Tidak Ada yang Gratis di Dunia Ini!

Oleh *Syarif Niskala* (*also blogged at syarifniskala.com*)

Jika ada selorohan di budaya Eropa yang menyatakan "Tidak ada makan siang
yang gratis", maka dalam pergaulan di masyarakat Indonesia, telah pula
populer selorohan "Mana ada yang gratis di zaman ini, buang air saja bayar".
Dua kutipan kalimat tadi, tidak sedang menguatkan judul tulisan ini,
melainkan hanya sebuah kesamaan rasa bahasa. Dan bukan pula hanya sebuah
insiden tak terencana (accident), seperti yang selalu dikatakan Master
Oogang dalam film Kungfu Panda, "There is no accident".

Sebelum menuliskan kalimat-kalimat pada catatan ini, lama saya memikirkan,
menghitung kemungkinan, membolak-balik logika, dan mengamati sekeliling
untuk menjawab pertanyaan: apakah ada sesuatu yang gratis di dunia ini.
Tidak kunjung saya menemukan jawaban, selain kesimpulan yang menghampiri.
Kesimpulan itu, saya abadikan menjadi sebuah judul catatan saya kali ini.
Tidak ada yang gratis di dunia ini! Adakah sahabat-sahabat menemukan benda
atau apa pun yang benar-benar gratis?

----

Jika pemahaman kata gratis menurut Anda adalah tidak ditukar uang, ada
lemahnya kalimat judul di atas. Tetapi jika mengacu pada pengertian dari
Kamus Besar Bahasa Indonesia (*gratis* : cuma-cuma (tidak dipungut bayaran);
*cuma-cuma* : tidak ada gunanya, sia-sia), maka kalimat di atas menjadi
sangat benar. Untuk mengurutkan pemahaman ini, mohon berkenan atas
penjelasan-penjelasan berikut.

1. Jika program 'Sekolah Gratis' itu benar-benar gratis, pasti pemerintah
tidak suka bersusah payah menyusun, mengorganisasikan, mensosialisasikan,
mengendalikan, serta memastikan implementasinya di lapangan. Semestinya ada
nilai tambah politik menjelang pilpress yang sedang dibangun,
yakni penilaian baik dan berpihak pada kebutuhan masyarakat luas. Tapi ini
bukan hal yang terlarang. Ini pertukaran yang tepat, yakni saat pemerintah
status quo membutuhkan dukungan, bersambut dengan saat masyarakat sibuk
memasuki tahun ajaran baru di tengah badai krisis global. Ini masalah
kecerdasan memilih momentum.

2. Jika udara yang kita hirup ini gratis, tidak akan ada konsekuensi dari
siapa pun pada mereka yang merusak kualitas udara dan eksistensi lapisan
ozon. Untuk Anda ketahui, selain orang baik, Tuhan pun Mengutuk perilaku tak
terpuji pengrusakan kualitas udara (dan lingkungan). Segenap sangsi dari
sistem hukum manusia maupun sistem hukum-Nya, telah disiapkan.

3. Jika hidup Anda adalah gratis dari-Nya, Anda pasti tidak diminta
pertanggung jawaban atas perjalanan hidup Anda. Tuhan memang tidak
membutuhkan apa pun dari manusia. Tetapi jika Anda menyia-nyiakan hidup Anda
atau mengambil jalan pintas pemutusan hidup (bunuh diri), Anda akan dihukum.

4. Jika Anda menganggap kasih-sayang orang tua gratis, tidak akan ada
hukuman bagi anak durhaka. Bukankah kategori anak yang baik adalah anak yang
berupaya keras dan baik dalam mengimbangi kasih-sayang orang tuanya, baik
semasa hidup atau sesudah mereka wafat. Yang sebaiknya tidak dilakukan
adalah hitung-hitungan. Karena pengeluaran uang dan catatan bentuk kasih
sayang orang tua tidak mungkin terdokumentasi rapi, maka jika anak yang
hitung-hitungan, pasti salah hitung.

5. Jika Anda temukan sesuatu yang sepertinya gratis, mohon Anda
bersabar, lebih telaten, dan lebih luas mengambil sudut pandang

---

Bagaimana dengan ikhlas atau tulus? Jika demikian, tidak ada ketulusan di
dunia ini. Mohon Anda tidak tergesa dalam mengambil kesimpulan. Jika
pengertian Anda tentang tulus atau ikhlas berarti tanpa pamrih, bisa benar
pernyataan tidak ada pribadi tulus/ikhlas. Tapi mohon Anda berkenan bahwa
sebenarnya *ikhlas atau tulus itu artinya pamrih pada kebaikan*. Jika Anda
memberi seseorang dan tidak mengharapkan orang tersebut membalasnya tapi
dalam hati Anda berdoa agar hidup Anda diberkahi-Nya, itu adalah bentuk
terbaik ikhlas/tulus. Dan itu bukan tanpa pamrih, melainkan pamrih pada
kebaikan. Apapun, sepanjang imbalan yang diharapkan berbentuk kebaikan,
dinamakan ikhlas/tulus.

Bagaimana dengan pribadi yang mencampurkan antara pamrih kebaikan dengan
keburukan? Mohon untuk Anda cermati, bahwa kebaikan dan keburukan tidak akan
pernah dapat menyatu. Jika Anda mencampur-adukkan kebaikan dengan keburukan,
berapapun komposisinya, hasilnya adalah keburukan. Seperti Anda mencampurkan
setitik racun (najis, barang haram) pada sebelanga susu (makanan), maka
status susu (makanan) tersebut menjadi racun (haram). Anda tidak bisa
menanamkan dalam hati Anda, motivasi kebaikan dan keburukan bersama-sama.
Bagaimana mungkin hati Anda akan damai dengan komposisi itu!

Jangan pula terkecoh oleh tingkatan kebaikan atau keburukan. Seringkali kita
tertipu oleh dua pilihan yang sama-sama baik (atau buruk), tapi mencurigai
salah satunya sebagai keburukan (atau kebaikan). Bekerja keras untuk
mengumpulkan uang (harta) bukan lawan dari pengabdian tulus kepada-Nya. Kaya
dan taat tidaklah saling menegasikan. Kaya bukan negasi miskin, melainkan
tingkat kepemilikan harta. Demikian pula halnya dengan bekerja dan
beribadah, dua-duanya adalah jenis kebaikan, jika cara dan motivasinya *
benar*. Dua-duanya pula berjenis keburukan jika cara dan motivasinya *dusta*
.

Bagaimana *cara* membedakan kebaikan dan keburukan? Mohon diingat, terkait *
cara* selalu ditentukan oleh banyak faktor, seperti jam terbang, keluasan
pandangan, kedalaman pengetahuan, kepekaan nurani, konsistensi (fokus)
keinginan, kualitas kesungguhan, dan seberapa keras upaya. *Keahlian
melakukan datang dari melakukan*. Anda akan sangat peka dan ahli
memilah-milah kebaikan dan keburukan, jika Anda setiap saat selalu
mempertimbangkan segala hal dari sisi baik atau buruk. Seperti halnya
kebaikan, keburukan dapat menempel pada hal apapun. Untuk itu, cermatlah
mengenali pilihan mana yang ditempeli keburukan atau pilihan mana yang
ditempeli kebaikan. Jadi, mohon bersabar dalam menapaki proses menjadi
pribadi baik. It takes time! Sure!

Jangan khawatir pula dengan keniscayaan telah salah memilih. Selalu ada
pintu maaf atau taubat, selama nafas tidak diujung tenggorokan.
Optimislah dengan janji-Nya: "Jika Anda memutuskan berpihak pada kebaikan,
maka kebaikanlah yang akan menunjukkan jalan pada Anda." *Trust Allah*!

---

Sahabat-sahabat yang baik, terima kasih atas kesediaan menerima kehadiran
sudut pandang saya dalam taman pikiran Anda. Salam Hangat Syarif Niskala.

Kirim email ke