Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


--- In [email protected], "Irzan Supriyadi" <irza...@...> wrote:

Mestinya tidak vs tapi cs/dan, karena kategori akhlatul khorimah tidak
melihat jabatan & posisi dunia.

Mis : tentang sabar, ikhlas, ridho krn Allah, leadership, dll setiap Muslim
mesti ada.

--- In [email protected], Didit Rahardi <didit_raha...@...> wrote:





Bos... perbandingannya kurang seimbang tuh...
coba kalau... 
Pengusaha Muslim vs Karyawan Muslim:::
 
1. Pengusaha Muslim belum tahu apa yang akan terjadi besok,
Karyawan Muslim pun belum tahu apa yang akan terjadi esok harinya...
customer marah, jaringan komputer lagi down, budget yang sudah
disetujui dibatalkan, pengetatan anggaran... apalagi krisis global
sekarang... membuat karyawan Muslim pun jauh lebih tawakal kepada
Allah, terus berdo'a dan berusaha profesional bagaimanapun kondisi
perusahaannya...
 
2. Siapa bilang karyawan Muslim bergantung kepada
Bos/Perusahaan/gaji bulanan/kartu kredit??? Karyawan Muslim hanya
beribadah dan bersyukur kepada Allah atas potensi yang telah Allah
berikan kepadanya... karyawan Muslim akan selalu terikat kontrak hanya
dengan Allah saja, Allah lah yang memberikan rizki-Nya pada dirinya,
bukan perusahaan..
 
3. Menjadi karyawan harus jauh lebih hati-hati dan berusaha agar
tetap bersih, peduli dan profesional... semakin dia profesional, Insya
Allah amanah/karir yang lebih besar akan dipercayakan kepada dia
 
4. Karyawan Muslim tidak akan NRIMO atas kezaliman yang terjadi
pada dirinya atau rekan kerjanya... kesabaran karyawan Muslim justru
teruji manakala dia harus melakukan inisiatif dan kreativitas membantu
dirinya/rekan kerjanya/atasan/perusahaan untuk lebih maju dan
berkembang dengan segala kondisi yang ada...
 
5. Karyawan Muslim akan terus dan tetap Bersih, Peduli dan
Profesional sambil berusaha untuk perform yang terbaik untuk berada di
top position level of the company... Insya Allah, jika saya menjadi CEO
perusahaan ini, kontribusi untuk donasi perjuangan ke Palestina akan
jauh lebih besar...dan bahkan ketika telah berada dijajaran CEO, akan
diajaklah seluruh elemen perusahaan untuk peduli dengan Palestina dan
tragedi kemanusiaan lain yang menimpa umat Muslim di belahan bumi yang
lain, kemudian secara perlahan dan pasti.. nilai-nilai dan budaya dalam
perusahaan itu akan semakin mewujudkan nilai-nilai Islam dalam
keseharian aktivitasnya...
 
6. Karyawan Muslim akan berkolaborasi dengan pengusaha Muslim yang
lain untuk menjadi suplier/provider/vendor di perusahaannya...
 
7. Karyawan Muslim akan membangun jaringan karyawan dan pengusaha
Muslim untuk menguatkan dan membangkitkan kembali ekonomi umat sebagai
kekuatan baru bagi dunia yang sudah lama dikuasai oleh Yahudi... 
 
8. Karyawan Muslim bersama jaringan karyawan Muslim dan pengusaha
Muslim lainnya menjadi kekuatan besar yang akan menjadi pertimbangan
dan referensi bagi seluruh negara-negara di dunia dalam mengambil
kebijakan bagi negerinya masing-masing, sehingga keadilan dan
kesejahteraan akan dinikmati oleh seluruh umat manusia dan meraka akan
merasakan manisnya buah Islam yang diwujudkan oleh Karyawan Muslim 
 
Salam,
Didit, 
Karyawan Muslim

--- On Tue, 2/10/09, Nugroho Laison <nugo...@...> wrote:

From: Nugroho Laison <nugo...@...>
Subject: [sma1bks] [Article] Pengusaha Muslim vs Karyawan :::
To:
"Rumah Ilmu Indonesia" <[email protected]>, "SMA 1
Bekasi" <[email protected]>, "Komunitas Tarbawi"
<[email protected]>, "Mualaf Indonesia"
<[email protected]>, "Aisha Chuang"
<[email protected]>, "Dana Abadi Umat"
<[email protected]>, "Pengajian Kantor"
<[email protected]>, "Alumni AnNabaa"
<[email protected]>, "Alumni Majelis Taklim Alkhowarizmi"
<[email protected]>, "Muslim Binus"
<[email protected]>
Date: Tuesday, February 10, 2009, 9:20 PM










Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi! !!

http://nugon19. blogs.friendster .com/my_blog/
http://nugon19. multiply. com/journal






--- In majelisrasulullah@ yahoogroups. com, "MK. Mattawaf" <mk_mtw...@.. .> 
wrote:


Bp / Ibu mau jadi karyawan terus ?
atau jadi karyawan sementara untuk cari modal
agar bisa jadi pengusaha ?
 
memang sebaiknya jadi pengusaha saja, agar harap2 cemasnya pada Allah
terus dirasakan, ibadahnya tidak terganggu, tidak takut dipecat Bos.
bisa banyak bedo`a ditengah malam, tidak ada korupsi waktu atau lainnya.
berikut postingan menarik dari tetangga.
 
MK
===========
Dari: Fadil Basymeleh <fadi...@...>
Topik: [pengusaha-muslim] 
Kepada: pengusaha-muslim@ yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 10 Februari, 2009, 12:29 PM
===========

 
Pengusaha Muslim vs. Karyawan

1.
Menjadi pengusaha muslim akan membuat tawakal kita kepada Allah Ta'ala
lebih kuat dari karyawan, karena tidak jelasnya keadaan hari esok, kita
benar2 tidak tahu apa yang akan terjadi, semua serba tidak terduga,
banyak hal yang menakutkan yang membebani pikiran seorang pengusaha
yang hanya dapat ditenangkan dengan banyak berdoa dan bertawakal. 

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan 
(keperluan)nya. " QS Ath Thalaaq : 3

2.
Menguatkan aqidah, bahwa hanya Allah-lah tempat bersandar, bukan uang
tabungan di bank, bukan kartu kredit, bukan bos, dst... tidak ada
siapa2 tempat bersandar selain Allah Ta'ala. Sedangkan menjadi karyawan
umumnya akan merasa tenang dengan jaminan gaji yang rutin tiap
bulannya, seolah-olah perusahaan selamanya akan tetap ada sehingga
dapat menjamin rezekinya.

"Adakah pencipta selain
Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?" QS. 
Faathir : 3

"Apakah
mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara
mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah
meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat,
agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat
Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." QS. Az Zukhruf : 32

3.
Memaksa kita untuk lebih hati-hati, lebih bertakwa, karena kalau kita
berbuat maksiat akan menyebabkan Allah murka, dimana ada dua
kemungkinan yaitu jika Allah sayang kepada kita maka jalan kita dibuat
sulit dan rezeki sempit, tujuannya agar kita sadar dan kembali kejalan
yang benar, sedangkan jika Allah tidak sayang, maka bisnis tambah maju
pesat, uang semakin banyak, tanpa ada kesulitan sama sekali, semua itu
agar kita semakin lalai dan hanyut dalam kesesatan. Jadi harus extra
hati2 dan
lebih bertaqwa agar jalan kita lebih mudah. 

"Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa." QS Yunus : 17

"Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya"  QS Ath-Thalaaq : 
65

4.
Melatih kesabaran yang sesungguhnya, karena banyak masalah dan
kesulitan yang membuat kita marah, tertekan, stress, dsb... tapi kalau
kita sabar justru akan membuka jalan untuk kesuksesan, karena sabar
dalam Islam adalah kita menerima takdir yang sudah terjadi tapi terus
berusaha untuk maju dan berbuat sesuatu untuk merubah keadaan agar
lebih baik dari sebelumnya, bukan diam tidak berbuat apa2. Sedangkan
menjadi pegawai yang terjadi lebih banyak NRIMO daripada sabar, karena
kita terpaksa pasrah tidak bisa berbuat apa2 jika terjadi kedzaliman
atau income yang kurang, komplain bisa2 dipecat.

"Hai orang-orang yang
beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah 
beserta orang-orang yang sabar." QS Al Baqarah : 153

5.
Optimis akan terwujudnya cita2 dalam kebaikan, misalkan kita
bercita-cita "InsyaAllah kalau omzet ana sudah sekian... ana bisa
membantu keluarga yang tidak mampu, membangun masjid, membuat
pesantren, membangun rumah sakit, dsb..." cita-cita ini memiliki
harapan besar untuk terjadi jika sebagai pengusaha, karena sebagai
pengusaha semuanya serba mungkin, tinggal masalah waktu dan takdir
Allah, sedangkan kalau jadi pegawai rasanya bermimpi saja sudah tidak
mungkin, sangat berat untuk bercita2 seperti itu, karena income fix,
dipotong biaya2 rutin sudah jelas sisanya tinggal sedikit yang
kemungkinan besar habis untuk hal2 yang tidak terduga, seperti biaya
untuk berobat karena sakit, dsb... tentunya bukan tidak mungkin itu
terjadi pada seorang karyawan tapi dari proses/ikhtiar yang ada
membuatnya tampak tidak mungkin,
karena income sudah dapat diproyeksi sekian-sekian dari gaji yang
diperoleh (kecuali Allah menakdirkan lain).

"Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." QS. ath-Thalaq:7

Allahu'alam

--- End forwarded message ---

--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke