Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

Berikut saya copy-kan sebuah artikel Islami.
Semoga bermanfaat & menambah ilmu bagi kita semua.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

Note : harap turut menyebarluaskan risalah ini
--
Muhammad Haryo
http://haryodakwah.my.or.id/ <http://annajiyah.notlong.com/>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Jika email ini masuk folder spam/ bulk/ junk, harap tandai sebagai NOT spam/
bulk/ junk
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~

Sebab-Sebab Turunnya Rizki - www.alsofwah.or.id
Kamis, 13 Mei 04

Akhir-akhir ini banyak orang yang mengeluhkan masalah penghasilan atau
rizki, entah karena merasa kurang banyak atau karena kurang berkah. Begitu
pula berbagai problem kehidupan, mengatur pengeluaran dan kebutuhan serta
bermacam-macam tuntutannya. Sehingga masalah penghasilan ini menjadi sesuatu
yang menyibukkan, bahkan membuat bingung dan stress sebagian orang. Maka tak
jarang di antara mereka ada yang mengambil jalan pintas dengan menempuh
segala cara yang penting keinginan tercapai. Akibatnya bermunculanlah
koruptor, pencuri, pencopet, perampok, pelaku suap dan sogok, penipuan
bahkan pembunuhan, pemutusan silaturrahim dan meninggal kan ibadah kepada
Allah untuk mendapatkan uang atau alasan kebutuhan hidup.

Mereka lupa bahwa Allah telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab
yang dapat mendatangkan rizki dengan penjelasan yang amat gamblang. Dia
menjanjikan keluasan rizki kepada siapa saja yang menempuhnya serta
menggunakan cara-cara itu, Allah juga memberikan jaminan bahwa mereka pasti
akan sukses serta mendapatkan rizki dengan tanpa disangka-sangka.

Diantara sebab-sebab yang melapangkan rizki adalah sebagai berikut:

  - *Takwa Kepada Allah*
  Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan
  menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,
  artinya,
  "Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan
  baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada
  disangka-sangkanya." (At Thalaq 2-3)

  Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam
  segala kondisi maka Allah akan memberikan keteguhan di dunia dan di akhirat.
  Dan salah satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh adalah Allah akan
  menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika
  hidup, dan Allah akan memberikan kepadanya rizki secara tidak terduga.
  Imam Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah di atas, "Yaitu barang
  siapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan
  menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah akan memberikan jalan keluar
  dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rizki dari arah yang tidak
  disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali
  sebelumnya."

  Allah swt juga berfirman, artinya,
  "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa,
  pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,
  tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
  disebabkan perbuatannya." (QS. 7:96)

  - *Istighfar dan Taubat*
  Termasuk sebab yang mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat,
  sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam ,
  "Maka aku katakan kepada mereka:"Mohonlah ampun kepada Rabbmu,
  sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun" niscaya Dia akan mengirimkan hujan
  kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan
  mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu
  sungai-sungai." (QS. 71:10-12)
  Al-Qurthubi mengatakan, "Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud
  (ayat 52,red) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya
  rizki dan hujan."

  Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri,
  maka beliau berkata, "Beristighfarlah kepada Allah", lalu ada orang lain
  yang mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, "Beristighfarlah kepada
  Allah". Ada lagi yang mengatakan, "Mohonlah kepada Allah agar memberikan
  kepadaku anak!" Maka beliau menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah".
  Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering kerontang, beliau pun
  juga menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah."
  Maka orang-orang pun bertanya, "Banyak orang berdatangan mengadukan
  berbagai persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua agar
  beristighfar." Beliau lalu menjawab, "Aku mengatakan itu bukan dari diriku,
  sesungguhnya Allah swt telah berfirman di dalam surat Nuh,(seperti tersebut
  diatas, red)

  Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu
  berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannnya
  saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa
  menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian
  tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan.

  - *Tawakkal Kepada Allah*
  Allah swt berfirman, artinya,
  "Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
  mencukupkan (keperluan)nya." (QS. 65:3)
  Nabi saw telah bersabda, artinya,
  "Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan
  sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memberikan rizki kepadamu sebagaimana
  burung yang diberi rizki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali
  dalam keadaan kenyang." (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)

  Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri
  dan sikap bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa
  hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di
  alam berupa makhluk, rizki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan
  kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari
  Allah semata.

  Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang di sampaikan oleh
  al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah
  Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat
  (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan
  hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat
  memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat selain
  Dia.

  - *Silaturrahim*
  Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah
  satu sebab terbukanya pintu rizki, di antaranya adalah sebagai berikut:
  -Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, artinya,
  " Dari Abu Hurairah ra berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu
  alaihi wasalam bersabda, "Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan
  dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim." (HR Al
  Bukhari)
  -Sabda Nabi saw, artinya,
  "Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam
  bersabda, " Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau
  harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya
  silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan
  memperpanjang umur." (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani)
  Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada
  hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau
  tidak, mahram atau bukan mahram.

  - *Infaq fi Sabilillah*
  Allah swt berfirman, artinya,
  "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya
  dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (QS. 34:39)
  Ibnu Katsir berkata, "Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang
  diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan
  memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di
  akhirat kelak."
  Juga firman Allah yang lain,artinya,

  "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian
  dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang
  baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu.
  Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari
  padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan
  memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi
  Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan
  dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan
  untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya)
  lagi Maha Mengetahui." (QS. 2:267-268)
  Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, Allah swt
  berfirman, "Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu."
  (HR Muslim)

  - *Menyambung Haji dengan Umrah*
  Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu
  Mas'ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam
  bersabda, artinya,
  "Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan
  menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi menghilangkan karat
  dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya
  kecuali surga." (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai, dishahihkan al-Albani)
  Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan
  umrah, dan jika kita melakukan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut
  dengan melakukan ibadah haji.

  - *Berbuat Baik kepada Orang Lemah*
  Nabi saw telah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rizki dan
  pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik) kepada
  orang-orang lemah, beliau bersabda, artinya,
  "Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rizki
  melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian." (HR. al-Bukhari)
  Dhu'afa' (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada
  fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar,
  hamba sahaya dan lain sebagainya.

  - *Serius di dalam Beribadah*
  Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi
  Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,
  artinya,
  "Wahai Anak Adam Bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada Ku,
  maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung
  kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu
  dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu."
  Tekun beribadah bukan berarti siang malam duduk di dalam masjid serta
  tidak bekerja, namun yang dimaksudkan adalah menghadirkan hati dan raga
  dalam beribadah, tunduk dan khusyu' hanya kepada Allah, merasa sedang
  menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya sedang
  bermunajat, mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit dan Bumi.

Dan masih banyak lagi pintu-pintu rizki yang lain, seperti hijrah, jihad,
bersyukur, menikah, bersandar kepada Allah, meninggalkan kemaksiatan,
istiqamah serta melakukan ketaatan, yang tidak dapat di sampaikan secara
lebih rinci dalam lembar yang terbatas ini. Mudah-mudahan Allah memberi kan
taufik dan bimbingan kepada kita semua. Amin.

*( Sumber: Kutaib "Al Asbab al Jalibah lir Rizqi", al-qism al-ilmi Darul
Wathan. )*

Kirim email ke