Becermin Kepada Khalid bin Walid     Oleh: Muhammad Nuh 

Melakoni jalan hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak di 
pegunungan. Kadang menurun, suatu saat menanjak melampaui pucuk pohon 
tertinggi. Saat itulah, semua terlihat kecil. Bahkan, puncak gunung pun ada di 
telapak kaki. Berhati-hatilah, karena di balik gunung ada jurang.
 Kurir Khalifah Umar Al-Khaththab agak heran dengan reaksi Khalid bin Walid. 
Selepas membaca surat khusus Khalifah, panglima perang Islam yang kesohor itu 
bicara pelan kepada sang kurir. “Jangan sampaikan pada siapa pun isi surat 
ini.” Dan kurir itu pun setuju.
 Itulah pesan Khalid bin Walid sesaat setelah membaca surat penghentian jabatan 
panglima perang dirinya. Sama sekali, hal itu bukan lantaran ia menolak titah 
khalifah yang baru dilantik. Bukan pula karena khawatir kalau popularitasnya 
akan merosot. Ia cuma ingin menjaga agar semangat pasukan tetap prima. Dan 
kemenangan Perang Yarmuk yang sedang bergolak pun bisa diraih.
 Popularitas Khalid dalam kemiliteran Islam saat itu, memang nyaris tak 
tertandingi. Ia memang sempurna di bidangnya: ahli siasat perang, mahir segala 
senjata, piawai dalam berkuda, dan kharismatik di tengah prajuritnya. 
Benar-benar idola yang pas buat mujahid Islam saat itu.
 Keputusan Umar mengganti Khalid justru di saat puncak ketenaran bukan sebagai 
jegalan. Justru, Umar ingin menyelamatkan Khalid dari fanatisme yang 
berlebihan. Beliau pun khawatir kalau pasukan Islam mengalami pergeseran 
motivasi.
 Menariknya, semua itu diterima Khalid dengan lapang dada. Dalam hitungan 
detik, ia bisa memahami maksud surat Umar itu. Ia tuntaskan perang dengan 
begitu sempurna. Setelah sukses, kepemimpinan pun ia serahkan ke penggantinya: 
Abu Ubaidah.
 Itulah penggalan kisah seorang Khalid bin Walid. Pelajaran berharga buat 
mereka yang mengalami fitnah popularitas. Sekecil apa pun ketenaran, kalau 
tidak dibangun dengan pondasi yang kokoh, akan menjadi bencana besar. 
Setidaknya, buat kebaikan diri sang tokoh.
 Kalau merujuk pada sosok Khalid bin Walid, ada beberapa bekal yang bisa 
diambil pelajaran. Pertama, ketokohan Khalid asli datang dari dalam. Bukan 
sekadar rekayasa media, bukan juga klaim sepihak. Itulah kelebihan khusus 
Khalid. Rasulullah saw. dan Khalifah Abu Bakar mengembangkan kelebihan itu pada 
saluran yang pas.
 Kelebihan yang alami itulah yang menjadikan ketokohan Khalid tak terbantahkan. 
Bahkan, oleh musuh sekali pun. Seorang panglima Romawi, Georgius, pernah 
mengatakan, “Saya ingin sekali jawaban jujur dari Anda, Wahai Panglima. Apakah 
Tuhan menurunkan pedang dari langit kepada Nabi Anda dan pedang itu diserahkan 
khusus buat Anda?” Tentu saja, pertanyaan itu membuat Khalid bin Walid 
tersenyum.
 Kedua, Khalid tidak terobsesi dengan ketokohannya. Ia tidak menjadikan 
popularitas sebagai tujuan. Itu dianggapnya sebagai bagian dari buah 
perjuangan. Hal itulah yang pernah diungkapkan Khalid mengomentari 
pergantiannya, “Saya berjuang untuk kejayaan Islam. Bukan karena Umar!” Jadi, 
di mana pun posisinya, selama masih bisa ikut berperang, stamina Khalid tetap 
prima. Itulah nilah ikhlas yang ingin dipegang seorang sahabat Rasul seperti 
Khalid bin Walid.
 Rasulullah saw. mengatakan, “Siapa memurkakan Allah untuk meraih keridhaan 
manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhainya 
menjadi murka kepadanya. Namun, siapa meridhai Allah meskipun dalam kemurkaan 
manusia maka Allah akan meridhainya dan meridhakan kepadanya orang yang pernah 
memurkainya. Allah memperindahnya, memperindah ucapan dan perbuatannya.” (HR. 
Aththabrani)
 Ketika popularitas ada di tangan, sebenarnya seseorang sedang berada di puncak 
godaan. Persis seperti kuli bangunan yang berada di gedung tinggi. Kian tinggi 
posisinya, semakin besar tiupan angin. Dan kalau jatuh pun akan jauh lebih 
sakit.
 Di antara godaan itu mengatakan, “Anda ini orang besar. Anda tahu apa yang 
Anda lakukan. Anda tak mungkin salah.” Pada saat yang bersamaan, kalau itu 
masuk dalam hati dan merembes menjadi sikap diri; orang menjadi ‘ujub. Ia 
merasa kalau dirinya memang besar. Tak ada yang layak mengatur dirinya. 
Termasuk, mungkin, oleh Allah swt. sendiri.
 Itulah yang pernah diucapkan Iblis. “Saya lebih baik dari Adam. Aku dari api, 
dan dia dari tanah! Bagaimana mungkin mesti sujud padanya!” Itulah puncak 
kesalahan dari orang besar. Orang yang terjebak dalam kepopulerannya. 
Na’udzubillah!
 Khalid bin Walid pun akhirnya dipanggil Allah swt. Umar bin Khaththab 
menangis. Bukan karena menyesal telah mengganti Khalid. Tapi, ia sedih karena 
tidak sempat mengembalikan jabatan Khalid sebelum akhirnya ‘Si Pedang Allah’ 
menempati posisi khusus di sisi Allah swt.

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke