nugon19 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [EMAIL PROTECTED], "kurniawan iswanto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Di era globalisasi dan westernisasi saat ini, "multikulturalisme" tampaknya 
sudah dianggap sebagai paham ideal yang harus diterima masyarakat. Seperti 
paham-paham modern lain, demokrasi, liberalisme, pluralisme, kesetaraan gender, 
dan sebagainya, multikulturalisme juga diwajibkan – oleh penguasa dunia, entah 
siapa makhluknya – untuk dipeluk oleh semua orang. Tidak peduli, apakah dia 
pejabat, dosen, artis, atau dai. Semua harus multikulturalis, menganut paham 
multikulturalisme.

Maka, sudah beberapa tahun belakangan ini, kita mendengar banyak sekali 
pimpinan pesantren, dosen, mahasiswa, dan berbagai kalangan masyarakat yang 
ditraining paham multikulturalisme. Menurut mereka, dengan memeluk paham ini, 
kita bisa selamat dan membawa kemaslahatan. Tanpa banyak terekspose oleh media 
massa, pada 11 Desember 2007 lalu, Badan Litbang Departemen Agama
mengumumkan hasil penelitiannya tentang "Pemahaman Nilai-nilai Multikultural 
Para Da'i".

Baca Lebih 
Lanjut<http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6126&Itemid=55>


-- 
Kurniawan I
Kanwil DJP Kaltim

--- End forwarded message ---


http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6126&Itemid=55

      Jangan Memberhalakan "Multikulturalisme"!                                 
                                                        Senin, 07 Januari 2008  
                      Depag memasukkan "multikulturalisme" sebagai parameter 
pemahaman keagamaan para dai. Seharunya "multikulturalisme" tak dijadikan 
"berhala". Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-220
 
   Oleh: Adian Husaini
  Di era globalisasi dan westernisasi saat ini, "multikulturalisme" tampaknya 
sudah dianggap sebagai paham ideal yang harus diterima masyarakat. Seperti 
paham-paham modern lain, demokrasi, liberalisme, pluralisme, kesetaraan gender, 
dan sebagainya, multikulturalisme juga diwajibkan – oleh penguasa dunia, entah 
siapa makhluknya – untuk dipeluk oleh semua orang. Tidak peduli, apakah dia 
pejabat, dosen, artis, atau dai. Semua harus multikulturalis, menganut paham 
multikulturalisme.
  Maka, sudah beberapa tahun belakangan ini, kita mendengar banyak sekali 
pimpinan pesantren, dosen, mahasiswa, dan berbagai kalangan masyarakat yang 
ditraining paham multikulturalisme. Menurut mereka, dengan memeluk paham ini, 
kita bisa selamat dan membawa kemaslahatan. Tanpa banyak terekspose oleh media 
massa, pada 11 Desember 2007 lalu, Badan Litbang Departemen Agama mengumumkan 
hasil penelitiannya tentang "Pemahaman Nilai-nilai Multikultural Para Da'i".
  Hasil penelitian ini sangat penting untuk kita cermati, karena menyangkut 
masalah pemahaman keagamaan para dai, baik fakta maupun Sebelum kita melihat 
hasil penelitian Depag tersebut, kita simak dulu apa definisi multikulturalisme 
yang dijadikan acuan oleh Depag. Pada bagian Latar Belakang, dijelaskan 
pernyataan Ketua Balitbang Depag, Atho Mudzhar, bahwa selain dapat menjadi 
faktor integrasi, agama juga dapat menjadi faktor dis-integrasi.
  Agama sebagai faktor disintegrasi bangsa Indonesia, dapat dilihat pada 
terjadinya konflik keagamaan – bahkan sampai saat ini – di beberapa daerah di 
Indonesia. "Konflik ini salah satunya disebabkan oleh adanya pemahaman 
keberagamaan masyarakat yang masih eksklusif. Pemahaman ini dapat membentuk 
pribadi yang antipati terhadap pemeluk agama lain. Pribadi yang selalu merasa 
hanya agama dan alirannya saja yang paling benar sedangkan agama dan aliran 
lainnya adalah salah dan dianggap sesat," demikian kutipan paparan pendahuluan 
hasil penelitian tersebut.
  Sampai pada kalimat tersebut, kita semua -- juga para pejabat Litbang Depag 
-- patut merenung. Benarkah seperti itu? Bahwa konflik agama terjadi karena 
pemeluk agama meyakini kebenaran agamanya sendiri? Kita menjawab, bahwa asumsi 
itu sangat tidak benar. Kaum beragama saat ini harusnya berpikir ulang, bahwa 
mereka sedang dalam posisi dijadikan kambing hitam atas berbagai konflik yang 
terjadi, seolah-olah konflik-konflik itu terjadi karena urusan agama. Padahal, 
berapa persen yang sebenarnya masalah agama? Perlu kita catat, bahwa korban 
kekerasan terbesar di dunia ini adalah masyarakat sipil yang diperangi atas 
nama kebebasan dan demokrasi. Kita tidak menafikan ada konflik bermotif agama 
atau bernuansa agama. Tapi, marilah kita teliti dengan cermat, apakah 
konflik-konflik itu terjadi karena umat beragama memiliki pemahaman eksklusif 
bahwa hanya agamanya sendiri yang benar?
  Dalam berbagai kesempatan, masalah truth claim (klaim kebenaran) ini sering 
dijadikan sebagai kambing hitam terjadinya konflik antar agama, sehingga 
pemeluk agama dianjurkan melepaskan kliam kebenaran atas agamanya 
masing-masing. Tentu saja, ini sangat mustahil, kecuali bagi orang-orang yang 
memang sudah bosan beragama. Simaklah sebuah buku menarik berjudul "Hindu Agama 
Terbesar di Dunia" terbitan Media Hindu (2006). Judul buku itu merupakan 
terjemah dari artikel berjudul "Hinduism, the Greatest Religion in the World," 
karya Satguru Sivaya Subramuniyaswami di majalah Hinduism Today edisi 
Februari/Maret/April 2000. Tulisan itu merupakan respon terhadap seruan Paus 
John Paul II kepada para Uskup dan orang-orang Katolik untuk mengkoversi 
orang-orang Hindu di India, dalam pidatonya di New Delhi tanggal 25 Desember 
1999, tepat saat umat Hindu merayakan hari suci mereka, Depavali.
 Tulisan ini berusaha menanamkan keyakinan dan kebanggaan kepada para pemeluk 
agama Hindu terhadap agama mereka, dengan menggambarkan bahwa: "Seorang disebut 
manusia besar bukan karena tubuhnya gede, tetapi karena karakternya, karena 
sumbangannya kepada masyarakatnya. Secara kuantitas pemeluk Hindu bila digabung 
dengan "anak-anaknya" berjumlah 1,5 milyar, lebih besar dari Islam. Dan ingat, 
Hindu bukanlah agama missi yang agresif seperti Kristen atau Islam. Tetapi 
kebesaran Hindu terletak pada karakternya, sumbangannya pada peradaban. Dan 
dalam membangun budaya dan peradaban, Hindu tidak pernah menghancurkan budaya 
dan peradaban yang sudah ada. Sebaliknya Hindu melindungi, memeliara, dan 
bahkan mengembangkan mereka." (bagian pengantar oleh Ngakan Made Madrasuta).
  Kita tentu menghormati keyakinan kaum Hindu semacam itu dan tidak perlu 
menyatakan bahwa keyakinan semacam itu adalah sumber konflik. Bagi orang yang 
serius mau beragama, tentu dia memeluk agama tertentu karena meyakini ada 
hal-hal yang unik dalam agamanya. Dia yakin agamanya benar. Dia yakin agamanya 
akan mengantarkannya ke jalan keselamatan. Untuk apa dia beragama kalau tidak 
yakin? Karena itulah, kaum Hindu juga tidak rela umat mereka dijadikan sasaran 
misi Kristen. Tentu sangat aneh, jika ada orang masih mengaku Muslim, tetapi 
lebih percaya kepada Bibel ketimbang al-Quran. Juga aneh kalau orang masih 
tetap mengaku Kristen tetapi lebih meyakini al-Quran ketimbang Bibel.
  "Multikulturalisme sejati" seharusnya tidak menggerus keyakinan eksklusif 
masing-masing agama. Justru menghormati adanya keyakinan yang beragam itulah 
makna sejati dari mengakui keberagaman, bukan menggerus keyakinan masing-masing 
agama dan menggantinya dengan satu berhal baru bernama "multikulturalisme". 
Mengapa kita sebut dengan "berhala", sebab paham ini sepertinya diterima dan 
ditelan begitu saja tanpa sikap kritis. Kaum muslim dijejali dengan paham-paham 
semacam ini, yang tujuannya sudah jelas – seperti ditulis dalam laporan 
penelitian Depag ini – yaitu menggerus keyakinan beragama kaum Muslim.
  Pakar Pluralisme Agama, Dr. Anis Malik Thoha, berulang kali menyebutkan, 
bahwa salah satu watak jahat paham Pluralisme Agama adalah sikapnya yang 
otoriter yang mau membuang semua keyakinan dan menggantikannya dengan satu 
"Teologi Universal". Pernyataan Dr. Anis itu sering terbukti di lapangan. Kita 
sering melihat, bagaimana orang-orang yang mengaku pluralis marah-marah dan 
memaki-maki MUI karena mengeluarkan fatwa bahwa menghadiri Perayaan Natal 
Bersama adalah haram. Jika dia pluralis atau multikulturalis, maka seharusnya 
dia menghormati pendapat dan keyakinan MUI, bukan memaksakan pendapatnya 
sendiri yang benar. Kita makin heran melihat, bagaimana kadangkala mereka 
mengeluarkan sumpah serapahnya, hanya karena kita tidak mau mengikuti 
paham-paham sekular dan liberal Barat.
  Jika paham multikulturalisme semacam ini yang dijadikan acuan untuk dipeluk 
umat beragama di Indonesia, maka alangkah kelirunya penelitian Litbang 
Departemen Agama tersebut. Dalam laporan penelitian setebal 24 halaman ini, 
kita juga mendapati sejumlah indikator yang aneh, yang dijadikan sebagai 
parameter untuk menilai kualitas pemahaman dan sikap "multikulturalisme" para 
dai, apakah sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan sangat kurang baik.
  Misalya, hasil penelitian menunjukkan, bahwa pemahaman para dai terhadap 
nilai-nilai multikulturalisme pada dimensi kesetaraan dinilai "cukup baik", 
karena para dai itu percaya bahwa ada agama lain yang merupakan agama samawi 
dan meyakini bahwa Yahudi dan Kristen sekarang ini adalah ahlul kitab.
  Kita tidak mempersoalkan hasil penelitian ini. Tapi, mengapa indikator yang 
dipilih adalah hal-hal semacam itu? Bagi Muslim, maka tidak ada salahnya jika 
meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama samawi. Begitu juga soal 
pandangan tentang Ahlul Kitab. Banyak sekali pandangan ulama tentang masalah 
ini. Jadi, sangat naif untuk menilai seseorang dai itu berpaham multikulturalis 
atau tidak berdasarkan pemahamannya terhadap agama samawi dan Ahlul Kitab.
  Pada bagian hasil penelitian tentang "Perasaan Da'i terhadap Nilai-nilai 
Multikultural" ditemukan, bahwa tidak sampai seperempat dari jumlah dai yang 
menjadi responden dalam penelitian ini yang memiliki perasaan terhadap 
nilai-nilai multikultural yang cukup baik sampai baik. Para dai yang diteliti 
ternyata merasa kurang nyaman bertetangga dengan orang yang berbeda agama, 
tetapi cukup baik nilai mereka dalam soal kesenangan berteman dengan orang yang 
berbeda agama. Para dai itu rata-rata juga merasakan perlunya UU Penyiaran 
Agama untuk mengurangi konflik antar umat beragama. Mereka juga rata-rata tidak 
suka jika penganut agama lain menyebarkan agama kepada orang yang sudah 
beragama.
  Pada bagian "Kecenderungan Perilaku Da'i terhadap Nilai-nilai Multikultural" 
ditemukan hasil yang buruk dalam beberapa hal berikut: (1) dalam soal 
penerimaan terhadap perkawinan berbeda agama, (2) penerimaan terhadap orang 
yang berbeda agama untuk mengajar anak di sekolah, (3) penerimaan terhadap 
orang yang berbeda agama dalam melakukan kegiatan di daerah Muslim, dan (4) 
penerimaan terhadap orang yang berbeda agama untuk membangun rumah ibadah di 
daerah Muslim.
  Diantara kesimpulan dari hasil penelitian ini ialah: "Ketidakpahaman dan 
ketidaknyamanan para dai terhadap nilai kesetaraan berpengaruh pada 
kecenderungan penerimaan dai terhadap nilai kesetaraan. Walaupun mereka 
cenderung akan berperilaku setara dengan cara menerima orang yang berbeda agama 
dengan cara berteman dan bertetangga, tetapi mereka tidak akan menerima 
perkawinan berbeda agama. Mereka cenderung akan berperilaku adil dalam hal 
memberikan kesempatan kepada orang yang berbeda agama mengeluarkan pendapat, 
tetapi cenderung tidak akan memberikan kesempatan kepada teman lain yang 
berbeda agama untuk bersama-sama melakukan ibadah sesuai dengan agama 
masing-masing. Bahkan, cenderung akan menolak orang yang berbeda agama mengajar 
anak mereka di sekolah, orang yang berbeda agama mengadakan kegiatan di daerah 
muslim dan orang yang berbeda agama membangun rumah ibadah di daerah muslim. 
Mereka juga cenderung tidak akan menghargai orang yang berbeda agama. Karena 
itu, mereka
 tidak akan mendoakan orang yang berbeda agama untuk mendapatkan kebaikan dan 
keselamatan serta tidak akan mengucapkan selamat kepada orang yang berbeda 
agama pada saat mendapat kegembiraan."
  Terhadap fenomena rendahnya pemahaman dan sikap multikulturalisme para dai, 
maka direkomendasikan (1) agar disosialisasikan kepada para dai tentang 
materi-materi hubungan antar agama yang didasarkan pada ayat-ayat al-Quran yang 
mengandung penekanan terhadap prinsip-prinsip kesetaraan, misalnya penggunaan 
istilah ahli kitab (ahl al-kitab) yang digunakan al-Quran antara lain sebagai 
ungkapan penghargaan yang tinggi karena mereka berpegang pada ketuhanan yang 
monoteistik, (2) Ketidaknyamanan para dai bertetangga dengan orang yang berbeda 
agama berkaitan erat dengan pemahaman mereka terhadap nilai kesetaraan. Untuk 
merubah ketidaksukaan betetangga dengan orang yang berbeda agama, para dai 
perlu diyakinkan bahwa Islam tidak melarang untuk bertetangga dengan orang yang 
berbeda agama. (3) Kecenderungan perilaku dai terhadap nilai-nilai 
multikultural yang tergolong kurang baik diperlukan adanya kegiatan-kegiatan 
yang bersifat interaksi antara pada dai dan orang-orang yang berbeda
 agama dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan.
  Apa pun hasil penelitian ini, kita melihat, tampaknya saat ini, untuk 
menentukan seorang dai itu baik atau buruk sudah digunakan parameter baru, 
yakni parameter keimanan para dai terhadap paham "Multikulturalisme"; dan bukan 
lagi menggunakan parameter: "Syar'iy atau tidak Syar'iy", "Halal atau Haram", 
"Haq atau Bathil", "Bid'ah atau Sunnah", "Iman atau Syirik". Jika demikian 
halnya, ini sama saja telah memberhalakan paham "Multikulturalisme".
  Sebagai cendekiawan, seyogyanya para peneliti tidak terburu-buru menerima 
begitu saja paham-paham baru – seperti Multikulturalisme – tanpa menilainya 
dengan standar pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Menyimak 
indikator-indikator yang digunakan untuk meneliti tingkat "kemultikulturalan" 
seorang dai, tampak jelas, paham ini memang justru bermasalah. Jadi, semestinya 
Islam-lah yang menilai paham Multikulturalisme. Bukan sebaliknya, Islam dan 
kaum Muslim justru dinilai dengan kacamata Multikulturalisme. Wallahu a'lam. 
[Depok, 4 Januari 2008/www.hidayatullah.com].
 
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini merupakan hasil kerjasama antara Radio 
Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com


  


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke