Jihad Jalan Kami     Oleh: Iman Santoso, Lc

 dakwatuna.com - Hidup ini adalah perjuangan dan perjuanganlah yang membuat 
kita hidup. Jihad fi sabilillah merupakan puncak ajaran Islam. Sehingga umat 
Islam yang melaksanakannya akan mendapatkan kemuliaan dan kejayaan di dunia dan 
surga Allah di akhirat.
 Sebaliknya mereka yang meninggalkan jihad dan tidak terbersit sedikitpun dalam 
hatinya untuk berjihad akan hina dan menderita di dunia serta mendapatkan siksa 
Allah di neraka. Jihad adalah satu-satunya jalan bagi umat Islam untuk meraih 
kejayaan Islam, merdeka dari penjajahan dan meraih kembali tanah yang hilang.
 Ketika umat Islam lalai terhadap kewajiban, maka Allah akan menghinakan 
mereka. Rasulullah saw. bersabda,” Jika kalian telah berdagang dengan ‘Inah 
(sistem riba’), mengikuti ekor-ekor sapi (sibuk beternak), rela bercocok tanam 
dan meninggalkan jihad, pasti Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Allah 
tidak akan mencabut kehinaan itu hingga kalian kembali ke ajaran agama kalian.” 
(HR Ahmad, Abu Dawud dan al-Baihaqi).
 Imam Syahid Hasan al-Banna berkata: Sesungguhnya umat yang mengetahui 
bagaimana cara membuat kematian, dan mengetahui bagaimana cara meraih kematian 
yang mulia, Allah pasti memberikan kepada mereka kehidupan mulia di dunia dan 
keni’matan yang kekal di akhirat. Wahn (kelemahan) yang menghinakan kita tidak 
lain karena penyakit cinta dunia dan takut mati. Maka persiapkanlah jiwa kalian 
untuk amal yang besar, dan semangatlah menjemput kematian niscaya diberi 
kehidupan. Ketahuilah bahwa kematian adalah kepastian dan tidak datang kecuali 
satu kali. Jika engkau menjadikannya di jalan Allah, maka hal itu merupakan 
keuntungan dunia dan ganjaran akhirat.
 Definisi Jihad
 Jihad secara bahasa berarti mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuannya 
baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan secara istilah syari’ah berarti 
seorang muslim mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuannya untuk 
memperjuangkan dan meneggakan Islam demi mencapai ridha Allah SWT. Oleh karena 
itu kata-kata jihad selalu diiringi dengan fi sabilillah untuk menunjukkan 
bahwa jihad yang dilakukan umat Islam harus sesuai dengan ajaran Islam agar 
mendapat keridhaan Allah SWT.
 Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata, “Yang saya maksud dengan jihad adalah; 
suatu kewajiban sampai hari kiamat dan apa yang dikandung dari sabda Rasulullah 
saw.,” Siapa yang mati, sedangkan ia tidak berjuang atau belum berniat 
berjuang, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”.
 Adapun urutan yang paling bawah dari jihad adalah ingkar hati, dan yang paling 
tinggi perang mengangkat senjata di jalan Allah. Di antara itu ada jihad lisan, 
pena, tangan dan berkata benar di hadapan penguasa tiran.
 Dakwah tidak akan hidup kecuali dengan jihad, seberapa tinggi kedudukan dakwah 
dan cakupannya yang luas, maka jihad merupakan jalan satu-satunya yang 
mengiringinya. Firman Allah,” Berjihadlah di jalan Allah dengan 
sebenar-benarnya jihad” (QS Al-Hajj 78).
 Dengan demikian anda sebagai aktifis dakwah tahu akan hakikat doktrin ‘ Jihad 
adalah Jalan Kami’
 Tujuan Jihad
 
 Jihad fi sabilillah disyari’atkan Allah SWT bertujuan agar syari’at Allah 
tegak di muka bumi dan dilaksanakan oleh manusia. Sehingga manusia mendapat 
rahmat dari ajaran Islam dan terbebas dari fitnah. Jihad fi sabilillah bukanlah 
tindakan balas dendam dan menzhalimi kaum yang lemah, tetapi sebaliknya untuk 
melindungi kaum yang lemah dan tertindas di muka bumi. Jihad juga bertujuan 
tidak semata-mata membunuh orang kafir dan melakukan teror terhadap mereka, 
karena Islam menghormati hak hidup setiap manusia. Tetapi jihad disyariatkan 
dalam Islam untuk menghentikan kezhaliman dan fitnah yang mengganggu kehidupan 
manusia. (QS an-Nisaa’ 74-76).
 Macam-Macam Jihad
 Jihad fi Sabilillah untuk menegakkan ajaran Islam ada beberapa macam, yaitu:
 
   Jihad dengan lisan, yaitu menyampaikan, mengajarkan dan menda’wahkan ajaran 
Islam kepada manusia serta menjawab tuduhan sesat yang diarahkan pada Islam. 
Termasuk dalam jihad dengan lisan adalah, tabligh, ta’lim, da’wah, amar ma’ruf 
nahi mungkar dan aktifitas politik yang bertujuan menegakkan kalimat Allah.
   Jihad dengan harta, yaitu menginfakkan harta kekayaan di jalan Allah 
khususnya bagi perjuangan dan peperangan untuk menegakkan kalimat Allah serta 
menyiapkan keluarga mujahid yang ditinggal berjihad.
   Jihad dengan jiwa, yaitu memerangi orang kafir yang memerangi Islam dan umat 
Islam. Jihad ini biasa disebut dengan qital (berperang di jalan Allah). Dan 
ungkapan jihad yang dominan disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah berarti 
berperang di jalan Allah.
 Keutamaan Jihad dan Mati Syahid
 Beberapa ayat Alquran memberikan keutamaan tentang berjihad. Di antaranya, (QS 
an-Nisaa’ 95-96)(QS as-Shaff 10-13).
 Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW ditanya: 
”Amal apakah yang paling utama?” Rasul SAW menjawab: ”Beriman kepada Allah”, 
sahabat berkata:”Lalu apa?” Rasul SAW menjawab: “Jihad fi Sabilillah”, lalu 
apa?”, Rasul SAW menjawab: Haji mabrur”. (Muttafaqun ‘alaihi)
 Dari Anas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Pagi-pagi atau sore-sore keluar 
berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia seisinya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
 Dari Anas ra bahwa nabi SAW bersabda: ”Tidak ada satupun orang yang sudah 
masuk surga ingin kembali ke dunia dan segala sesuatu yang ada di dunia kecuali 
orang yang mati syahid, ia ingin kembali ke dunia, kemudian terbunuh 10 kali 
karena melihat keutamaan syuhada.” (Muttafaqun ‘alaihi)
 ”Bagi orang yang mati syahid disisi Allah mendapat tujuh kebaikan: 1. Diampuni 
dosanya dari mulai tetesan darah pertama. 2. Mengetahui tempatnya di surga. 3. 
Dihiasi dengan perhiasan keimanan. 4. Dinikahkan dengan 72 istri dari bidadari. 
5. Dijauhkan dari siksa kubur dan dibebaskan dari ketakutan di hari Kiamat. 6. 
Diletakkan pada kepalanya mahkota kewibawaan dari Yakut yang lebih baik dari 
dunia seisinya. 7. Berhak memberi syafaat 70 kerabatnya.” (HR at-Tirmidzi)
 Hukum Jihad Fi Sabilillah
 Hukum Jihad fi sabilillah secara umum adalah Fardhu Kifayah, jika sebagian 
umat telah melaksanakannya dengan baik dan sempurna maka sebagian yang lain 
terbebas dari kewajiban tersebut. Allah SWT berfirman:
 “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan 
perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa 
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi 
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka 
itu dapat menjaga dirinya” (QS at-Taubah 122).
 Jihad berubah menjadi Fardhu ‘Ain jika:
 1. Muslim yang telah mukallaf sudah memasuki medan perang, maka baginya fardhu 
‘ain berjihad dan tidak boleh lari.
 ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang 
kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka 
(mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali 
berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan 
yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari 
Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat 
kembalinya.” (QS al-Anfal 15-16).
 2. Musuh sudah datang ke wilayahnya, maka jihad menjadi fardhu ‘ain bagi 
seluruh penduduk di daerah atau wilayah tersebut .
 ”Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar 
kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, 
bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS at-Taubah 123)
 3. Jika pemimpin memerintahkan muslim yang mukallaf untuk berperang, maka 
baginya merupakan fardhu ‘ain untuk berperang. Rasulullah SAW bersabda:
 ”Tidak ada hijrah setelah futuh Mekkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat. 
Dan jika kamu diperintahkan untuk keluar berjihad maka keluarlah (berjihad).” 
(HR Bukhari)
 
 Kata-Kata Jihad
 Khubaib bin Adi ra. berkata ketika disiksa oleh musuhnya, “Aku tidak peduli, 
asalkan aku terbunuh dalam keadaan Islam. Dimana saja aku dibunuh, aku akan 
kembali kepada Allah. Kuserahkan kepada Allah kapan saja Ia berkehendak. Setiap 
potongan tubuhku akan diberkatinya”.
 Al-Khansa ra. berpesan kepada 4 anaknya mengantarkan mereka untuk jihad, 
“Wahai anak-anakku ! Kalian tidak pernah berkhianat pada ayah kalian. Demi 
Allah, kalian berasal dari satu keturunan. Kalianlah orang yang ada dalam 
hatiku. Jika kalian menuju ke medan perang, jadilah kalian pahlawan. 
Berperanglah ! Jangan kembali. Aku membesarkan kalian untuk hari ini”.
 Abdullah bin Mubarak berkata pada saudaranya Fudail bin Iyadh yang sedang 
asyik ibadah di tahan suci,” Wahai ahli ibadah di dua tahan Haram, jika engkau 
melihat kami, niscaya engkau akan tahu bahwa engkau hanya bermain-main dalam 
ibadah. Barangsiapa membasahi pipinya dengan air mata. Maka, leher kami basah 
dengan darah”.
 Demikianlah jihad adalah satu-satunya jalan menuju kemiliaan di dunia dan di 
akhirat. Ampunan Allah, surga Adn, Pertolongan dan Kemenangan. Wallahu a’lam 
bishawaab.
http://www.dakwatuna.com/index.php/fiqh-dawah/2008/jihad-jalan-kami/

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke