Empat hari lalu saya menerima pesan singkat dari K.H. Solahuddin Wahid
, yang akrab dipanggil Gus Sholah, tentang sebuah pesantren di sebuah
kampung yang pemimpinnya meninggal dan harus diwariskan kepada anaknya
yang seorang ustaz muda. Beliau meminta Dompet Dhuafa kiranya dapat
membantu pesantren ini dan saat itu juga saya langsung menghubungi
ustaz muda ini untuk mendalami apa yang bisa dilakukan untuk pesantren
ini. Bukan tanpa sebab Gus Sholah mengenal baik Dompet Dhuafa. Dalam
sebuah obrolan santai bersama beliau, saya bahkan terkaget Gus Sholah
memahami detail mengenai Dompet Dhuafa. Bukan saja beliau membaca
banyak hal tentang lembaga amil zakat ini namun juga mengkliping setiap
berita Dompet Dhuafa. Tawarannya agar Pesantren Tebu Ireng yang
dipimpinnya bisa belajar ke Dompet Dhuafa saya anggap sebagai pujian,
dan saya katakan bahwa Dompet Dhuafa akan belajar bagaimana sebuah
pesantren seperti Tebu Ireng bisa eksis selama 200 tahunan.
Punya
napas yang hampir sama dengan pesantren yang lahir pada abad 19 dan
mampu mencetak generasi ulama besar dan melahirkan semangat kemerdekaan
negara ini, gerakan zakat yang lahir di era 90-an telah memberikan
warna baru bagi gerakan sosial dan keagamaan negeri ini. Gerakan zakat
di Indonesia ditandai lahirnya YDSF, Dompet Dhuafa, PKPU, Rumah Zakat,
DPU DT, dll—yang kemudian diikuti oleh lahirnya semangat zakat di
Indonesia—memang tengah diuji keteguhan visinya. Sebagai gerakan
perlawanan masyarakat untuk memperbaiki bangsanya, Lembaga Amil Zakat
(LAZ) sejak lahir telah dimandati cita-cita luhur itu.
Dompet
Dhuafa misalnya, memulai dari dana patungan dari para wartawan dan
potongan gaji para karyawan Harian Republika serta keluarganya dan
segera melakukan sesuatu untuk membela kamum miskin. Karena nilai yang
luhur dan kesungguhan itulah Dompet Dhuafa menarik banyak simpati dan
mendorong masyarakat ikut mendanai program-program pemberdayaan ini.
Gerakan yang membola salju ini membawa sebuah ajaran pemberdayaan,
semangat berekonomi yang adil sesuai syariah, kepedulian kepada saudara
kita yang miskin dan semangat dakwah, yang dalam konteks rukun Islam
terwadahi dalam makna Zakat.
Sebagaimana tantangan yang dihadapi
pesantren, sebagai sunnatullah, gerakan zakat tentu saja akan mengalami
masa ujian yang berat. Satu dasawarsa yang telah dilampaui, gerakan
zakat telah mampu melewati batu uji profesionalisme dan penggalangan
kepercayaan publik. Ketika masalah klasik gerakan keumatan adalah SDM
berkualitas dan kesolidan tim, gerakan zakat mampu membangun dirinya
menjadi profesional dan menjadi lembaga yang berkembang. Gerakan zakat
di masa ini juga mampu membangun ketertarikan masyarakat tentang isu
syariat zakat. Tak bisa dipungkiri, syariat zakat yang dulu
terpinggirkan karena merupakan ranah ketaatan beragama, kini sudah
merambah kepada isu sosial, bahkan saat ini masuk ke dalam isu ekonomi
pemberdayaan. Bank Indonesia bahkan telah memasukkan bidang zakat ini
sebagai Voluntary Sector yang memperkuat sektor pendukung ekonomi
Indonesia lainnya. Gerakan LAZ ini bahkan telah mendorong semangat baru
menegakkan syariat zakat ini diberdayai. Kerja sama pengembangan LAZ di
pesantren-pesantren tercatat makin subur. LAZ di kampus-kampus semakin
bertambah banyak dan maju, juga LAZ-LAZ masjid yang kini sudah semakin
baik dan profesional. Zakat sebagai arus utama dalam wacana
sosio-ekonomi sudah mendapatkan modal yang cukup untuk dilesakkan
sebagai salah satu kekuatan sosial dalam wacana pengentasan kemiskinan,
pembangunan spiritual bangsa, dan semangat membangun peradaban yang
unggul sebagai bangsa.
Sayangnya pada dasawarsa kedua ini
gerakan zakat justru mendapat tantangan dari apa yang selama ini
dibelanya, yaitu negara. Ide formalisasi zakat yang memaksakan dana
publik berupa zakat, infak, sedekah, bahkan wakaf yang akan dikelola
negara ini kini tengah digodok serius dan sudah disebarluaskan oleh
pemerintah ke media massa. Peniadaan LAZ mengagetkan banyak pihak dan
masyarakat, karena justru ketika Dompet Dhuafa tengah mendapat sederet
penghargaan berupa Sertifikasi ISO, Penghargaan Social Entrepreneurship
Award dari Ernst & Young, Marketing Award untuk kategori Innovation
dan kategori Experience Marketing, penghargaan MURI sebagai panitia
kurban terbesar, kerja sama dengan berbagai Pemda untuk mengembangkan
pemberdayaan di daerah, sebagai suatu bukti peran pentingnya di
masyarakat. Saat ini kita memang sedang menunggu sejarah dituliskan,
apakah negara ini berhasil memberangus gerakan zakat yang notabene
ditumbuhkan oleh masyarakat ini.
Lalu siapakah yang mampu
membendung keinginan negara menutup LAZ Dompet Dhuafa dan lainnya? Saya
malu untuk menyampaikan kegalauan ini kepada Gus Sholah, atau
tokoh-tokoh lain di negeri ini yang telah lama menjadi pendukung
gerakan kebaikan ini. Kalaulah Dompet Dhuafa diberangus, mohon doakan
kami akan tetap bertekad berusaha sekuat upaya tetap membantu
pesantren, membantu mereka yang selama ini tak bisa sekolah karena
sekolah dibuat mahal, membantu mereka yang sakit agar bisa memperoleh
layanan pengobatan yang bermartabat, membantu para buruh petani, tukang
sayur, tukang ojek, pengasong, pengamen, dan masyarakat terpinggirkan
lainnya yang selama ini hanya paham bahwa negara ini ada hanya ketika
mereka ditangkapi, digusur, dan dipinggirkan. Agar saudara kita yang
dhuafa ini tak perlu kecewa karena banyak menuntut kepada negara yang
gagal ini.
Saksikan, ya Allah, saya telah menyampaikan ini.[]
Sumber: Republika, Jumat, 11 Desember 2009
Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka
browser. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer