Assalamu'alaikum wr. wb., Insya Allah, gampang memecahkan permasalahan spt ini.
Nabi Muhammad SAW bilang, "Shalatlah kalian seperti shalatku." Pertanyaannya, dr mn kita tahu rukun shalat Nabi? Dari sunnah dan hadits. Alhasil, belajarlah (baik dari buku maupun mursyid) yg merujuk pd sunnah dan hadits. Ke guru agama kita, biarpun janggutnya sepanjang sajadah, tanyakan saja, "Ustad, adakah hadits atau sunnah yg Ustad acu?" Logikanya, tuh ustad benar2 jago agama kalau apa2 yg dia ajarkan selalu merujuk pd Al Qur'an dan hadits. Jadi, kalau teman2 menemukan panduan tentang shalat yg tdk disertai dg sunnah dan hadits (harus asli, lho!), mk silakan meragukan kebenarannya. Dr situ, spesifik ttg email PenulizMisteriuz, walau sdh pny kebiasaan shalat sejak kecil, namun apabila ternyata tdk ada dalilnya, mk antum perlu berijtihad untuk meninggalkannya. Apalagi jk bertentangan dg dalil, mk antum wajib meninggalkannya. Saya sendiri, stlh mencoba belajar ttg shalat dr sejumlah sumber, menemukan 1 buku yg sejauh ini sy jadikan referensi utama ttg shalat. Judulnya saya lupa. Ada di rumah. Allahu a'lam. Wassalam, Reza --- On Tue, 1/26/10, Penuliz Mizteriuz <[email protected]> wrote: From: Penuliz Mizteriuz <[email protected]> Subject: Bls: [muslim_binus] SEBERAPA NIKMATKAH SHALAT KITA? To: [email protected] Date: Tuesday, January 26, 2010, 6:10 AM bbrp temen saya ada yg dikasih tau sama dosennya, "kalian kalo sholat jgn pake "sayyidina" saat bacaan tahiyat. kalo pake "sayidina" nanti ga sah. kalian jgn ikutin golongan itu karena skrg pun golongan itu ngga pake "sayidina" disetiap sholat mereka." saya udah kebiasaan dari kecil, jadi kalo ngga pake "Sayidina" jadi rada gmn.. gitu. terus, ada lagi temen saya yang mulai dikampusnya diajarin sholat dengan cara golongan tertentu, jadi pake hapalan baru gitu. bacaan iftitah, duduk diantara 2 sujud dan tahiyatnya beda... gmn menurut temen2? Dari: Yanti M T <[email protected]> Kepada: [email protected]; muslim binus <[email protected]> Terkirim: Sen, 25 Januari, 2010 21:22:09 Judul: [muslim_binus] SEBERAPA NIKMATKAH SHALAT KITA? SEBERAPA NIKMATKAH SHALAT KITA? Usaha untuk meraih shalat khusyu sangat penting, karena shalat khusyu itu luar biasa nikmat dan menyenangkan. Jika khusyu tidak berhasil diraih, tentu shalat menjadi rutinitas yang menjemukan. Shalat menjadi beban harian, bahkan menjadi siksaan. Tidak inginkah kita keluar dari penderitaan ini? Jika orang lain dapat menghadirkan ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan melalui teraphy, meditasi dan sejenisnya, maka shalat lebih mampu mendatangkan lebih dahsyat dari itu. Contoh nyata adalah sayidina Ali yang tidak merasakan sakit sedikitpun ketika anak panah yang menancapnya dicabut saat melaksanakan shalat. Hal ini hanya dapat dijelaskan dengan satu alasan: shalat mampu membuat jauh lebih tenang, jauh lebih nyaman dan jauh lebih bahagia dibanding teraphy atau meditasi manapun. Anda tentu setuju, bukan? Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
