http://www.warnaislam.com/umum/kisah/2009/1/10/22140/Orang_Cina_Ngga_Boleh_Masuk_Surga.htm

Orang Cina Ngga Boleh Masuk Surga  Sabtu, 10 Januari 2009 06:09   Kalimat itu 
begitu menusuk hatiku,
 
"Orang Cina ngga akan pernah bisa masuk surga!
 
Ustadz
Badi yang sering mengisi ceramah di mushola dekat rumah memang
benar-benar keterlaluan. Apakah surga diciptakan hanya untuk orang
Islam seperti dia saja? Huh, sebal. Tapi
apa peduliku, toh kalau aku nanti meninggal, aku akan mengalami
reinkarnasi, kalau aku terus berbuat kebaikan, nanti jika dilahirkan
kembali, aku akan menitis menjadi seseorang yang lebih baik keadaannya,
bukan seperti keadaanku sekarang ini, pesakitan.
 
Akupun
nanti akan bekerja keras, supaya bisa dapat banyak uang, supaya nanti
kalau aku meninggal, bisa membakar banyak persembahan buat menemani aku
di alam akhirat.
 
Begitu kata mama, setidaknya begitu yang kupercaya, saat ini.
 
Tapi
kenapa ya saya merasa tertekan dengan itu semua ya? Apakah aku juga
ingin masuk ke dalam surganya orang-orang Islam itu? Membayangkan
keindahan yang ada di dalamnya, seperti yang sering kudengar kalau
ustadz Ahmad berceramah? Ah, entahlah.
 
Ustadz
Ahmad memang berbeda, dia lulusan fakultas syariah Universitas
Muhammadiyah Malang, orangnya rendah hati, ilmunya luas, tidak sombong,
dan pastinya tidak asal nyablak aja kalau ngomong, ngga kayak ustadz Badi!
 
Dua hari lalu, dia menjenguk diriku. Membawa rambutan yang baru saja dia panen 
dari kebun yang ia punya. Senangnya.
 
“Lisa tetap semangat ya, cepat sembuh, biar nanti bisa sekolah lagi”, begitu ia 
berkata dulu sewaktu menjenguk diriku.
 
Mamaku
menceritakan kepada beliau perihal penyakit yang kuderita. Leukimia
minor. Penyakit yang pastinya jarang terdengar di kampung kami. Mungkin
hanya aku satu-satunya warga Kebayoran Baru yang menderita penyakit
aneh ini. Dan mungkin, baru pertama kali beliau mendengar nama penyakit
ini.
 
Semenjak
sakitku semakin parah, aku memang sering bolos sekolah. Wali kelasku
memahami, apalagi karena sewaktu aku disekolah sering sekali pingsan
tanpa alasan. Sebentar lagi ujian akhir, kenaikan kelas ke kelas tiga,
kalau keadaanku seperti ini terus, sepertinya aku tidak akan naik
kelas, ya minimal, aku tidak bisa masuk ke jurusan favoritku, IPA.
 
Tapi
ada untungnya juga, aku jadi bisa mengikuti pengajian ibu-ibu yang
diajari oleh ustadz Ahmad, ya, bukan mengikuti menjadi salah satu
pesertanya sih, tapi ikut mendengarkan materi pengajiannya. Lumayan menarik. 
Buat iseng-iseng membunuh kejenuhan harus bed-rest seharian.
 
Hari
ini, materi yang dibawakan adalah mengenai sejarah Islam. Mengenai
perkembangannya dari padang tandus di Arab sana hingga bisa sampai
berkembang di Indonesia.
 
Yang
cukup menarik diriku, ustadz Ahmad berkata bahwa Islam berkembang di
Indonesia, salah satunya karena interaksi para pedagang dengan penduduk
lokal. Lanjutnya lagi, pasti ini semua karena kebaikan budi pekerti
para pedagang-pedagang itu, yang berperan bukan hanya sebagai seorang
pedagang, tapi juga sebagai seorang juru dakwah, sebuah peran yang
pasti harus melekat dalam diri tiap-tiap muslim yang benar.
 
Dan
ternyata, orang Cina juga ada yang menjadi salah seorang tokoh dalam
Islam, Laksamana Cheng Ho. Nah, berarti salah besar tuh ustadz Badi
yang bilang bahwa orang Cina ngga akan bisa masuk surga! Buktinya ada orang 
Cina yang beragama Islam. Dan sepertinya dia masuk surga.
 
Deuh,
kenapa pikiranku beralih lagi ke situ ya..? Aku menghela nafas panjang.
Kembali tenang mendengarkan suara speaker mushola bercat hijau itu
memasukkan suaranya ke dalam telinga, menembus kamarku yang berbatasan
langsung dengan dinding mushola.
 
Islam
memang agama yang cukup menarik hatiku. Meskipun aku orang Cina yang
beragama Konghucu, tapi sedari kecil aku dekat dengan Islam, bahkan
dulu, ketika masih kecil, aku sering mengikuti teman-temanku mengaji di
Mushola Al-Furqon sebelah rumah. 
 
Aku punya Al-Quran terjemahan. Hadiah dari ustadz Ahmad, tapi lebih tepatnya 
hasil todongan,
ketika beliau menjenguk waktu aku sakit, dan bertanya mau dibawain apa
biar lekas sembuh. Entah kenapa, tiba-tiba mulutku berucap meminta
kitab suci umat Islam tersebut. Dan kini ia sudah ada di genggaman.
 
Aku mencoba membuka satu-persatu lembarannya.
 
***
 
Sakitku
kian parah. Aku tidak bisa rutin cuci darah sebagaimana seharusnya.
Keluarga kami bukanlah keluarga yang berkecukupan. Aku sangat merasa
kasihan kepada mama dan ayah.
 
Rumah sakit menjadi tempat langgananku. Keluar-masuk, biar bosan juga.
 
Hari ini aku drop lagi. Aku dilarikan masuk ke ICU, Intensive Care Unit. Aku 
merasa sangat lemas sekali hari ini. Aku takut kalau-kalau ini adalah hari 
terakhirku di dunia.
 
Apakah aku akan masuk ke surga..? Ataukan aku tidak akan bisa masuk ke sana? 
Seperti yang dibilang ustadz Badi, orang Cina ngga akan pernah bisa masuk surga!
 
Seprai
putih, lampu neon, lantai marmer, menemani kesakitanku. Dan menemani
tanyaku yang masih juga belum terpecahkan. Apakah orang Cina bisa masuk
surga..?
 
“Mah,
bisa minta tolong panggilkan ustadz Ahmad…”, ujarku lirih. Ibuku yang
menemani di sisi ranjang tempat tidur besi ini tersentak.
 
“Kenapa..? sudah kamu tenang dan beristirahat saja dulu”
 
“Mah,
sepertinya aku tidak akan lama lagi… bisakah mama panggilkan ustadz
Ahmad?”, mamaku meneteskan air mata, ia mengangguk. Ia mengambil ponsel
dari dalam tas, keluar kamar yang aku dan tiga orang pesakitan lainnya
tempat. Ruang Anggrek.
 
***
 
“Ustadz,
apakah benar orang Cina tidak bisa masuk surga..?”, tanyaku lemah,
ketika ustadz Ahmad hadir disampingku, adik laki-lakiku menjemput dia,
Michael memang selalu bisa diandalkan, dia adalah lelaki yang baik.
 
Sejenak ustadz terlihat bingung. Ia menatap ke arah keluargaku. Ayahku, ibuku, 
dan adikku satu-satunya.
 
“Hmmm… ngga benar. Semua orang bisa masuk ke dalam surga kok”, beliau 
tersenyum. Sinar matanya cerah, ia tidak terlihat seperti orang yang berbohong.
 
“Apakah
aku nanti akan masuk surga..?”, tanyaku diiringi batuk. Suara batuk
yang lemah, dan menyakiti dadaku, “aku selama ini sudah berusaha
menjadi anak yang baik kok ustadz”, kupalingkan pandangan ke arah
mamaku. Beliau mengangguk. Air matanya mengalir di pipinya yang mulai
berkerut. Ayah memeluknya dari samping.
 
“Kamu bisa masuk surga, kalau kamu seorang muslim”, jawabnya tenang.
 
“Apakah surga hanya milik orang Islam”, aku mengangkat alisku lemah.
 
“Yang
masuk surga hanya orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan
yang lainnya sembari mereka berbuat kebaikan, dan mereka itu adalah
muslim. Surga memang untuk orang Islam, tapi Islam untuk semua orang”
 
“Apa yang perlu aku lakukan untuk menjadi seorang muslim?”
 
“Apakah kamu memang benar-benar ingin memeluk Islam?”
 
Aku
mengangguk yakin, masih dalam pembaringan. Sang ustadz menoleh menatap
ayahku. Ayah yang selalu mengutamakan kebahagiaan kami diatas
segala-galanya menggenggam tangannya.
 
“Baiklah, ikuti perkataanku. Ashadu alla..”
 
“Assadu Alla..”, suaraku lirih terdengar.
 
“Illa”
 
“Illa”, aku menirunya.
 
“Ha illallah”
 
“Ha illallah”, aku menghelakan nafas panjang dulu sejenak.
 
“Wa asyhadu anna..”
 
“Wa assadu anna..”, aku menirunya sebisaku.
 
“Muhammadar rasulullah”
 
“Muhammadar rasulallah”
 
“Barakallah, selamat engkau sekarang telah resmi menjadi seorang muslim”, dia 
tersenyum bahagia sekali.
 
Ada
perasaan yang berbeda merasuki hatiku. Tubuhku serasa ringan. Udara
serasa lebih sejuk dalam hembusan nafasku yang tersenggal-senggal tak
beraturan.
 
“Apakah aku sekarang sudah bisa masuk surga?”
 
“Insya Allah, kamu akan masuk surga”, sahutnya mantap.
 
“Tapi aku belum pernah shalat dan puasa?”
 
“Meskipun
kamu belum pernah shalat dan puasa. Dosa-dosa di masa lalumu sudah
dihapuskan begitu kamu menjadi seorang Muslim. Begitu Rasulullah saw
pernah berkata”
 
“Terima kasih ustadz”, aku kesulitan berkata. Beliau mengangguk.
 
Aku memejamkan mataku. Mencoba mengulangi bacaan yang baru saja kuucapkan.
 
“assadu… assadu..”
 
“Asyhadu Alla ila ha illallah”, ustadz Ahmad mendekatkan kepalanya di telingaku.
 
“Asyhadu Alla ila ha illallah”, aku berusaha keras agar bisa sama persis 
dengannya.
 
“Wa ashadu ala muhammadar rasulullah”
 
“Wa ashadu ala muhammadar rasulullah”, hembusan nafas terakhirku terlepaskan 
jua.
 
 
---000---
 
Samarinda, 30 November 2008
Syamsul Arifin
 
Hadis
riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Orang-orang bertanya kepada
Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum karena
perbuatan kami di masa jahiliyah? Rasulullah saw. bersabda: Barang
siapa di antara kalian berbuat baik di masa Islam, maka ia tidak akan
dikenai hukuman karena perbuatannya di masa jahiliyah. Tetapi barang
siapa yang berbuat jelek, maka ia akan dihukum karena perbuatannya di
masa jahiliyah dan di masa Islam. (Shahih Muslim) 
 
Hadis
riwayat Hakim bin Hizam ra., ia berkata: Saya pernah bertanya kepada
Rasulullah saw.: Apa pendapatmu tentang beberapa perkara yang dahulu,
di masa jahiliyah aku menyembahnya. Apakah aku akan menerima hukuman
karena itu? Rasulullah saw. bersabda: Engkau memeluk Islam dengan
kebaikan dan ketaatan yang dahulu engkau lakukan. (Shahih Muslim)

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


      

Kirim email ke