Jika Anda peduli, sesunguhnya pada setiap pribadi terdapat dua sisi yang
satu sama lain saling berinteraksi, saling memengaruhi, saling tergantung,
serta niscaya keberadaannya. Mereka adalah jiwa (*soul*, nafsu, rohani) dan
badan (*body*, jasad, jasmani). Yang satu bersifat non material (gaib) dan
yang satunya lagi material (kasat). Salah satu indikasi ketidak-mampuan kita
memisahkan keduanya, bahkan dalam bersikap, adalah kebingungan menyatakan
dua perasaan yang berbeda tapi satu dalam kosa kata : *sakit hati*. Orang
yang terkena virus hepatitis memiliki sebutan sama dengan orang yang sedang
putus cinta.

Apakah pusat jiwa terletak di pusat hati (*lever*)? Entahlah. Bahkan yang
disebut kematian pun, tidak begitu tegas antara dis-fungsi badan ataukah
dis-fungsi jiwa. Apakah hubungan roh dengan jiwa mirip seperti hubungan
antara darah dengan jantung? Saat ini, lebih pas untuk mengatakan *wallahua’lam
bishawab.* Jika Anda menganggap kebingungan ini sebagai *challange, it is OK
*. Paling tidak, tantangan ini telah ada dan setua peradaban manusia, dan
belum terjawab dengan memuaskan.

Tapi, mohon untuk tidak khawatir berlebihan! Keterbatasan pengetahuan tidak
pernah menjadi penyebab utama kegagalan kehidupan. Bahkan seorang petani di
lereng Gunung Merbabu yang tidak tersentuh sinyal seluler pun, masih tetap
dapat hidup penuh kebahagiaan, sehat jasmani dan sehat rohani.

—-

Tahukah Anda! Sadarkah Anda!

Walau industri (bisnis) menyehatkan badan lebih megah, dihargai lebih
mahal, difasilitasi lebih komplit serta canggih; sebenarnya kebutuhan jiwa
Anda lebih banyak dan beragam? Kita bisa berpuasa (tidak makan, minum)
sehari penuh. Tapi mampukan kita tidak berkata-kata, tidak mendengar, tidak
melihat, tidak merasa, tidak merenung, tidak berpikir, tidak menghayati, …;
dalam sehari saja? Bahkan hanya tidak ditegur pasangan sehari saja, Anda
bisa kalang kabut!

Jiwa yang penuh sama atau bahkan lebih utama daripada perut yang kenyang.
Rasa jasmani yang nyaman-prima adalah indikasi terpenuhinya kebutuhan gizi
yang seimbang. Rasa bahagia yang merona adalah indikasi jiwa Anda yang kaya.

Jika Anda pernah merasakan nikmat sehat, maka sebenarnya Anda pun pernah
(bahkan seharusnya sering) merasakan nikmat bahagia.

Yang strategis untuk dilakukan adalah menakar skala prioritas, seimbang
dalam bersikap dan *fair* dalam memenuhi kebutuhan kehidupan. Jika dalam
diri Anda ada jiwa dan raga, maka se-niscaya-nya Anda memberi keduanya
asupan yang seimbang kualitas dan kuantitasnya. Jika Anda menakar kualitas
gizi pada makanan dan minuman Anda, mengapa pula Anda tidak menakar kualitas
kata, kualitas dengar, kualitas lihat, kualitas pikir, kualitas rasa,
kualitas penghayatan Anda, …? Jika Anda sangat telaten memperhatikan apa
yang masuk ke dalam mulut Anda, mengapa Anda tidak sangat telaten menyaring
apa yang Anda dengar, Anda lihat, Anda katakan, Anda rasakan, Anda pikirkan,
Anda hayati, …?

—-

Mari kita menyusun *How to*. Karena kehidupan bukan ada dalam rencana dan
wacana, melainkan ada dalam tindakan, maka pedoman praktis adalah kebutuhan
terdekat perubahan kita.

Saya mengundang Anda untuk :

Berkata-kata hanya kalimat positif dan bernilai mulia,  agar yang pertama
kali mendengar (diri sendiri) dan yang mendengar setelahnya (orang lain),
bahagia jiwanya.

Mendengar hanya suara-suara positif dan berguna,  agar sejuk alirannya dan
bahagia rasa jiwanya.

Melihat hanya pada aspek baiknya, agar terbangun konstruksi sudut pandang
manfaat serta bahagia rasa jiwanya.

Berpikir benar untuk kebenaran, agar terlahir kesimpulan serta keputusan
yang baik untuk kebahagiaan rasa jiwa diri dan sesama.

Memupuk rasa empati, agar peka dan halus rasa jiwa yang bahagia.

Bersyukur yang dalam karena rasa jiwa yang bahagia hanya melalui penghayatan
yang tulus-ikhlas dalam keberserahan.

Selektif memilih makanan yang enak, sehat, dan halal,  karena *we are what
we eat.*

—-

Sebagai penutup, mohon Anda berkenan untuk menyadari, bahwa sesungguhnya
dalam diri kita ada sepasang rasa, yakni RASA JIWA dan RASA RAGA.
Seimbanglah dalam bersikap padanya. Saya berpengharapan baik, pendekatan 7 :
1 di atas adalah pendekatan yang berguna bagi kita, karena seimbang tidak
senantiasa harus bernilai 1 : 1.

Catatan :

Terdapat salah kaprah di masyarakat umum perihal pemahaman arti nafsu. Nafsu
dalam bahasa Arab adalah *nafs* yang berarti jiwa. Nafsu ada yang cenderung
dipengaruhi hal-hal buruk (*nafs lawwamah*) dan yang cenderung dipengaruhi
hal-hal baik (*nafs muthmainnah*). Rasa bahasa yang saat ini mayoritas
dianut adalah pengertian nafsu buruk yang sering hanya diwakili oleh kata
nafsu. Pengertian populis ini juga dipengaruhi oleh kata majemuk ‘hawa
nafsu’, yaitu jiwa yang dominan diarahkan oleh hawa (kecenderungan pada
keburukan). Hawa berlawanan dengan wahyu (kecenderungan pada kebaikan). Ada
hawa nafsu, ada pula wahyu nafsu. Kata hawa di sini, tidak ada kaitannya
dengan nama Bunda Siti Hawa.

>From the note of Syarif Niskala and blogged at syarifniskala dot com.

Kirim email ke