Iseng2 browsing blog Ummu Salma,
nemu artikel bagus...

Bacalah ikhwah bacalah,
sungguh sebuah kisah yang menusuk hati,
sebuah kisah yang membuat mata ini berlinang

Bacalah ikhwah bacalah,
semoga Allah menambahkan iman di hati,
iman yang kokoh tegak menjulang

Bacalah wahai ikhwah bacalah,
sebuah kisah keimanan yang begitu indah,
*Aina nahnu, ...... wa aina Abu Qilabah??*

*Biarkanlah hari-hari berbuat semaunya*
* Berlapang dada-lah jika takdir menimpa*

*Jangan berkeluh-kesah atas musibah di malam hari*
* Tiada musibah yang kekal di muka bumi*
* Jadilah laki-laki tegar dalam menghadapi tragedi*
* Berlakulah pema'af selalu menepati janji

**Tiada kesedihan yang kekal tidak pula kebahagiaan
Tiada kesulitan yang abadi tidak pula kemudahan

*
-- 
NOTE : If this email detected as spam or bulk, please mark it as NOT. Avoid
wrong detection by adding my email address into your contact list / address
book.

http://ummusalma.wordpress.com/2008/02/26/kisah-menakjubkan/

*Kisah 
Menakjubkan[1]<http://ummusalma.wordpress.com/2008/02/26/kisah-menakjubkan/#_ftn1>
*

*(tentang sabar dan syukur kepada Allah)*

 Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama *Abu
Qilabah*bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia
disebutkan dalam
isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang
meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang
dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi
*Shallallahu
'alaihi wa sallam*. Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang
seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik.Ibnu Hibban dalam
kitabnya *Ats-Tsiqoot* menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan
tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.

Nama beliau adalah *Abdullah bin Zaid Al-Jarmi* salah seorang dari para ahli
ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan
hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits
–*radhiallahu
'anhuma*- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa
kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.

Abdullah bin Muhammad berkata, "Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka
untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku
tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di
suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah
yang di dalamnya ada seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua
kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak
satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu
berkata, *"Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu sehingga aku
bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas
kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan"*"

Abdullah bin Muhammad berkata, "Demi Allah aku akan mendatangi orang ini,
dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini,
apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah
ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.

Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu
kukatakan kepadanya, "Aku mendengar engkau berkata "*Ya Allah, tunjukilah
aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas
kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau
sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau
ciptakan*", maka nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu
sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut?? dan kelebihan apakah
yang telah Allah anugerahkan kepadamu hingga engkau mensukurinya??"

Orang itu berkata, "Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh
Robku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku
hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku
hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan
aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu
kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya, karena Ia telah memberikan
kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah,
engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat
kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah
diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang
putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku,
jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku
minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya. Maka tolonglah aku,
carilah kabar tentangnya –semoga Allah merahmati engkau-".

Aku berkata, "Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan
seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi
Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk
menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau".

Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari
situ aku sampai di suatu gundukan pasir. Tiba-tiba aku mendapati putra orang
tersebut telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Akupun
mengucapkan *inna
lillah wa inna ilaihi roji'uun*. Aku berkata, "Bagaimana aku mengabarkan hal
ini kepada orang tersebut??". Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang
tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub *'alaihi as-Salam*.
Lalu aku menemui orang tersebut dan akupun mengucapkan salam kepadanya lalu
ia menjawab salamku dan berkata, "Bukankah engkau adalah orang yang tadi
menemuiku?", aku berkata, "Benar". Ia berkata, "Bagaimana dengan
permintaanku kepadamu untuk membantuku?".

Akupun berkata kepadanya, "Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi
Ayyub '*alaihis Salam*?", ia berkata, "Tentu Nabi Ayyub '*alaihis Salam* ",
aku berkata, "Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi
Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta
anaknya?", orang itu berkata, "Tentu aku tahu". Aku berkata, "Bagaimanakah
sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?", ia berkata, "Nabi Ayyub bersabar,
bersyukur, dan memuji Allah".

Aku berkata, "Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan
sahabat-sahabatnya". Ia berkata, "Benar". Aku berkata, "Bagaimanakah
sikapnya?", ia berkata, "Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah". Aku
berkata, "Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan
gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?", ia
berkata, "Iya", aku berkata, "Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?" Ia berkata,
"Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, langsung saja jelaskan maksudmu
–semoga Allah merahmatimu-!!".

Aku berkata, "Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan
pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga
Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau". Orang itu
berkata, *"Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan
yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka"*, kemudian
ia berkata, "*Inna lillah wa inna ilaihi roji'uun*", lalu ia menarik nafas
yang panjang lalu meninggal dunia.

Aku berkata, "*Inna lillah wa inna ilaihi roji'uun*", besar musibahku, orang
seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang
buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan
apa-apa[2]<http://ummusalma.wordpress.com/2008/02/26/kisah-menakjubkan/#_ftn2>.
Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di
dekat kepalanya sambil menangis.

Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku "Wahai Abdullah,
ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?". Maka akupun menceritakan kepada
mereka apa yang telah aku alami. Lalu mereka berkata, "Bukalah wajah orang
itu, siapa tahu kami mengenalnya!", maka akupun membuka wajahnya, lalu
merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka
berkata, "Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang
diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang
dalam keadaan tidur!!".

Aku bertanya kepada mereka, "Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati
kalian-?", mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu 'Abbas, ia
sangat cinta kepada Allah dan Nabi *Shallallahu 'alaihi wa sallam*. Lalu
kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu
kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun
pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan.

Tatkala tiba malam hari, akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia
berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga
sambil membaca firman Allah

}*سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ*|* (الرعد:**
24**)*

*"Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran
kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." *(QS. 13:24)

Lalu aku berkata kepadanya, "Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?",
ia berkata, "Benar", aku berkata, "Bagaimana engkau bisa memperoleh ini
semua", ia berkata, "Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat
kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar
tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang
dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan
bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai"
 ------------------------------

[1] 
<http://ummusalma.wordpress.com/2008/02/26/kisah-menakjubkan/#_ftnref1>Diterjemahkan
oleh Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda dari Kitab
*Ats-Tsiqoot* karya Ibnu Hibban, tahqiq As-Sayyid Syarofuddin Ahmad,
terbitan Darul Fikr, (jilid 5 halaman 2-5)

[2] <http://ummusalma.wordpress.com/2008/02/26/kisah-menakjubkan/#_ftnref2>Hal
ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan
kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang
tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang
tersebut maka bisa saja datang binatang buas memakannya, Wallahu a'lam

Kirim email ke