Pesan dari Roket Hamas

Rabu, 14 Januari 2009 | 07:59 WIB

oleh NINOK LEKSONO

"Serangan roket dari Gaza telah memaksa warga Israel untuk lari dalam
jumlah yang makin banyak, meningkatkan keyakinan di kalangan pimpinan
militer Israel bahwa misil Hamas bisa mengancam fasilitas nuklir
paling rahasia bangsa itu di Dimona."

(Fox News, 2/1)

Salah satu elemen yang banyak diperbincangkan selama berlangsungnya
serangan Israel di Jalur Gaza adalah roket Hamas. Roket-roket itu,
menurut Israel, ditembakkan ke sejumlah kota di wilayahnya. Berbeda
dengan Israel yang bisa mengerahkan persenjataan udara, laut, dan
darat yang berteknologi tinggi, roket—bersama mortir—itulah yang jadi
tulang punggung persenjataan Hamas.

Selama tahun 2008, pihak Hamas, seperti dicatat Israel, telah
menembakkan 1.750 roket (dan 1.528 peluru mortir), 2 kali lebih banyak
dibandingkan dengan tahun 2007 dan 2006 serta 5 kali lebih banyak
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. (GlobalSecurity.org)

Dengan roket itu pula Hamas bisa memberi ancaman lebih terhadap
kota-kota Israel. Sebelum 2008, hanya kota Sderot (berpenduduk 20.000
jiwa) dan wilayah di sekitar Jalur Gaza yang bisa menjadi sasaran
roket. Namun, pada 2008 pihak Hamas bisa menarget kota Ashkelon dan
Netivot. Malah sejak Israel melancarkan agresi yang diberi nama Sandi
Operation Cast Lead, Hamas bisa meluncurkan roket ke kota yang lebih
jauh, seperti Ashdod dan Beersheba.

Membaca "kemajuan" di atas, bisa jadi yang muncul adalah keperkasaan
militer. Namun, dibandingkan dengan militer Israel yang disokong penuh
Amerika Serikat, tentu roket Hamas belum setara. Namun, dalam banyak
foto, kita sering melihat pejuang Hamas mengusung roketnya. Sebagian
memang panjangnya hanya 80 cm sehingga cukup ditenteng.

Akan tetapi, kalau Israel begitu merisaukannya, pastilah ada alasan
kuat. Sebagian tentu pertimbangan keamanan penduduk, tetapi yang tidak
kalah dirisaukannya, dengan jangkauan yang terus bertambah,
roket-roket itu juga mengancam arsenal nuklirnya.

Kalangan di Israel takut kalau roket Hamas dibiarkan, hanya tinggal
soal waktu sebelum instalasi nuklir di Dimona, yang terletak 32
kilometer di sebelah timur Beersheba, jatuh dalam sasaran roket Hamas
(Fox News, 2/1).

Kita tahu, Dimona adalah satu-satunya reaktor nuklir Israel dan banyak
diyakini, di sanalah Israel menyimpan sekitar 200 hulu ledak nuklirnya.

Terus ditingkatkan

Berada dalam posisi serba terbatas, Hamas—dan juga Hezbollah—telah
memilih roket sebagai andalan. Roket menjadi simbol perlawanan dalam
konflik asimetri. Dengan memanfaatkannya secara cerdik, roket—seperti
diperlihatkan dalam perlawanan pejuang Hezbollah pertengahan tahun
2006—bisa merepotkan Israel.

Kemarin, juru bicara Hamas di Dewan Legislatif Palestina, Musheir
al-Masri, menyatakan, roket-roket yang sudah diluncurkan baru
merupakan pesan pertama. Kalau konflik meningkat, serangan roket akan
ditingkatkan dan Israel akan "dihantam dengan cara yang belum pernah
terjadi sebelum ini".

Dari mana Hamas mendapatkan roketnya? Sebelum ini, Iran banyak disebut
sebagai pemasok roket Hamas. Kini, roket Hamas juga disebut buatan China.

Jangkauan roket Hamas yang paling jauh sekitar 40 km. Banyak yang
mengatakan, itu roket Grad. Ini nama Rusia atau "Katyusha yang
ditingkatkan". Namun, Israel meyakini, roket yang ditembakkan ke
Ashdod harus punya jangkauan dua kali lebih jauh daripada BM-21 Grad.
Foto yang dibuat dari roket yang jatuh di dekat Ashdod memperlihatkan
bahwa itu roket 122-mm, berarti juga bukan roket buatan Iran, apakah
itu Oghab yang berjangkauan 34-45 km atau Fajr-3/Ra'ad dengan
jangkauan 45 km.

Dugaan pun lalu mengarah pada roket buatan China yang bernama WeiShi
(yang secara harfiah berarti "Pengawal"). Keluarga roket WS yang
berjenis sistem roket peluncur banyak (multiple launch rocket system)
ini dikembangkan oleh Sichuan Aerospace Industry Corporation di
Chengdu, Provinsi Sichuan. Seri roket WeiShi ini termasuk WS-1E 122-mm
dengan jangkauan 40 km. Adapun roket Grad, Israel mengetahuinya dari
roket yang ditembakkan ke Ashkelon.

Roket Qassam

Dari jenis-jenis roket Hamas, yang paling banyak selain Grad dan
WeiShi adalah roket Qassam yang jangkauannya lebih pendek. Roket ini
mulai diproduksi September 2001, menyusul pecahnya intifada Al Aqsha.

Roket yang namanya diambil dari pejuang asal Suriah yang melawan kuasa
kolonial Eropa di Timur Tengah pada 1920-an dan 1930-an ini berbentuk
silindris, dengan selongsong besi. Roket ini tidak dilengkapi sistem
pengarah dan tidak akurat, tetapi ketika mulai dipergunakan untuk
menyerang wilayah Israel, Maret 2002, ia menciptakan efek psikologis
besar. Ini karena sebelum hadirnya Qassam, pejuang Palestina tidak
punya alat untuk melakukan serangan jarak jauh.

Karena ukurannya yang kecil sehingga mudah dibawa dan peluncurannya
simpel, Israel kesulitan menghentikan produksinya.

Kini dilaporkan sudah ada Qassam-4 yang punya jangkauan 17 km.

Menanggapi serangan roket Qassam, Israel telah sering melancarkan
serangan ke pabrik pembuatan dan situs-situs peluncuran di Jalur Gaza,
juga memasang sistem radar pemberi peringatan dini untuk memberi tahu
warganya agar bersembunyi di tempat perlindungan bom.

Simbol kekuatan

Sebagai bangsa yang masih hidup dalam kesempitan, Palestina tidaklah
mampu mengembangkan kekuatan perang sebagaimana Israel dengan Israel
Defence Force yang punya sekitar 500 pesawat tempur, 200 heli tempur,
dan 3.000 tank. Israel bahkan sudah punya rudal balistik jarak sedang
Jericho. Namun, roket-roket yang tergolong sederhana itu memberi
kekuatan pejuang Palestina.

Wujud perang asimetri, seperti halnya David yang melawan Goliath,
masih menonjol, tetapi tampak bahwa roket telah memberi warna lain
dalam perlawanan Palestina. Negara-negara yang menghadapi ketimpangan
besar dengan lawan potensialnya pun bisa melihat roket sebagai jalan
keluar meski kini upaya pengembangan roket telah dikekang oleh Missile
Technology Control Regime yang didirikan Barat tahun 1987.

Hamas dengan roket-roket yang belum akurat, tetapi berjangkauan makin
jauh telah membuat Israel cemas dan kini Israel mengerahkan
kekuatannya untuk membungkam roket-roket itu sebelum jangkauan mereka
semakin mengancam Dimona atau kota-kota besar Israel lainnya.

Kirim email ke