Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


--- In [email protected], Martin Wong <upmar102w...@...>
wrote:

Assalamualaikum wr wb,

sekedar berbagi, tentang suatu analogi yg terlintas dalam pikiran saya
tadi pagi....

seperti biasa hari minggu, istri memasak, saya berlatih kungfu/taichi
yg dulu shifu saya ajarkan bertahun2 lalu. saya mungkin gak pernah
latihan lagi formally sejak bulan puasa. kenapa? karena takut capek,
lapar, atau haus? tidak, hanya karena MALAS. 

dulu shifu bilang, 1 jurus dilakukan 1000x. apa itu yg disebut "kung fu", makna 
"kung" yang mengacu pada suatu tingkat keahlian. maka dari itu seorang yg paham 
benar tentang ilmu ini akan menilai performance seorang "oh kung-nya
bagus", atau "ah kung-nya jelek". 

jurus, semalam dua malam, siapa saja bisa menghapalnya. tapi itu mengasah 
ketajaman 1 jurus itu agar efektif, perlu latihan ratusan bahkan ribuan kali. 
untuk itu dulu, hanya utk latihan satu posisi kuda2, shifu nyuruh saya latihan 
itu
doang sampai satu tahun, termasuk "footwork", hah? buat apa latihan
jalan gitu? koq berbulan2?? 

ternyata manfaat latihan itu, mengasah skill saya dalam ilmu yg saya dalami. 
tubuh kita akan refleks memberi respon terhadap serangan2. kalau diserang gini, 
secara refleks akan balas gini-gitu. hal itu yg sulit didapat dalam 
sehari-semalam. gak heran "kung" yg dimiliki pendekar sangat dalam, org2 
terlatih ini
dapat melumpuhkan saya dan anda dalam hitungan detik dan 1 gerakan,
seperti yg shifu saya lakukan utk mengalahkan pegulat yg iseng mau
jajal dia. itulah dia, yg "kung" nya paling dalam dan bagus, yg rajin
berlatih mengasah ilmunya. ibarat pisau yg selalu diasah. 

gak jarang praktisi beladiri terserang penyakit BOSAN, seperti yg sering saya
alami. lama berhenti latihan, hari ini latihan. badan sakit2 semua,
pinggang sakit, dengkul sakit. yah kung saya menurun karena kemalasan
itu. jadwal latihan rutin 1 minggu sekali weekend. tapi utk
memperdalam lagi, waktu belum nikah saya latihan tiap abis pulang
kantor.

lalu koq dihubung2kan dengan solat?? itulah dia saya menemukan analogi
yg menarik dari peristiwa tersebut. saya dulu pernah bilang ke seorang
sahabat, saya pesilat, dan mendedikasikan diri saya di jalan ini sejak
kecil, tapi 2 tahun gak pernah latihan. seperti orang islam tapi gak
pernah solat aja. kalau org islam, jadi islam ktp donk?!

Al Hujuraat 13. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.

Al 'Ankabuut 45. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar.

Thaahaa 14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang
hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku.

kita seingkali, temasuk saya. jenuh dengan rutinitas solat ini. kadang
yg terlintas cuman "ah pokoknye solat, biar ga dosa". sekedar
melaksanakan kewajiban saja. secara disadari atau tidak, kita bosan dg
sholat yg berulang2, karena kita merasa hapal dan sudah bisa. kita
kehilangan jiwa sholat kita itu, sehingga solat cuman jadi ritual
belaka, asal dikerjain ajah. karena itu, sebagai praktisi beladiri,
saya jadi menganalogikan solat saya dg latihan saya bertahun2 ini.
solat = mencegah perbuatan keji dan mungkar = mengingat Allah?

kenapa kita berkali2 sih solat dalam sehari? saya coba pahami solat
itu seperti reprogramming bagi seorang muslim, selain tentunya
berdialog dg Sang Khalik. almarhum pak ahmed deedat yg kristolog waktu
mengundang org2 non-muslim utk menjelaskan solat, dia katakan "sholat
itu brainwashing-nya" muslim. hah? koq gitu? kecuali solat yg
dilakukan sekadarnya, asal sudah ngerjain. maka jiwa dari solat itu
gak merasuk ke diri kita. reprogrammingnya gak sukses! solat
ideal-nya, termasuk saya yg cuman bisa ngemeng doang ini, minimal 5
hari, mengingatkan diri kita, dg ayat2 Allah, memuji dan mengagungkan
Allah utk mengingat kebesaran-Nya, pengadilan-Nya, dll. ayat2 yg kita
baca, seharusnya ayat2 yg kita mengerti, kecuali bisa bahasa arab, yah
sangat banyak yg bisa dimengerti. 

kita membaca ayat al-kafirun misalnya, memprogram diri kita, bagaimana 
sosialisasi kita dg rekan2 non-muslim, kita baca surat an-nas misalnya, 
mengingatkan kita tentang hakikat kita manusia dihadapan Allah SWT, dll. itulah 
dia, memprogram diri kita, bagaimana seharusnya seorang muslim menurut quran, 
menundukkan diri didepan kebesaran Allah agar kita tidak sombong dan
ingat hari pembalasan. 

selalu mengingat-Nya jadi berhati2 utk melakukan kerjaan, karena dg menyebut 
"bismillah", kita bekerja atas nama-Nya. sama aja kayak kita bekerja atas nama 
perusahaan, result dari kerjaan kita kan juga mempertaruhkan image perusahaan.

nah seperti halnya "kung" dalam islam, yg mempertajam ketaqwaan kita.
kalo kita bisa berasa di tiap solat, insya Allah kita bisa sensitif yg
namanya mana yg baek dan mana yg salah. makin kita taqwa, makin mulia
kita. 

jadwal wajib kan 5 waktu, kalu mau ditambah gak masalah donk??
kan makin keasah khan?? makin tinggi kung seorang, makin dihormati dia
di dunia persilatan. orang yg solatnya bener, harusnya sensitif ama
perbuatan maksiat. dia tau benar apa itu larangan-Nya, apa itu
perintah-Nya. dia tau gimana bergaul secara islami, bersikap terhadap
lawan maupun kawan. bekerja dg baik, dan dikerjakan karena Allah. 

iya solatkan butuh nutup aurat, saya harus beli baju, beli baju perlu
uang, jalan ke sana harus naek angkot, perlu duit, kan perlu makan,
akhirnya harus kerja kan biar dapet duit? utk kerja perlu makan, perlu
transportasi. begitupun sunnah rasulullah utk nikah, anak harus
disekolahin, istri dikasih makan, dirawat, dsb. orang tua
dibahagiakan, anak harus dididik, soalnya nanti kalo kita mati, kan
anak2 shaleh itu akan membantu kita yg dah wafat melalui do'anya,
berarti harus kerja donk?! 

itu dulu khotib jumatan di BI nyebutnya "rantai ibadah". bahwa ujungnya yg kita 
kerjain ni sehari buat ibadah. ideal-nya orang seperti ini akan menemukan 
keseimbangan dan harmonisasi dalam hidupnya. dia menjadi muslim, menjadi orang 
yg bermanfaat bagi sekitar, sesama dan lingkungannya.

Al Anbiyaa' 107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam.

nah saya menghimbau ke temen2 dan saya pribadi... khususnya saya
tekanin diri saya nih, saya termasuk yg "ndablek" kata org jawa
bilang. saya tau ini-itu, udah tau koq masih ngeyel!! masih aja males,
suka bosen. bisa jadi abis ngetik ini, saya malah gak jalanin :-( itu
deh manusia, jagoannya lupa dan khilaf. nah coba maknai solat kita,
agar kita bisa menjadi muslim sesungguhnya, menjadi manusia yg
bermanfaat bagi semuanya. biar kita lebih sensitif mana yg baek dan
mana yg jelek. jadi semaksimal mungkin kita menjalankan perintah-Nya
dan jauhi larangan-Nya. iye sih, kita kan bukan mahluk sempurna khan?

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: Tidak seorang pun di
antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang
lelaki bertanya: Engkau pun tidak, wahai Rasulullah? Rasulullah saw.
menjawab: Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya
kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang
benar  (HR Muslim)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Neraka dan surga saling berdebat, lalu
neraka berkata: Aku dimasuki oleh orang-orang yang suka menindas dan
sombong. Surga berkata: Aku dimasuki oleh orang-orang yang lemah dan
miskin. Lalu Allah berfirman kepada neraka: Kamu adalah siksa-Ku, Aku
menyiksa denganmu siapa yang Aku kehendaki. (Atau Allah berfirman: Aku
menimpakan bencana denganmu kepada orang yang Aku kehendaki). Dan
Allah berfirman kepada surga: Kamu adalah rahmat-Ku, Aku limpahkan
rahmat berupa kamu kepada siapa yang Aku kehendaki. Dan masing-masing
kamu memiliki penghuninya sampai penuh  (HR Muslim)

jangan sombong, jangan paling merasa benar. karena hanya rahmat Allah
yg akan menyelamatkan kita dari neraka. semoga Allah melimpahkan
rahmat-Nya bagi kita semua.amin.

mohon maaf kalau ada salah2 kata, kebenaran milik Allah semata.
mohon maaf atas kemiskinan ilmu saya. terima kasih.

best regards,
Martin

--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke