*Inovatif di Usia Senja* Oleh Syarif Niskala (also blogged at syarifniskala.com)
“Payung … payuuuung. Ngadangdosan payuuuung. Ngasah pésooo. Pésooooo ….” Setengah berlari saya keluar rumah memanggilnya, “Mang … mang ….” Dengan sigap lelaki tua dengan rambut yang putih dan memakai topi kumal menoleh dan menghampiri. “Mang, badé ngasah péso. Mangga kalebet” sapa saya sambil membukakan pintu gerbang. Dengan wajah ramah khas Pasundan, bapak berperawakan kurus dan sedikit terbungkuk itu masuk. “Linggih di mana Mang” sapa saya sambil memperhatikan bapak tua yang sedang asyik mengasah pisau kami dengan mesin pengasah*. “Di Sindanglaya” “Oh, caket Ujungberung nya. Tebih ogé geuning” “Ah heunteu, Jang. Naék angkot konéng, ngan ukur dua rébu” “Eh enya nya, Panghegar – Dipatiukur, sanés?” Saya berbincang akrab dengan bapak itu sampai selesai mengasah dua pisau dapur kami. Dia sangat memahami bahan dasar pisau. Dia bercerita tentang kualitas pisau Tasikmalaya yang tak kalah dengan kualitas pisau yang sering dijajakan *door-to-door *atau diiklankan malam-malam di televisi. Bahkan katanya, pisau-pisau dari Tasikmalaya itu, tidak mudah tumpul, walau ukurannya kecil dan gagangnya terkadang dibuat dari kayu pohon nangka. Seingat saya, memang banyak perajin perkakas di daerah Salawu – Tasikmalaya. “Janten, sabaraha Pak?” tanya saya ketika hampir selesai. “Dua rébu ….” --- Sejak 2 pekan lalu, kami memang menanti-nanti bapak itu lewat di depan rumah. Pisau-pisau kami sudah lama tumpul, kurang efektif bila digunakan. Dan menurut penuturan istri yang berpapasan sewaktu pergi ke pasar, bapak itu telah berada di ujung jalan sedang mengasah pisau di rumah ketua DKM. Dan hanya beberapa saat setelah pulang dari pasar, pengasah pisau itu lewat di depan rumah. Menurut perhitungan saya, jika 1 pisau diasah selama 5 menit, maka paling tidak sudah mengasah 12 buah pisau. Memang menjelang Hari Raya Qurban adalah sangat tepat untuk pengasah pisau berkeliling. Menjual jasa mengasah pisau, mungkin tidak banyak terpikirkan oleh banyak orang. Tapi ini adalah kebutuhan yang faktual. Selain karena saat ini batu asah sulit didapatkan, pekerjaan mengasah pisau di rumah tidak lagi dikuasai oleh para ayah. Memang ada alat asah yang dijual di supermarket, tapi hasilnya tidak memuaskan. Lagi pula tidak dapat membuat mata pisau yang tumpul berat menjadi tajam kembali. Ada kejelian yang akurat pada Pak Tua dalam membaca peluang usaha pada profesi mengasah pisau. Memang, bisa saja Pak Tua itu mengambil profesi itu karena sentuhan *The Power of Kapepet*, tapi tetap saja tidak menghilangkan ketajaman instingnya mengendus potensi ekonomi. Ini adalah inovasi yang brilian, dibandingkan tim anak muda yang menggelar atraksi monyet di *traffic light* yang padat. Sekali lagi, faktor usia tidak menjadi hambatan berinovasi. Untuk sebuah keberhasilan bisnis yang panjang dan besar, Pak Tua itu tinggal melengkapinya dengan merk, kontak bisnis (nomor telepon, alamat), dan strategi duplikasi untuk wilayah-wilayah yang potensial. Apa yang dilakukan Pak Tua Sang Pengasah Pisau Keliling, jauh lebih baik dibandingkan seorang lulusan sarjana S-1 yang sudah 3 tahun menunggu panggilan kerja. Bahkan dibandingkan dua orang kepala keluarga yang hampir frustrasi menganggur selama 2 tahun akibat dampak rasionalisasi pabrik tekstil yang tidak kompetitif lagi. Ya, karena ide (ilham) bisnis sepertinya lebih bertebaran di luar rumah. Terima kasih Pak Tua, hatur nuhun pisan. >From the note of Syarif Niskala Catatan: *Batu gerinda tebal sekitar 2 cm sebesar piring yang ditopang kayu cagak. Pada poros batu gerinda dipasang besi yang disambungkan dengan tuas engkol di sebelah kanan. Diantara tuas pengengkol dengan batu gerinda ada dudukan dengan laher (*bearing*) terpancang kuat pada rangka kayu penopang. Ngadangdosan = memperbaiki, péso = pisau, ngasah = menajamkan, badé = mau, mangga = silakan, kalebet = masuk, linggih = tinggal, caket = dekat, tebih = jauh, nya = ya, ogé = juga, geuning = ternyata, heunteu = nggak, jang = nak, naék = naik, konéng = kuning, ngan ukur = hanya sekadar, rébu = ribu, enya = iya, sanés = bukan, janten = jadi, sabaraha = berapa, hatur nuhun pisan = terima kasih banyak/sekali. -- Mau mengabadikan nama? Atau punya ide unik dan cemerlang? SEGERA daftarkan (register) kekayaan intelektual Anda sebagai domain melalui DOMAINSAJA.COM Murah dan cepat.... Cara bayarnya? PAKE PULSA bo.. Transfer aja, beres dechhh.
