Futur
Aku mengalami futur berat hari
ini. Butuh chargeran iman tapi siapa yang bisa mencharger imanku? Aku butuh
seseorang yang bisa membangkitkan kembali semangatku. Aku mendesah... memandang
ke langit-langit. Berharap agar ALLAH menggerakkan hati seseorang untuk menjadi
perantara tarbiyah-NYA.
Lambat laun, aku melihat
seseorang yang sudah lama ku tunggu. Orang itu melihatku, sepertinya ia tahu apa
yang ku butuhkan. Dia menghampiriku dan aku menghampirinya. Kami duduk
berhadapan. Terdiam.
“Kenapa?” tanyanya memecahkan
keheningan diantara kami. Tanpa ku jawab, aku yakin dia tahu kondisiku. “Futur
lagi?”
Aku mengangguk. Perlahan mulai
menunduk. Rasanya tak sanggup untuk mengatakannya.
“Afalaa ta’kiluun?”
tanyanya dengan nada menyindir. Kepalaku menegak, apa maksudnya? Mengapa dia
bertanya apakah aku tidak berpikir?
Orang ini masih menatapku dengan
mata yang membuat mental jatuh. Aku memberanikan diri menatap matanya. Aku
sudah tidak berminat untuk bicara ataupun bertanya. Maka keheningan kembali
merayapi suasana kami. Hening.
“Apakah kamu tidak memikirkan buat
apa senior Rohismu memintamu untuk menghapal surat ash-shaf ayat satu sampai
lima?” tanyanya lagi. “Bertujuan agar kamu berpikir... berpikir bahwa semua
ucapanmu harus kamu tepati. Lima takuuluuna maalaa taf’aluun?”
Masih terdiam, merenungi nasihatnya yang semakin nyelekit.
“Bukan Cuma omong kosong belaka. Kamu
beri mereka nasehat dan kamu suruh mereka. Apakah kamu juga melakukan suruhan
itu? Atau hanya di bibir saja? Hanya untuk mencari muka?”
Hatiku mulai panas dan rasa beku
itu mencair. “Astaghfirullah... aku tidak seburuk prasangkamu. Aku sudah punya
muka dan tak perlu mencari lagi. Aku hanya ingin berbagi walaupun sebagian yang
aku katakan jarang aku kerjakan.”
“Itulah... menjadi manusia itu
tidak mudah. Banyak peraturan dan banyak kewajiban. Sekali saja imanmu runtuh
maka sulit untuk kembali utuh.”
“Lalu bagaimana imanku bisa utuh
kalau suasana ini tidak begitu kondusif?” dengan berat aku bicara juga meskipun
agak dongkol, karena dia tidak merasa bersalah mengatakan aku hanya mencari
muka. Memang ada berapa muka yang bisa dicari untuk dipakai?
“Bagaimana iman kamu bisa utuh? iman Kamu
tidak akan bisa terus utuh kalo menunggu suasana kondusif. Suasana seperti itu
jarang didapat meskipun pernah ada dalam kehidupanmu. Kamu harus memulai dari
sekarang, mulai dari
diri kamu sendiri dan mulailah dari hal-hal kecil. Melihat dan mengambil
pelajaran dari berbagai pengalaman.”
Bola mataku berputar kebawah.
Mencerna setiap kata-katanya yang memakai bahasa T++ (bahasa tingkat tinggi).
Ku rasa kemampuan otakku mulai menurun dan harus di-upgrade lagi.
Orang ini menghela nafas dan
melanjutkan, “Aku pun tidak lebih pintar darimu. Kita setara maka carilah orang
lain yang bisa memberimu nasehat tarbiyah dengan lebih baik. Semoga dari mereka
kamu bisa mengambil banyak pelajaran.”
Aku tak mengerti. Orang ini benar-benar
sulit untuk ku mengerti tapi anehnya dia selalu mengerti keadaanku. seperti
mengerti tentang apa yang ada dalam denyutan otakku.
“Berdirilah. Bangkitah... Tapi
ingat ya, waALLAHu laa yahdil qoumal
faasikiin.” Katanya sambil tersenyum menatapku yang masih
tertatih-tatih mentranslate arti dari rangkaian ayat itu.
Ketika aku berdiri, dia pun
berdiri. Dalam hati aku senang sekali karena dia mau berbagi. Sampai kapan pun
aku suka dengan sindirannya yang nyelikit dan bikin sakit tapi bisa membuatku
bangkit.
Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard
Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/