atas, sebagaimana yang ditunjukkan oleh firman Alloh Ta'ala:
Artinya:
" Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu , maka
kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Quran) dan Rosul-Nya (sunnahnya),
jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS;
An-Nisaa; 59)
Kembali kepada Alloh Ta'ala adalah dengan kembali kepada Kitab-Nya
yang mulia, dan kembali kepada Rosul Shollallohu alaihi was sallam
adalah dengan kembali kepada sunnah Beliau setelah meninggalnya.
Al-Quran dan sunnah keduanya merupakan rujukan ketika terjadi
perselisihan. Ayat dan hadist mana yang menunjukkan diperintahkannya
perayaan maulid Nabi? Maka hendaknya bagi orang-orang yang melakukan
atau menganggap baik bid'ah ini atau bid'ah-bid'ah yang lainnya untuk
kembali kepada Alloh Ta'ala. Inilah posisi seorang muslim yang
menginginkan kebenaran. Adapun orang yang menentang dan sombong
setelah tegak dan datangnya dalil yang terang kepada dirinya, maka
perhitungannya ada di sisi Alloh Subhanahu wa Ta'ala.
( Diterjemahkan dari majalah Al-Usroh edisi 120 tahun ke-10 , Bulan
Robiul Awwal 1424 H oleh Joko Pamungkas, dengan sedikit perubahan(