----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Yanti M T <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jumat, 4 September, 2009 09:52:36
Judul: [mtbinus_pengurus] Kiat Menjemput Maut

  
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, ,
Agak Serem emang baca judulnya,,tp insyaAllah bermanfaat..
Kiat Menjemput 
Maut
Penulis : Abu 
Aufa

KotaSantri.com : Alkisah menurut sirah (sejarah 
kehidupan Nabi), pernah Nabi Ibrahim AS berdialog dengan malaikat Maut soal 
sakaratul maut. Nabi Ibrahim bertanya kepada malaikat maut, "Dapatkah engkau 
memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat 
dosa?" Malaikat menjawab pendek, "Engkau takkan sanggup." 
"Aku pasti 
sanggup", timpal Ibrahim. "Baiklah, berpalinglah dariku!" ujar sang malaikat. 
Saat Nabi Ibrahim AS berpaling 
kembali, dihadapannya telah berdiri sosok berkulit legam dengan rambut berdiri, 
berbau busuk dan berpakaian serba hitam. Dari hidung 
dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim AS jatuh 
pingsan! 
 
Ketika 
tersadar kembali, berkata beliau kepada malaikat maut, "Wahai Malaikat Maut, 
SEANDAINYA PARA PENDOSA ITU TAK MENGHADAPI SESUATU YANG LAIN DARI WAJAHMU 
DISAAT 
KEMATIANNYA, NISCAYA CUKUPLAH ITU MENJADI HUKUMAN UNTUKNYA." 
 
Di 
kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh 'Ikrimah dari Ibn 'Abbas ini, 
Nabi 
Ibrahim AS meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa 
orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim AS sang 
malaikat kemudian mengubah wujudnya. Dihadapan Nabi yang 
telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah, 
berpakaian indah yang darinya tersebar harum wewangian. "SEANDAINYA ORANG 
BERIMAN MELIHAT RUPAMU DISAAT KEMATIANNYA, NISCAYA CUKUPLAH ITU SEBAGAI IMBALAN 
AMAL BAIKNYA," komentarnya. 
 
Dari 
nukilan kisah itu, apakah bisik-bisik misteri tentang penampakkan Malaikat Maut 
menjelang ajal seseorang benar adanya? Dalam pergaulan sehari-hari, kadang 
sering kita mendengar dari mulut ke mulut, misalnya salah satu anggota kelaurga 
dari orang yang tengah menghadapi maut bercerita bahwa saudaranya itu melihat 
sesuatu. Apakah itu berupa bayangan hitam, putih, atau hanya gumaman dialog 
mirip seperti orang yang tengah mengigau. 
 
Namun yang 
pasti dari beberapa riwayat, selain Nabi Ibrahim AS, Nabi Daud AS dan Nabi Isa 
AS juga pernah dihadapkan pada fenomena penampakkan Malaikat Maut itu. Kisah 
pra 
sakaratul maut itu belum seberapa dibandingkan dengan peristiwa sakaratul 
mautnya itu sendiri. SAKARATUL MAUT ADALAH SEBUAH UNGKAPAN UNTUK MENGGAMBARKAN 
RASA SAKIT YANG MENYERANG INTI JIWA DAN MENJALAR KE SELURUH BAGIAN TUBUH, 
SEHINGGA TAK SATU PUN BAGIAN YANG TERBEBAS DARI RASA SAKIT ITU. Malapetaka 
paling dahsyat di kehidupan paripurna manusia ini memberi rasa sakit yang 
berbeda-beda pada setiap orang. 
 
Untuk 
menggambarkan rasa itu, pernah Rasulullah SAW. bersabda : "Kematian yang paling 
mudah adalah serupa dengan sebatang duri yang 
menancap di selembar kain sutera. Apakah duri itu dapat diambil tanpa membawa 
serta bagian kain sutera yang terkoyak?" 
 
Di bagian 
lain Rasulullah seperti yang dikisahkan Al-Hasan pernah menyinggung soal 
kematian, cekikan dan rasa pedihnya. "Sakitnya sama dengan 
tiga ratus tusukan pedang." Diriwayatkan, pernah Nabi Ibrahim AS ketika 
ruhnya akan dicabut, Allah SWT bertanya kepada Ibrahim : "Bagaimana engkau 
merasakan kematian wahai kawanku?" Beliau menjawab, "Seperti sebuah pengait 
yang 
dimasukkan ke dalam gumpalan bulu basah yang kemudian ditarik."
"Yang seperti 
itulah, sudah kami ringankan atas dirimu", firmanNya. 
 
Tentang 
sakaratul maut, Nabi SAW bersabda, "Manusia pasti akan merasakan derita dan 
rasa 
sakit kematian dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat tinggal 
satu sama lain seraya berkata : "Sejahteralah atasmu; sekarang kita saling 
berpisah hingga datang hari kiamat kelak." 
 
Tentang 
sakaratul maut itu Rasulullah SAW sendiri menjelang akhir hayatnya berdo'a : 
"Ya 
Allah ringankanlah aku dari sakitnya sakaratul maut" berulang hingga tiga kali. 
Padahal telah ada jaminan dari Allah SWT bahwa beliau akan segera masuk surga. 
MULAI DETIK INI MARILAH KITA KOMPARASIKAN KEKHAWATIRAN 
BELIAU YANG MEMILIKI TINGKAT KEIMANAN DAN KESHALEHAN SEDEMIKIAN SEMPURNANYA, 
DENGAN KITA YANG HANYA MANUSIA BIASA INI. 
 
KEMATIAN 
MESTINYA TAK PERLU MENJADI SESUATU YANG DITAKUTI, MALAH SEBALIKNYA HARUS 
SENANTIASA DIRINDUKAN. Jika sesuatu itu begitu dirindukan, logikanya berarti 
ingin cepat-cepat pula ditemui. "Barang siapa membenci 
pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya," sabda 
Rasulullah SAW. 
 
Ini bukan 
berarti, kita dianjurkan untuk selalu mengharap kematian. Bukhari meriwayatkan, 
Rasulullah SAW bersabda : "Janganlah seorang diantaramu 
mengharap kematian." 
 
Cukuplah 
sepanjang hayat ini, kita selalu mengingat-ingat maut. Caranya dengan 
senantiasa 
tanpa lelah memerangi hawa nafsu, merenung, dan melindungi hati dari silaunya 
kemegahan duniawi. 
 
UNTUK 
SEKEDAR MENGINGAT MAUT SAJA, ALLAH TELAH MENDATANGKAN PAHALA DAN KEBAIKAN. Ikut 
bertakziah mendo'akan kematian orang lain, menengok jenazah, atau ikut 
menyaksikan penguburan; bukankah ritual itu mendatangkan pahala? 
 
Orang yang 
mengingat maut dua puluh kali dalam sehari semalam, pesan Nabi Muhammad SAW, di 
hari akhir nanti akan dibangkitkan bersama-sama dengan golongan syuhada. 

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA* 
Al-Hubb Fillah wa 
Lillah,

Original Title 
: Kiat Menjemput Maut - Author: Cecep Yusuf Pramana (Ketua DPC PK Pesanggrahan, 
Jakarta Selatan).
________________________________
 Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. 
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! 
   


      &quot;Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! 
http://id.mail.yahoo.com&quot;

Kirim email ke