--- In [email protected], "rezaervani" <rezaerv...@...> wrote:

Tanggung jawab ulama, intelektual dan cendekiawan menghadapi kehancuran bangsa.
Oleh : K.H. Muchtar Adam
(Pimpinan Pondok Pesantren Babussalam, Ciburial, Bandung)



Tafsir al-Qurân surah Hûd [11] : 116-117 yang artinya :



"Maka mengapa tidak ada dari ummat-ummat sebelum kamu orang-orang yang
mempunyai keutamaan yang melarang dari pada mengerjakan kerusakan
dimuka bumi, kecuali sebahagian kecil diantara orang-orang yang telah
Kami selamatkan diantara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya
mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka dan mereka
adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan
membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang
yang berbuat kebaikan. "



Ayat ini menggambarkan gerakan cendekiawan masa lalu yang turut hanyut
dalam kebobrokan sosial kecuali sedikit yang berani mengemukakan dan
menegakkan kesalehan sosial, maka Allah Swt menghancurkan bangsa itu,
ketika sebagian besar intelektual, cendekiawan dan ulama hanyut bersama
dalam dunia syahwat materil karena pengaruh kemewahan duniawi yang
semu, serta pengaruh kekuasaan.



Ungkapan ayat tersebut agaknya saat ini juga cocok sekali berdasarkan munculnya 
gejala-gejala dalam masyarakat.



"Para intelektual dan cendekiawan yang pasti berjuang mencegah
munculnya kekacauan dan kehancuran dibumi ini serta orang-orang yang
mempunyai keutamaan dan moral tinggi yang melarang bangsanya dari
mengerjakan kerusakan dimuka bumi. Demikian juga para ahli taat, ahli
agama, intelektual dan yang berpandangan jauh ke depan hendaknya
melaksanakan gerakan anti maksiat dan anti penghancuran dunia serta
kehancuran sosial dan kebobrokan masyarakat. Dan para kelompok ini
terus berjuang mencegah bangsanya dari keingkaran, kemusyrikan serta
mencegah penyembahan kepada patung-patung rasio serta mencegah dari
segala kemaksiatan, karena hal itu akan menghancurkan bangsa dan
masyarakatnya. Kelompok Intelektual dan Ahli Ibadah ini tidak
henti-hentinya melaksanakan gerakan tersebut agar bangsanya terhindar
dri kehancurannya.



Kita akan heran jika bangsa ini menempuh jalan kerusakan seperti
bangsa-bangsa dahulu yang telah diporak-porandakan olah Allah seperti
kaum `Âd, Tsâmûd, dan kaum-kaum yang lain yang telah diungkapkan oleh
Allah Swt dalam al-Qurân yang telah menciptakan kerusakan dan
kebinasaan dimuka bumi ini melalui pola hidup mewah.



Allah Swt telah mengungkapkan kejahatan mereka pada kemanusiaan berupa
ketidak adilan sosial serta ketidak adilan dalam hukum, sehingga
tercipta gap antara sikaya dan simiskin, dan antara pejabat serta
rakyat jelata.



Wajib bagi mereka yang selamat dari azab bangkit mencegah dari
kerusakan karena nikmat Allah yang diberikan kepada mereka akibat
intelektualitasnya, kemampuannya, serta bangkitnya ulama-ulama mukhlis
pada mereka dan argumentasi yang mereka miliki.



Disini dapat difahami karena mereka yang tersisa dari kehancuran, agar
bangkit sebagai pahlawan kemanusiaan menebarkan rahmat dan kasih sayang
bagi lingkungannya, sehingga dapat menegakkan keadilan sosial yang
dipancari nilai-nilai kemanusiaan yang universal.



Gejala kezaliman sosial nampak dengan jelas dihadapan kita dari kasus
nenek Minah, yang mencuri 3 buah kakao dengan hukuman percobaan 3
bulan, kasus mencas hp yang ditahan 80 hari, kasus pencurian semangka
yang dihukum, kasus pencurian kapas yang dihukum, kasus yang menulis di
face book berkeluh kesah tentang kejelekan pelayanan rumah sakit
kemudian dihukum .



Kasus yang paling spektakuler adalah kasus KPK, Anggodo, skandal Bank
Century dengan turunannya yang merembet kepembagian uang rakyat oleh
para pejabat, intelektual dan cendekiawan, demi kekuasaan. Lebih hebat
lagi adalah kasus Tulang Bawang Lampung Sumatra Selatan antara rakyat
dan PTP VII , yang telah menelan korban rakyat dan materi.



Allah Swt merasa heran kepada para intelektual dan cendekiawan serta
ahli-ahli ibadah juga orang-orang yang tersisa itu tidak melaksanakan
"amar makruf dan nahi munkar yaitu sosial support dan sosial kontrol
terhadap masyarakatnya.



Mengapa mereka turut hanyut dalam keingkaran dan kemaksiatan, pola
hidup mewah, sehingga Allah Swt menetapkan kepantasan bagi mereka
memperoleh azab dan aneka siksa akibat perbuatan mereka, disebabkan
karena keingkaran mereka serta munculnya aneka kemaksiatan, yang
bersumber dari kecintaan kepada kemewahan dunia dengan segala macam
kelezatannya.



Kemudian Allah Swt mengecualikan : "illâ qalîlan" = "kecuali sedikit";
artinya, mereka dibinasakan semua kecuali sedikit yang diselamatkan
Allah, yaitu orang-orang yang beriman dan taat dalam ibadah, dan
mengikuti tuntunan agamanya serta memancarkan rahmat dan kasih sayang,
karena yakin bahwa inti ajaran agama ialah silaturrahim tanpa memandang
perbedaan agama.



Mereka melaksanakan pola hidup konsumerisme, melalui kelezatan dan
kenikmatan aneka harta benda berupa kemewahan yang diberikan Allah
kepada mereka sehingga mereka tidak memperdulikan lagi halal dan haram,
serta mereka mengikuti aneka syahwat, dengan rakus mereka menggali
barang-barang tambang tanpa memperhatikan keselamatan kerja dan nasib
generasi masa depan, mereka menebang hutan-hutan untuk memenuhi nafsu
rakus mereka kepada kemewahan dunia tanpa memperhatikan lagi lingkungan.



Mereka menangkap ikan-ikan dengan bom dan racun tanpa melihat
keselamatan lingkungan. Setiap jengkal tanah yang kosong dikota
dihabiskan untuk pusat-pusat bisnis, tanpa memperhatikan masalah
pendidikan bangsanya, lapang bermain anak-anaknya, kesehatan
lingkungannya serta keselamatannya dari kehancuran sosial dan bangsanya.



Dengan statusnya, dia menetapkan standar pelayanan yang luar biasa
dalam segala kelezatan dan kenikmatan tanpa batas-batas agama dan
moral, dan hidupnya memperoleh pelayanan, tanpa pernah melayani orang
lain. Dengan pengaruh harta yang berlimpah ruah, pelayanan yang
diperolehnya sudah menyimpang dari garis-garis agama dan moral sehingga
dia bergelimang dalam kemungkaran dan maksiat. Hotel-hotel mewah dengan
pelayanan all in menjamur dimana-mana.



Seterusnya Allah Swt meneruskan ayatnya yang artinya :



"Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang 
penduduknya orang-orang yang berbuat saleh/kebaikan."



Berita ini sangat penting untuk dicamkan oleh kaum beragama masa kini, karena 
pernyataan Allah ini pasti benarnya.



Allah Swt memberitakan, bahwa DIA tidak akan menghancurkan suatu kota
atau kampung atau negara sekalipun, termasuk kota-kota dahulu yang
telah hancur kalau penduduk negara itu berbuat kebaikan atau kesalehan
sosial yang universal.



Hanya saja Allah menghancurkan apabila bangsa itu secara keseluruhan
sudah kompak bergotong-royong berbuat kerusakan, jika setiap ivent
ujungnya kerusuhan dan kebrutalan.



Kesalehan sosial akan menimbulkan jiwa "rahmatan lil alamin" yaitu seluruh 
hidupnya memancarkan rahmat bagi alam sekelilingnya.



Kesalehan sosial akan menjadikan setiap individu berjiwa "shilah al-rahim" inti 
ajaran Islam "ma'rifatullah".



Dan jika kebrutalan sudah meraja-lela, dan setiap event sudah muncul
kebrutalan maka tunggu saja azab Allah yang akan datang dengan
tiba-tiba…………..



Tindakan-tindakan aniaya itu ada tiga pendapat:



1. Kebinasaan yang kecil, karena yang berlaku aniaya ada disana, dan
mereka tertutup oleh kebanyakan orang. Ada diantara pejabat yang tanpa
moral dan akhlak berpola hidup mewah dan tidak memperhatikan lagi halal
haram sesuai tuntunan agamanya, serta tidak peka lagi terhadap
kemiskinan bangsanya. Bahkan ada yang berjoget dan menari-nari diatas
bencana yang menimpa bangsanya.



2. Kebinasaan yang banyak dari yang sedikit diantara mereka, kebanyakan
berbuat maksiat karena yang sedikit tidak dapat mempengaruhi yang
banyak, bahkan yang sedikit itupun ada yang turut-turut hanyut dengan
banjir kemewahan hidup.



3. Aniaya bersama-sama sesuai dengan firman Allah surah Yunus [10]: 44 :



"Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan
tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri."



Kalau mafia kejahatan itu sudah merajalela yang dalam istilah moderen
preman-preman sudah menguasai seluruh lembaga kehidupan dan pintu-pintu
kehidupan sudah dikuasai oleh Dajjal Markus, sedang ummat beragama
sudah tidak punya asset lagi kearah itu maka ulama dan intelektual dan
cendekiawan harus bangkit mendobraknya untuk megibarkan bendera
keadilan dan rahmatan lil `alamin.



Dunia harus diselamatkan dari kehancurannya dimana setiap individu
wajib muncul ditengah masyarakatnya sebagai khalifah , yaitu petugas
dan wakil Allah menciptakan kemakmuran dunia yang berkeadilan, baik
dalam hukum maupun sosial.



s. Saba [34]: 34-38, artinya :



Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi
peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah dinegeri itu
berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk
menyampaikannya. Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta
dan anak-anak dibandingkan dengan kamu dan kami sekali-kali tidak akan
diazab. Katakanlah : "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi
siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang
dikehendaki-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan
sekali-sekali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kamu yang
mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun, tetapi orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-saleh, mereka itulah yang memperoleh
balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan;
dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yang tinggi dalam surga. Dan
orang-orang yang berusaha menentang ayat-ayat Kami dengan anggapan
untuk dapat melemahkan dan menggagalkan azab Kami, mereka itu
dimasukkan kedalam azab.



*Imâm al-Qurthûbi dalam tafsirnya 14/305, menyatakan : pola hidup mewah, 
mengutip pendapat Imam Qatâdah :



"Orang-orang kaya penduduk itu dan pemimpin-pemimpinnya,
pembesar-pembesarnya dan penghulu-penghulunya yang jahat terhadap
agama".



Mereka ingkar terhadap agama dan ajaran-ajarannya disebabkan karena
merasa kaya, dan sebagai pejabat memiliki harta yang banyak serta
anak-anak dan pengikut yang banyak. Sambil mereka yakin dan berkata :
"wamâ nahnu bi mu'adzzibîn" = "dan kami tidak akan memperoleh azab".



Mereka merasa lebih utama dan lebih baik dengan banyaknya harta dan
kekayaan mereka disamping anak dan pengikut yang banyak, karena
pandangan mereka yang materialis. Mereka merasa dapat berbuat
sekehendaknya dengan kekayaannya yang melimpah itu. Dengan hartanya dia
dapat mengatur polisi dan jaksa serta hakim-hakim.



Allah Swt. menolak pandangan mereka dengan mempertegas bahwa kekayaan
itu hakikatnya adalah milik Allah, dan Allahlah yang melapangkan atau
menyempitkan rezeki seseorang dengan firman-Nya.



"Katakanlah, sesungguhnya Tuhanku yang melapangkan rezeki kepada siapa yang 
dikehendaki-Nya atau menyempitkan-Nya."



Sedang kelapangan dan kesempitan rezeki itu bukan penentu kebahagiaan,
baik didunia apalagi diakhirat nanti. Kelapangan rezeki didunia bukan
tanda akan mencapai kebahagiaan didunia dan diakhirat dan janganlah
hendaknya manusia menyangka bahwa harta dan anak itu yang akan
menyelamatkannya diakhirat nanti.



Walâkin aktsara al-nâs lâ ya'lamûn :



"Tetapi banyak sekali manusia yang tidak mengetahuinya"



Kemudian Allah Swt menguatkan pandangan tersebut dengan firman-Nya yang artinya:



"Dan tidaklah harta-harta kamu yang akan mendekatkan kalian kepada
Kami, dan tidak pula anak-anak kalian yang akan mendekatkan kalian
kepada Kami sedekat-dekatnya. "



Ini terjemahan Imâm Mujâhid, karena "zulfâ" oleh beliau diterjemahkan "qurbâ ".



"Kecuali orang yang beriman dan beramal-saleh".



Said bin Jubair berkata : "arti kecuali orang yang beriman dan beramal-saleh" 
ialah :



"bahwa tidak akan membahayakan harta dan anak-anaknya didunia ini karena 
kesalehan mereka"



Imam al-Laits meriwayatkan dari Imam Thâwus bahwa beliau berkata atau berdoa :



"Allahumma rzuqnîl îmân wal `amalu wa jannibniy al-mâlu wal waladu":



"Ya Allah, berilah aku rezeki iman dan amal, serta jauhkanlan aku dari pengaruh 
jelek dari harta dan anak."



Maksudnya, harta dan anak yang akan mendurhakakan kepada Allah, atau
harta dan anak yang tidak mendorong kepada kebaikan dan kesalehan,
karena Nabi pernah mengungkapkan:



"Al-mâlus shâlihu wal waladus shâlihu lir rajulis shâlihi fa ni'ma hâdzâ"



Harta yang saleh dan anak yang saleh untuk orang yang saleh. Alangkah nikmatnya 
ini.



Jadi, iman dan amal-salehnya itu yang akan mendekatkannya kepada Allah Swt.



"Fa ulâika lahum jazâul dha'fi bimâ `amilû" :



Maka mereka akan memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan
amal-salehnya itu. Hal ini dipertegas Allah Swt pada surah Âli `Imrân
[3] : 160 yang artinya :



Barang siapa yang membawa amal-yang baik maka baginya pahala sepuluh
kali lipat amalnya dan barang siapa membawa perbuatan yang jahat maka
dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya
sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya.



Menyaksikan fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini, baik dalam
negri maupun luar negri, dengan banyaknya musibah yang menimpa dunia
baik berupa tsunami yang begitu hebat yang telah menelan korban kurang
lebih 300.000, nyawa di Aceh, gempa bumi yang memporak-porandakan
Daerah Istimewa Yogyakarta yang menelan korban jiwa ratusan orang,
gelombang pasang yang meluluh lantakkan pantai Pangandaran dan menelan
puluhan jiwa, gempa yang memporak-porandakan Padang, sampai Bengkulu
yang menelan korban ratusan jiwa, semburan lumpur panas Lapindo yang
berkepanjangan dan telah menelan banyak korban jiwa, harta benda, serta
banjir yang menggenangi Jakarta dan sekitarnya demikian juga Bekasi,
banjir di Jawa Tengah, banjir di beberapa daerah Jawa Timur teristimewa
Pasuruan.



Aneka badai yang telah meyapu bersih beberapa kota-kota didunia, topan
badai Tornado yang menghancurkan Amerika Serikat, badai Katrina yang
menghancurkan California, badai yang menyapu bersih beberapa daerah di
Jepang, badai Australia, badai salju yang melumpuhkan Cina, badai salju
yang menelan korban di India dan Pakistan,. Kebakaran hutan yang
menghancurkan beberapa daerah di California Amerika Serikat, kebakaran
hutan yang menimpa banyak negara di Eropa, kebakaran hutan di Australia
yang bersumber dari petir serta kebakaran diseluruh Indonesia, baik
rumah, pabrik, kompleks, kampung yang tidak henti-hentinya, termasuk
hutan-hutan, adalah azab Allah, minimal peringatan. Kecelakaan
transportasi darat, laut dan udara diseluruh dunia yang telah menelan
ribuan nyawa. Kerusuhan dan kebrutalan yang muncul silih berganti pada
setiap event, baik itu pada pertandingan sepak bola, pertandingan
volley ball, konser musik, pilkada, kerusuhan antar desa, antar
kampung, antar suku, antar mazhab, antar agama, dan seterusnya.
Semuanya itu adalah azab yang diturunkan oleh Allah Swt, karena manusia
sudah bergelimang dalam dosa dan maksiat serta aneka kemungkaran dan
perbuatan-perbuatan tercela.



Aneka azab yang diturunkan Allah akhir-akhir ini, yang oleh para
ilmuwan dianggap sebagai gejala alam semata-mata, tetapi jika kita
melihat sejarah kebelakang, musibah yang diturunkan Allah kepada
hamba-hamba-Nya erat hubungannya dengan moral dan akhlak manusia
sebagaimana Allah telah menurunkan aneka azab pada ummat-ummat dahulu,
akibat pola hidup dan sikap moral dan akhlak mereka.Kebakaran yang kami
amati selama tiga bulan terakhir ini diseluruh dunia terutama di
Indonsia, bukan lagi kebakaran biasa, tatapi satu peringatan yang
terang terhadap ulama ,intelektual dan cendekiawan agar kembli kepada
Allah Swt dan menerapkan ajaran-Nya


--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke