Al-Wala Dan Al-Bara -Bentuk Loyalitas Terhadap Orang Kafir
Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
Adapun dari bentuk-bentuk loyalitas terhadap orang kafir yaitu :
Pertama
Menyerupai mereka dalam berpakaian, ucapan dan lainnya ; karena yang demikian
itu menunjukkan cinta orang yang
menyerupai terhadap yang diserupai. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya :
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka".Maka
diharamkan menyerupai orangorang
kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka dalam bidang ; adat istiadat,
ibadah, dan sifat-sifat serta tingkah
laku mereka, seperti : mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbahasa dengan
bahasa mereka, kecuali jika
diperlukan, berpakaian, makan, minum dan lainnya.
Kedua
Bermukim (tinggal) di negara mereka dan tidak pindah (hijrah) dari negara
tersebut ke negara kaum muslimin untuk
menyelamatkan Ad-Dien, sebab berhijrah untuk tujuan tersebut merupakan
kewajiban bagi seorang muslim, dan
berdiamnya seorang muslim di negara kafir menunjukkan loyalitasnya terhadap
orang kafir. Maka dari itu Allah Ta'ala
mengharamkan bermukimnya orang muslim diantara orang-orang kafir apabila ia
mampu untuk berhijrah.Allah Ta'ala
berfirman :"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam
keadaan menganiaya diri sendiri,
(kepada mereka) malaikat bertanya :'Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?' Mereka
menjawab : 'Adalah kami orangorang
yang tertindas di negeri (Mekkah)'. Para malaikat berkata :'Bukankah bumi Allah
itu luas, sehingga kamu dapat
berhijrah di bumi itu ?' Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan
Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,
kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak
yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak
mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya.
Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi
Maha Pengampun". [An-Nisa' : 97-99].Allah Ta'ala tidak menerima alasan setiap
muslim yang bermukim di negara orang
kafir kecuali mereka lemah, yang tidak mampu untuk berhijrah, juga orang-orang
yang bermukimnya ada kemaslahatan
Ad-Dien, misalnya berdakwah kepada Allah dan menyebarkan Islam, di negara
mereka.
Ketiga
Bepergian ke negara mereka dengan tujuan wisata dan rekreasi.Bepergian ke
negara orang kafir diharamkan kecuali
dalam keadaan darurat, seperti berobat, berdagang, dan belajar ilmu-ilmu
tertentu yang bermanfaat, yang tidak mungkin
didapatkannya kecuali dengan pergi ke negeri mereka. Hal itu dibolehkan sebatas
keperluan, dan jika keperluannya
telah selesai, maka wajib kembali lagi ke negara kaum muslimin.
Diperbolehkannya seseorang untuk bepergian ke
negara orang kafir disyaratkan juga untuk senantiasa memperlihatkan identitas
diennya, serta bangga dengan ke-
Islamannya. Ia harus menjauhi tempat-tempat maksiat dan berhati-hati dari
segala bentuk tipu daya para musuhmusuhnya
juga diperbolehkan atau bahkan wajib bepergian ke negara mereka jika bertujuan
untuk berdakwah kepada
Allah dan menyebarkan Islam.
Keempat
Bentuk yang lain adalah membantu dan menolong mereka untuk mengalahkan kaum
muslimin, memuji-muji dan
membela mereka, hal ini merupakan bagian dari rusaknya aqidah ke-Islaman, juga
penyebab dari kemurtadan. Kita
berlindung kepada Allah dari yang demikian.
Kelima
Dan dari bentuk yang lain juga adalah, meminta bantuan kepada mereka, percaya
dan memberikan jabatan-jabatan
yang didalamnya terdapat rahasia-rahasia kaum muslimin, dan menjadikan mereka
sebagai orang kepercayaan serta
teman bertukar fikiran.Allah berfirman :"Artinya : Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman
kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu, (karena) mereka tidak
henti-hentinya (menimbulkan)
kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata
kebencian dari mulut mereka dan
apa yang disembunyikan dalam hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami
terangkan kepadamu ayat-ayat
(Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal
mereka tidak menyukai kamu dan
kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka
berkata : 'Kami beriman'; dan
apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah dan
bercampur benci terhadap kamu.
Katakanlah (kepada mereka) : 'Matilah kamu karena kemarahanmu itu'.
Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu
mendapat bencana mereka bergembira
karenanya". [Ali Imran : 118-120].Ayat-ayat mulia tersebut di atas menjelaskan
isi hati orang-orang kafir serta kebencian
yang mereka sembunyikan terhadap kaum muslimin, dan apa yang mereka rencanakan
untuk melawan kaum muslimin
dengan tipu muslihat serta penghianatan. Juga mereka senantiasa menimpakan
madharat terhadap kaum muslimin
dengan senantiasa menggunakan segala cara (sarana) untuk menyakiti orang-orang
yang beriman. Dan sungguh
mereka selalu memanfaatkan kepercayaan kaum muslimin terhadap mereka, lalu
mereka berencana untuk menimpakan
bahaya terhadap kaum muslimin.Imam Ahmad Rahimahullah telah meriwayatkan sebuah
atsar dari sahabat Abu Musa
Al-'Asyary Radhiyallahu anhu beliau berkata : Aku pernah berkata kepada Umar
bin Khatthab Radhiyallahu anhu : Aku
mempunyai seorang sekretaris seorang Nasrani, Umar bin Khatthan Radhiyallahu
anhu berkata : Apa-apaan kamu ini,
celakalah engkau ! Tidaklah engkau pernah mendengar firman Allah Ta'ala : "Hai
orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu) ;
sebahagian mereka adalah
pemimpin bagi sebahagian yang lain". [Al-Maidah : 51] Apakah tidak mengambil
orang muslim saja ? Lalu Abu Musa
berkata : "Kukatakan 'Wahai Amirul Mukminin bagiku tulisannya dan baginya
agamanya ! Serentak Umar bin Khatthab
berkata : 'Aku tidak akan menghormati mereka, sebab Allah Ta'ala telah
menjadikan mereka hina, dan aku tidak akan
memuliakan mereka sebab Allah telah menjadikan mereka rendah ; dan aku tidak
akan mendekati mereka sebab Allah
Ta'ala telah menjauhkan mereka (menjadikan mereka sangat Jauh)".Dan Imam Ahmad
juga Imam Muslim meriwayatkan
:"Artinya : Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju Badar,
lalu seorang laki-laki musyrikin mengikuti
beliau, kemudian bertemulah di suatu tempat (bernama Hirrah), seraya berkata :
"Sesungguhnya aku ingin ikut dan
terluka bersamamu", bersabdalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Berimankah kamu kepada Allah dan rasul-
Nya ? Laki-laki itu berkata : "Tidak" kemudian Nabi Shallallahu alihi wa sallam
bersabda : "Pulanglah kamu, sekali-kali
aku tidak minta tolong kepada orang musyrik".Dan dari nash-nash tersebut di
atas jelaslah bagi kita haramnya memberikan pekerjaan-perkerjaan kaum muslimin
kepada orang kafir, yang dengan sarana itu memungkinkan orang
kafir untuk menyelidiki keadaan dan rahasia-rahasia kaum muslimin serta
mengadakan tipu daya yang membahayakan
mereka.Diantara contoh yang gamblang yang terjadi akhir-akhir ini yaitu dengan
didatangkannya orang-orang kafir ke
negara kaum muslimin (Negeri dua tanah haram yang suci) lalu mereka dijadikan
pekerja-pekerja, supir-supir, pembantupembantu,
dan baby sitter-baby sitter di rumah mereka sehingga mereka berbaur dalam satu
rumah tangga kaum
muslimin yang tinggal di negera tersebut.
Keenam
Menggunakan kalender mereka khususnya kalender yang mencatat hari-hari suci dan
hari-hari besar mereka, seperti
kalender masehi yang menyebutkan peringatan Hari Kelahiran Al-Masih
Alaihissalam, yang hari raya itu adalah bid'ah
yang mereka ada-adakan, dan bukanlah dari dien (ajaran) Al-Masih Alaihissalam.
Maka dengan memakai kalender
tersebut merupakan keikutsertaan dalam menghidupkan syi'ar dan hari besar
mereka. Untuk menghindari masalah ini
maka para sahabat Radhiyallahu anhum berkeinginan untuk menentukan kalender
bagi kaum muslimin pada masa
Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu ; mereka berpaling dari kalender orang
kafir dengan membuat kalender yang
permulaannya dihitung dari hari hijrah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, hal tersebut untuk menunjukkan wajibnya
menyelisihi orang-orang kafir dalam masalah ini dan masalah-masalah lain yang
merupakan kekhususan mereka, hanya
Allah lah tempat mohon pertolongan.
Ketujuh
Keikutsertaan kaum muslimin di hari-hari besar orang-orang kafir ; membantu
mereka dalam menyelenggarakan dan
penyelenggaraannya, memberikan ucapan selamat pada hari itu atau mendatangi
undangan pada hari
diselenggarakannnya ucpacara pada hari itu. Firman Allah Ta'ala yang berbunyi :
"Dan orang-orang yang tidak
memberikan persaksian palsu", telah ditafsirkan bahwa dari sifat hamba-hamba
adalah sesungguhnya mereka tidak
mendatangi hari-hari besar orang kafir.
Kedelapan
Memuji dan terpesona atas kemajuan mereka serta kagum atas tingkah laku dan
kepandaian mereka tanpa melihat
kepada aqidah-aqidah yang bathil dan nama mereka yang rusak.Allah Ta'ala
berfirman :"Artinya : Dan janganlah kamu
tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada
golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga
kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabbmu adalah
lebih baik dan lebih kekal".
[Thaha : 131]Ayat tersebut tidak dapat diartikan bahwa kaum muslimin dilarang
untuk mengetahui rahasia sukses
mereka dengan jalan belajar dibidang-bidang perindustrian (senjata dan
lain-lain), dasar-dasar ekonomi yang tidak
dilarang oleh syari'ah serta strategi-strategi kemiliteran, bahkan semua itu
merupakan persoalan yang dituntut oleh
Islam.Allah berfirman."Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka
kekuatan apa saja yang kamu sanggupi". [Al-
Anfal : 60]Pada dasarnya hal-hal yang bermanfaat diatas dan juga
rahasia-rahasia alam ini pada dasarnya diciptakan
Allah Ta'ala unuk kaum muslimin.Allah berfirman"Artinya : Katakanlah :'Siapakah
yang mengharamkan perhiasan dari
Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang
mengharamkan) rezeki yang baik
?'. Katakanlah : 'Semuanya itu (disediakan) bagi orng-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia, khusus (untuk
mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi
orang-orang yang mengetahui". [Al-A'raf :
32]Dan Allah berfirman."Artinya : Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi
semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya". [Al-Jatsiah : 13].
Allah berfirman."Artinya : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di
bumi untuk kamu". [Al-Baqarah : 29].Maka
merupakan suatu kewajiban bagi kaum muslimin untuk bersaing dalam menggali
manfaat-manfaat dan potensi ini dan
tidak perlu meinta-minta kepada orang kafir untuk mendapatkannya, mereka wajib
memiliki pabrik-pabrik dan teknologiteknologi
canggih.
Kesembilan
Memberi nama dengan nama-nama mereka (orang kafir) ; mereka (sebagian kaum
muslimin) memberi nama anak lakilaki
dan anak perempuannya dengan nama-nama asing dan meninggalkan nama-nama
bapak-bapak, ibu-ibu, kakekkakek,
nenek-nenek, serta nama yang dikenal di masyarakat mereka.Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
bersabda."Artinya : Sebaik-baik nama adalah Abdullah dan Abdur Rahman".
Dan akibat perubahan nama-nama tersebut, telah didapatkan suatu generasi yang
mempunyai nama-nama aneh, hal
tersebut menyebabkan terpisahnya generasi ini dengan generasi-generasi
sebelumnya serta terputusnya hubungan baik
antar keluarga yang sudah dikenal dengan nama-nama khusus mereka.
Kesepuluh
Memintakan ampun dan memintakan rahmat bagi mereka, yang hal itu telah
diharamkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-
Nya."Artinya : Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman
memintakan ampun (kepada Allah) bagi
orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya),
sesudah jelas bagi mereka,
bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam". [At-Taubah
: 113].
[Disalin dari buku Al-Wala' & Al-Bara' Tentang Siapa yang Harus Dicintai dan
Harus Dimusuhi oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah
Al-Fauzan, hal 13-20, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Endang Saefuddin]