just forward..(lagi...,hhe) 

--- On Wed, 8/4/09, oky <[email protected]> wrote:

From: oky <[email protected]>
Subject: [jakartabutuhrevolusibudaya] Dualisme
To: [email protected]
Date: Wednesday, 8 April, 2009, 5:49 PM











    
            Dualisme 
bisa menjadi perselingkuhan intelektual. Hatinya berzikir pada Tuhan tapi 
fikirannya menghujatNya
 
Oleh: Hamid Fahmy 
Zarkasyi *
Dalam sebuah acara talk-show di 
sebuah stasiun TV Inggeris tahun 90 an ditampilkan isu pelacuran. Panelisnya 
pendidik, pastur, tokoh masyarakat dan beberapa pelacur. Hampir semua menyoroti 
profesi pelacur dengan nada sinis. Pelacur adalah sampah masyarakat. Pelacur 
mesti dijauhkan dari anak-anak. Merusak adat kesopanan sosial, dan 
seterusnya.

Tapi yang menarik giliran 
pelacur angkat bicara. "Saya memang pelacur.. Dan saya melakukan ini karena 
saya 
janda. Saya menjalani profesi ini untuk menghidupi tiga orang anak saya. Kalian 
boleh saja mencemooh. Tapi siapa yang perduli jika anak-anak saya kelaparan, 
siapa! Siapa!" ia berteriak lantang. "Supaya kalian semua tahu, lanjutnya, saya 
memang pelacur tapi hati saya tetap suci". Hadirin pun bersorak.

Nampaknya orang bersorak bukan 
karena ia pelacur, tapi karena ia dualis. Menjadi pelacur dan merasa suci. Dua 
sifat yang kontradiktif. Yang saya heran justru mengapa mereka bersorak. Sebab 
doktrin dualisme sudah lama berakar di dalam pemikiran Barat. Asal usul 
terdekatnya adalah filsafat akal (philosophy of mind) yang digemari 
Descartes, Kant, Leibniz, Christian Wolf dan lain-lain. Menurut Christian Wolff 
misalnya "The dualists (dualistae) are those who admit the existence of both 
material and immaterial substances," tapi wujud materi dan jiwa tepisah. 
Pengertian ini disepakati Pierre Bayle dan Leibniz.

Bahkan konon Barat mewarisinya 
dari kepercayaan Zoroaster (1000 SM) di Timur. Dunia dianggap sebagai 
pergulatan 
abadi antara kebaikan dan kejahatan. Thomas Hyde menemukan doktrin ini dalam 
sejarah agama Persia kuno (Historia religionis veterum Persiarum, 
1700). Doktrin Zoroaster diwarisi oleh Manicheisme dan diramu dengan dualisme 
Yunani. Tuhan akhirnya dianggap sebagai person dan juga materi.

Bagi orang Mesir kuno Re adalah 
tuhan matahari simbol kehidupan dan kebenaran. Lawannya adalah Apophis lambang 
kegelapan dan kejahatan. Deva dalam agama Hindu adalah tuhan baik, musuhnya 
adalah asura tuhan jahat. Di Babylonia peperangan antara Marduk dan Tiamat 
adalah mitos yang mewarnai worldview mereka. Mitologi Yunani selalu 
menampilkan peperangan Zeus dengan Titans. Di Jerman perang antara Ases dan 
Vanes, meski berakhir damai.

Dalam filsafat, Pythagoras 
adalah dualis. Segala sesuatu diciptakan saling berlawanan: satu dan banyak, 
terbatas tak terbatas, berhenti-gerak, baik-buruk dsb. Empedocles setuju dengan 
Pythagoras, baginya dunia ini dikuasai oleh dua hal cinta dan kebencian. Plato 
dalam dialog-dialognya memisahkan jiwa dari raga, inteligible dari 
sensible.

Tapi apakah dualisme itu 
benar-benar realitas? Atau sekedar persepsi yang menyimpang? Sebab nilai-nilai 
monistis (kesatuan) dalam realitas juga ada dan riel. Heraclitus dan Parmenides 
mengkritik dualisme Pythagoras. Banyak itu itupun berasal dari yang satu yang 
abadi. Yang dianggap saling berlawanan itu sebenarnya membentuk kesatuan dan 
tidak bisa dipisahkan. Aristotle ikut-ikutan. Dualisme Plato juga tidak benar. 
Jika jiwa diartikan bentuk (form) dari raga alami yang berpotensi hidup maka 
jiwa adalah pasangan raga. Jadi jiwa dan raga adalah suatu kesatuan. Tapi 
Aristotle ternyata masih dualis juga. Ia memisahkan akal dari jiwa.

Dalam kepercayaan kuno pun unsur 
monisme juga wujud. Marduk ternyata turunan dari Tiamat. Zeus dan Titan berasal 
dari moyang yang sama. Leviathan ternyata diciptakan Tuhan. Pemberontak 
Mahabharata adalah dari keluarga yang sama. Dalam agama Zoaraster, kebaikan 
selalu dinisbatkan kepada Ahura Mazda atau Ohrmazd sedangkan kejahatan 
disifatkan kepada Ahra Mainyu atau Ahriman. Tapi dalam kitab Gathas, kebaikan 
dan kejahatan adalah saudara kembar dan memilih salah satu karena 
kehendak.

Para pemikir Kristen mulanya 
memilih ikut Plato, tapi mulai abad ke 13 mereka pindah ikut Aristotle dengan 
beberapa modifikasi. Di zaman Renaissance dualisme Plato kembali menjadi 
pilihan. Tapi pada abad ke 17 Descartes memodifikasinya. Baginya yang riel itu 
adalah akal sebagai substansi yang berfikir (substance that think) dan 
materi sebagai substansi yang menempati ruang (extended substance). 

Teori ini dikenal dengan Cartesian dualism. Tujuannya agar fakta-fakta didunia 
materi (fisika) dapat dijelaskan secara matematis geometris dan mekanis. Kant 
dalam The Critique of Pure Reason mengkritik Descartes, tapi dia punya 
doktrin dualismenya sendiri. Pendek kata Neo-Platonisme, Cartesianisme dan 
Kantianisme adalah filsafat yang mencoba merenovasi doktrin dualisme. Tapi 
terjebak pada dualisme yang lain.

Perang antara monisme dan 
dualisme, sejatinya adalah pencarian konsep ke-esaan-an (tawhid). 
Peperangan itu digambarkan dengan jelas oleh Lovejoy dalam bukunya The 
Revolt Against Dualism. Fichte dan Hegel, misalnya juga mencoba menyodorkan 
doktrin monisme, tapi bagaimana bentuk kesatuan kehendak jiwa dan raga, tidak 
jelas. Nampaknya, karena arogansi akal yang tanpa wahyu (unaided 
reason) maka monisme tersingkir dan dualisme berkibar. Jiwa dan raga 
dianggap dua intitas.

Seorang dualis melihat fakta 
secara mendua. Akal dan materi adalah dua substansi yang secara ontologis 
terpisah. Jiwa-raga (mind-body) tidak saling terkait satu sama lain, 
karena beda komposisi. Akal bisa jahat dan materi bersifat suci. Atau 
sebaliknya, jiwa selalu dianggap baik dan raga pasti jahat. Padahal dari 
jiwalah 
kehendak berbuat jahat itu timbul. Dalam Islam kerja raga adalah suruhan jiwa 
(innama al-a'mal bi al-niyyat). Karena itu ketulusan dan kebersihan 
jiwa membawa kesehatan raga.

Dualis dikalangan antropolog 
pasti memandang manusia dari dua sisi: akal dan nafsu, jiwa dan raga, kebebasan 
dan taqdir (qadariyyah & jabariyyah). Dalam filsafat ilmu, dualisme 
pasti merujuk kepada dichotomi subyek-obyek, realitas subyektif dan obyektif. 
Kebenaran pun menjadi dua kebenaran obyektif dan subyektif. Bahkan di zaman 
postmo kebenaran ada dua absolut dan relatif. Dalam Islam konsep tawhid 
inherent dalam semua konsep, tentunya asalkan sang subyek berfikir 
tawhidi.

Nampaknya doktrin dualisme telah 
memenuhi pikiran manusia modern, termasuk pelacur itu. Pernyataan pelacur itu 
tidak beda dari dialog dua sejoli dalam film Indecent Proposal, "I 
slept with him but my heart is with you". Seorang dualis bisa saja berpesan 
"lakukan apa saja asal dengan niat baik". Anak muda Muslim yang terjangkiti 
pikiran liberal akan berkata `jalankan syariah sesuka hatimu yang penting 
mencapai maqasid syariah". Kekacauan berfikir inilah kemudian yang 
melahirkan istilah "penjahat yang santun", "koruptor yang dermawan", "atheis 
yang baik", "Pelacur yang moralis", dan seterusnya. Mungkin akibat ajaran 
dualisme pula Pak Kyai menjadi salah tingkah dan berkata "Hati saya di Mekkah, 
tapi otak saya di Chicago". 

Dualisme akhirnya bisa menjadi perselingkuhan 
intelektual. Hatinya berzikir pada Tuhan tapi fikirannya menghujatNya. 


Penulis Direktur Eksekutif 
Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization 
(INSISTS)

        Apa dia selingkuh?  
 Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke