http://www.dakwatuna.com/2008/muhammad-pribadimu-sungguh-menawan/

dakwatuna.com - Siapa di antara Anda yang membaca akhlak Muhammad saw., 
kemudian jiwanya tidak larut, matanya tidak berlinangan dan hatinya tidak 
bergetar? Siapa di antara Anda yang mampu menahan emosionalnya ketika membaca 
biografi seorang yang sangat dermawan, mulia, lembut dan tawadhu’? Siapa yang 
mengkaji sirah hidup beliau yang agung, perangai yang mulya dan akhlak yang 
terpuji, kemudian dia tidak menagis, sembari berikrar, “Saya bersaksi bahwa 
Engkau adalah utusan Allah.”?
 
 Duhai, kiranya kita mampu melaksanakan cara hidup, cinta dan akhlak yang mulya 
dari teladan mulia ini dalam kehidupan, perilaku dan mentalitas kita. Kita 
bergaul dengan orang lain, sebagaimana Muhammad saw. memperlakukan 
musuh-musuhnya. Beliau bersabda,
 
 “Sesungguhnya Allah menyuruhku agar menyambung orang yang memutuskanku, 
memberi kepada orang yang menahanku, dan memaafkan terhadap orang yang 
mendzalimiku.”
 
 Duhai, kiranya kita memperlakukan saudara seiman kita, sebagaimana Muhammad 
saw. memperlakukan orang-orang munafik, beliau memaafkan mereka, memintakan 
ampun terhadap mereka dan menyerahkan rahasia mereka kepada Allah swt.
 
 Duhai, sekiranya kita memperlakukan anak-anak kita, sebagaimana Muhamamd saw. 
memperlakukan pembantu dan pekerjanya. Ketika pembantu kecil Muhamamd saw. 
sedang sakit, beliau. membesuk dan duduk di dekat kepalanya seraya mengajak 
untuk masuk Islam. Pembantu kecil itu masuk Islam, maka Muhammad gembira seraya 
berkata, “Segala puji bagi Allah swt yang telah menyelamatkan dirinya dari api 
neraka.”
 
 “Seorang Yahudi menagih utang kepada Muhamamd saw. dengan marah-marah, kasar, 
dan tidak sopan di depan banyak orang. Muhammad saw. tersenyum dan 
menghadapinya dengan lembut. Tak disangka si Yahudi itu masuk Islam, 
mengucapkan syahadat, “Saya bersaksi bahwa Engkau utusan Allah.” Karena saya 
baca di Taurat tentang Engkau, yaitu ketika saya tambah marah, justeru Engkau 
tambah lembut menghadapiku.” Begitu pengakuan si Yahudi.
 
 Duhai, kiranya kita memperlakukan kerabat kita, meskipun mereka berbuat buruk 
kepada kita, sebagaimana Muhammad saw. memperlakukan kerabat dan kaumnya. 
Karena kerabat dan kaum Muhamamd saw. menyakitinya, mengusirnya, mengejeknya, 
menolaknya, memeranginya. Namun, beliau tetap menghadapinya. Ketika beliau 
menaklukkan Makkah, posisi beliau sebagai pemenang, penentu kebijakan, namun 
beliau berdiri berpidato mengumumkan bahwa beliau memaafkan semuanya. Sejarah 
telah mencatat dan momentum telah menjadi saksi sabda beliau,
 
 ”Allah telah mengampuni kalian, pergilah, kaliah bebas.”
 
 Sewaktu Penduduk Thaif melempari Muhammad saw. sampai beliau berdarah-darah. 
Beliau menghapus darah segar yang mengalir dari tubuhnya sambil berdo’a,
 
 ”Ya Allah, ampuni kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”
 
 Muhammad saw. pernah dicegat oleh seorang Arab badui di tengah jalan, beliau 
hanya berdiri lama berhadapan, dan tidak berpaling sampai orang badui itu 
berlalu dengan sendirinya.
 
 Suatu hari Beliau ditanya oleh seorang nenek tua, beliau dengan tekun, hangat 
dan penuh perhatian menjawab pertanyaannya. Muhamamd saw. juga membawa seorang 
anak kecil yang berstatus hamba sahaya, beliau menggandeng tanganyya mengajak 
berjalan-jalan.
 
 Muhammad saw. senantiasa menjaga kehormatan seseorang, memulyakan seseorang, 
melaksanakan hak-hak seseorang. Muhammad saw. tidak pernah mengumpat, 
menjelekkan, melaknat, menyakiti, dan tidak merendahkan seseorang. Muhammad 
saw. ketika hendak menasehati seseorang, beliau berkata, “Kenapa suatu kaum 
melaksanakan ini dan itu? Artinya, beliau tidak langsung menyalah orang 
tersebut. Beliau bersabda, “Mukmin itu tidak mencela, melaknat dan juga tidak 
keras perangainya. Beliau juga bersabda,
 
 “Sesungguhnya yang paling saya cintai di antara kalian dan paling dekat tempat 
duduknya dengan saya kelak di hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di 
antara kalian.”
 
 Muhamamd saw. merapikan sandalnya, menjahit bajunya, menyapu rumahnya, memeras 
susu kambingnya, mendahulukan sahabatnya soal makanan. Muhammad saw. tidak suka 
pujian.
 Muhamamd saw. sangat peduli terhadap fakir miskin, beliau berdiri membela 
orang yang terdzalimi, beliau bertandang ke orang papa, menengok orang sakit, 
mengantarkan jenazah, mengusap kepala anak yatim, santun terhadap perempuan, 
memulyakan tamu, memberi makan yang lapar, bercanda dengan anak-anak, dan 
menyayangi binatang.
 
 Suatu ketika para sahabat memberi saran kepada Muhammad saw, “Tidakkah Engkau 
membunuh gembong kejahatan, seorang pendosa dan otak munafik, yaitu Abdullah 
bin Ubai bin Salul? Beliau menjawab, “Tidak, karena manusia nanti mengira bahwa 
Muhammad telah membunuh sahabatnya.”
 
 Boleh jadi kita telah membaca biografi orang-orang besar, tokoh terkenal, 
ilmuwan, reformis, mujaddid, namun ketika kita membaca sirah kehidupan Muhammad 
saw. seakan-akan kita tidak mengenal selain dirinya, kita tidak mengakui selain 
dirinya. Tokoh-tokoh itu rasaya kecil di mata kita, hilang dalam ingatan kita, 
pupus dalam pikiran kita, yang ada hanya kebesaran Muhammad saw.:
 
 Bayang-bayang Engkau selalu menghampiriku setiap saat
 Ketika aku berpikir, pikiranku tertuju kepadamu
 Saya berteriak lantang
 Zamanmu bak taman indah nan menghijau
 Aku mencintaimu, cinta yang tidak bisa ditafsirkan
 
 Sungguh, Engkau tidak akan pernah hilang dari ingatan kami. Engkau ada di hati 
kami. Engkau bersemayam dalam jiwa kami. Engkau terukir dalam benak kami. 
Engkau berada di pendengaran dan penglihatan kami. Engkau mengalir dalam aliran 
darah kami. Engkau berada di sendi-sendi setiap jasad kami. Engkau hidup dalam 
seluruh anggota badan kami. Yaitu dalam sunnahmu, petunjukmu, ajaran luhurmu, 
akhlakmu yang mulya.
 
 Kami bela Engkau dengan jiwa kami. Kami bela Engkau dengan anak-anak dan 
keluarga kami semua. Nyawa-nyawa kami sebagai tebusan atas jiwa Engkau. 
Kehormatan kami, kami pertaruhkan untuk membela kehormatan Engkau.
 
 Apakah Engkau bertanya tentang umur kami? Engkaulah umur kami
 Engkau bagi kami melegenda, karena Engkau seorang “Pembebas”
 Luluh lebur ketokohan manusia, sehebat apapun
 Karena setiap saat Engkau agung di hati kami
 
 Shalawat dan salam atasmu ketika orang-orang yang berdzikir mengingatmu. 
Shalawat dan salam atasmu ketika orang yang lalai tidak pernah mengingatmu. 
Allahu a’lam (io/ut)

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke