Saudara ku, 
saat kepedulian media cetak-elektronik terpaku pada satu hal
yaitu meninggalnya mantan presiden RI ke-2.
Ternyata msh ada kepedulian terhadap yang lain.
Bisa jadi itu lebih penting dan daku rasa...
Mantan presiden RI ke-2 juga mengerti,
dalam Pembukaan UUD 1945 menggaris bawahi
bahwa "kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
Oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan
karena tidak sesuai dengan Pri Kemanusiaan dan Pri Keadlian."
Berikut petikan beritanya: 

dakwatuna.com - Ratusan ribu massa dari berbagai elemen masyarakat hari Ahad 
(27/1) memenuhi lapangan Monas, Jakarta. Massa dari berbagai elemen masyarakat, 
lembaga dan ormas itu terdiri dari PKS, MUI, Hizbullah Indonesia, Salimah, 
KISPA, KNRP, Uje Centre, At Thahiriyah, organisasi kepemudaan dan media massa. 
Mereka hadir untuk satu tujuan; Bebaskan Palestina. Cabut embargo atas Gaza. 
Terpampang tulisan besar di spanduk “Kulluna fida’ laka ya falesthin. Kita 
semua tumbal bagimu wahai Palestina”.
 Orasi pertama disampaikan oleh Ir. Tifatul Sembiring, yang mengingatkan bangsa 
Indonesia untuk peduli membantu rakyat Palestina, memainkan peran dalam 
pencabutan embargo atas Gaza, dan mendesak pemerintah Indonesia untuk 
memerankan diplomasi tingkat dunia guna menstabilkan kawasan Timur Tengah, 
terutama Bangsa Palestina. Kepedulian ini bukan berarti mengabaikan kondisi 
Bangsa Indonesia yang sedang mengalami banyak musibah dan terbelit berbagai 
krisis. Justeru dengan peduli terhadap sesama, berbagai permasalahan dan 
musibah bisa terurai satu demi satu biidznillah.
 Selanjutnya orasi disampaikan oleh Ketua MPR RI, DR. Hidayat Nurwahid, MA, 
yang masih dalam masa berkabung atas wafat isterinya tercinta, Ibu Kastian 
Indriawati (45) di Yogyakarta Selasa (22/1) lalu. Tapi kedukaan itu tidak 
membuat beliau surut untuk tetap memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Dalam 
sambutannya, Hidayat menekankan pentingnya kepeduliaan ini, “Bangsa Indonesia 
harus melaksanakan amanat Pembukaan Undang-Undang, di mana disebutkan bahwa 
kemerdekaan adalah hak segala Bangsa, dan oleh itu penjajahan harus dihapuskan 
di muka bumi”. Salah satu melaksanakan amanat undang-undang itu adalah dengan 
mendukung perjuangan rakyat Palestina menentang penjajahan Israil.
 “Kepergian isteri saya tidak sebanding dengan kepedihan dan penderitaan yang 
dialami oleh saudara-saudara kita di Gaza yang kini diblokade oleh Zionis 
‘Israel’,” tegas Hidayat yang disambut tepuk tangan dari massa yang hadir.
 Aktivis perempuan dari Uje Centre juga berorasi, dengan melihat kondisi di 
Palestina secara langsung, ia menegaskan bahwa, kita di sini tidak hanya 
berteriak menghujat Amerika dan Israil, dan menuntut keadilah dunia bagi Bangsa 
Palestina, namun jauh dari itu adalah kepedulian yang nyata dari umat manusia 
untuk membantu finansial dan do’a. ia pun mengakhiri orasi dengan membaca puisi 
“Palestina Menangis” yang menggambarkan kehidupan pilu di Palestina, di akhir 
puisinya dengan lantang ia mengatakan: “Wahai Palestina… kami siap 
membebaskanmu”.
 Setelah itu, massa berjalan menuju ke Kedutaan Besar (kedubes) Amerika di 
jalan Merdeka Selatan, Jakarta. Di depan kedubes, Tifatul Sembiring kembali 
berorasi, “Hai Bush, dengarkan saya!” kata Tifatul mengawali orasinya. “Anda 
katakan melawan teroris. Anda katakan menegakkan HAM. Tapi apa yang terjadi di 
Palestina? Rakyat Paletina kalian embargo atas pilihan demokrasi mereka 
sendiri. Sisi lain Anda membiarkan Israil bertindak teroris. Kampanye perang 
terhadap teroris yang Anda kumandangkan gagal total. Untuk itu kami minta Anda 
segera mencabut blokade atas saudara-saudara kami di Gaza yang kehabisan bahan 
makanan, obat-obatan dan tidak memihak kepada Zionis,” demikian pernyataan 
Tifatul yang dibacanya dengan menggunakan bahasa Inggris dan disambut 
sorak-sorai oleh ratusan ribu massa yang tetap setia mengikuti acara longmarch 
ini, tanpa kenal lelah walaupun di antara peserta aksi ada yang membawa 
anak-anak dan balita.
 Perwakilan dari Tionghoa turut berorasi, Mister Jimmy sangat mendukung 
perjuangan membebaskan Palestina, apapun latar belakang agama dan bangsa. Ia 
pun menyatakan sangat salut dengan kepedulian masyarakat Indonesia, terutama 
kader PKS yang dengan bergotong royong membantu saudara-saudaranya di Palestina 
dengan mengumpulkan dana “one man one dollar”.
 Aktivis perempuan At Thahiriyah menegaskan bahwa darah yang mengalir di 
Palestina menjadikan umat manusia, lebih khusus umat muslim bersatu, tanpa 
memandang beragam latar belakang mereka. Sedangkan Yoyoh Yusroh, anggota DPR-RI 
mendukung dan memuji Pemerintah Mesir yang membuka pintu perbatasan Rafah, 
sehingga rakyat Gaza bisa leluasa belanja memenuhi kebutuhan hidupnya di Mesir.
 Beliau juga menyerukan agar umat Islam melaksanakan qunut nazilah di setiap 
sholat yang mereka laksanakan, sebagaimana diserukan oleh Ulama Besar Dr. Yusuf 
al Qaradlawi.
 Ustadz Ferri Nur, Sekjen KISPA kembali menegaskan peran da’i, muballigh dan 
khatib untuk mengangkat tema ceramah dan khutbahnya tentang sejarah Palestina, 
Al Quds, Al Aqhsa dan kondisi terkini yang dialaminya. Sehingga umat Islam 
tidak melupakan saudara-saudaranya di sana.
 Acara ditutup dengan pementasan treatikal. Sebuah kotak segi empat besar 
tertup kain hitam diangkat rame-rame ke atas mobil trailer dan seketika ditarik 
kain penutupnya yang menjadikan gambar bendera Yahudi yang ada di satu sisi 
hancur. Yang tersisa adalah sisi-sisi kotak yang bertuliskan “Save Palestina”.
 
 
http://www.dakwatuna.com/index.php/alam-islami/2008/dari-indonesia-untuk-kemerdekaan-palestina/
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke