Maaf bila mengganggu, hanya ungkapan hati terdalam, karena gelisah, terlalu sering Natal dipermasalahkan dan dikaitkan dengan masalah yang ada pd kerukunan antar umat beragama.
Wassalam, Nugon Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!! http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/ http://nugon19.multiply.com/journal --- On Wed, 12/30/09, Nugroho Laison <[email protected]> wrote: From: Nugroho Laison <[email protected]> Subject: Tanggapan atas Opini "Selamat Natal" Kompas 19 Desember 2009 To: [email protected], [email protected] Cc: "jurnalisme" <[email protected]> Date: Wednesday, December 30, 2009, 4:06 PM Email ini saya tujukan untuk memberi tanggapan atas opini “Selamat Natal” yang ditulis oleh Mas Hasibullah Satrawi pada Harian Kompas tanggal 19 Desember 2009. Saya telah membaca opini anda, dan merenungi cukup lama, dan memutuskan untuk menanggapinya, walau sudah lewat seminggu. Saya memaksakan diri untuk menyempatkan diri menulis tanggapan balik, berdasarkan pengetahuan dan pemahaman saya terkait beberapa agama, juga berdasarkan pengalaman sebagai seorang yang hidup di komunitas mualaf - lintas agama, suku dan golongan. Saya hanya menyayangkan atas tulisan pada bagian “Melahirkan Ketegangan”, karena menurut hemat saya, kendati secara sekilas bertujuan baik, namun tampaknya didasari atas ketergesa-gesaan. Saya bukan ahli agama, apalagi lulusan Universitas yang terkenal di bidang keilmuan agama. Saya hanya orang biasa yang kuliah di Universitas yang dikenal di bidang IT, dan hidup sebagai professional di dunia IT. Namun pengalaman hidup di berbagai komunitas yang lintas agama, suku dan golongan, terutama sebagai orang yang besar di komunitas mualaf, telah mengajarkan bahwa tidak bisa dengan mudah memberikan penilaian apalagi justifikasi atas sikap seseorang. Termasuk juga untuk menyatakan bahwa adanya ketegangan antar umat beragama lantaran ada pihak yang tidak setuju, bahkan mengharamkan untuk menghadiri perayaan agama lain. Apalagi dikatakan bahwa opini atau fatwa yang mendukung dinilai bernuansa politis. Apakah hal yang sama, politisasi opini dan tindakan…itu semua tidak dapat terjadi pada tokoh yang menyerukan menghadiri perayaan agama lain? Atau pada tokoh lain yang berusaha membaurkan pemahaman keagamaan beberapa agama tanpa mengindahkan sendi-sendi dasar keyakinan agama tersebut (padahal mestinya orangnya yang berbaur, bukan keyakinannya)? Pertanyaan yang sama mestinya dilontarkan kepada segenap pihak, untuk evaluasi motivasi masing-masing pihak. Itu baru adil dan intelek. Itu menurut saya yang awam. To the point saja, saya sempat sekolah di Muhammadiyah, ormas tempat berkiprahnya para tokoh besar, termasuk alm. Buya Hamka. Beliau ini tokoh besar Nasional, bahkan Asia Tenggara, dan menurut beberapa orang termasuk kaliber Internasional, lantaran mendapat penghargaan dari Universitas Al-Azhar Kairo. Begitu kalau saya tidak salah mengingat. Alm. Buya Hamka inilah yang semasa berkiprah di MUI, dengan ilmu yang dimilikinya, ikut mengeluarkan fatwa haram menghadiri perayaan Natal. Namun fatwa itu dikeluarkan bukan karena alasan politis, melainkan pertimbangan pemahaman agama (ijtihad), di luar tepat atau kurang tepatnya (saya tidak akan menilai apalagi membahas, bukan ahlinya, dan bukan tujuan utama email ini ditulis). Bahkan karena bersikukuh dengan fatwa tersebut, beliau mendapat tekanan, akhirnya mengundurkan diri dari MUI. Bisa dibilang beliau korban kepentingan politik pada saat itu. Tetapi banyak orang mencatat bahwa beliau tokoh yang toleran, santun, dan pemaaf. Menghargai dan menghormati perbedaan pendapat dan keyakinan tanpa harus mengorbankan pendiriannya. Beliau memaafkan banyak tokoh yang pernah berselisih dengannya, termasuk mendiang Bung Karno, dan Pramoedya. Beliau juga akrab dengan non-muslim, banyak bergaul dengan non-muslim. Bahkan mediang Ayahanda dari Ibu Tiri saya yang merupakan etnis Tionghoa di Padang dan jelas non-muslim, cukup akrab dengan beliau, dan pernah berfoto bersama. Bagaimana juga dengan beberapa Habib dan Kyai yang menyerukan agar jangan mengganggu perayaan agama lain, yang juga mereka mengajarkan agar jangan ikut merayakan perayaan keagamaan non-muslim? Bahkan sampai mengirimkan murid dan pengikutnya untuk membantu menjaga keamanan perayaan hari besar agama lain, kendati mereka tidak ikut merayakannya. Juga bagaimana dengan mereka yang tinggal di komunitas lintas agama, suku dan golongan, terutama para mualaf? Kendati tidak merayakan, mereka memanfaatkan momentum tersebut (karena umumnya juga merupakan hari libur) untuk saling bersilaturahmi. Atau bagaimana juga dengan muslim yang membantu mengingatkan saudara dan rekannya yang non-muslim agar bersiap atau agar rajin untuk beribadah, juga agar lebih intensif mempelajari agama? Atau membantu non-muslim agar bisa menjalankan ajaran agamanya untuk menjauhi larangan tertentu, seperti pantangan makanan tertentu, dan sebagainya? Banyak dari mereka yang tidak setuju dan tidak mau menghadiri perayaan agama lain,tetapi mereka toleran dan banyak membantu non-muslim. Inilah yang saya rasakan, saya alami, juga saya alami, baik dari kehidupan saya, mau pun rekan-rekan saya, juga masyarakat di sekitar saya. Dan mohon maaf, jumlah mereka bukan segelintir, melainkan cukup banyak. Namun sayang, kurang terekspos oleh media massa. Dan dalam pengamatan saya yang awam, mohon maaf, semoga salah…tetapi sepertinya Media massa (sekali lagi maaf) sepertinya lebih tertarik untuk mengabarkan hal yang ganjil, aneh, anomali, dan yang sejenisnya, ketimbang mengabarkan hal yang mendidik, termasuk terkait kerukunan antar umat beragama. Dan saya yakin, masih banyak umat Kristiani yang memahami bahwa saudaranya yang muslim tetap menghormati dan menghargai serta menyayangi mereka dengan dasar kemanusiaan, juga perintah agamanya, walau pun tanpa menghadiri perayaan Natal. Dahulu pun di tanah air, relatif kondusif dan harmonis antara Muslim dan Non-Muslim (walau ada ‘riak’ dalam hubungan tersebut dalam beberapa hal), kendati tidak saling menghadiri perayaan agama yang lain. Kenapa kita tidak belajar dari hal ini? Di sisi lain, terjebak dalam masalah yang menurut saya simbolik, seperti perayaan agama, bukanlah sesuatu yang bijak dan juga efektif. Mestinya antar umat beragama mengadakan dialog intensif, dan meningkatkan kerja sama intensif atas hal yang bisa disepakati bersama berdasarkan keyakinan agamanya dan kemanusiaan. Mohon maaf, saya belum banyak mendengar gaung yang nyaring dari para cendekiawan dan tokoh agama dari berbagai agama. Bukan berarti tidak ada suaranya, tapi kurang nyaring gaungnya. Seperti pemberantasan Judi, Perzinahan dan Prostitusi, Korupsi, Narkoba, Mabuk-mabukan karena minuman keras, kekerasan dan pelecehan. Saya yakin semua agama sepakat (betul begitu bukan?!). Namun kenapa di tanah air kita, entah kenapa, para tokoh agamanya kurang untuk saling bersinergi untuk upaya tersebut. Juga penghimbauan pengurangan bahkan pemberhentian konsumsi rokok. Saya yakin banyak tokoh agama dari berbagai agama yang sepakat akan hal ini. Atau penggalakkan reboisasi, pencegahan pembalakkan liar. Juga pemberantasan kemiskinan dan kebodohan serta kelaparan. Serta hal penting lainnya. Mestinya ini yang menjadi fokus bersama para tokoh agama dari berbagai agama. Bukan hanya fokus pada hal yang simbolik, apalagi sampai dipolitisasi dengan berbagai cara dan gaya (menurut versi masing-masing). Dan mestinya media massa membantu terwujudnya hal ini. Nabi Muhammad pun pernah menyatakan akan mendukung upaya penegakkan keamanan dan perdamaian, walau pun inisiatornya bukan dari komunitas muslim. Ini diucapkannya, tatkala mengingat peristiwa Hilful Fudhul, suatu perjanjian untuk menegakkan keadilan di Tanah Haram Mekkah. Ini yang semestinya kita tiru dan kita fokus ke sana. Ini yang ingin saya sampaikan kepada Mas Hasibullah Satrawi, juga kepada segenap saudara-saudara yang lain, agar kita tidak terjebak dalam masalah ini. Ada hal lain yang jauh lebih penting, lebih besar, dan lebih krusial…yang perlu kita fokus dan tangani. Marilah kita bersama berlomba-lomba dalam kebajikan – Fastabiqul Khoirot. Terakhir, saya ingin menyampaikan sebuah hikmah, kendati berlatar-belakang pada 3 agama besar – Islam, Kristen dan Yahudi, hikmah ini bisa diterapkan dan berlaku untuk kita semua. Hikmah ini termaktub dalam Al-Quran surat An-Nisaa ayat 123, yang terjemahannya kira-kira sebagai berikut: “ (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” Menurut beberapa ahli tafsir, sebab turunnya ayat tersebut adalah perdebatan beberapa orang dari berbagai agama, terutama Yahudi, Kristen, dan Islam. Perdebatan tersebut adalah terkait tentang siapa yang lebih baik. Maka turunlah ayat tersebut, bahwa yang terbaik adalah bukan berasal dari versi imajinasi (angan-angan) mereka, tetapi dari amal yang terbaik…yang tumbuh dari keyakinan yang baik. Dari sini kita belajar, bahwa amal kebajikanlah yang paling utama. Maka rasanya kita tidak usah berlarut-larut dalam perdebatan simbolik, seperti menghadiri perayaan agama lain. Biarkan orang dengan keyakinan dan pendiriannya masing-masing. Yang terpenting adalah bukti amal kebajikan. Itu saja dari saya, mohon maaf kepada segenap pihak bila ada yang kurang berkenan. Terutama kepada Mas Hasibullah Satrawi dan Koran Kompas. Terlebih saya orang awam, termasuk dalam masalah agama. Bukan alumnus Al-Azhar Kairo, melainkan almnus Bina Nusantara. Salam, Nugon (Nugroho Laison) – orang awam dari komunitas mualaf http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/19/02582247/selamat.natal Selamat Natal Sabtu, 19 Desember 2009 | 02:58 WIB Oleh Hasibullah Satrawi Sebagai seorang Muslim, penulis mengucapkan selamat hari raya Natal kepada saudara-saudari Kristiani di mana pun berada. Bagi seorang Muslim, mengucapkan selamat hari raya Natal bukan hanya menjadi kesadaran persaudaraan, melainkan tuntunan keimanan yang sangat mendasar. Karena Nabi Isa atau Yesus menegaskan (sebagaimana disampaikan Al Quran), keselamatan atas diriku ketika dilahirkan, ketika meninggal dunia, dan ketika (nanti) dihidupkan kembali, Qs 19: 22. Dalam konteks negara majemuk seperti Indonesia, ucapan selamat hari raya Natal merupakan salah satu bentuk kesadaran kebangsaan yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara; bahwa Indonesia adalah negara bagi semua agama yang ada di haribaan Bumi Pertiwi; bahwa setiap pemeluk agama memiliki kebebasan untuk merayakan dan menjalankan keyakinannya; dan bahwa penganut satu agama di Indonesia harus menghormati penganut agama lain. Kerukunan Bagi agamawan, mengucapkan selamat kepada umat agama lain dalam merayakan hari besar keagamaan, seperti Natal, mempunyai makna yang sangat penting. Selain tuntunan agama, ucapan selamat bagi seorang agamawan bisa juga karena menjadi langkah awal untuk menciptakan kerukunan dan kebersamaan dalam kehidupan umat beragama, terutama dalam kehidupan bangsa majemuk seperti Indonesia. Apa yang dilakukan oleh agamawan di Mesir bisa dijadikan sebagai contoh oleh para agamawan di Tanah Air. Dalam persoalan hari raya Natal, contohnya, sejumlah agamawan terkemuka di Mesir, seperti Grand Syeikh Al-Azhar Kairo, Sayyid Muhammad Thanthawi, tak hanya membolehkan seorang Muslim turut merayakan hari raya Natal. Lebih daripada itu, mereka memberikan keteladanan baik dengan menghadiri undangan perayaan Natal umat Kristen (Koptik) di sana. Momen-momen damai seperti ini digunakan oleh sejumlah agamawan di Mesir untuk mengukuhkan tali persaudaraan kebangsaan, mengukuhkan bangunan perdamaian, dan menghormati segala jenis perbedaan. Begitu pun sebaliknya, sejumlah pemimpin Kristen (Koptik) di Mesir turut merayakan dan mengucapkan selamat ketika hari raya keagamaan umat Islam tiba. Suasana damai, kondusif, dan penuh persaudaraan menyelimuti kehidupan masyarakat di sana, dimulai dari kalangan agamawan kemudian diikuti oleh segenap umat dan pengikutnya. Peran agamawan seperti di Mesir memberikan sumbangsih cukup besar bagi terjaganya hubungan damai dalam kehidupan masyarakat Mesir, terlepas apa pun agama ataupun kelompoknya. Setidak-tidaknya masyarakat Muslim di sana tidak diharamkan bila turut merayakan Natal bersama sahabat atau kerabat yang beragama Koptik. Pengalaman Mesir seperti di atas sangat patut dipertimbangkan. Sejauh ini, konflik berbau agama jarang terjadi di Negeri Piramida itu. Melahirkan ketegangan Hal inilah yang jarang terjadi dalam kehidupan umat beragama di Tanar Air. Peran agamawan sangatlah terbatas dalam mendorong bangsa ini terbebas dari konflik agama. Sebaliknya, peran dan keterlibatan agamawan yang cukup masif terjadi dalam kehidupan politik, apalagi pada saat menjelang pemilu. Hingga hari ini, konflik antaragama masih terus membayang, bahkan juga konflik intraagama. Umat beragama tidak disuguhi pemandangan damai dari kalangan agamawan yang mengucapkan selamat kepada umat agama lain dalam merayakan hari besarnya, termasuk hari raya Natal. Dan hingga hari ini masih terdapat sejumlah pihak yang mengharamkan hadir pada perayaan Natal bagi seorang Muslim atau hari raya agama lainnya. Pengharaman seperti di atas tidak melahirkan apa pun, kecuali ketegangan dalam kehidupan umat yang berbeda agama. Pihak paling diuntungkan oleh fatwa seperti ini adalah mereka yang ”bersyahwat” politik. Bangsa, masyarakat, dan agama adalah pihak yang paling dirugikan oleh pengharaman seperti di atas yang merupakan akibat tak langsung keterlibatan kaum agamawan dalam dunia politik pragmatis yang cukup masif, baik perpolitikan nasional maupun lokal. Dikatakan akibat tidak langsung karena tidak semua dan tidak setiap saat agamawan melakukan ”politisasi agama” dalam bentuk fatwa-fatwa politis atau lainnya. Harus jujur diakui, masih terdapat sekian agamawan yang turun ke kancah politik dengan niat tulus-ikhlas dan membawa tujuan perjuangan murni. Namun, agamawan seperti ini tampak sangat terbatas. Natal adalah momen penting yang bisa digunakan oleh kaum agamawan untuk menyampaikan sabda perdamaian, kasih sayang, dan menghormati perbedaan keagamaan. Silaturahim antaragamawan dapat dilakukan dalam momen-momen keagamaan seperti Natal ini. Hingga umat beragama terbiasa dalam menghormati perbedaan dan perayaan hari besar agama lain. Hasibullah Satrawi Alumnus Al-Azhar Kairo, Mesir; Aktivis Moderate Muslim Society, Jakarta
