http://www.almanhaj.or.id/content/2442/slash/0

Selasa, 13 Mei 2008 10:03:14 WIB

KISAH RELAWAN CILIK [DIA BERUSIA 12 TAHUN]-2/2-


Oleh
Ustadz Fariq bin Gasim Anuz



* AHMAD DAN BENCANA TSUNAMI *
Ahmad memiliki hati yang lembut dan perhatian untuk mengetahui keadaan kaum
Muslimin di belahan dunia. Ketika terjadi bencana Tsunami pada tanggal 26
Desember 2004M, ia pun membaca berita ­berita tentang para korban dari
koran, karena di rumahnya tidak ada televisi. Ia tidak menghabiskan waktunya
untuk membaca berita dan informasi, tapi sekedar tahu secara global. Di
antara perbincangan saya dengan Ahmad pada hari Jum'at adalah tentang
bencana Tsunami. Dia sangat interes untuk mendengar berita dari saya, dan
juga bersemangat menceritakan informasi yang dia dapat.

Tidak lama sesudah bencana Tsunami, seorang ibu yang tidak kami kenal
menelpon ke kantor Islamic Center di Jeddah, meminta agar dai yang berasal
dari Indonesia memberikan nasihat dalam bentuk kaset untuk kaum Muslimin di
Aceh dan Sumatera Utara, agar mereka bersabar, ridha dengan ketentuan Allah,
selalu bersangka baik kepada Allah, dan mengambil hikmah dari segala ujian
serta cobaan yang berat ini. Alhamdulillah, akhirnya usulan ibu tersebut
tertaksana, dan setelah itu, timbul ide baru agar isi nasihat itu dibukukan.

Saat penyusunan buku tersebut yang diberi judul Hikmah Di Balik Musibah,
saya mendapat sedikit kesulitan dalam penutisan hadits-hadits Nabi. Saat itu
kantor belum punya CD hadits, sedangkan untuk mengetik satu per satu teks
hadits bisa membutuhkan waktu yang agak panjang, karena saya belum lancar
menulis dengan huruf Arab di komputer. Akhirnya saya ingat Ahmad, dan segera
menelepon keluarganya untuk minta izin agar Ahmad menyempatkan waktunya
untuk membantu saya mengetik hadits­ hadits Nabi berkenaan dengan musibah.
Saya pun memberitahu hadits-hadits yang perlu diketik. Ahmad mengetik
hadits-hadits permintaan saya itu di rumahnya, sebab di kantor sendiri
pekerjaan yang ia tangani cukup banyak. Dia diberi tugas oleh pengurus
kantor untuk mengetik urusan administrasi, sehingga praktis di kantor ia
tidak punya waktu untuk mengetik hadits-hadits yang saya minta itu. Karena
di rumahnya juga banyak kegiatan seperti belajar, ia juga aktif berolah raga
seperti berenang; menunggang kuda dan bela diri, maka Ahmad akhirnya minta
bantuan adiknya, Laila, yang masih duduk di kelas 4 SD untuk membantunya.
Sang ibu mengawasinya dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut. Jika ada hal
yang keliru atau salah, baru dibenarkan. Sepekan kemudian, ketika ke kantor,
ia menyerahkan hasil pekerjaannya dan mengatakan : "Ustadz, saya mengetiknya
sekian halaman, dan adik saya sekian halaman".

Ahmad juga ikut menyumbang 100 real (sekitar dua ratus lima puluh ribu
rupiah) dari uang tabungannya untuk korban bencana Tsunami yang akan saya
sebutkan saat perpisahan.

* BERGAUL DENGAN ORANG­-ORANG YANG BAIK*
Orang tua Ahmad mengarahkan dan memotivasi anaknya agar menjadi relawan di
kantor Islamic Center, di antara tujuannya agar anaknya bergaul dengan
orang-orang yang baik dan bisa mencontoh mereka dan terhindar dari pergaulan
yang ti.dak baik.

Suatu hari saya telepon orang tuanya. Saya beritahukan ada seorang dai yang
usianya 70 tahun dari Jenewa, Swiss datang ke Mekkah untuk umroh dan
silaturahmi mengunjungi adik-­adiknya di Mekkah dan Jeddah. Saya katakan,
sekarang masih berada di Mekkah dan saya ada janji untuk bertemu dengannya.
Saya tawarkan, jika ayah Ahmad ada waktu, kita bisa bertemu di Mekkah. Orang
tuanya senang dengan rencana ini, tetapi belum bisa memastikan apakah dapat
berangkat atau tidak.

Kemudian, saya juga teringat Ahmad, mungkin ia tidak berminat pergi ke
Mekkah untuk menemui orang tua dan mendengarkan nasihatnya. Saya katakan
kepada orangtuanya, tolong tanyakan dulu kepada Ahmad, apakah ia minat atau
tidak pergi ke Mekkah bersama kami. Orang tuanya mengatakan : "Saya rasa
kita tidak perlu menanyakan kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak, karena
mengunjungi orang yang shalih adalah suatu kebaikan, dan tugas kami sebagai
orang tua adalah menumbuhkan minat anak".

* PERPISAHAN*
Tibalah saat saya pulang ke Indonesia pada pertengahan bulan Safar 1426H,
atau akhir Maret 2005M. Saya izin kepada Ummu Ahmad untuk mengajak Ahmad dan
sopirnya al akh Musthafa makan siang di rumah makan.

Mendengar permintaan saya, Ummu Ahmad mengatakan : "Seharusnya kami yang
mengundang Anda makan di rumah, karena anda adatah tamu. Tetapi karena suami
saya sedang keluar kota, maka Ahmadlah yang akan mentraktir Anda makan di
rumah makan". Mulanya saya menolak, karena yang punya ide adalah saya, maka
saya yang berhak untuk membayar. Beliau tetap memaksa, maka akhirnya saya
mengalah. Sekitar jam empat sore sepulang saya dari masjid, saya dapatkan
Ahmad dan Musthafa sudah menunggu di depan kantor tempat saya tinggal di
sana selama dua bulan di Jeddah.

Sebelum berangkat ke rumah makan, Ahmad menyerahkan surat dari orang tuanya
untuk saya baca, dan saya diminta untuk memberi masukan dan komentar. Surat
itu dari orang tua Ahmad untuk pihak sekolah tempat Ahmad belajar.

Sebelumnya, pihak sekolah telah melontarkan surat kepada orang tua Ahmad,
meminta izin bahwa dalam liburan musim panas, pihak sekolah akan
merencanakan study tour ke Malaysia membawa 20 siswa yang berbakat, salah
satu di antaranya adalah Ahmad. Ada dua tujuan pokok, yaitu untuk
mengunjungi universitas­ universitas di Malaysia guna mengetahui sistem
pendidikannya, dan yang kedua . untuk melihat kemegahan bangunan dan
arsitektur di Malaysia.

Orang tua Ahmad tidak setuju dan menulis surat balasan kepada sekolah. Saya
baca surat tersebut. Orang tuanya menyebutkan alasan tidak mengizinkan
Ahmad, bahwa tujuan tersebut tidak begitu penting, karena anaknya masih
duduk di bangku SD, sehingga kurang bermanfaat bagi anak SD untuk mengetahui
sistem pendidikan di universitas. Kalaupun dianggap penting, bisa dengan
mendatangi pameran­ pameran yang diadakan di Jeddah, misalnya. Begitu pula
melihat kemegahan arsitektur dan bangunan tidak begitu penting, malah bisa
berdampak negatif, yaitu anak-anak dapat tertipu dengan penampilan lahiriah,
bangga dengan bangunan yang megah dan lupa dengan yang lebih pokok, yaitu
masalah pentingnya membenahi hati, aqidah, ibadah dan akhlak.

Dalam surat itu disebutkan pula, jika pihak sekolah mempunyai program
membawa siswa ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana, seperti
ke Aceh, misalnya, untuk membantu para korban bencana, kami dengan senang
hati akan mengizinkan anak kami untuk ikut berangkat. Lebih-lebih lagi kita
tahu bersama, bahwa para missionaris Kristen banyak mengirim relawannya
pergi ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana. Mereka
melancarkan misinya dengan payung memberikan bantuan kemanusiaan.

Selesai membaca surat tersebut, saya beranggapan bahwa Ahmad tentu kecewa
dengan keputusan orang tuanya ini. Segera saya ingin menghiburnya. Saya
pancing Ahmad dengan pertanyaan : "Apakah Anda kecewa tidak berangkat ke
Malaysia?" Ahmad menjawab dengan mantap : "Saya tidak kecewa". Saya
tanya,"Mengapa tidak kecewa? Padahal teman-teman Anda berangkat ke sana."
Kemudian Ahmad menjelaskan kepada saya, persis seperti isi surat orang
tuanya untuk pihak sekolah.

Tidak terasa hari semakin sore, sedangkan kami belum makan siang. Ahmad
mengatakan kepada saya : "Ustadz bisa pilih, ingin makan di rumah makan
mana? Tidak mesti yang dekat, yang jauh juga boleh". Saya katakan kepadanya,
yang dekat saja di rumah makan at Tazaj. Berangkatlah kami bertiga ke rumah
makan yang jaraknya dari kantor kurang lebih 1 kilometer. Setelah kami pesan
makanan, saya tanya kepada Ahmad, pilih minum Pepsi Cola, Seven Up atau apa?
Dia menjawab,"Saya pilih air putih saja." Musthafa mengatakan, bahwa Ahmad
memang sejak kecil tidak minum minuman seperti itu.

Selama kami makan, kami berbicara. Saya lupa apa saja yang kami bicarakan
saat itu. Yang saya ingat, saya sempat bertanya kepadanya:"Apakah Anda sudah
membaca surat yang saya tulis di Masjidil Haram di Mekkah untuk Anda?" Ahmad
menjawab,"Belum, karena semalam saya kecapaian sehingga langsung tidur."

Setetah kami selesai makan, ada di antara pelayan restoran yang berasal dari
Philipina memberikan hadiah berupa selebaran berwarna-warni untuk anak-anak,
dan diberikannya kepada Ahmad. Semula Ahmad tidak ingin mengambilnya, bisa
jadi karena ia merasa bukan anak-anak lagi. Saya segera minta kepadaAhmad
untuk menerimanya. Setelah kami sampai di mobil, saya katakan, kita berusaha
untuk menjaga perasaan orang lain, jika Anda terima, berarti Anda
menggembirakan dia. Dan jika Anda tolak, bisa membuat dia sedih atau kecewa.

Dalam perjalanan ke kantor, Ahmad mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang
sebesar 100 real, lalu dia berikan kepada saya seraya berkata : "Ustadz akan
pulang ke Indonesia, ini saya titip uang 100 real dari tabungan saya untuk
korban bencana alam Tsunami di Aceh." Terharu saya mendengar ucapannya yang
tulus keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Sebenarnya saya tidak ingin
menerima amanat ini. Tetapi karena saya juga tidak ingin mengecewakan Ahmad
yang ingin berpartisipasi ikut andil menyumbang, akhirnya amanat tersebut
saya terima, dan saya katakan : "Insya Allah saya akan sampaikan amanat ini
kepada orang yang berhak menerimanya".

Dia juga menawarkan diri untuk mengantar saya sampai air port. Saya katakan,
bahwa saya sudah janji dengan Ustadz Farid al Bathathi, beliau yang akan
mengantarkan saya ke air port. "Yang kedua, saya tahu bahwa jadwal Anda
sangat padat. Saya tidak mau mengganggu kegiatan Anda".

Tibalah saat perpisahan. Saya tidak tahu, apakah dapat berjumpa kembali
dengannya atau tidak. Yang jelas banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan
dari Ahmad dan keluarganya.

Semoga Allah memberikan taufik kepada Ahmad dan anak-­anak kaum Muslimin
untuk tetap istiqomah dalam ketaatan, dan memberikan taufik kepada kedua
orang tua Ahmad dan semua orang tua Muslimin untuk dapat mendidik anak-anak
mereka menjadi anak-anak yang shalih.

Rabbana laatuzikhquluubanaa ba'da idzhadaitanaa wahablanaa milladunkarahmah
innaka antalwahhab.

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kisah Ahmad. Insya
Allah penulis akan membahasnya dalam sebuah buku tersendiri.

* [Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]*

Kirim email ke