Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal



--- In [email protected], wirawan <wirawan....@...> wrote:

Depok,
19 Oktober 2009
Mati Di Tengah Tumpukan Uang
Kertas
Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia

Mempercayai
sistem uang kertas, seperti berjudi melawan jack-pot di Las Vegas,
kadang kala untung, tapi banyak buntungnya. 



"Apakah
manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja?" (QS. Al
Qiyamah : 36 )
Mempercayai sistem uang
kertas, seperti berjudi melawan jack-pot di Las Vegas, kadang kala
untung, tapi banyak buntungnya. Bagaimana tidak? Melalui uang kertas,
kaum Yahudi memperdaya miliaran manusia dari generasi ke generasi,
mengikatnya dengan sihir mata uang nasional - multinasional. Harganya
yang hampa, melalui bank seakan-akan bernilai, sebagaimana tercetak
pada lembaran banknote bergambar. Tetapi pembayaran yang sesungguhnya
harus ditanggung oleh si penerima uang kertas itu sendiri, yaitu
dengan memproduksi barang maupun jasa. Artinya, bank untuk menumpuk
kekayaan, menipu lewat angka yang tercetak di uang kertas, sementara
manusia yang harus memikulnya.




Di Eropa,
uang kertas pertama yang menimbulkan malapetaka adalah John Law
notes terbitan Banque Royale Perancis, saat itu Louis
XV merubah Banque Generale pada 14 Desember 1718. Bank ini
adalah hasil lobi penjudi asal Scotlandia - John Law yang kemudian
dianugerahi gelar duc d'Arkansas, gelar untuk pelopor Uang
Kertas Perancis guna mengisi kas kerajaan yang nyaris bangkrut, dan
membiayai kolonialisasi di benua baru Amerika. Setelah mengganti nama
bank menjadi Banque Royale, Law turut andil mendirikan dua perusahaan
kolonial Compagnie des Indes dan Compagnie d'Occident
(Mississippi Company).




Pada tahun pertama, Law
Notes memberikan bunga bagi pemegangnya, untuk merayu para pemilik
koin livre perak dan emas agar mau menukarnya dengan uang
kertas bank. Para bangsawan dan saudagar bergegas memborong saham
Mississippi Company, berharap dari cerahnya masa depan perusahaan
yang akan mendapatkan emas berlimpah. Untuk mengelabui
publik, direktur mendandani para pengangguran laiknya buruh
pertambangan yang akan mengeruk kekayaan dari benua baru. Mereka
membuat pesta pora dan kampanye, disertai parade, untuk membiayainya
uang kertas terus dicetak. Akibatnya Law Notes melebihi 2 kali jumlah
koin yang beredar di seluruh Perancis, di tahun 1720. Akhirnya
terjadilah inflasi yang membuat rakyat marah karena melimpahnya uang
kertas.




Ketika kebohongan dari
'keajaiban uang kertas' sudah ketahuan belangnya, para
pemegang Law Notes menyerbu Banque Royale, menuntut penukaran dengan
koin. Mereka berdesak-desakan di Palais Royale sambil
menggotongi mayat-mayat rekan mereka yang mati lemas kehabisan napas,
berteriak-teriak menuntut kematian John Law. Di saat bersamaan, para
investor panik berebut menyita aset-aset sang duc yang tertinggal,
karena Law kabur ke Inggris lalu ke Venesia. Mississippi Company
akhirnya ambruk beserta Banque Royale, dua tahun sejak pendiriannya,
menyisahkan jutaan lembar uang kertas yang berserakan di penjuru
Paris. Tak lama berselang, John Law meninggal dunia di pengasingannya
di Venesia pada 1729.




Tak jera atas tragedi yang
menimpah Law Notes, Louis XVI mengulangi kesalahan yang sama dengan
mencetak uang kertas Assignat, sejak tanggal 24
Maret 1776. Parahnya, saat itu otoritas penerbit Assignat bukan cuma
monopoli Kaisar, tetapi otoritas lain seperti gereja, bangsawan, bank
dan militer ikut-ikutan mencetak Assignat-nya masing-masing sehingga
timbul kekacauan ekonomi. Dalam situasi ini, Napoleon Bonaparte
mendulang Revolusi Perancis (1789-1794), membentuk
Pemerintahan Republic, kemudian menjadi Pemerintahan Directur
(1794-1799), lalu berubah menjadi Pemerintahan Consulate
(1799-1803). Akhirnya mengangkat diri sebagai Kaisar pada tahun 1804
– 1814.




Pada awal revolusi,
Pemerintah Republic mengedarkan 40 juta Livre dengan mendevaluasi
Assignat. Livre akhirnya didevaluasi menjadi 1/10 dari nilainya
semula pada 1795. Tapi rupanya Napoleon harus memberangus uang
kertasnya lagi, yaitu ketika inflasi terus membengkak pada 1 Januari
1796, dan meledak menjadi kemarahan Publik di Place Vendome
pada 18 Februari 1796. Tak mau dituding oleh rakyatnya, para pejabat
republik mengkambing hitamkan kesalahan pada mesin-mesin cetak dan
bahan kertas yang dipakai untuk membuat uang kertas Assignat
Republic, yang dimusnahkan bersama api kebencian.




Di Amerika, uang kertas
sudah membawa petaka sejak berdirinya negara itu. Setelah perang di
Lexington (1775), konggres menerbitkan uang kertas senilai $
13 juta berupa Treasury Notes - namun populer di sebut Continental
Notes. Dolar Continental awalnya setara dengan 1 dolar perak Spanyol
- Mexico, namun ia terus merosot nilainya. Ketika tahun 1780,
Continental anjlok menjadi $ 40 kertas untuk $ 1 perak, karena jumlah
Continental Notes telah mencapai $ 241 juta




Setelah
merdeka dari Inggris, $ 10 Continental hanya dihargai 1 sen tembaga.
Ini berarti $ 1000 Continental cuma seharga $ 1 perak, atau inflasi
100.000 % hanya dalam tempo 5 tahun (1776-1781). Dan sialnya Konggres
menolak penukaran Continental Notes terhadap koin perak, sehingga
para patriot-veteran kesal kepada kebijakan ini, mereka marah dan
berbuat onar. Bagaimana tidak kesal? Gaji prajurit reguler rata-rata
hanya $ 5 Continental perbulan! Hingga akhirnya muncul klise populer
di Amerika : Tak senilai satu Continental, artinya tak berharga .




Ide dolar kertas berasal
dari propaganda Benjamin Franklin, tahun 1730, ia mencetak
beberapa jenis uang kertas koloni diusia belia, 23 tahun. Ia
terinspirasi oleh uang kertas koloni Massachussetts Bay
(1690). Karena memperjuangkan uang kertas, bahkan sampai menghadap ke
Parlemen Inggris di London, ia di gelari Bapak Uang Kertas Amerika,
dan potretnya terpampang di lembaran 100 dolar. 




Sebelum menjadi mata uang
dunia, dolar harus melewati masa kelamnya selama 160 tahun. Antara
lain : peristiwa Wild Cats (pasca Panic 1857), yaitu ketika
hukum Liberal memberikan kebebasan kepada perbankan dan individu
untuk membuat uang kertas (Lax banking Law). Pada era ini, sirkulasi
dolar kertas dibebaskan sesuai kemampuan para penerbitnya. Sehingga
tiap-tiap bank memiliki kurs dolar yang saling berbeda. Akibatnya,
peredaran uang kertas, swasta maupun negara bagian menjadi melimpah
tak terbendung, dan rakyat bingung memilih dolar.




Wild Cats (kucing liar)
adalah julukan untuk bankir yang mencetak uang kertas lalu bangkrut,
menyisakan uang-uang dolar kertas tak bernilai. Mereka dituding oleh
nasabahnya menggelapkan deposit dolar emas dan perak, menukar isi
brangkas koin dengan tumpukan paku atau tapal kuda. Sehingga profesi
bankir tak ubahnya bandit, dimata rakyat Amerika saat itu. Kondisi
ini berakhir pada tahun 1863, saat pemerintah Federal mengambil alih
penerbitan dolar kertas.




Lalu peristiwa duel dua
mata uang dolar kertas, antara dolar Union Green Back
melawan dolar Confederate Dixie (1861-1865), era perang
sipil. Begitu serdadu Union -- Yankee menang, tak ayal Dixie sudah
tak berharga lagi. Akibatnya ribuan orang kaya di selatan AS mendadak
miskin, karena tak bisa membelanjakan dolar dixie mereka, worthless.
Daerah yang dulunya subur berubah menjadi tandus, dipenuhi oleh
ladang-ladang tak terurus, karena petani yang dulunya direkrut
menjadi serdadu Confederation, tak memiliki uang untuk membiayai
lahan mereka, sebab gaji mereka yang berupa dolar dixie kini hanya
menjadi penghias dompet!




Kemudian peristiwa Depresi
Dolar 1928-1935, yaitu inflasi tak terkendali, menyebabkan
kebangkrutan massal, PHK dan antrian panjang untuk mendapatkan
sembako. Untuk menstabilkan keadaan, pemerintah Federal
merazia emas dan perak dari tangan rakyatnya dan memasukan 2 jenis
logam ini ke dalam daftar barang terlarang seperti narkotika.




Tragedi hiperinflasi yang
dialami Jerman (1922-1923) merupakan klimaks dari kebobrokan sistem
uang kertas. Jutaan rakyat Jerman stress karena terlalu banyak
memiliki uang kertas, sehingga angka bunuh diri melonjak drastis!
Loh, bukankah kalau banyak uang manusia seharusnya tambah senang?
Coba renungkan syair ini: "Untuk membunuh orang tak butuh
pisau (senjata) cukup secarik kertas dimana tertulis angka (uang)."
Albert Pick, Numismatic USA.




Di Berlin, pada akhir
tahun 1922, harga sembako tiba-tiba membumbung tinggi sampai 1500
kali lipat, lalu meroket melampaui satu miliar kali lipat dari harga
sebelumnya. Cuma dalam waktu singkat, harga sekerat roti dari 2 mark
melesat menjadi 2.400.000.000.000 mark (baca : 2,4 triliun mark)
dalam setahun! 




Rentenir menetapkan bunga
30 - 40 % per hari, bahkan pada puncak inflasi 200 % per hari atau
10% per jam. Maka uang yang dipinjam pada pukul 06.00 pagi sebesar
100 miliar mark, harus dibayar kembali sebesar 220 miliar mark pada
jam 06.00 sore, pada hari itu juga! Apabila pinjaman 30 hari lamanya,
maka utang sebesar 100 miliar mark harus dibayar sebesar
6.000.000.000.000 mark (baca : 6 triliun mark ) hitungnya sebagai
berikut : Utang 100 miliar x bunga 200 % x 30 hari.




Hitungan di atas adalah
hitungan potong kompas yang dilakukan rentenir tingkat tetangga (RT).
Dalam kondisi demikian, harga-harga barang dan jasa naik dalam
hitungan hari, misalnya: hari Senin harga telur 10 miliar mark/butir,
maka hari selasa harga telur 20 miliar mark/butir, begitu seterusnya.
Seluruh aktivitas kehidupan di paksa bekerja lebih cepat lagi untuk
mengimbangi laju inflasi.




Petani harus memanen lebih
cepat : gandum, sayur dan buah yang wajib dikirim ke kota secepat
mungkin! Begitu pula peternak sapi, harus memerah sapi mereka di pagi
buta, karena susu-susu harus segera dikumpulkan oleh suplier sebelum
pekerja pabrik dan pegawai lainnya berangkat dinas. Pedagang berpacu
dengan waktu, antara menerima, menghitung dan menyetorkan uang ke
bank. Setelah urusan hitung-hitungan selesai, maka pemasok sembako
segera mengisi gudang toko mereka untuk kemudian dijual tanpa harus
menata ulang di etalase. 




Pekerja menghendaki upah
harian yang dibayar tunai, dan segera menghabiskan upah mereka untuk
membeli sembako secepat mungkin. Begitu mereka terlambat tiba di
toko, mereka mendapati gepokan uang gajinya sudah tak berdaya untuk
membeli sesuatu, dan beberapa saat kemudian uang kertas segera
berubah fungsi menjadi kertas bahan bakar tungku, dapur, atau
berakhir sebagai wallpaper.

http://wakalanusantara.com/detilurl/Mati.Di.Tengah.Tumpukan.Uang.Kertas/163
19.10.09. 21:34.


--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke