Untuk bapak-ibu, akang-teteh, mas-mbak, cici-koko,
dan semua yang merasa anaknya seorang ibu....

semoga bermamnfaat =)

-- 
Haryo Prabowo
A man can't be polished without trials
Like a gem can't be polished without frictions
I promised to myself :: to be a better man

---------- Forwarded message ----------
From: Admin PengusahaMuslim.com <>
Date: Sun, Nov 16, 2008 at 5:32 AM
Subject: [pengusaha-muslim] Suratku Untukmu
To: [EMAIL PROTECTED]


  Assalamu'alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta'ala yang telah memudahkan
Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan
kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam, keluarga dan para
sahabatnya. Amin…

Wahai anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah
berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena,
sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali
menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan
setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…

Wahai anakku!

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi
laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau
pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini
lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati
dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan
tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang
menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui
arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri
ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…

Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri,
makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak
mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama
berjalannya waktu.

Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah,
bersamaan dengan itu aku begitu grmbira tatkala merasakan melihat
terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas
setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah
berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika
fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku
barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan
rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi
menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di
pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau
pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan.
Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua
sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan
bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman,
aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di
kerongkonganku.

Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan
hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati
hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih
demi kebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu.
Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar
aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!

Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan
dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu
yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti,
dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta
mendo'akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.

Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi
dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis
yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu
aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.

Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu.
saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir,
entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka,
tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau
mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan
berpisah denganku.

Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya
setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang
selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna
bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang
selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti
batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang
berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah
melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu.
Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi
penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya
untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku
manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon
berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara
kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.

Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku
hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah
kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil
menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih
kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai
sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai
pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu
teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat
permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak
memandang wajahmu!!

Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat
persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana
sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah
yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau
datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena
badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri
seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu
cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak
pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya
engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan
kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah
air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi
kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah
Allah ta'ala telah berfirman, "Bukankah balasan kebaikan kecuali
dengan kebaikan pula?!" (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah
hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan
berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan
hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak,
engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari
keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang
telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!
Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul
denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku
sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak
pembantu dan budakmu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana
upah yang layak untukku wahai anakku!

Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan
kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu
demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah
ta'ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak
menginginkan yang lain.

Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau
sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang
laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah
hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah
jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh
rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena
apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan
air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di
hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan
belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah
berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!

Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah
jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis,
pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana
dengan kasih sayang Allah ta'ala, sebagaimana dalam hadits: "Orang tua
adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka
sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!" (HR. Ahmad)

Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak
engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada
pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang
keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat
untuk berinfak dan bersedekah.

Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu!
Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang
mulia shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas'ud
radhiallahu `anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia?
Beliau berkata: "Shalat pada waktunya", aku berkata: "Kemudian apa,
wahai Rasulullah?" Beliau berkata: "Berbakti kepada kedua orang tua",
dan aku berkata: "Kemudian, wahai Rasulullah!" Beliau menjawab, "Jihad
di jalan Allah", lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi,
niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun `alaih)

Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk
memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau
mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan
anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang
emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa
pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam
usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk
reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas
yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah
gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.

Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari
pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di
dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat
menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan
Allah ta'ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?

Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa
jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu `alaihi wa
sallam dalam sabdanya: "Merugilah seseorang, merugilah seseorang,
merugilah seseorang", dikatakan, "Siapa dia,wahai Rasulullah?, "Orang
yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya
ke surga". (HR. Muslim)

Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak
adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah
membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan
menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak
ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya,
Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung
hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit
sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu
merana terkena do'a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan
hidupku.

Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu
masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza' min jinsil
amal… "Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…" Aku
tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada
anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya
dengan air mata itu pula kepadamu.

Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!!
Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah
kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang
telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu!
Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,

Ibumu

Diketik ulang dari buku `Kutitip Surat Ini Untukmu' karya Ustadz Armen
Halim Naro, Lc rahimahullah

ikhwanuljannah.net

Kirim email ke