CILIWUNG IMPIANKU

Sungai Ciliwung yang mempunyai hulu di daerah Gunung Gede, Gunung Pangrango dan 
daerah Puncak, merupakan sungai yang mengalir di tengah kota Jakarta dan 
melintasi banyak perkampungan dan perumahan padat serta ramai. Karena letaknya 
yang berada di tengah kota Jakarta dan melintasi perkampungan serta perumahan 
padat, Sungai Ciliwung tersebut mempunyai fungsi utama sebagai saluran 
pembuangan air hujan, agar air hujan tersebut tidak menggenangi pemukiman rumah 
penduduk dan tidak terjadi banjir.
Sungai berubah dari waktu ke waktu, demikian juga dengan Sungai Ciliwung. Jalur 
alirannya kini banyak di manipulasi menjadi berupa kanal – kanal yang berfungsi 
sebagai pengendalian banjir. Pemukiman liar berupa gubuk – gubuk dan bangunan 
rumah semi permanen menjadi hiasan bantaran Sungai Ciliwung. Belum lagi 
gundukan sampah – sampah rumah tangga yang membuat aliran Sungai Ciliwung tidak 
lancar dan menjadi ancaman akan terjadi banjir ketika musim hujan tiba. Di 
antara gundukkan sampah tersebut terlihat ada beberapa warga yang 
memanfaatkannya untuk mengais rejeki dengan mengambil sampah – sampah yang 
masih dapat didaur ulang seperti berupa botol – botol dan gelas – gelas bekas 
kemasan air mineral untuk mereka jual kepada para pengumpul sampah daur ulang. 
Sungguh memperihatinkan, tetapi pemandangan yang demikianlah yang senantiasa 
tergambar dalam realitas bantaran Sungai Ciliwung pada saat ini.
Sungai Ciliwung mengalami berbagai kerusakkan yang sebagian besar penyebabnya 
adalah akibat ulah manusia. Masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung 
tiada lagi mengindahkan Perda serta Undang – Undang yang melarang untuk 
membuang sampah ke sungai, akibatnya mereka dengan seenaknya membuang sampah ke 
sungai tanpa pernah memikirkan dampak buruknya. Jika masyarakat sekitar 
bantaran Sungai Ciliwung terus membuang sampahnya ke sungai maka akan 
mengakibatkan aliran sungai menjadi terhambat dan tidak lancar akibat sungai 
dipenuhi oleh gundukkan sampah, jika keadaan ini dibiarkan maka Sungai Ciliwung 
akan mengalami pendangkalan, bukan tidak mungkin lagi bahwa banjir akan 
senantiasa menghantui masyarakat sekitar bantaran Sungai Ciliwung setiap kali 
musim hujan tiba. Gundukkan Sampah yang menghalangi aliran Sungai Ciliwung 
tersebut ada beberapa yang merupakan sampah yang tidak lazim, berupa kasur, 
meja, kayu bekas peti kemasan hingga potongan balok kayu besar yang cukup sulit 
untuk diangkut oleh petugas kebersihan. Masalah lainnya yang tak penah kunjung 
usai adalah mengenai keberadaan pemukiman liar di bantaran Sungai Ciliwung. 
Pemukiman liar berupa gubuk – gubuk dan bangunan rumah semi permanen dapat 
mengakibatkan penyempitan lebar sungai Ciliwung dan dapat membuat aliran Sungai 
Ciliwung menjadi tidak lancar akibat kayu – kayu pondasi bangunan rumah yang 
berada di aliran sungai tersebut. Pemerintah terkait permasalahan tersebut 
telah mengupayakan dinas Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) untuk menertibkan 
gubuk – gubuk liar yang berada di bantaran Sungai Ciliwung agar lahan tersebut 
dapat segera dikosongkan. Namun, kerap kali pemukiman liar itu dibangun kembali 
dengan alasan karena tidak lagi mempunyai tempat tinggal yang lain, sehingga 
pemerintah harus melakukan penertiban dan pengosongan kembali lahan tersebut.
Untuk melestarikan Sungai Ciliwung dibutuhkan peran serta dari semua elemen 
masyarakat, terutama masyarakat yang hidup di sekitar bantaran Sungai Ciliwung. 
Masyarakat yang hidup di sekitar bantaran Sungai Ciliwung hendaknya 
mengindahkan Perda serta Undang – Undang pemrintah yang melarang untuk membuang 
sampah ke sungai. Mereka seharusnya mengubah perilaku buruk mereka dengan 
membiasakan diri dengan hidup bersih dan membuang sampah – sampah ke tempat 
penampungan sampah yang telah disediakan. Pemerintah juga harus terus mengawasi 
dan tegas terhadap masyarakat yang melanggar aturan tersebut. Pemerintah 
bersama dinas Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) harus dapat menertibkan 
gubuk – gubuk liar yang berada di bantaran Sungai Ciliwung dan memberikan 
sanksi yang tegas terhadap masyarakat yang membangun kembali gubuk – gubuk liar 
di sekitar bantaran Sungai Ciliwung, sehingga setelah lahan tersebut telah 
dapat dikosongkan, lahan itu dapat segera dimanfaatkan untuk penghijauan dengan 
tanaman pelindung dan dapat juga dibuat lubang biopori yang berfungsi menyimpan 
air cadangan saat musim kemarau dan mengantisipasi terjadinya banjir saat musim 
hujan. Selain itu, pemerintah harus mengupayakan pembersihan terhadap sampah – 
sampah yang ada di Sungai Ciliwung bersama – sama dengan instansi terkait 
seperti anggota Satpol PP dan anggota TNI-AD dengan menggunakan bantuan berupa 
alat – alat berat seperti Beco misalnya, agar sampah dari hulu tidak bertambah 
terus dan tidak terjadi penghambatan aliran sungai. Pemerintah juga harus 
merawat secara berkala kondisi pintu – pintu air yang dilalui oleh aliran 
Sungai Ciliwung agar pintu – pintu air tersebut dapat berfungsi dengan optimal, 
sehingga aliran Sungai Ciliwung menjadi lancar. 
Sungai Ciliwung yang bersih, asri, bebas dari pemukiman liar dan dapat 
berfungsi sebagai lahan konversi adalah impian bagi semua masyarakat, khususnya 
warga yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Ciliwung. Namun, untuk dapat 
mewujudkan mimpi tersebut memang tak semudah membalikkan telapak tangan, karena 
begitu banyak pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan terkait dengan 
kondisi Sungai Ciliwung saat ini yang semakin hari semakin memperihatinkan. 
Mungkin saja, impian ini tidak akan pernah menjadi kenyataan dan hanya akan 
menjadi angan – angan semata jika segenap masyarakat dan pemerintah tidak dapat 
bekerja sama untuk dapat segera melakukan pembenahan dan pengembalian fungsi 
utama Sungai Ciliwung, atau Sungai Ciliwung hanya akan menjadi ancaman dan 
mimpi buruk bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Ciliwung 
karena setiap saat musim hujan tiba, akan mengakibatkan bencana banjir yang 
senantiasa membawa banyak dampak kerugian bagi masyarakat baik materi maupun 
non materi. Jika impian ini terwujudkan, Sungai Ciliwung mungkin tidak hanya 
berfungsi sebagai penanggulangan banjir serta lahan konversi semata, tapi 
merupakan kebanggaan yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat 
sekitar bantaran Sungai Ciliwung khususnya.

















Kirim email ke