iya, qur'an Indonesia juga enggak ada salahnya koq.
isinya kan sama, aja.

ttg mushaf madinah, itu sih sekedar masukan saja, masalah selera pembaca.

kalau saya sukanya karena ::

1/ fontnya lebih enak dibaca
2/ kualitas cetakannya lebih bagus
3/ akhir halaman = akhi ayat, jadi enggak perlu cepet2 balik halaman (klau
kepotong ke halaman berikutnya kan harus cepat2 balik halaman)
4/ udah terbiasa baca mushaf madinah, jadi lebih enak untuk menghafal
ayat-ayatnya
5/ dll

intinya sih di masalah tampilan, =)
kalau di dunia IT (mentang2 anak BiNus) :: masalah interfacenya
(tampilannya) aja.

btw, sejak SMP saya bilang ke teman-teman untuk tidak menjadi "be yourself".
saya lebih setuju dengan kaidah "be better", entah itu improve sendiri /
meniru yang lain.

--
Muhammad Haryo
http://islam-download.net // http://islam-download.my.or.id [backup]
download gratis makalah dan buku Ilmiah, software Islami, mp3, dll
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Jika email ini masuk folder spam/ bulk/ junk, harap tandai sebagai NOT spam/
bulk/ junk
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~

On 5/12/07, Black Ccall <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Lain padang lain belalang, Lain lubuk lain pula ikannya,

pendapat teman2 diatas memang ada benarnya juga, tentang tajwid yang
berlainan pada beberapa mushaf alquran.
alquran banyak dicetak diseluruh dunia, tentang isi semuanya benar (jika
tidak diubah) hanya saja beberapa tajwid yang membedakan cara membaca
alquran tersebut.

"Mushaf Utsmani memiliki beberapa ke-khas-an, salah satunya disetiap pojok
> halaman selalu Akhir sebuah ayat. kemudian jika kita hitung jumlah lembarnya
> maka disetiap 10 lembar akan sesuai dengan 1 juz. Sedangkan banyak keluaran
> Indonesia kurang memperhatikan hal-hal tersebut."
>

Memang alquran cetakan Indonesia saya perhatikan tidak ada kekhasan khusus
seperti itu, tapi itulah ciri dari alquran Indonesia yang membedakannya dari
mushaf cetakan lain, di Indonesia paham islam kebanyakan dianut oleh imam
Syafi'i sedangkan di Saudi sendiri banyak sekali paham yang dianutnya
mungkin imam Hanafi atau imam Maliki atau mungkin lainnya. Kita sebagai
bangsa Indonesia memiliki pandangan dan cara tersendiri dalam membaca atau
mempraktikan sunnah2 Rasul (bukan berarti kita ingkar kepada-Nya) tetap
berlandaskan alquran dan sunnah-Nya.

"Dan banyak orang yang sudah terbiasa dengan mushaf utsamani maka akan *sulit
> ke lain hati (*Qur'an lain)."
>

Mungkin yang menyebakan susah ke lain hati itu adalah mushaf yang
dicetaknya tersusun rapi mulai dari huruf hingga lembarannya. karena memang
dicetak rapi sekali seperti hasil ketikan komputer.

"sebaiknya kita mulai membiasakan diri untuk membaca mushaf utsmani dari
> sekarang, bukan Al-Quran keluaran Indonesia"
>

Kenapa kita harus membaca mushaf orang lain kalau masih ada mushaf
sendiri? seperti yang sudah saya katakan diatas, Indonesia tidak seperti
Iran, Irak, Turki atau negeri Timur Tengah lainnya. Indonesia adalah
Indonesia bukan Mesir.

"banyak koq yang jual di toko2. bilang aja "Mushaf Madinah"."
>

Banyak juga yang menjual mushaf terbitan Indonesia.


Jadi, Indonesia tetap Indonesia, kita dilahirkan di Indonesia bukan di
Palestina, boleh hati kita Mekkah, otak kita Jerman. Tapi tanah air tetap
Indonesia. kita tetap memperhatikan 'tubuh sendiri' di negara lain. Mushaf
Indonesia boleh dijadikan acuan.


Mohon maaf kalau ada kesalahan.



Kirim email ke