http://www.taufikhamim.com/artikel/bahasa-arab/126-ketika-orang-arab-salah-berbahasa-arab-.html



                        Ketika Orang Arab Salah Berbahasa Arab  




        
                        Selasa, 25 November 2008 20:28          
                
                
                                        
                                                Artikel                         
                                                         -                      
                
                                                
                                                Bahasa Arab






Judul di atas bukan untuk merendahkan siapan pun. Judul ini, dibuat
hanya sebagai motivasi bagi saudara-saudara yang penulis cintai karena
Allah SWT, baik orang Arab atau pun non Arab, khususnya bagi mereka
yang selama ini menghadapi kesulitan belajar Bahasa Arab. Padahal dia
adalah Bahasa yang sangat mudah untuk dipelajari. Mengapa demikian?
Karena Al-Quran berbahasa Arab dan Allah SWT sudah jamin bahwa Al-Quran
mudah untuk diingat, yang tentunya juga mudah untuk difahami. Al-Quran
akan dapat difahami dengan sempurna bila sarana dan alat utamanya sudah
kita miliki, yaitu Bahasa Arab.
   Salah
dalam menggunakan Bahasa Arab adalah suatu yang biasa. Yang penting
kita harus memiliki azam yang kuat untuk terus belajar. Tapi mengapa
ada orang Arab salah dalam berbahasa arab?, karena seseorang tidak
dilahirkan dengan memiliki ilmu pengetahuan, melainkan dia harus
belajar terlebih dahulu. Jadi siapa pun orangnya, apakah dia orang Arab
atau bukan, kalau mau belajar Bahasa Arab dengan sungguh-sungguh, pasti
Allah SWT akan memberikan banyak kemudahan kepadanya.   
Salah tulis surat 
Pernah
suatu hari, seorang juru tulis shahabat Abu Musa Al-Asy’ari menuliskan
surat darinya kepada Umar ibnul Khattab RA :  مِنْ أَبُوْ مُوْسَى
اْلأَشْعَرِيِّ min Abu musa Al-Asy’ari…., ketika Umar
membacanya, Beliau membalas surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari yang
isinya agar Abu Musa mecambuk sang juru tulis tersebut karena
kesalahannya dalam menuliskan kalimat dalam Bahasa Arab tersebut.
Kalimat yang benar dalam kaidah Bahasa Arab adalah 'مِنْ أَبِيْ مُوْسَى
اْلأَشْعَرِيِّ’min Abi musa bukan min abu Musa.., kata ‘Abi’, majrur pakai ya’ 
karena didahului huruf jarr ‘min’ 
Dalam
kesempatan lain, Umar ibnul Khattab RA juga pernah melawati sekelompok
orang yang sedang belajar memanah, dan Umar tidak memperlihatkan
kekagumannya  dengan cara memanah mereka, lalu Umar pun menegur mereka.
Meraka pun menjawab إِنَّا قَوْمٌ مُتَعَلِّيْنَ Inna Qoumun muta’allimin.   

Umar ibnul Khattab RA marah 
Mendengar
kalimat yang keluar dari mulut mereka, Umar ibnul Khattab RA pun sadar
dan prihatin atas kesalahan kalimat إِنَّا قَوْمٌ مُتَعَلِّيْنَ .
Mengapa demikian ?; karena kalimat yang benar dalam Bahasa Arab إِنَّا
قَوْمٌ مُتَعَلِّوْنَ , ‘kata muta’allimun’ marfu’ pakai wawu, karena 
berkedudukan sebagi sifat ‘khabar marfu’ yaitu kata ‘Qaum’. Lalu Umar berkata : 
“Demi
Allah, kesalahan kalian dalam bertutur kata, bagiku lebih berbahaya
dari pada kesalahan kalian dalam mengarahkan anak panah”. 
Walaupun
terjadinya kesalahan-kesalahan dalam mengucapkan Bahasa Arab bagi orang
Arab, sangat jarang sekali terjadi di masa Khulafa Rasyidin, Abu Bakar
Al-Shiddiq, Umar ibnul Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib 
radhiyallahu ‘anhum ajma’in. 

Pernikahan silang Arab dan Non Arab 
Setelah
berlalunya masa Khulafa’ Rasyidin tersebut, pada masa khilafah Bani
Umayah, setelah dakwah Islam tersebar secara lebih luas dan
bercampurnya orang Arab dan non Arab dan juga terjadinya pernikahan
silang antara orang Arab dan non Arab, maka mulai saat itu terjadi
banyak kesalahan-kesalahan dalam pengucapan Bahasa Arab. Sehingga
khalifah Abdul Malik bin Marwan berkata : “Banyaknya orang yang
berbicara di atas mimbar dan terjadinya kesalahan (dalam berbahasa
Arab) membuat rambutku lebih cepat memutih”. 

Kisah Putri Abul Aswad Al-Du’ali 
Bagi
anda yang sedang atau pernah belajar Bahasa Arab dan sering mengalami
kesalahan dalam pengucapan Bahasa Arab, yang kemudian berakibat kepada
kepesimisan dan keputusa asaan dalam mempelajari Bahasa Al-Quran in,
jangan anda berkecil hati pesimis dan putus asa. Lah, orang Arab saja
banyak yang salah berbahasa Arab. Jadi wajar kalau di awal-awal kita
belajar Bahasa arab sering salah dalam menyusun kalimat yang benar. 
Coba kita simak bersama kisah putri seorang peletak pertama ilmu nahwu,
salah seorang tabi’in Abul Aswad Al-Du’aliy namanya, beliau pula yang
memulai pengharakatan Al-Quran. Dalam suatu riwayat disebutkan
bahwa Ali bin Abi Thalib yang memerintahkan beliau, dan dalam riwayat
lain Umar ibnul Khattab yang memerintahkan beliau. Pada suatu malam,
langit terlihat begitu indah sekali dengan cahaya jutaan bintang yang
menyinari bumi. Sang putri dalam kisah ini ingin mengungkapkan
ketakjubannya. 
Dia ber berkata : “ ما أحسنُ السماء؟ ”. huruf nun berharakat  dhammah (marfu’), 
yang artinya : “langit, apanya yang paling indah?” . Maka ayahnya menjawab : 
“wahai putriku, langit yang terindah adalah bintang-bintangnya”. Sang putri pun 
berkata : ”Aku tidak ingin bertanya mana yang paling indah, akan tetapi aku 
hanya ingin mengungkapkan kekagumanku”.  Sang ayah pun akhirnya berkata : 
”Kalau demikian maka katakanlah : “ما أحسنَ السماء ”. huruf nun berharakat  
fathah (manshub), yang artinya : “alangkah indahnya langit ini!”   

Bahasa Ibu 
Bagi
umat Islam, seharusnya Bahasa Arab dapat digunakan sebagai Bahasa Ibu.
Bahasa nasional dan internasional yang dapat digunakan di mana saja.
Dimanapun kita bertemu saudara kita seiman dan seakidah. Seharusnya
kita dapat berkomunikasi dengannya dengan Bahasa Arab, Bahasa
Rasulullah SAW dan para sahabatnya ini. Bahasa Arab adalah Bahasa yang
mudah dan perlu dipelajari. 
Untuk
memahami literatur Islam yang asli, yang tentunya semua berbahasa
Arab, maka tidak ada cara lain, kecuali harus memahami Bahasa Arab
secara baik. Sungguh jauh, perbedaan antara orang yang faham Bahasa
Arab dengan yang tidak. Banyak karya dan peninggalan para Ulama kita
yang sampai saat ini belum diterjemahkan karena tebalnya dan
berjilid-jilid. Semua karya mereka ini hanya dapat diakses dan
dinikmati bagi mereka yang faham Bahasa Arab dengan baik. 
Jadi
seperti orang yang ingin menaiki satu lantai di atasnya, maka dia harus
melalui tangga atau lift. Maka keberadaan tangga atau lift tersebut
wajib. Demikian pula halnya dengan Bahasa Arab, dia adalah satu sarana
dan alat dalam memahami Al-Quran dan Al-Sunnah serta kitab-kitab dan
karya-karya para ulama yang berbahasa Arab itu. Suatu kewajiban akan
sempurna bila mana ada sarana penopangnya, maka sarana penopang
tersebut keberadaanya menjadi wajib. 
Nah,
sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing. Sudah sejauh
mana pemahaman Bahasa Arab kita? Apakah tidak ada waktu untuk
mempelajari dan memperdalamnya?, sibuk berdakwah, mengurusi ini dan
itu? …tentunya yang bisa menjawab hanya diri kita sendiri. 
Semoga
Allah SWT yang Maha Adil memudahkan kita yang mau bersungguh-sungguh
dan mau meluangkan waktu khusus dalam mempelajari Bahasa Arab, Bahasa
Kitab Suci-Nya. Aamiin “Dan
orang-orang yang berjihad untuk Kami, benar-benar  akan   Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah
benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.(Q.S.
Al-Ankabut/29 : 69)


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


      

Kirim email ke