http://www.dakwatuna.com/index.php/tarikh-islam/2007/sejarah-islam-di-indonesia/
Sejarah Islam Di Indonesia Oleh: Mustafa Kamal, SS.
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang
yang berakal
(QS. Yusuf ayat 111).
Sangat penting mempelajari sejarah dakwah Islam di Indonesia. Sesuai dengan
firman Allah dalam Al Quran ayat 111 bahwa mempelajari sejarah terdapat ibrah
(pelajaran). Dengan memepelajari sejarah di masa lampau, kita dapat mengambil
pelajaran untuk di masa yang akan datang dibuat perencanaan atau konsep yang
lebih baik khususnya untuk dakwah di tanah air kita, Indonesia. Sesuai dengan
hadist Rasulullah Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok
harus lebih baik dari hari ini .
Bahasa merupakan nilai tertinggi dari suatu peradaban. Suatu bangsa
dipengaruhi nilai tertentu jika bahasanya dipengaruhi oleh nilai tersebut.
Bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab (bahasa Al-Quran)
contohnya kata ibarat yang kata dasarnya dari ibrah ini yang bermakna pelajaran
dan masih banyak lagi bahasa indonesia yang berasal dari bahasa Arab. Ini
membuktikan bahwa budaya Indonesia sudahdipengaruhi oleh budaya islami.
Sejarah masuknya Islam di Indonesia melalui babak babak yang penting:
1. Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah).
Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke
Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India
yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina,
dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai
merambah di pesisir-pesisir Nusantara.
Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan
sebagai dai (juru dakwah). Kewajiban berdakwah dalam Islam bukan hanya kasta
(golongan) tertentu saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan
di agama lain hanya golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan
agama, yaitu pendeta. Sesuai ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Bana Nahnu duat
qabla kulla syai artinya kami adalah dai sebelum profesi-profesi lainnya.
Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau
pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami
sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berbenalan
dengan Islam terbuka pikirannya, dimuliakan sebagai manusia dan ini yang
membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam. Sebagai
contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia ini berbarengan dengan Gold (emas
atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau kekuasaan) selain Gospel yang merupakan
motif penyebaran agama berbarengan dengan penjajahan dan kekuasaan. Sedangkan
Islam dengan cara yang damai.
Begitulah Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas
muslim yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota
pelabuhan dan perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi
kerajaan-kerajaan Islam dari mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang
merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sampai ke Irian
jaya.
2. Babak kedua, abad 13 masehi.
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di
Nusantara. Yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya
didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya
karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina
di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja
Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan
Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang
lainnya, walaupun masih bersifat lokal.
Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu
ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan
dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:
a) Perdagangan
b) Pernikahan
c) Pendidikan (pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya indonesia,
dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar
dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini
membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan
dengan nilai-nilai Islam.
d) Seni dan budaya
Saat itu media tontonan yang sangat terkenal pada masyarakat jawa kkhususnya
yaitu wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan
sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Yang menjadi ciri
pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkannya egaliterialisme yaitu kesamaan
derajat manusia di hadapan Allah dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawam
seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Para Wali juga menggubah lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami,
ini berarti nasyid sudah ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam
upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.
e) Tasawwuf
Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang menjadi jaringan
penyebaran agama Islam.
3. Babak ketiga, masa penjajahan Belanda.
Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda
kedaerah Nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah.
Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu
hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat
itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi
atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara
aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh
para Ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren
menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren)
menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya
menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan
perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya.
Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad 13 menjadi kekuatan perlawanan
terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa
kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama
menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda
mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:
Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu
domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera
Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang
Guru Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis
yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan
Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan
dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut
dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap
kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi
pematangan pejuangan terhadap penjajahan.
4. Babak keempat, abad 20 masehi
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau
politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang
dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi
memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat
Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh
dari Al-Quran dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain
itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin pegang oleh
lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh
masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang
pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan.
Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat
organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam
merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun
1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi
wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang bersifat masih
bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut
organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.
Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin
organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena
memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia
bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi
pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi
suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya
ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung
dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai
pada sumpah pemuda tahun 1928.
Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti
lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga
ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) yang
kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)
yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut.
Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan
kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian Sumubu
(Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap
umat Islam. Ada seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia
memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama
di desa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi.
Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan
Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang
merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan
konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang
mencari suatu rumusan untuk hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi
dalam piagam ini yaitu penghapusan 7 kata lengkapnya kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat
setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhan Yang Maha Esa.
Babak kelima, abad 20 & 21.
Pada babak ini proses dakwah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri
terjadinya globalisasi informasi dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam
internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh yang
meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka
proses Islamisasi di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat
kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awalnya
masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang
sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa
kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota
pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yang perekonomiannya
berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia
bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan
terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan
jumlah peduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya
besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya.
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.