Assalamu'alaikum war wab. Sahabat-sahabat yang baik, saya sangat setuju dengan pernyataan Presiden Pakistan Ziaul Haq bahwa yang membentuk negara bukanlah politisi melainkan para cendekiawan. Dan karena kebanyakan cendekiawan memiliki keterbatasan waktu untuk tampil dan keterbatasan kemampuan berkomunikasi dengan publik terbuka (pidato), maka satu-satunya media mereka untuk menyampaikan gagasan perubahan/perbaikan adalah melalui BUKU. Jadi relevan sekali ungkapan bahwa bukulah yang membawa perubahan.
Jadi, walau waktu membaca Anda sangat sedikit dan budget untuk membeli buku juga sangat terbatas; tetaplah berupaya keras untuk bergaul akrab dengan buku. Pilihlah perubahan atau perbaikan apa yang paling Anda butuhkan, kemudian carilah buku mengenainya. Beli dan/atau bacalah! Percayalah, perubahan itu telah memiliki awalannya (start) yang baik. Kemudian, berharapan-baiklah karena semua langkah-langkah besar di dunia ini dimulai dengan langkah kecil pertama. ---- Pada akhir pekan yang mulia ini, saya menawarkan perubahan yang sangat penting bagi Anda, keluarga, dan negara yaitu perubahan paradigma tentang AYAH. Untuk langkah awalnya, mohon memerhatikan ulasan buku di bawah ini. *A**ku **M**au AYAH **B**ukan BAPAK* *(Berkali-kali judul ini saya ganti. Saya takut tidak amanah terhadap Marah. Saya khawatir Marah tidak suka dengan judul ini. Tepat pada suatu hari yang lengang, di ujung jalan Warung Buncit yang panjang, lebar**,** dan setia, Marah mengangguk setuju akan judul ini. Katanya**, **apalah arti sebuah judul yang dia juga tidak mengerti dan peduli.* *S**etelah menyetujui judul, saya kembali lamat-lamat membacakan tulisan ini di depannya. Dia duduk acuh**-**takacuh. Pandangannya lebih sering menguntit beberapa ekor burung gereja yang bersijingkat di depan kami. Begini caranya saya membacakannya.)* Pada suatu hari Minggu, seorang anak lelaki 13 tahun membakar foto bapaknya sendiri lalu menendang-nendang abunya dengan beberapa potong cacian. Ini terjadi di tengah kota Metropolitan, Jakarta. (Baru satu alinea selesai saya bacakan, Marah menatap saya tajam. Hanya sesaat, lalu kembali dia tundukkan kepalanya. Mukanya merah. Saya paham betul ada amarah tertahan ketika mendengar suatu kata yang tidak disukainya. Saya lanjutkan.) Marah, anak kecil dengan pahatan wajah yang sebenarnya sangat menarik itu, selepas bangun pagi yang selalu saja dipaksa dengan kata-kata sinis bapaknya, berlari ke luar rumah. Seperti biasa ketika hatinya dirundung kesedihan, dia segera bersembunyi di bawah semak tidak jauh dari rumahnya. Di balik semak itu, dia tahan bersembunyi sambil menangis, sesekali mengintip dan mengawasi setiap kejadian yang ada di rumahnya. Di kantong saku celana kesayangannya yang sudah tua kini tersimpan sebuah foto berukuran *post card*. Foto ayah dan ibunya ketika melangsungkan pernikahan dulu. *(Marah menatap saya dalam, sekali lagi. Dia menggigit bibir bawahnya. Mengerjap-ngerjapkan mata** lelah**nya menahan arus air mata yang akan segera tumpah. Saya menahan nafas. Jujur**,** saya juga mau menangis. Saya tahan untuk mulai melanjutkan lagi**.**)* Di bawah matahari pagi yang baik, dia mengeluarkan foto pelan-pelan. Sebentar, dia menoleh ke rumah. Pintu rumah terbuka. Lelaki yang sering di panggilnya ‘bapak’ berjalan keluar. Di belakang bapak, ibu dengan wajah tegang menggamit tangan bapak kemudian menciumnya. Bapaknya pergi, ibu berdiri sebentar. Menghirup nafas panjang lalu mengembuskannya buru-buru. Marah memandangi foto bapak dan ibunya lamat-lamat. Berbagai kejadian berkelabat dalam ingatannya. Ibu, bagi dia adalah tokoh dewasa yang selalu tersenyum sepanjang hari dalam keadaan terpaksa atau tidak. Ibu memang ahli senyum. Bahkan sangat ahli. Dalam keadaan senang atau tidak. Dalam lapang atau sempit. Ketika bapak marah atau tidak. Kadang-kadang, ibu muncul seperti seorang monster yang menakutkan karena senyum–senyum sepanjang hari. “Kita harus senyum, Nak!” begitu terang ibu suatu hari. “Karena senyum ibadah. Hanya dengan senyumlah, satu-satunya ibadah yang ibu yakini ibu lakukan dengan ikhlas.” Di bawah semak yang garing itu, dia merobek sebagian foto orang tuanya. Foto ibunya dia simpan dengan baik di saku celana. Sebagian foto lain, yaitu foto bapaknya masih tetap dipegangnya dengan tangan gemetar. Matanya mulai memerah. Nafasnya memburu. *(Marah berdiri tegak mematung dengan segera. Saya tidak peduli. Saya meneruskannya**. …**)* Dia sangat benci dengan senyum lelaki dewasa ini. Selama hidup bersama lelaki dewasa ini, tidak pernah ada satu pun perbuatannya yang benar. Takada satu kegiatan pun yang lepas dari intaiannya. Hidup seperti pengawasan seorang intel terhadap buronannya. Hidup adalah tugas dan pekerjaan dengan metode paksaan dan tekanan. Hidup adalah penuh pengawasan. Hidup adalah rentetan kesalahan. Hidup adalah eksekusi bukan apresiasi. Dia membayangkan dan menginginkan seorang bapak seperti ayahnya Nardi, tetangganya. Ayah yang suka bermain, suka tertawa bersama, dan yang tidak suka menvonis, tapi suka berdiskusi. Dia merindukan bapak yang seperti ayahnya Nungki, teman sebangku di sekolah. Ayah yang taksegan nongkrong di warung pinggir jalan, ayah yang suka senyum kepada siapa saja, ayah yang … tidak seperti bapaknya. Krrraakk! Psssst...! Sekali sentak dengan bungkahan air mata yang menderas, foto terbaik bapaknya dirobeknya dan disulut dengan korek api. Sebuah cita-cita sejak lama. “Pembalasan yang seimbang” bisik Marah. Meski dia takbisa menghilangkan rasa takut yang luar biasa, kini dia telah berani keluar semak dengan kepala tegak. Bibirnya terkatup rapat. Gerahamnya bergerak-gerak. *(Saya membaca sambil berdiri. Memegang bahu anak malang yang berguncang-guncang karena tangis yang hebat. Dia memberi isyarat untuk meneruskan** .…**)* Pintu rumah dibukanya. Ibu tersenyum. Seperti biasa. Seperti biasa, setelah bapak memarahinya, ibu selalu memberikan nasihat. “Nak, ndak baik begitu!” sapa ibu sambil membelai pundaknya. “Lha, dia kan bapakmu!”. Marah mengelak dan menepis tangan ibu dengan cepat. Seperti gerak *Kungfu Soccer* atau *Kungfu Panda* yang sangat disukainya. “ Aku mau ayah, bukan bapak!” *(**Setelah** selesai, Marah menyeberang** **lalu melompat ke dalam **W** arung **B**uncit yang lelah. Saya mengejar**,** tapi dia sudah sampai di seberang. **Dia pun m**elambaikan tangan dan memberi isyarat untuk bertemu lagi besok. Makasih Marah. Life is a choice.**)** 2008* *Info teknis buku:* Judul: Aku Mau Ayah Penulis: Irwan Rinaldi (pemrakarsa Da'i Cilik di TPI dan pemeran utama dalam film Sang Murabbi) Penerbit: Progressio Jika Anda tidak punya waktu membacanya, cobalah dengarkan audio CD yang dibacakan penulis dengan sangat ekspresif, menyentuh sekali Ketersediaan di toko buku : http://www.tokogunungagung.co.id/index.php?go=book_search&event=1&plu=537654&start=0 ---- Selamat Membaca... Terimakasih Wassalamu'alaikum war wab. Syarif Niskala - syarifniskala.com -- Mau mengabadikan nama? Atau punya ide unik dan cemerlang? SEGERA daftarkan (register) kekayaan intelektual Anda sebagai domain melalui DOMAINSAJA.COM Murah dan cepat.... Cara bayarnya? PAKE PULSA bo.. Transfer aja, beres dechhh.
