Mumpung masih di akhir Bulan Safar, mari kita bersihkan akidah kita dengan 
membuang jauh-jauh budaya TBC (Tahayul, Bid'ah, Churofat). Terutama dengan 
beberapa issue ttg Apes, Sial, atau Bala di bulan Shafar.

Wassalam,




Nugon
___________________________________________

http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/nasihat_kyai/sayyid_muchsin_hamid-shafar_dan_kesialan-11mar07.single
 
Sayyid Muchsin Ibn Hamid: Benarkah Shafar Menakutkan dan Bulan Kesialan?
Sekarang ini kita telah memasuki bulan Shafar, bulan kedua dari penanggalan 
Hijriyah. Oleh sebagian ulama, bulan Shafar ini diberi julukan Shofarul Khoir, 
artinya Shofar yang penuh kebaikan. Kenapa dinamakan demikian? Karena umumnya 
orang awam menyangka bahwa bulan Shofar adalah bulan sial atau penuh dengan 
bala (bencana). Sehingga untuk membuat rasa optimis umat Islam maka 
dinamakanlah Shofarul Khoir. Sehingga bulan Shafar tidak terkesan menakutkan 
apalagi dipercaya sebagai bulan kesialan. Padahal setiap bulan-bulan Islam itu 
memiliki kekhususan dan keistimewaan sendiri-sendiri, demikian pula Shafar.
 Pada dasarnya hari dan bulan dalam satu tahun adalah sama. Tidak ada hari atau 
bulan tertentu yang membahayakan atau membawa kesialan. Keselamatan dan 
kesialan pada hakikatnya hanya kembali pada ketentuan takdir Ilahi.
 Pada masa jahiliyah, orang Arab beranggapan bahwa bulan Shafar merupakan bulan 
yang tidak baik. Bulan yang banyak bencana dan musibah, sehingga orang Arab 
pada masa itu menunda segala aktivitas pada bulan Shafar karena takut tertimpa 
bencana. Begitu juga dalam tradisi kejawen, banyak hitungan-hitungan yang 
digunakan untuk menentukan hari baik dan hari tidak baik, hari keberuntungan 
dan hari kesialan. Lalu bagaimana menurut syariah Islam?
 Dalam hadits riwayat Bukhari Muslim, Rosulullah SAW meluruskan dan menjelaskan 
tentang hal-hal yang merupakan penyimpangan akidah itu. Rasulullah bersabda:
  "Tidak ada penularan penyakit, tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal 
buruk, tidak boleh berprasangka buruk, dan tidak ada keburukan dalam bulan 
Shafar."
  Kemudian seorang A'roby (penduduk pedesaan arab), bertanya kepada Rasulullah: 
  "Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan onta yang semula sehat kemudian 
berkumpul dengan onta yang kudisan kulitnya, sehingga onta tersebut menjadi 
kudisan pula?"
  Kemudian Rasulullah menjawab dengan sebuah pertanyaan: 
  "Lalu siapa yang menularkan (kudis) pada onta yang pertama?"
  Ungkapan hadits laa `adwaa' atau tidak ada penularan penyakit itu, bermaksud 
meluruskan keyakinan golongan jahiliyah. Pada saat itu mereka berkeyakinan 
bahwa penyakit itu dapat menular dengan sendirinya, tanpa bersandar pada 
ketentuan dari takdir ilahiyah.
 Oleh sebab itu, untuk meluruskan keyakinan mereka, Rasulullah menjawab 
pertanyaan mereka dengan pertanyaan pula. Jika penyakit kudis onta yang sehat 
berasal dari onta yang sudah kudisan, onta yang kudisan dari yang lain, 
kemudian siapa yang menularkan penyakit kudis pada onta yang pertama kali 
terkena penyakit kudis?
 Sakit atau sehat, musibah atau selamat, semua kembali kepada kehendak Allah 
SWT. Penularan hanyalah sebuah sarana berjalannya takdir Allah. Namun walaupun 
kesemuanya kembali kepada Allah, bukan semata-mata sebab penularan, manusia 
tetap diwajibkan untuk ikhtiar dan berusaha agar terhindar dari segala musibah. 
Dalam kesempatan yang lain Rasulullah bersabda:
  "Janganlah onta yang sakit didatangkan pada onta yang sehat".
  Dalam hadits yang lain disebutkan: 
  "Larilah dari orang yang sakit lepra, seperti kamu lari dari singa."
  Maksud hadits laa thiyaarota atau tidak diperbolehkan meramalkan adanya 
hal-hal buruk adalah bahwa sandaran tawakkal manusia itu hanya kepada Allah, 
bukan terhadap makhluk atau ramalan. Karena hanyalah Allah yang menentukan baik 
dan buruk, selamat atau sial, kaya atau miskin.
 Pada masa peradaban Jahiliyyah, mereka menggantungkan nasib baik dan nasib 
buruk pada kepakan sayap seekor burung. Jika mereka akan bepergian atau 
aktivitas yang lain, mereka melapaskan seekor burung. Apabila burung terbang ke 
arah kanan atau belok ke arah kanan, maka pertanda nasib baik dan mereka akan 
meneruskan perjalanannya. Begitu sebaliknya, jika burung yang dilepaskan 
terbang ke arah kiri atau belok kiri, maka pertanda nasib buruk dan mereka akan 
mengurungkan perjalanannya, karena mereka meyakini bahwa hal itu pertanda buruk.
 Dalam hadits riwayat Imam Thobroni, Rasulullah SAW bersabda: 
  "Tidak akan mendapat derajat tinggi orang pergi ke dukun, orang bersumpah 
untuk kepentingan pribadi, atau orang yang kembali atau tidak jadi bepergian 
karena ramalan."
  Maksud hadits walaa hammata adalah tidak baik dalam berprasangka buruk akan 
datangnya bencana atau musibah. Ketika itu orang Arab mempercayai, "Jika di 
malam hari ada burung hantu terbang di atas rumahnya, maka itu menandakan akan 
ada yang meninggal dunia."
 Mereka juga mempercayai, jika ada pembunuhan yang belum terbalaskan, kemudian 
malam harinya ada burung hantu yang terbang di atas rumahnya, itu menandakan 
ruh dari orang yang dibunuh belum bisa tenang, masih melayang-layang menuntut 
pembalasan. Pemahaman dan kepercayaan semacam ini amat sangat keliru, sehingga 
Rasulullah meluruskan dengan hadits diatas.
 Walaa Shafara atau tidak ada keburukan dalam bulan Shafar. Hadits tersebut 
untuk mematahkan keyakinan yang keliru di kalangan jahiliyah. Mereka menganggap 
bahwa bulan Shafar merupakan bulan yang kurang baik, yang banyak musibah dan 
bencana, sehingga mereka menilai dan berprasangka buruk terhadap bulan Shafar.
 Menurut Islam, semua bulan dan hari itu baik, masing-masing mempunyai sejarah, 
keistimewaandan peristiwa sendiri-sendiri. Jika bulan tertentu mempunyai sisi 
nilai keutamaan yang lebih, bukan berarti bualn yang lain merupakan bulan yang 
buruk. Misalnya, dalam bulan Romadlon ada peristiwa Nuzul al Qur'an dan Lailat 
al Qodar, dalam bulan Rojab ada Isro' dan Mi'roj dan dalam bulan Robi'ul Awwal 
ada peristiwa Maulid atau kelahiran Rasulullah SAW dan lain-lain.
 Jikalau ada kejadian tragis atau peristiwa yang memilukan dalam sebuah bulan, 
itu bukan berarti bulan tersebut merupakan bulan musibah atau bulan yang penuh 
kesialan. Namun kita harus pandai-pandai mencari hikmah di balik peristiwa itu, 
dan amaliah apa yang harus dilakukan sehingga terhindar dan selamat dari 
berbagai musibah.
 Imam Ibn Hajar ash Shafii tentang hari Nahas Al Imam Ibn Hajar al Haitami 
pernah ditanya tentang bagaimana status adanya hari nahas yang oleh sebagian 
orang dipercaya, sehingga mereka berpaling dari hari itu atau menghindarkan 
suatu pekerjaannya karena dianggap hari itu penuh kesialan.
 Beliau menjawab bahwa jika ada orang mempercayai adanya hari nahas (sial) 
dengan tujuan mengharuskan untuk berpaling darinya atau menghindarkan suatu 
pekerjaan pada hari tersebut dan menganggapnya terdapat kesialan, maka 
sesungguhnya yang demikian ini termasuk tradisi kaum Yahudi dan bukan sunnah 
kaum muslimin yang selalu tawakkal kepada Allah dan tidak berprasangka buruk 
terhadap Allah.
 Sedangkan jika ada riwayat yang menyebutkan tentang hari yang harus dihindari 
karena mengandung kesialan, maka riwayat tersebut adalah bathil, tidak benar, 
mengandung kebohongan dan tidak mempunyai sandaran dalil yang jelans, untuk itu 
jauhilah riwayat seperti ini. (Fatawa Al Haditsiyah)
 Kita semua yakin bahwa terjadinya musibah atau gejala alam yang menimpa 
manusia, bukan karena adanya hari nahas atau karena adanya binatang tertentu 
atau karena adanya kematian seseorang. Yang kita yakini adalah semua yang 
terjadi di alam ini adalah dengan takdir dan kehendak Allah.
 Hari-hari, bulan, matahari, bintang dan makhluk lainnya tidak bisa memberikan 
manfaat atau madlarat (bahaya), tetapi yang memberi manfaat dan madlarat adalah 
Allah semata. Maka meyakini ada hari nahas atau hari sial yang menyebabkan 
seorang muslim menjadi pesimis, tentunya itu bukan ajaran Islam yang dibawa 
oleh Rasulullah.
 Semua hari adalah baik, dan masing-masing ada keutamaan tersendiri. Hari 
dimana kita menjaganya dan mengisinya dengan kebaikan dan ketaatan, itulah hari 
yang sangat menggembirakan dan hari raya buat kita. Seperti dikatakan oleh 
ulama Salaf, hari rayaku adalah setiap hari dimana aku tidak bermaksiat kepada 
Allah pada hari itu, dan tidak tertentu pada suatu hari saja.
 Misteri Rabu Wekasan (Rabu akhir Bulan Shafar) Lalu bagaimana dengan Rabu 
wekasan yang sering kita dengar bahwa pada hari itu adalah hari yang penuh bala 
dan musibah, bahkan bala selama setahun penuh diturunkan pada hari Rabu 
tersebut?
 Ketahuilah bahwa tidak ada satupun riwayat dari Rasulullah SAW yang menyatakan 
bahwa Rabu akhir Shafar adalah hari nahas atau penuh bala. Pendapat di atas 
sama sekali tidak ada dasaran dari hadits Nabi Muhammad yang mulia. Hanya saja 
disebutkan dalam kitab Kanzun Najah wa as Suruur halaman 24, sebagian ulama 
Sholihin Ahl Kasyf (ulama yang memiliki kemampuan melihat sesuatu yang samar) 
berkata:
  "Setiap tahun turun ke dunia 320.000 bala (bencana) dan semua itu diturunkan 
oleh Allah pada hari Rabu akhir bulan Shafar, maka hari itu adalah hari yang 
paling sulit."
  Dalam kitab tersebut, pada halaman 26 dinyatakan, sebagian ulama Sholihin 
berkata: 
  "sesungguhnya Rabu akhir bulan Shafar adalah hari nahas yang terus menerus."
  Pendapat ulama Sholihin di atas, sama sekali tidak memiliki dasar hadits yang 
dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Oleh karena itu, jangan pesimis dan 
merasa ketakutan jika menghadapi Rabu wekasan. Sekali lagi harus diingat bahwa 
yang menurunkan bala' dan membuat kemanfaatan atau bahaya adalah Allah SWT dan 
atas kehendakNya, bukan karena hari tertentu atau perputaran matahari.
 Perlu diingat pula, perilaku pesimis yang diakibatkan adanya sesuatu, sehingga 
meninggalkan pekerjaan atau bepergian karena hari tertentu misalnya atau karena 
adanya burung tertentu lewat ke arah tertentu, itu dinamakan thiyarah dan 
thiyarah ini jelas-jelas diharamkan karena itu adalah kebiasaan orang jahiliyah.
 Bahkan kalau kita mau bersikap obyektif, ternyata hari Rabu adalah hari yang 
penuh keberkahan. Seperti diriwayatkan oleh Imam al Baihaqi dalam Syu'ab al 
Iman bahwa doa dikabulkan pada hari Rabu setelah Zawaal (tergelincirnya 
matahari), 
 Demikian pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir Ibn Abdillah, bahwa 
Nabi Muhammad SAW mendatangi masjid al Ahzab pada hari Senin, Selasa dan Rabu 
antara Dzuhur dan Ashar, kemudian beliau meletakkan serbannya dan berdiri lalu 
berdoa. Jabir berkata:
  "Kami melihat kegembiraan memancar dari wajah beliau."
  Demikian disebutkan dalam kitab-kitab sejarah (Kanzun Najah wa al Surur 36)
 Kalau kita menganggap bahwa hari Rabu wekasan adalah hari penuh bala, lalu 
bagaimana dengan hari lainnya? Padahal Allah jjika hendak menurunkan azab atau 
bala tidak akan menunggu hari-hari tertentu yang dipilih dan ditentukan oleh 
manusia. Tapi Allah dengan kekuasaannya dapat bertindak dan berbuat 
sekehendak-Nya.
 Maka seharusnya kita waspada dengan kemurkaan Allah setiap hari dan setiap 
saat, sebab kita tidak tahu kapan bala itu akan turun. Maka perbanyaklah 
istighfar, bertaubat dan mengharap rahmat Allah, sebagaimana Rasulullah 
beristighfar seratus kali setiap hari. Inilah teladan kita, tidak menunggu Rabu 
wekasanv saja untuk _istighfar dan bertaubat.
 Hal serupa sering kita dengar, bahwa sebagian orang tidak mau melakukan 
pernikahan pada bulan Syawal, takut terjadi ini dan itu yang semuanya tidak ada 
dasar hukum yang jelas. Budaya ini berawal pada zaman Jahiliyah, disebabkan 
pada suatu tahun, tepatnya bulan Syawal, Allah menurunkan wabah penyakit, 
sehingga banyak orang mati menjadi korban termasuk beberapa pasangan pengantin, 
maka sejak itu mereka kaum jahilin tidak mau melangsungkan pernikahan pda bulan 
Syawal.
 Jadi, jika zaman sekarang ada seseorang tidak mau menikah pada bulan Syawal 
karena takut terkena penyakit atau musibah atau tidak punya anak, ketahuilah 
bahwa dia telah mengikuti langkah kaum jahiliyyah. Hal itu bukanlah perilaku 
umat Nabi Muhammad SAW. Sayyidah Aisyah RA bahkan menentang budaya seperti ini 
dan berkata:
  "Rasulullah SAW menikahi saya pada bulan Syawal, berkumpul (membina rumah 
tangga) dengan saya pada bulan Syawal, maka siapakah dari isteri beliau yang 
lebih beruntung daripada saya?"
  Nabi Muhammad juga menikahi Sayyidah Ummu Salamah juga pada bulan Syawal. 
 Wallahu a'lam.


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke