Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh,
kisah yang sangat menyentuh hati .....,
semoga bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua

selamat menikmati... :)

http://www.almanhaj.or.id/content/2441/slash/0

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Senin, 12 Mei 2008 07:19:21 WIB

KISAH RELAWAN CILIK [DIA BERUSIA 12 TAHUN]-1/2-


Oleh
Ustadz Fariq bin Gasim Anuz


*
MENDAFTARKAN DIRI MENJADI RELAWAN*
Pada pagi yang cerah, di kota Jeddah, sekitar pertengahan bulan Dzulhijjah
1425H, atau akhir Januari 2005M. Saat itu, saya sedang duduk di kantor
Jeddah Da'wah Center (JDC) bersama rekan. Tiba-tiba masuklah seorang anak
kecil sambil mengucapkan salam, lalu. menyalami kami berdua. Ia datang ke
kantor JDC diantar supirnya yang berasal dari Indonesia, sementara ibu dan
neneknya menunggu di mobilnya.

Anak ini masuk ke ruang sekretariat sendiri seraya mengatakan : "Saya ingin
menjadi relawan di kantor dakwah ini. Ingin berkhidmat untuk kepentingan
agama Islam".

Saya dibuat kagum dengannya. Saya sambut dengan baik dan saya katakan :
"Kira­kira, di bidang apa Anda bisa membantu kami?"

Dia katakan, "Saya mampu menggunakan komputer dan bisa berbahasa lnggris."

Karena saya tidak bisa berbahasa Inggris; maka saya minta rekan saya untuk
berbicara dengannya dengan bahasa Inggris. Setelah terjadi komunikasi antara
teman dan anak ini, teman saya pun memberitahu saya : "Bagus sekali anak ini
bahasa Inggrisnya".

Saya katakan, "Saya belum bisa memutuskan apakah Anda bisa diterima atau
tidak. Insya Allah akan saya sampaikan kepada direktur yang juga seorang
relawan. Beliau sendiri bekerja di kantor Telkom Saudi. Tapi saya optimis,
kalau orang seperti Anda akan diterima, insya Allah," lalu saya minta nomor
teleponnya dan saya berikan juga nomor telepon kantor kepadanya. Lalu saya
katakan : "Saya sendiri, insya Altah ada acara dakwah untuk jamaah haji
Indonesia yang akan pulang ke tanah air. Anda bisa ikut bantu saya dengan
membagikan kaset atau buku di air port haji di madinatu( hujjaj (asrama
haji) di Jeddah, bagaimana?"

Anak itu menjawab, "Insya Allah. Saya akan minta izin orang tua dulu."

Sore harinya, orang tua Ahmad (nama anak ini), menelepon ke kantor kami
mencari saya dan menanyakan : "Apa betul Anda mengajak anak saya pergi ke
air port haji untuk berdakwah?"

Saya katakan, "Betul, kalau dia berminat."

Orang tuanya mengatakan : "Justru kami sangat senang sekali, jika Anda bisa
membawa anak saya ke air port haji untuk ikut membantu dakwah Islam. Saya
ingin anak saya ini besarnya kelak bermafaat bagi umat Islam, supaya dia
ikut bergembira jika umat Islam bergembira; ikut sedih jika umat Islam
sedang mendapatkan bencana dan musibah, serta supaya anak saya tidak
membedakan orang menurut suku dan kebangsaannya, karena sesungguhnya yang
paling mulia di sisi Allah di antara manusia adalah yang paling bertakwa.
Hanya saja, karena anak ini masih kecil, kami tidak pernah membiarkan ia
pergi sendiri. Meskipun ke sekolah, selalu kami antar dan kami jemput. Jadi
bagaimana sekiranya dari pihak keluarga ikut juga ke air port bersama Anda?"


Saya katakan,"Itu lebih baik..

Akhirnya, kami pun berangkat ke air port haji bersama Ahmad dan keluarganya.
Dalam perjalanan ke air port, saya tanya kepada anak ini: "Apa yang
memotivasi Anda beramal untuk kepentingan Islam?" Dia menjawab, "Ajru
'Indallaah" Artinya, aku mengharap ganjaran pahala dari sisi Allah.

Kemudian saya tanya lagi : "Apakah Anda hafal dzikir pagi dan sore hari?"

Dia menjawab,"Saya hafal."

"Coba saya mau mendengar," tanya saya lagi.

Lalu dia membaca dzikir pagi dan sore. Banyak sekali yang dia hafal. Sampai
kami pulang dari air port.

Pihak kantor pun, setelah diberitahu ada anak kecil yang mendaftar menjadi
relawan, menerima dengan senang hati. Dia datang ke kantor tiap hari Jum'at
saat sekolah libur.
*
MUDAH MENERIMA NASIHAT *
Yang namanya anak-anak, tentu tidak lepas dari kekeliruan dalam bersikap,
dan kita harus memakluminya. Janganlah kita mudah marah kepada anak, karena
kita sebagai orang dewasa juga tidak lepas dari kekeliruan. Tinggal
bagaimana kita harus memperbaiki kesalahannya dengan cara yang bijaksana.

Suatu hari, pada hari Jum'at, saat kami dan Ahmad berada di kantor,
datanglah tamu menemui Ustadz Hamadi al Ashlani, salah seorang pengurus
kantor JDC. Tampak perbincangan yang serius di antara mereka berdua. Ahmad
yang duduk dekat mereka berdua mendengar mereka berbicara, kemudian ia
langsung menyambung dan memotong ucapan mereka. Mungkin dia ingin
membuktikan kepada mereka berdua, bahwa ia mengerti topik yang sedang
dibicarakan.

Ustadz Hamadi tidak menggubris Ahmad dan tetap berbicara dengan tamunya. Ia
tidak marah dan memaklumi, bahwa yang mengganggunya adalah anak-anak. Saya
yang berada dekat mereka segera memanggil Ahmad dan mengalihkannya kepada
kegiatan lain. Saya minta Ahmad menemani saya ke sebuah toko yang jaraknya
kurang lebih 1 kilometer, untuk memberikan buku kepada orang Indonesia yang
bekerja di sana. Sebelumnya dia menawarkan agar saya naik mobilnya dan ia
pun segera mencari sopir. Saya berkeberatan, karena belum izin orang tuanya.
Dia berpendapat tidak apa-apa. Alhamdulillah, ternyata sopir Ahmad sedang
mengikuti pengajian yang dibimbing Ustadz Farid bin Muhammad al Bathathi.
Akhirnya kami berdua berjalan kaki di bawah terik matahari, pulang pergi
menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Dalam perjalanan, saya sempat bertanya
kepadanya : "Pada masa yang akan datang, Anda ingin menjadi apa?" Ahmad
menjawab dengan mantap, tanpa ragu-ragu : "Ingin menjadi pedagang".

Saya sempat menyesal membawa Ahmad berjalan kaki cukup jauh untuk anak
seusia dia di bawah terik matahari. Dalam perjalanan pulang ke kantor,
ibunya telepon ke hp Ahmad, yang hanya dipegang jika Ahmad ke luar rumah
saja. Setelah selesai, saya katakan akan bicara ke ibunya, lalu saya mohon
maaf karena membawa Ahmad jalan kaki. Ibunya mengatakan tidak apa-apa. Ahmad
adalah seorang olahragawan dan fisiknya kuat, insya Allah.

Pada hari yang lain, saya sedang dalam perjalanan dengan rekan sekantor. Di
antara pembicaraan teman saya ini, bahwa pada hari Jum'at yang lalu -saat
itu saya tidak berada di kantor- datanglah tamu dari perusahaan komputer
menemui pengurus kantor. Saat pengurus kantor dan tamu sedang
berbincang-bincang, Ahmad pun memotong dan ikut melibatkan diri dalam
pembicaraan mereka. Ada di antara rekan yang masih muda merasa jengkel
kepada Ahmad.

Malamnya, segera saya telepon orang tua Ahmad, dan saya beritahu dua
kejadian. Yang satu saya saksikan sendiri, dan yang kedua saya dengar dari
teman sekantor, bahwa Ahmad suka memotong dan turut campur dalam pembicaraan
orang dewasa. Orang tuanya senang dengan laporan ini, dan berjanji akan
menasihati Ahmad. Saya juga mengatakan kepadanya akan menasihati Ahmad,
tetapi belum bisa secara langsung.

Sayapun menulis surat kepada Ahmad tentang pentingnya saling memberi nasihat
sesama muslim. Di antaranya, saya sebutkan temanmu itu adalah yang bersikap
jujur dan tulus kepadamu, bukan yang selalu membenarkanmu. Disamping surat
tersebut, saya sertakan pula sebuah hadits dalam Shohih Bukhari yang
menunjukkan, bahwa memotong pembicaraan orang lain adalah tidak sesuai
dengan adab Islam. Orang tuanya juga menasihati Ahmad. Alhamdulillah,
setelah itu, terjadi perubahan yang positif. Ahmad tidak suka memotong
pembicaraan orang dewasa. Dia tahu kapan ia harus bicara, dan kapan ia harus
diam mendengarkan. Saya sendiri perlu mencontohnya, karena terkadang tanpa
terasa suka memotong pembicaraan orang lain.

* BERDAKWAH DENGAN CARA MENGINFAKKAN HARTANYA *
Pada Jum'at yang lain, pengurus kantor menugaskan Ahmad untuk duduk di ruang
istikbal (resepsion) menerima tamu atau pembeli yang datang. Kantor JDC
menjual buku-buku dan kaset-kaset dalam berbagai bahasa, seperti : bahasa
Indonesia, bahasa Tagalog (Philipina), bahasa Urdu (Pakistan), bahasa Tamil
dan Sinhali (Srilangka), bahasa Inggris dan lain-lain. Sebelum mulai
melaksanakan tugasnya, ia mengeluarkan dari sakunya uang sebesar 5 real
Saudi (sekitar dua belas ribu lima ratus rupiah), lalu ia mengatakan kepada
kami": "Ini uang milik saya, saya bawa dari rumah".

Saya menjawab,"Kami percaya, bahwa Anda adatah orang yang jujur."

Setelah itu, saya lihat ia mulai menerima uang dari pembeli sebesar 10 real
Saudi, dimasukannya ke dalam sakunya dan dicatatnya uang yang masuk tadi.
Sampai datanglah seorang pengunjung asal Pakistan. Ia membeli 2 set buku
yang berbahasa Inggris seharga 10 real, dan 3 kaset berbahasa Urdu seharga 9
real. Total semuanya 19 real. Sang pengunjung menyodorkan uang 50 real
kepada Ahmad. Karena tidak ada kembalian, Ahmad pun membawa uang tersebut
kepada sekretaris kantor di ruang lain untuk menukar uang.

Saya lihat buku berbahasa Inggris yang dibeli tertulis "Untuk Non Muslim",
maka saya tanya kepada pengunjung tersebut : "Anda membeli buku bebahasa
Inggris ini untuk siapa? Untuk dibaca sendiri atau untuk orang lain?" Saya
khawatir ia salah beli.

Dia menjawab,"Saya akan berikan sebagai hadiah untuk teman saya sekantor, ia
kafir bukan muslim. Semoga ia mendapatkan hidayah dan masuk Islam!"

Mendengar jawaban tersebut, segera saya bergegas menuju sekretaris kantor.
Saya katakan, "Bagaimana pendapatmu, kalau buku yang dibeli oleh tamu kita
ini, kita hadiahkan saja, karena buku tersebut akan dihadiahkan kepada teman
sekerjanya yang kafir?"

Sekretaris kantor setuju. Ahmad mendengar pembicaraan kami berdua, karena ia
sedang menunggu kembalian uang untuk tamunya. Sekretaris kantor mengatakan,
jadi total yang ia beli hanya 9 real dan kembalinya 41 real. Tiba-tiba,
secara spontan, Ahmad mengeluarkan uang 5 real miliknya dan ia berikan
kepada sekretaris sambil berkata: "Saya ikut menyumbang 5 real untuk beli
kaset dakwah yang dibeli orang itu. Jadi biar ia membayar cukup 4 real
saja".

Mendengar itu, saya menjadi terharu dan saya katakan, biar saya yang
membayar 5 real, Ahmad cukup 4 real saja. Dia bilang,"Ustadz saja yang 4
real, saya yang 5 real," kemudian saya paksakan ia menerima kembali 1real.
Akhirnya, pengunjung tadi mendapatkan buku-buku dan kaset secara gratis,
dikembalikanlah uang 50 real. Dia pulang dengan girang.
.
* MEMBERIKAN CERAMAH DI DEPAN JAMAAH HAJI INDONESIA*
Suatu hari, saya pernah menawarkan kepada Ahmad untuk memberikan ceramah di
hadapan jamaah haji Indonesia di madinatu( hujjaj di air port lama, Jeddah.
Dia pun menyanggupi: Lalu saya beritahukan materinya tentang ukhuwah
Istamiyah, dan saya berikan point-pointnya, yaitu tentang pentingnya
ukhuwah, sarana-sarana untuk memperkokoh ukhuwah serta perusak-perusak
ukhuwah.

Kira-kira dua pekan kemudian ia bertanya : "Bagaimana Ustadz, kalau saya
sampaikan materi ini dengan membaca teks. Saya belum pernah berceramah
sebelum ini".

Saya katakan, "Tidak apa-apa, walaupun kalau bisa tidak dengan teks itu
lebih bagus."

Akhirnya, pada hari yang sudah dijadwalkan, ia dengan diantar kakek dan
ibunya berangkat ke madinatul hujjaj untuk berceramah di hadapan jamaah haji
Indonesia. Mereka sampai disana sebelum Maghrib. Saya sempat bertanya kepada
Ahmad, berapa juz ia hafal al Qur`an. Ia menjawab, 10 juz. Ketika saya
sampaikan ke Ahmad, bahwa setelah ia berpidato ada acara tanya jawab. Semula
Ahmad berkeberatan dengan mengatakan:"Saya tidak mempunyai wewenang untuk
berfatwa". Saya tersenyum dan menjelaskan, bahwa pertanyaannya bukan tentang
masalah hukum, tetapi yang sifatnya ta'aruf untuk mengenal tebih dekat lagi.

Saya sampaikan pada pembukaan kepada jamaah haji, bahwa hari ini kita
kedatangan tamu; seorang anak kecil. Saya ceritakan, bahwa perkenalan saya
dengannya baru satu bulan ketika dia datang ke kantor Jeddah Da'wah Center
mendaftarkan diri untuk menjadi relawan di sana. Saya ceritakan tentang
perhatiannya terhadap hafalan al Qur`an, doa-doa dan dzikir, kepandaiannya
dalam bidang komputer dan bahasa Inggris, serta aktifitasnya yang padat
dengan kegiatan olah raga, kursus-kursus komputer dan bahasa Inggris.
Setelah itu Ahmad berceramah dalam bahasa Arab dengan membaca teks dan saya
terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ahmad berpidato dengan suara yang lantang. Ia kemukakan, bahwa ukhuwah
Islamiyah (persaudaraan Islam) lebih kuat dari pada ikatan nasab
(keturunan). Kemudian ia pun menceritakan sarana-sarana yang dapat
memperkuat ukhuwah Istamiyah, seperti : menyebarkan salam, saling
mengunjungi, saling memberi hadiah, bertutur kata dengan baik dan santun.
Kemudian, ia juga menjelaskan hal-hal yang dapat merusak ukhuwah, seperti :
ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), menyebar luaskan rahasia.

Di antara jamaah haji ada yang bertanya dengan bahasa Inggris. Ahmad
menjawab pertanyaan dengan lancar. Jamaah haji itu bertanya, "Mungkin Anda
pernah tinggal di Eropa atau Amerika, atau lahir di sana barangkali?" Ahmad
menjawab,"Tidak! Saya lahir di Saudi Arabia, dan tidak pernah pergi ke luar
negeri." Jamaah haji bertanya,"Sejak kapan Anda belajar bahasa Inggris?"
Ahmad menjawab,"Saya belajar bahasa Inggris sejak umur 5 tahun." Ahmad juga
sempat ditanya jumlah saudaranya. Dia menyebutkan dua bersaudara, ia dan
adiknya, Laila yang masih duduk di kelas 4 SD. Setelah selesai, maka para
jamaah haji laki-taki menghampiri Ahmad dan kakeknya dan menyalaminya. Saya
lihat ada di antara mereka yang menangis terharu.

* [Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]*

Kirim email ke