Copy paste dari

http://muslim.or.id/manhaj-salaf/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-1.html

menuh2in milis dikit, tapi insyaaAllah menuh2in manfaat
yang didapat dari milis jg... daripada bengong =)

-- 
NOTE : If this email detected as spam or bulk, please mark it as NOT. Avoid
wrong detection by adding my email address into your contact list / address
book.


Kedudukan Sahabat Nabi di Mata Umat Islam
(1)<http://muslim.or.id/manhaj-salaf/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-1.html>
Kategori: Manhaj Salaf <http://muslim.or.id/category/manhaj-salaf>

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada
Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik hingga akhir masa. *Amma ba'du*.

Abdullah bin Mas'ud *radhiyallahu 'anhu* mengatakan,

"Barang siapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang
telah meninggal. Mereka itulah para sahabat Muhammad *shallallahu 'alaihi wa
sallam*. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat
ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri.
Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani
Nabi-Nya *shallallahu 'alaihi wa sallam* dan untuk menyampaikan ajaran
agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan
mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus." (*Al
Wajiz fi 'Aqidati Salafish shalih*, hal. 198)

*Pengertian Sahabat*

Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi *shallallahu 'alaihi wa
sallam* dalam keadaan muslim, meninggal dalam keadaan Islam, meskipun
sebelum mati dia pernah murtad seperti Al Asy'ats bin Qais. Sedangkan yang
dimaksud dengan berjumpa dalam pengertian ini lebih luas daripada duduk di
hadapannya, berjalan bersama, terjadi pertemuan walau tanpa bicara, dan
termasuk dalam pengertian ini pula apabila salah satunya (Nabi atau orang
tersebut) pernah melihat yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Oleh karena itu Abdullah bin Ummi Maktum *radhiyallahu'anhu* yang
buta matanya tetap disebut sahabat (lihat *Taisir Mushthalah* Hadits, hal.
198, *An Nukat*, hal. 149-151)

*Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Para Sahabat*

Syaikh Abu Musa Abdurrazzaq Al Jaza'iri *hafizhahullah* berkata, "Ahlus
Sunnah wal Jama'ah As Salafiyun senantiasa mencintai mereka (para sahabat)
dan banyak menyebutkan berbagai kebaikan mereka. Mereka juga mendoakan
rahmat kepada para sahabat, memintakan ampunan untuk mereka demi
melaksanakan firman Allah *ta'ala* yang artinya, *"Dan orang-orang yang
datang sesudah mereka mengatakan; Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan
saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan. Dan
janganlah Kau jadikan ada rasa dengki di dalam hati kami kepada orang-orang
yang beriman, sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang."* (QS. Al
Hasyr [59]: 10)

Dan termasuk salah satu prinsip yang diyakini oleh Ahlus Sunnah As Salafiyun
adalah menahan diri untuk tidak menyebut-nyebutkan kejelekan mereka serta
bersikap diam (tidak mencela mereka, red) dalam menanggapi perselisihan yang
terjadi di antara mereka. Karena mereka itu adalah pilar penopang agama,
panglima Islam, pembantu-pembantu Rasul *shallallahu 'alaihi wa sallam*,
penolong beliau, pendamping beliau serta pengikut setia beliau. Perbedaan
yang terjadi di antara mereka adalah perbedaan dalam hal ijtihad. Mereka
adalah para mujtahid yang apabila benar mendapatkan pahala dan apabila salah
pun tetap mendapatkan pahala. *"Itulah umat yang telah berlalu. Bagi mereka
balasan atas apa yang telah mereka perbuat. Dan bagi kalian apa yang kalian
perbuat. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka
kerjakan."*(QS. Al Baqarah [2]: 141). Barang siapa yang
mendiskreditkan para sahabat
maka sesungguhnya dia telah menentang dalil Al Kitab, As Sunnah, Ijma' dan
akal." (*Al Is'aad fii Syarhi Lum'atil I'tiqaad*, hal. 77)

*Dalil-dalil Al Kitab Tentang Keutamaan Para Sahabat*

   1. Allah *ta'ala* berfirman yang artinya, *"Muhammad adalah utusan
   Allah beserta orang-orang yang bersamanya adalah bersikap keras kepada
   orang-orang kafir dan saling menyayangi sesama mereka. Engkau lihat mereka
   itu ruku' dan sujud senantiasa mengharapkan karunia dari Allah dan
   keridhaan-Nya."* (QS. Al Fath: 29)
   2. Allah *ta'ala* berfirman yang artinya, *"Bagi orang-orang fakir
   dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan
   meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan
   keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah
   orang-orang yang benar. Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri
   tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang
   berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa
   butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan
   saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada
   dalam kesulitan."* (QS. Al Hasyr [59]: 8-9)
   3. Allah *ta'ala* berfirman yang artinya, "*Sungguh Allah telah ridha
   kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji
   setia kepadamu di bawah pohon (Bai'atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang
   ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka
   dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat."* (QS. Al Fath [48]:
   18)
   4. Allah *ta'ala* berfirman yang artinya, *"Dan orang-orang yang
   terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar
   serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah telah ridha
   kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. dan Allah telah
   mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
   bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang
   sangat besar."* (QS. At Taubah [9]: 100)
   5. Allah *ta'ala* berfirman yang artinya, *"Pada hari di mana Allah
   tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya
   mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka."* (QS. At
   Tahrim [66]: 8) (lihat *Al Is'aad*, hal. 77-78)

*Dalil-dalil Dari As Sunnah Tentang Keutamaan Para Sahabat*

   1. Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabda, *"Janganlah
   kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya
   apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas
   sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang
   di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan
   setengahnya."* (Muttafaq 'alaih)
   2. Beliau juga bersabda, *"Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku
   (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi'in) dan kemudian
   orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi'ut tabi'in)."* (Muttafaq
   'alaih)
   3. Beliau *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabda, *"Bintang-bintang
   itu adalah amanat bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka
   tibalah kiamat yang dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah
   amanat bagi para sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang
   dijanjikan Allah akan terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para
   sahabatku adalah amanat bagi umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah
   pergi maka akan datanglah sesuatu (perselisihan dan perpecahan, red) yang
   sudah dijanjikan Allah akan terjadi kepada umatku ini."* (HR. Muslim)
   4. Rasul *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabda, *"Barang siapa yang
   mencela para sahabatku maka dia berhak mendapatkan laknat dari Allah, laknat
   para malaikat dan laknat dari seluruh umat manusia."* (*Ash Shahihah*:
   234)
   5. Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* juga bersabda, *"Apabila
   disebutkan tentang para sahabatku maka diamlah."* (*Ash Shahihah*: 24)
   (lihat *Al Is'aad*, hal. 78)

*Dalil Ijma' Tentang Keutamaan Para Sahabat*

   1. Imam Ibnush Shalah *rahimahullah* berkata di dalam kitab
   Mukaddimah-nya, "Sesungguhnya umat ini telah sepakat untuk menilai adil
   (terpercaya dan taat) kepada seluruh para sahabat, begitu pula terhadap
   orang-orang yang terlibat dalam fitnah yang ada di antara mereka. hal ini
   sudah ditetapkan berdasarkan konsensus/kesepakatan para ulama yang
   pendapat-pendapat mereka diakui dalam hal ijma'."
   2. Imam Nawawi *rahimahullah* berkata di dalam kitab *Taqrib*nya,
   "Semua sahabat adalah orang yang adil, baik yang terlibat dalam kancah
   fitnah maupun tidak, ini berdasarkan kesepakatan para ulama yang dapat
   diperhitungkan."
   3. Al Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitab *Al Ishabah*, "Ahlus
   Sunnah sudah sepakat untuk menyatakan bahwa semua sahabat adalah adil. Tidak
   ada orang yang menyelisihi dalam hal itu melainkan orang-orang yang
   menyimpang dari kalangan ahli bid'ah."
   4. Imam Al Qurthubi mengatakan di dalam kitab Tafsirnya, "Semua
   sahabat adalah adil, mereka adalah para wali Allah *ta'ala* serta
   orang-orang suci pilihan-Nya, orang terbaik yang diistimewakan oleh-Nya di
   antara seluruh manusia ciptaan-Nya sesudah tingkatan para Nabi dan
   Rasul-Nya. Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan dipegang teguh oleh Al Jama'ah
   dari kalangan para imam pemimpin umat ini. Memang ada segolongan kecil orang
   yang tidak layak untuk diperhatikan yang menganggap bahwa posisi para
   sahabat sama saja dengan posisi orang-orang selain mereka." (lihat *Al
   Is'aad*, hal. 78)

*Dalil Akal tentang keutamaan para Sahabat*

Syaikh Abdurrazzaq Al Jazaa'iri *hafizhahullah* berkata, "Kaum Rafidhah
(Syi'ah) menganggap bahwasanya semua sahabat adalah kafir kecuali sebagian
saja di antara mereka. Sedangkan kaum Mu'tazilah menilai adil mereka semua
kecuali para sahabat yang terlibat dalam kancah fitnah. Duhai, sungguh
mengherankan apa yang mereka perbuat !!

Sementara Allah *ta'ala* berfirman di dalam kitab-Nya yang artinya, *"Maka
Allah telah menurunkan ketenangan dari-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada
orang-orang beriman (para sahabat) serta Allah telah menetapkan kalimat
takwa kepada mereka. Mereka itulah (Rasul dan para sahabat) orang-orang yang
memang berhak dan layak untuk menerimanya. Dan Allah Maha mengetahui atas
segala sesuatunya."* (QS. Al Fath [48]: 26)

(Di dalam ayat ini) Allah telah menjadikan mereka (para sahabat) sebagai
orang-orang yang berhak dan pantas mendapatkan predikat takwa, sedangkan
mereka (Rafidhah dan Mu'tazilah) justru mencela mereka!! Kemudian (dalil
yang lainnya, red) Pada suatu saat Allah *ta'ala* memerintahkan kepada
Nabi-Nya *shallallahu 'alaihi wa sallam* supaya berangkat ke Baqi' dalam
rangka memintakan ampunan bagi para sahabat yang sudah meninggal di antara
mereka dan agar beliau mendoakan mereka. Dan beliau *shallallahu 'alaihi wa
sallam* pun telah meninggal dalam keadaan ridha kepada mereka, kemudian
orang-orang itu justru mencela mereka !!

Kemudian lagi,… (dalil akal yang lainnya adalah) begitu banyaknya pujian
dari Allah dalam Kitab-Nya yang mulia dan juga pujian yang keluar dari lisan
Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam* kepada mereka dalam keadaan Allah Maha
tahu tentang perbuatan mereka serta apa yang akan muncul dari mereka sesudah
Nabi meninggal, sementara orang-orang itu berani mencela mereka dengan
seenaknya ….

Kemudian alasan berikutnya, yaitu Allah telah menobatkan mereka sebagai para
da'i yang menyampaikan agama-Nya serta menampakkan syari'at-Nya dan
menjadikan mereka sebagi guru umat manusia setelah Rasul-Nya sedangkan
orang-orang ini justru berani mencaci maki mereka… Maha suci Engkau ya
Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar." (*Al Is'aad*, hal. 79)

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Kirim email ke