As Salamu ‘alaikum wr. wb.,
  Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin, Wa bihii Nasta’iin ‘alaa Umuurid-Dunyaa 
wad-Diin. was-Sholaatu was-Salaamu ‘alaa Habiibinaa Nabiyyinaa Muhammad, wa 
‘alaa Aalihii wa Shohbihii wa Man Tabi’ahum bi Ihsaanin Ilaa Yaumid-Diiin. 
Ammaa Ba’du.
  Rekan-rekan sekalian, selama 2 minggu ini ane mengajar di luar kantor, jadi 
agak susah mendapatkan akses internet, kalau pun bisa mengakses, lambat 
aksesnya, sehingga sulit utk posting artikel dan reply email.
  Namun kebetulan dapat pinjaman fasilitas notebook dari kantor untuk mengajar, 
jadi di sela-sela waktu break, ane bisa secara offline mengetik apa yg ingin 
ane berbagi dengan rekan-rekan sekalian, yang Insya Allah bermanfaat buat kita 
semua.
  Pada Sabtu 12 April 2008 lalu, Tarbawi mengadakan kajian buku Metode 
Pendidikan Bunyan – hasil riset dan kontemplasi Ibu Jauharah Bawazir terkait 
fenomena anak-anak dan remaja, juga kajian psikologis dan pendidikan, dan yang 
terpenting adalah perenungan Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw.
  Sejujurnya, secara pribadi, sewaktu ane menunggu pembicara datang, ane sempat 
meminjam buku yang akan dibedah, dan melakukan quick reading….sejujurnya agak 
membingungkan, karena berupa semacam silabus, ibarat garis-garis besar haluan 
konsepnya, dan contoh-contoh penjelasan atau pemaparan lebih detailnya kurang 
banyak (ini opini pribadi ane). 
  Tapi ane bertekad bahwa bila kita ingin menerima ilmu, kita harus membuang 
atau melupakan sejenak konsep-konsep lama, mengosongkan wadah pikiran, sehingga 
dapat menerima, menampung dan meresepi ilmu pengetahuan baru dengan baik.
  Apalagi yg memaparkan adalah langsung dari penemu konsep nya.  Kita dapat 
mengetahui latar belakang, konsep secara garis besar, dan menanyakan langsung 
kebingungan atau pun ketidaktahuan kita terhadapnya.
  Ini ibarat kalau kita mengikuti pengajian, kita mendapat sanad (jalur) 
langsung dari gurunya, mendapat ijazah lansung dari gurunya, dan mendapatkan 
arahan langsung tentang matan (isi) nya baik secara garis besar mau pun 
detailnya, sehingga kita dapat langsung memahami dengan baik.
  Ini  juga menyelamatkan kita dari kebingungan dan salah pemahaman…yang mirip 
dgn idiom di kalangan pesantren, yg berbunyi: “Belajar dari buku tanpa guru, 
bagai belajar dgn syeitan”.
  Ane akan berbagi sedikit hal penting dari melimpahnya pengetahuan dan hikmah 
dari metode konsep pendidikan Bunyan.
  Yang pertama adalah kritisi tentang konsep Remaja yang rancu, yang dinilai 
oleh Ibu Jauharah banyak membawa kebingungan dan memberi dampak negatif 
terhadap pembinaan anak…bahkan diberi label `penghancuran`. Mengapa?
  Kita lihat dulu background pendefinisan perkembangan anak dalam Islam menurut 
hasil kontemplasi Ibu Jauharah, juga tambahan opini ane pribadi.
  Islam memberitahukan hanya ada 2 jenjang perkembangan anak, yaitu anak 
(Ghoiru Mukallaf) dan dewasa (Aqil-Baligh, Mukallaf). Pada masa Ghoiru 
Mukallaf, terangkat pena (terlepas dari kewajiban Syari’ah), sedangkan pada 
Mukallaf harus melakukan kewajiban Syari’ah.  Sehingga bila kita melihat kajian 
pendidikan anak dalam Islam, dalam fase tertentu anak sudah diarahkan dgn tegas 
utk bersiap dianggap dewasa secara moral. Dan pada saat usia 15 tahun, anak 
sudah didaulat sebagai orang Dewasa terutama secara moral, sehingga harus 
bertanggung jawab penuh thd segala perbuatannya, dan wajib melakukan kewajiban 
Syari’at (Mukallaf).
  Menurut pengamatan ane pribadi, pada kebudayaan di banyak tempat, terutama di 
daerah Asia, termasuk China dan Indonesia, agak mirip dgn konsep Islam…anak 
adalah masa sebelum pubertas (Aqil-Baligh), dan begitu ada tanda-tanda 
Aqil-Baligh, maka sudah dianggap dewasa, dilatih utk mapan serta diarahkan utk 
menikah…walau terkadang (atau mungkin ada beberapa cara) kurang bijak dan agak 
memaksa.
  Tetapi konsep psikologi dan pembagian tingkatan jenjang perkembangan anak yg 
sekarang – yg banyak mengacu pd teori dan konsep modern ala Barat- telah 
memberi andil kebingungan dan `penghancuran` kepada kita semua, termasuk di 
Barat sendiri.
  Konsep yg masyhur kini membagi perkembangan anak secara garis besar ke dalam 
tiga golongan: Anak, Remaja, Dewasa. Remaja dianggap masa transisi, secara 
fisik mulai dewasa, terutama ditandai dgn kemampuan berhubungan sex, tetapi 
secara moral dianggap level anak-anak yg belum pantas dimintai 
pertanggung-jawaban termasuk dianggap belum siap berkeluarga/menikah.  Dan 
kurikulum pendidikan remaja tdk tegas membina remaja dianggap sebagai orang 
dewasa.
  Akibatnya di zaman modern ini kita menghadapi banyak kasus kriminalitas, 
kenakalan, dan sex bebas dari level yg diberi nama remaja, suatu masa di mana 
lonjakan kasus `remaja` meningkat drastis dibandingkan dgn masa-masa 
sebelumnya. 
  Dan masyarakat sendiri pun tdk bisa bertindak tegas utk mengkoreksi kasus 
kriminalitas, kenakalan remaja, termasuk masalah sex bebas tsb. Karena juga 
bingung, masih dianggap anak-anak secara moral…padahal berkemampuan dewasa 
secara lahir, termasuk dlm aspek destruktif/kriminal.
  `Penghancuran` ini terjadi karena kita dikondisikan memandang fase `remaja` 
sengaja atau tdk…adalah belum bisa bertanggung jawab secara moral seperti orang 
dewasa. Fase `remaja` secara sadar atau tidak, dikondisikan terombang-ambing, 
tdk dipersiapkan utk menjadi dewasa, minimal secara moral….padahal fisik sudah 
siap menjadi dewasa.
  Penjelasan ane mungkin kurang jelas dan kurang menarik…tapi bagi yg mengikuti 
lansung penuturan Ibu Jauharah, dgn sangat jelas kita akan tercerahkan mengenai 
rancunya konsep ` remaja`. Mungkin dari Tarbawi bila ada rekaman audio atau pun 
video bisa dipublikasikan atau pun dipasarkan sehingga memberikan pencerahan 
bagi kita semua.
  Yang  kedua adalah menyodorkan pendidikan terbagi dalam 2 jalur dan gaya, 
yaitu pendidikan keluarga yg interventif, dan pendidikan sekolah yg kreatif 
imajinatif.
  Keluarga, terutama orang tua, bertanggung jawab penuh thd pendidikan anak. 
Dan sekolah hanyalah bentuk penitipan dan pendelegasian pendidikan terutama 
dari segi akademis formal (yg biasanya fokus pd aspek intelektual/kognisi), 
tetapi tanggung jawab penuh tetap berada pada orang tua. 
  Pendidikan keluarga bersifat intervensi dan mengarahkan anak utk dewasa 
secara moral, dan banyak penekanan pendidikan di bidang afeksi (emosional) 
serta psiko-motorik…dan tentu sudah pasti nuansa religi/spiritualnya harus 
kental, karena adalah kewajiban orang tua menjaga keluarganya dari siksa api 
neraka. Dan biasanya `berkat kontribusi` orang tua lah anak tergelincir dari 
fitrah menjadi kurang baik, entah menjadi `nashrani`, atau `yahudi`, atau 
`majusi`.
  Pendidikan sekolah harus disesuaikan dgn tingkatan perkembangan anak dan 
mendukung kurikulum pendidikan keluarga. Pendidikan sekolah harus bersifat 
kreatif imajinatif. Landasan utama adalah menumbuh-kembangkan dan menjaga 
Imajinasi agar berorientasi Robbaniyah – Billlah, Lillaah, Ilallooh. Lalu dari 
imajinasi tersebut dioptimalkan pendayagunaan potensi anak dgn metode kreatif.
  Masih banyak hal penting lain yg mestinya ane berbagi dengan rekan-rekan 
sekalian, namun sulit, karena kendala situasi dan kondisi.
  Namun intinya metode pendidikan Bunyan adalah metode orisinil dan aplikatif 
yg patut kita pelajari, renungkan, amalkan dan tularkan. Sekali lagi ane 
berharap Tarbawi melakukan follow-up terkait dgn metode pendidikan Bunyan. 
Minimal dimulai dgn memasarkan dan mempublikasikan Metode Pendidikan Bunyan, 
dimulai dgn sharing dokumentasi audio/video bedah buku kemarin.
  Ane beruntung…seperti yang Mas Aulia katakan, bahwa beruntunglah orang yang 
belum menikah, atau baru menikah, atau baru mempunyai anak yang masih 
kecil/belia, sehingga bisa dididik dengan metode pendidikan Bunyan.
  Ane berusaha, kelak jika ada informasi pelatihan/pengajaran metode pendidikan 
Bunyan utk orang tua, dan kondisi memungkinkan…ane akan ikuti, sebagai bekal 
menjadi orang tua yang baik, dan agar dapat mencetak anak-anak yg sholih, 
generasi Robbani, yang mampu menjadi penyejuk hati manusia dan pejuang untuk 
Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Amin.
  Demikian reportase dan sharing dari ane =)
  Tarbawi – memberikan inspirasi!!!
  Walloohu A’lam.
  Astaghfirulloooh lii wa lakum.
   
  Wassalam,
   
   
  Nugon
   


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal
        

Kirim email ke