Rabu, 30/01/2008 16:41 WIB Romantisme Beras Murah Kebablasan Bagus Kurniawan - detikfinance Yogyakarta - Politik beras murah yang selama ini dilakukan pemerintah dinilai sebuah kebijakan yang tidak memikirkan nasib petani. Kaum petani yang sudah miskin dipaksa berkorban agar tetangganya bisa makan dengan murah. Hal itu disampaikan Mochammad Maksum dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (30/1/2008). "Romantisme beras murah sudah kebablasen. Petani yang sudah miskin harus ikhlas untuk lebih miskin lagi. Kemiskinan terus dibagi-bagi. Mereka harus menerima harga murah supaya tetangganya juga bisa makan," kata Maksum. Menurut dia, pemerintah terlalu didikte oleh lembaga keuangan atau donor seperti Bank Dunia. Mereka menyampaikan angka-angka yang menakutkan jika harga beras tinggi. Pada akhir 2006 misalnya, Bank Dunia menyatakan kenaikan harga beras telah menyebabkan penduduk miskin Indonesia bertambah hingga 3 juta orang. Angka kemiskinan naik dari 15,97 persen pada Maret 2005 menjadi 17,75 persen pada Februari 2006. "Ini semua jadi pembenar bagi dimurah-murahkannya harga beras," tegas dia. Sekilas, kata dia, fakta itu kelihatan masuk akal. Meskipun sebenarnya, kenaikan harga beras juga dipicu kenaikan harga BBM. Sementara dari sisi permintaan, rendahnya daya beli masyarakat jadi kambing hitam. "Padahal, rendahnya daya beli terjadi akibat gagalnya pemerintah membuka lapangan kerja. Akibatnya pertanian harus menjadi bemper dari ketenagakerjaan," kata staf pengajar Teknologi Pertanian UGM itu. Menurut Maksum, dogma yang selalu dikembangkan Bank Dunia dengan memurahkan harga pangan sangatlah berbahaya. Untuk mengatasi kemiskinan tidak dilakukan dengan cara peningkatan daya beli. Seharusnya lemahnya daya beli masyarakat harus diatasi secara pragmatisme fiskal dan kebijakan tersendiri tidak melalui program beras murah. Dia menambahkan keputusan pemerintah dengan mengimpor bahan pangan sangat tidak tepat. Sebab hal itu mengakibatkan sektor pertanian terpukul. Kebijakan pembangunan sangat dikotomis menempatkan sektor pertanian sebagai sesaji sektor industri. "Tak ada salahnya kita serukan program Kembali ke Desa. Kalaupun harus mengembangkan sektor industri maka harus berbasis pada agro industri yang sebenarnya Indonesia punya potensi sangat besar," pungkas dia.
Sumber: http://www.detikfinance.com/index.php?url=http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/30/time/164123/idnews/886569/idkanal/4 --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
