*Jika Anda tidak berbahagia di alam fana ini, mengapa Anda merasa berhak atas kebahagiaan di negeri kekal abadi?*
Ada sebagian saudara kita, yang memiliki harapan baik tentang sebuah kehidupan yang berbeda dengan apa yang dialaminya saat ini. Ketika penderitaan, kepapaan, perendahan, kekurangan, ketertindasan demikian mendera; mereka kemudian berhalusinasi akan datangnya sebuah kehidupan yang penuh nikmat. Entah darimana datangnya halusinasi itu, tetapi seolah sudah menjadi keyakinan yang berdasar, adanya keterpisahan antara fakta yang sedang dialaminya dengan apa yang akan diperolehnya nanti. Istri yang shalihah adalah replika bidadari surga milik kita nanti. Suami yang shalih adalah replika bidadara surga milik kita nanti. Keluarga sakinah yang menyejukkan hati, adalah replika keluarga kita nanti Buah-buahan yang kita makan akan kita makan nanti, protipe-nya sudah kita nikmati. Dipan yang kita bertelekan di atasnya, merupakan prototype yang akan kita gunakan. Rumah (bukan tempat tinggal) tempat bersemai kasih sayang kita sekarang adalah miniatur surga kita yang indah itu. Baiti jannatiā¦. Bukankah seyogyanya kebahagiaan Anda hari ini merupakan prototype kebahagiaan Anda di akhirat nanti? Mungkin, pengertian Anda tentang kebahagiaan, menjauhkan Anda dari merasakan kebahagiaan yang sebenarnya telah lama berdekat-dekat dengan Anda. Untuk itu, mohon Anda berkenan memeriksa kembali, pengertian Anda tentang makna kebahagiaan yang ada dalam persepsi Anda. *Jika Anda tidak berbahagia di alam fana ini, mengapa Anda merasa berhak atas kebahagiaan di negeri kekal abadi?* --- Sahabat-sahabat anggota milist yang budiman, Mungkin sudut pandang di atas, bisa jadi sangat asing bagi Anda. Namun, mohon Anda bersabar dan berkenan untuk merenungkannya kembali dalam akhir pekan yang damai ini. Untuk menghindari silang pendapat yang riuh dan mungkin tidak nyaman bagi anggota millist lain, mohon komentar ditujukan pada alamat email langsung atau menuliskan komentar pada web syarifniskala.com. Terima kasih yang dalam atas kebersamaan yang memuliakan. Syarif Niskala
