Sentilan nih.....dicari kerja nyata kita, bukan ucapan kita belaka. Selama cuma ucapan, mereka para musuh kita tidak pernah takut.
Tapi jangakan dgn tindakan nyata macam perang....wong sholat jama'ah saja, apalagi sholat shubuh berjama'ah ...yg kita sering lalaikan (Astaghfirullooh Lii wa Lakum)...bila level jumlah jama'ahnya saja mendekati atau sama dengan jumlah jama'ah Sholat Jum'at...mereka sudah sangat ketakutan. Mereka para musuh kita sangat takut dgn amal nyata, bukan terhadap ucapan nyaring saja. QS 61 (As-Shaff) :2-3 2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? 3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Astaghfirullooh Lii wa Lakum. Wassalam, Nugon Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!! http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/ http://nugon19.multiply.com/journal http://groups.yahoo.com/group/rumahilmu/message/3944 >From Reza Ervani Palestina : Celoteh Saja Tak Cukup Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Akhuna ??????? (mohon maaf Mas Reza, ini ane samarkan ya) yang Allah muliakan, Sengaja kami loloskan posting protes anda ini untuk sedikit menenangkan anda. Membahas Palestina tidak cukup hanya dicelotehkan … Apalagi sekedar cross posting dari satu mailing list ke mailing list lain … tanpa harus pula kemudian memungkiri bahwa inipun bagian dari perjuangan melebarkan dan membangun isu kepedulian, jika dilakukan dengan baik, bukan sekedar menulis sebaris dua baris kalimat emosional dengan huruf merah besar-besar. Anda tentu paham betul apa beda komunitas dengan gerombolan. Anda tentu paham betul maksud ayat : "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Al Quran Al Kariim Surah Ash Shaff ayat 4) Hikmah hebat dari kekalahan perang Uhud adalah "Stay in Your Position" Kita ini masih lebih senang bergerombol, beramai-ramai membicarakan isu keummatan yang hangat. Lebih sering berakhir tanpa solusi, apalagi sampai ke rencana teknis pengerjaan. Kami mengikuti perkembangan lebih dari 100 mailing list setiap harinya. Mulai dari milis liberal hingga milis gaul, mulai dari milis pendidikan hingga milis partai dan ormas Islam. Seminggu terakhir berisi marak dengan berita-berita Palestina, salinan dari berbagai website berita. Mulai dari perdebatan seputar politisasi isu lewat demo di jalanan, hingga debat perang agama. Apa kemudian ada ujungnya ? Karenanya kami lebih kagum dengan sahabat-sahabat di MER-C, KISPA yang bergerak dalam diam, berangkat dengan bekal iman, turun langsung ke medan perang, dengan resiko kehilangan nyawa, tapi berhadiah surga. Karenanya pula, izinkan kami untuk tetap berada di posisi, karena keyakinan besar kami adalah bawah merancang kerja da'wah bukanlah pekerjaan emosional, reaktif untuk kemudian hilang sesaat. Coba kita catat, sudah berapa lama boikot produk Yahudi difatwakan ulama, tapi seberapa besar pula efektifitasnya di negeri ini. Harus ada orang-orang berjiwa besar yang turun gunung mendidik pemuda-pemuda masa depan dengan sangat konsisten. Tak perlu berkoar-koar, karena kesunyian itu terkadang jauh lebih kuat dan memantapkan. Pernahkah anda tahu, berapa banyak anak yang masih buta huruf Quran di pinggiran Bandung ? di pinggiran Jawa Barat ? atau bahkan pernahkah anda tahu berapa banyak mahasiswa perguruan tinggi negeri di tengah kota yang belum pula mengenal A Ba Tsa ? Bagaimana mungkin mereka kemudian tahu bahwa perang ideologi itu adalah perang abadi. Lalu dengan bekal apa mereka beraksi di jalanan, membakar simbol dan berorasi ? Cukupkah dengan alasan emosional yang diangkat oleh media-media yang hanya mengungkapkan kulitnya, lalu dengan mudah merubah warnanya … Izinkan kami ada di posisi itu ... menjaga kesinambungan dengan panah-panah pendidikan ... untuk kemenangan di masa mendatang ... Perang masih panjang, jangan kita kehabisan nafas karena hanya sibuk … Berceloteh … Makaruhum wa makarullah, wallahu khairul maakiriin … Salam, Reza Ervani
