oleh Nuniek Miyasaka
Minggu, 15/03/2009 09:30 WIB
Mendidik anak secara Islami dan istiqomah dimana saja bukanlah hal yang
mudah. Setidaknya begitulah bagiku yang awam ini. Contohnya seperti aku
berniat membiasakan putriku yang berumur 5 tahun memakai jilbab saat
keluar rumah. Godaannya banyak sekali. melihat rambutnya yang lucu,
ingin rasanya aku mengkepang-kepangny a dan memamerkannya pada semua
orang di luar. Ingin aku memakaikannya baju tanpa lengan, karena bahu
dan lengannya lucu dan montok. Apalagi mengingat ia belum wajib pakai
jilbab.
Tapi kalau aku mengingat apa yang akan terjadi di masa depan, ngeri aku
membayangkan ia akan meolak memakai jilbab saat umurnya telah mencapai
baligh. Apalagi dengan lingkungan sekolah di Jepang seperti ini. Ia
akan malu dengan perbedaan yang mencolok dan mendadak jika ia mulai
memakai jilbab di umur baligh.
Menurut pengalaman sahabat-sahabat ku di Jepang, kalau dilatih dari
sekarang, insya Allah ia akan terbiasa dengan jilbabnya dan perasaan
berbeda itu. Dan juga, mudah mudahan ia jadi tau cara mengatasinya. Dan
bagiku ada yang lebih penting dari jilbabnya, yaitu rasa identitas dan
keteguhan diri sebagai muslim untuk memegang prinsip-prinsip
keislamannya di manapun ia berada.
Semenjak masuk TK islam Otsuka di Jepang akhir tahun lalu, putri
kecilku tidak mau lepas dari jilbab mungilnya. Alhamdulillah, padahal
sebelumnya ia pakai jilbab hanya kalau akan keluar denganku berdua
saja. Kalau pergi dengan teman Jepang yang belum akrab, dia masih malu
memakai jilbab. Dan kalau keluar dengan papanya, Sengaja tidak
kupakaikan jilbab. Aku hanya tidak ingin ini menjadi suatu konflik.
Lagi pula ia belum wajib memakainya.
Tapi kini ia makin setia dengan jilbabnya. Dengan teman-teman sesama
muslim yang juga berjilbab, guru guru yang berjilbab di tambah buku
cerita muslimah tentang anak yang persis seperti dia. Tidak mau pakai
jilbab dengan alasan mau pakai topi aja. “Kalau pakai jilbab, nanti
berkeringat…, panas lagi,” kata anak perempuan di buku itu. Putriku
senyum senyum mendengarnya. Seakan buku itu menyindir dia. Buku itu
menarik sekali. Saat anak perempuan di buku itu memutuskan untuk
memakai jilbab, wajahnya di buat lebih cantik dari sebelumnya. Sehingga
anakku berfikir, dengan pakai jilbab, ia akan lebih cantik dari pada
tidak pakai jilbab. Ia pun makin setia dengan jilbabnya.
Walaupun begitu, ada satu hal yang mengganjal. Bagaimana yah dengan
suamiku ? Apa reaksinya mendapati putri kecil nya yang masih berumur 5
tahun berpenampilan dengan rambut tertutup keluar rumah.
Benar saja, saat suamiku melihat Azusa kecil dengan jilbabnya saat akan
jalan-jalan berdua saja dengannya, wajah yang tadinya berseri berubah
jadi cemberut. Tapi aku pura-pura tak menyadarinya. Merekapun berdua
pergi dangan wajah cemberut papanya.
Hari yang lainpun begitu, saat Azusa berlari kecil ke pintu untuk ikut
pergi dengan papanya, dan tentu saja dengan jilbabnya, aku dengar
papanya berbisik,” mana topi nya ? Pakai topi aja .”
“ Jilbab ga ii ( aku mau pakai jilbab aja ),” jawab putri kecilku.
Suamiku cemberut lagi. Tapi tentu saja ia tidak berani memarahi
putrinya yang selalu ia manja dan sangat mengidolakan papanya itu. Dan
ia juga tidak berani menegur istrinya yang sering memberi hadiah ini.
Dan akupun pura-pura tidak menyadarinya lagi.
Hingga pada suatu hari, aku tak menyangka suamiku pada akhirnya akan berani
melarang Azusa memakai jilbabnya.
Saat itu kami bertiga akan pergi ke pusat perbelanjaan. Bukan untuk
belanja, hanya untuk lihat-lihat saja sambil menunggu suamiku yang
ketempat cukur rambut.
Saat bersiap siap Azusa tak lupa mengambil jilbab mungilnya. Aku yang
berada di kamar Azusa mendengar papanya berbisik di pintu masuk, “ mana
topinya ? pakai topi saja .”
“ Jilbab ga ii ( aku mau pakai jilbab aja ),” kata Azusa. Agaknya
suamiku jadi agak kesal terlihat dari wajah cemberutnya. Iapun berjalan
kekamar kerjanya. Aku pura pura tak tahu bersenandung riang agar
suamiku tak tega menganggu kegembiraanku hari ini.
Azusa kecil lari kekamar kerja papanya. Aku masih bersiap siap dikamar
Azusa. Entah apa yang suamiku bisikan ke putriku, yang jelas Azusa
menjawab sembari berteriak ke papanya pakai bahasa Indonesia. Padahal
papanya yang tidak bisa bahasa Indonesia itu bicara memakai bahasa
Jepang.
“ …AKU MAU PAKAI JILBAB…!” teriak Azusa dengan bahas Indonesia tanpa
nada marah. Lalu senyap lagi. Sepertinya suamiku berbisik sesuatu lagi
karena Azusa menjawab lagi dengan bahasa Indonesia.
“…KENAPA NGGAK BOLEH PAKAI JILBAB ? AKUKHAN ORANG ISLAM ?!” teriak
bidadari kecilku. Tak lama kemudian terdengar lari kecilnya menuju aku
sambil mengadu dengan bahasa Indonesia.
“ Mama …kata papa aku nggak boleh pakai jilbab !”
Aku meletakkan jari telunjukku dibibirku. Dalam detik yang singkat itu
semua perasaan berkecamuk dalam hatiku. Pikiranku mencari kata kata
yang tepat untuk di ucapkan, agar tak lebih dalam tergores hati putri
kecilku.
Alhamdulillah Allah membimbingku.
“ Azusa mau pilih siapa, Allah atau papa ?” tanyaku lembut memegang bahunya.
“ Allah,” jawabnya dalam bahasa Indonesia dangan mantap.” Aku cinta
Allah. Kedua aku cinta nabi Muhammad sawasalam, ketiga aku sayang mama,
terus yonbanme wa ( keempat ) papa. Papa jilbab dame dame datara, mama
ga hoo ga suki ( kalau papa bilang nggak boleh pakai jilbab, nggak
boleh jilbab, aku jadi lebih sayang mama ).”
“Subhanallah. ...” kataku sambil merangkulnya.
Tak ada kata kata yang keluar dari suamiku pada hari itu. Agaknya ia
juga berusaha menghindari konflik.denganku dan tak mau kehilangan
popularitas di mata Azusa.
Di mall aku tanya Azusa, “ tadi di kamar, papa bilang apa ? “
“ Papanya bisikin aku kayak gini,” kata Azusa sambil membungkukan badannya. “
Jangan pakai jilbab.”
“Trus papa bilang apa lagi ?”
“ Lepas jilbabnya, nggak boleh pake jilbab, “ kata Azusa lagi.
Duh, sayang, anakku. Selama ini aku berusaha menghindari agar hal ini
tak terjadi. Jangan sampai ia menemukan ayah yang ia cintai, yang ia
puja dan banggakan, berseberangan dengannya dalam soal prinsip yang tak
ia biarkan seorangpun mengganggu gugat. Aku tak ingin ia kecewa dengan
ayahnya.
Ia masih 5 tahun. Seharusnya ia tak perlu tau semua ini. Sekarang ia
tau bahwa aku dan dia berjuang bersama dalam langkah kaki yang sama
Hanya berdua, aku dan putriku. Dan percaya bahwa suatu saat ayahnya
akan ikut dalam barisan kita.
Tak lama setelah kejadian itu, berkat pertolongan Allah, Alhamdulillah
semuanya berakhir tanpa konflik. Tanpa suatu perdebatan, tanpa suatu
pertengkaran. Seperti biasa Allah bisa melakukan apa saja.
Entah mengapa , mungkin karena melihat ketegasan Azusa dan aku, dan
tentu dengan pertolongan doa dari orang –orang disekitarku terutama ibu
tercinta, tanpa satu patah katapun, suamiku menyerah.
Suatu hari cerah saat kami bersiap-siap untuk pergi, diluar Azusa kecil
dengan jilbabnya bergandengan dengan papanya. Wajah riang mereka yang
tak berubah sama sekali. Sesekali suamiku membetulkan jilbab putri
kecilnya yang miring dan memujinya.
Alhamdulillah…., mungkin ini bukan akhir dari cerita. Masih banyak
tantangan yang akan kami lalui. Tapi ya Allah, sampai saat ini,
terimakasih Kau beri ruang di hati suamiku, untuk jilbab putri
kecilnya. Alhamdulillah.
www.zusa14.multiply .com
Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer