Assalamu'alaikum akhi/ukhti...
Artikel okE ne....
smoga berrmanpaat... =>




Kajian Islam :
Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari
oleh : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan


Etika Bercanda

    * Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya,
Sunnah rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam. Karena Allah telah
berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olokan shahabat Nabi
Shallallaahu alaihi wa Salam, yang ahli baca al-Qur`an yang artimya:

      "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka
lakukan), tentulah mereka menjawab: "Sesungguh-nya kami hanyalah
bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan
Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak
usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman". (At-Taubah:
65-66).

    * Hendaknya percandaan itu adalah benar tidak mengan-dung dusta.
Dan hendaknya pecanda tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan supaya
orang lain tertawa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
"Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya
orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah". (HR.
Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

    * Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan
salah seorang di antara manusia. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Salam bersabda: "Janganlah seorang di antara kamu mengambil barang
temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia
telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya
kepadanya". (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani).

    * Bercanda tidak boleh dilakukan terhadap orang yang lebih tua
darimu, atau terhadap orang yang tidak bisa bercanda atau tidak dapat
menerimanya, atau terhadap perempuan yang bukan mahrammu.

    * Hendaknya anda tidak memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu,
dan jatuhlah wibawamu dan akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang
lain.


Etika berbicara

    * Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhannahu
wa Ta'ala berfirman yang artinya:
      "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka,
kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi
sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara
manusia". (An-Nisa: 114).

    * Hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat didengar, tidak
terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dapat
difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.

    * Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu. Hadits
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan: "Termasuk kebaikan
islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna".
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

    * Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar. Abu
Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam hadisnya menuturkan : Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda:"Cukuplah menjadi suatu
dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah
ia dengar".(HR. Muslim)

    * Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu
berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun
bercanda. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: "Aku
adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang
menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin)
istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta
sekalipun bercanda". (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

    * Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah
Radhiallaahu anha. telah menuturkan: "Sesungguhnya Nabi Shallallaahu
alaihi wa Salam apabila membi-carakan suatu pembicaraan, sekiranya ada
orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya".
(Mutta-faq'alaih).

    * Menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa Salam bersabda: "Seorang mu'min itu pencela atau pengutuk
atau keji pembicaraannya". (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Mufrad,
dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    * Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam
berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu anhu disebutkan: "Dan
sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku
di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang
berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun". Para shahabat
bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab:
"Orang-orang yang sombong". (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh
Al-Albani).

    * Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Dan janganlah
sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain".(Al-Hujurat: 12).

    * Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak
memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang
dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.

    * Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan
kepada orang lain untuk berbicara.

    * Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan
perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan
kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian,
permusuhan dan pertentangan.

    * Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah
orang yang berbicara. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
      "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum
mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang
diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan
jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain
(karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik
dari wanita (yang mengolok-olokan). (Al-Hujurat: 11).



Kirim email ke