Memberi TERIMA KASIH Berterima kasihlah (hanya) kepada yang memberi, dan memberilah (hanya) kepada yang berterima kasih
Dalam hukum fisika dasar, kita mengenal suatu hukum aksi-reaksi, dimana jika pada suatu benda diberikan aksi, maka benda tersebut akan memberikan reaksi. Jika Anda memberi, maka Anda akan menerima; demikian sering dikutip oleh para motivator. Lebih lanjut, sering dikumandangkan dalam seminar-seminar motivasi ternama, 'Anda hanya akan mendapat banyak, jika Anda memberi banyak' (Tung Desem Waringin, Mario Teguh). Dalam bentuk paling diterima, konsep memberi-menerima dikenal sebagai perniagaan, perdagangan, usaha, bisnis atau jual-beli. Jika Anda menghargai suatu produk (barang atau jasa), maka Anda akan mendapatkan manfaat. Jika kehadiran Anda memberikan nilai tambah bagi perusahaan, maka perusahaan akan memberi Anda sejumlah uang sebagai penghargaan kepada Anda. Hanya mereka yang memberi, yang akan menerima. --- Bagaimana perasaan Anda, ketika sesaat setelah Anda memberikan uang kepada pengemis (pada banyak pengamen, bernyanyi adalah salah satu jenis cara meminta), kemudian dia 'ngeloyor' begitu saja dari hadapan kita? Apakah Anda marah, kecewa, dongkol, geram, dan lain sebagainya? Jangan. Jangan sekali-kali Anda menghakimi diri sebagai insan yang tidak ikhlas, tidak tulus! Itu adalah reaksi wajar, alamiah, dan niscaya. Alam, kebudayaan, wahyu, ilham, filsafat, kebaikan, agama, moralitas, dan etika sosial telah mendidik, membiasakan, dan memberitahu kita bahwa memang seharusnya Anda mendapatkan reaksi kebaikan - paling tidak ucapan terima kasih. Ketidak-damaian Anda mengindikasikan terjadinya keseimbangan alam yang rusak. Tapi mohon untuk tak berlama-lama dalam ketidak-damaian. Sebagai pribadi yang telah tercerahkan, adalah mudah dan cepat bagi Anda untuk menyeimbangkan kembali. Melalui sebuah pengertian dan maaf yang tulus tanpa diminta, Anda seharusnya cepat kembali damai. Bukankah hati Anda seperti danau yang dalam, senantiasa memiliki mekanisme cepat dan baik untuk menenangkan kembali permukaannya yang baru saja bergelombang terkena lemparan batu. --- Kepada pribadi-pribadi yang belum mengenal benar arti aksi-reaksi, memberi-menerima; kita harus memberikan pelajaran kehidupan. Mereka harus mengalami kekosongan pendapatan akibat ketidak-sediaan mengapresiasi pemberian. Mereka harus menyadari keniscayaan hukum alam, tidak ada reaksi jika tidak ada aksi. Tidak akan ada lagi donasi jika tidak ada ungkapan terima kasih. Tidak akan ada lagi bantuan jika tidak ada ungkapan terima kasih. Mohon Anda sangat sadari, nilai ketulusan Anda dalam melaksanakan perintah-Nya untuk menolong sesama, tidak ada kaitannya dengan hal-hal fisik (uang dan terima kasih). Ketulusan adalah hubungan sangat pribadi antara Anda dengan Tuhan Anda. Jumlah uang dan ucapan terima kasih, (seharusnya) tidak mempengaruhi kualitas hubungan Anda dengan-Nya. Tetapi, atas setiap uang yang dipindah-tangankan, ada keniscayaan mengundang ucapan terima kasih Karena pada hukum alam yang telah Ditetapkan-Nya, ada pemberian ada, ucapan terima kasih. Kemudian bagi sang penerima, nilai syukur yang dipanjatkan pada hadirat-Nya, (seyogyanya) tidak ada hubungannya dengan terima kasih yang diucapkan dan jumlah uang yang diterima. Pasangan kata *tulus-syukur* sama sekali terpisah dengan pasangan kata *bantuan-terima kasih*. --- Hanya karena kita tidak bisa mengindera, belum tentu tidak ada. Contoh terdekatnya adalah jiwa (nyawa, roh) Anda. Begitu dekat, begitu nyata, begitu vital, begitu dominan, tapi Anda tidak pernah dapat menginderanya. Demikianlah pula dengan pemberian-Nya. Terlalu banyak pemberian-Nya yang tidak akan pernah kita mampu menginderanya. Kalau begitu, seharusnya kita tidak punya alasan untuk tidak mengungkapkan rasa terima kasih kita pada-Nya. Mohon Anda jeli memperhatikan, bahwa rasa jauh lebih kompleks, lebih kaya makna, lebih besar dibandingkan ucapan. Rasa terima kasih adalah kondisi jiwa yang penuh syukur. Dan persembahan rasa terima kasih adalah satu-satunya yang mampu dan sepadan kita panjatkan atas anugerah-Nya yang tak terhitung itu. --- Ucapkanlah terima kasih untuk membalas setiap pemberian. Ungkapkanlah rasa terima kasih untuk semua angerah-Nya. Keduanya (ucapan dan ungkapan rasa) bisa jadi ada dalam satu satuan waktu dan tempat. Bukankah binar mata Anda mengindikasikan lembutnya ucapan terima kasih yang sampai dipendengaran dan gemuruhnya rasa terima kasih yang naik ke langit! Senantiasa, berterima kasihlah hanya pada yang memberi dan memberilah hanya pada yang berterima kasih, terutama pada Yang Maha Memberi (Ar Razak) dan Yang Maha Bersyukur (Asy Syakur). Jika Anda tidak pernah akan mampu untuk *tidak menerima*, mengapa Anda punya kesempatan untuk tidak memberi? --- >From the note of Syarif Niskala, also blogged at syarifniskala dot com.
