Udah
lama ngga nulis cerpen... jadi merasa kaku ketika menulis cerpen lagi... tapi
imajinasi udah ngga mengalir lagi nih.. jadi bikin cermin (cerita mini) deh. 
Tolong
dikoreksi kalo ada kalimat atau kata2 yg kurang pas atau yg bikin gmn... gitu.
 
Kaleidoskop
by: penuliz mizteriuz

 
“Hufh...”
desah Diva sambil  duduk di bangku
perpustakaan. Menunggu Reyna yang katanya terjebak macet entah di jalan mana.
Ia menghela nafas. Bangkit dari duduknya lalu mencari-cari buku yang bisa
dibacanya. Ketika ia menemukan buku biologi, ia teringat masa lalunya di SMA.
Maka ia mengambil buku itu lalu membawanya ke meja. 
Berlembar-lembar
dibukanya. Ia sama sekali tak mengerti.
“Div, jangan terlalu lama main basket. Kita
istirahat, yuk. Kalo kekurangan oksigen dan asam laktat meningkat secara
berlebihan bisa berbahaya.”
“Asam laktat? Bahayanya apa?”
“Karena tubuh kekurangan oksigen maka tubuh
menggunakan glukosa menjadi asam laktat. Asam laktat bisa menimbulkan rasa
lelah, perasaan terbakar, keram bahkan bisa kejang.”
“Astaghfirullah...”
Diva mendesis. Suara Hasan dimasa lalu terngiang lagi saat ini. Hasan begitu
perhatian padanya, apapun yang terjadi padanya, Hasan pasti kelihatan cemas.
Hal yang paling mengesankan adalah semua aspek permasalahan, ia kaitkan dengan
biologi. Maklum calon dokter.
Kini Diva
ingin mengubur segalanya tentang Hasan. Biar bagaimanapun, ia telah mendapat
hidayah untuk berhijab dan segala hal tentang masa lalu adalah masa-masa
jahiliyahnya yang tidak patut untuk diingat. Apalagi ia sering mengatakan ke
adik-adik kelasnya agar menjaga hati. Bahaya deh kalo mereka tahu dirinya tidak
bisa menjaga hati. Bisa-bisa dicap omdo
nanti. Desah Diva berkepanjangan.
Ia menjauhkan
buku biologi itu dan tidak mau membukanya lagi. Dilihat jari tangannya yang
pernah terluka.
“Jangan panik ya. Keluarnya darah merah
berfungsi untuk mengaktifkan fibrinogen. Fibrinogen akan membentuk
benang-benang fibrin yang berfungsi menjahit luka terus dibantuin sama darah
putih. Kamu tenang aja. Insyaallah lukamu sembuh.”
Diva
menggeleng-gelengkan kepalanya ketika teringat senyuman Hasan yang bikin Diva
melayang lagi. “Ya Allah, andai hamba-MU itu adalah jodoh ku, pertemukanlah
nanti di saat-saat yang tepat. Tapi andai  bukan, tolong jauhi aku dari 
bayangannya.”
“Kamu lihat betapa indahnya langit biru itu.
Kamu tahu ngga sebenarnya matahari ngga hanya memancarkan cahaya putih aja tapi
memancarkan banyak warna. Kita bisa lho memisahkan cahaya-cahaya itu biar
kelihatan satu persatu.”
”Caranya?”
“Pake segitiga prisma newton. Warna putih
bisa terurai menjadi mejikuhibiniu.”
“Keren dong. Bisa kita lihat sekarang?”
“Bisa. Kita ke lab fisika aja, yuk.”
Diva pasrah.
Slide-slide masa lalu saat ia belum memakai jilbab dan saat-saat dia sedang
dekat-dekatnya dengan Hasan, terus menerornya. Haduh ngga boleh bengong nih. 
Keluh Diva sambil merutuki
perbuatannya yang mengambil buku biologi.
“Ehemm...
sibuk banget sih,” sapa seseorang membuyarkan lamunannya.
Diva menoleh
ke sumber suara. Seorang mahasiswi berjilbab dan berkacamata, tengah membaca
buku. Diva mengerutkan keningnya.Sampai
segila itukah aku sampai mendengar suara segala? Batinnya. 
Lagi-lagi
Diva menoleh. Untuk mengenali anak berkacamata ini. Sepertinya kenal tapi 
kacamatanya
memantulkan cahaya putih dari lampu perpus, sehingga ia tak bisa melihat
matanya. Kenapa jadi mirip kartun ya? Pikir Diva mulai menggila.
“Ehem
juga...”suara Diva pelan. Takut salah.
“Kamu heboh
banget sih baca biologi.”
Pssh... muka
Diva memerah. Emangnya keliatan ya?
“Ngga ah,
biasa aja,” jawab Diva ngeles.
Mahasiswi di
sampingnya tertawa renyah, “Becanda kok. Kamu sih ngga Pe-ka-es.” Ia melepas
kacamatanya dengan gaya sedikit lebay lalu menggeser duduknya menjadi lebih
dekat di samping Diva.
“Ya Allah,
Reyna. Kamu bikin kaget tahu. PKS? Mau ngomongin politik di sini?” sambutnya
dengan hangat. Diva tidak ingin Reyna tahu kalo dia tengah gelisah.
“Bukan.
Pe-ka-es itu artinya peka sekitar. Maaf banget ya, aku telat.”
“Iya, ngga
apa-apa. Iqab-mu hanya lima ribu saja. Dengan rincian sebagai berikut...” Diva
mulai menggoreskan penanya menjadi rangkaian tabel yang rumit. Reyna tersenyum.
Tak percuma ia mengangkat Diva menjadi bendahara rohis.
“Iya deh yang
mahasiswa akuntansi. Menurut sabda Rosul kita harus...”
“Stop...
stop... kalo kaput udah angkat ceramah, sulit untuk dihentikan.”
Mereka
tertawa berderai.
“Sst... di
perpus ngga boleh berisik!” tegur petugas membuat mereka bungkam dalam senyum. 
Astaghfirullah... khilaf deh.
~*~
Diva pulang
dengan perasaan tak karuan. Biar bagaimanapun masalah Reyna lebih berat
daripada masalahnya. Reyna yang cantik, cerdas dan tegas, sudah pasti ditaksir
banyak ikhwan dan Reyna memang berhak memilih. Namun orangtuanya telah
menjodohkannya dengan seseorang yang dia tak suka.
“Ana sudah
seperti Siti Nurbaya di abad modern, Div,” Reyna murung. Diva terdiam. Ia bukan
tidak tahu kalau Reyna pasti sudah menjelaskan kepada orangtuanya. Untuk
mengingatkan sabar rasanya susah. Reyna di matanya adalah sosok yang penyabar
dan tegar.
“Istikhoroh,
Rey. Mungkin pilihan orangtuamu adalah yang terbaik dan andai bukan yang
terbaik, Allah bisa membalikkan takdir, Rey. Takdir memang misteri.”
“Ana sudah
istikhoroh semenjak beberapa bulan yang lalu. Ana yakin Allah lebih tahu. Ana
ingin cerita karena ini merupakan usaha ana untuk mencari jawaban.”
Deg. Diva tak
menyangka masalah itu telah menghimpitnya selama beberapa bulan dan ia tidak
menyangka sama sekali bahwa sahabatnya adalah aktris yang ulung. Hebat juga ya 
menyembunyikan masalah berat
begitu tanpa ketahuan orang lain atau aku yang ngga PKS ya? Batin Diva
sambil memikirkan solusi yang terbaik yang bisa diterima Reyna dan membuat
Reyna tidak berpikir percuma saja menceritakan masalahnya pada Diva.
“Bagaimana
menurutmu, Div?”
“Kalau aku
jadi kamu. Aku akan berusaha cari tahu calon dari orangtuaku seperti apa. Bukan
bermaksud mengintip apalagi menguntit. Hanya melihat bagaimana ia bergaul.
Bagaimana lingkungannya dan bagaimana orangtuanya.”
“Jauh, Div.
Dia di luar kota. Tapi akhir-akhir ini dia mengirimi foto-foto keadaan
rumahnya, sahabatnya, orangtuanya dan seluruh keluarga besarnya. Ia menceritakan
segalanya tanpa kelebayan sedikitpun,” jelas Reyna sambil mengeluarkan beberapa
foto dan sebuah lipatan surat.
Diva terkejut
melihat foto ikhwan tampan yang tidak asing di matanya. Hasan?
Slide-slide
masa lalu kembali terulang dengan begitu pahitnya. 


      Apakah saya bisa menurunkan berat badan? Temukan jawabannya di Yahoo! 
Answers!
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke