Dari Milis tetangga..


----- Forwarded Message ----
From: Aboe Hanifa <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Cc: achie yup <[email protected]>
Sent: Wed, February 3, 2010 10:54:24 PM
Subject: [Dana_Abadi] Catatan Lengkap Kesimpulan FKM atas Debat dengan Ulil / 
Jaringan Islam Liberal

  
Catatan Lengkap Kesimpulan FKM atas Debat dengan Ulil / Jaringan Islam Liberal

Katagori : Counter Liberalisme
Oleh : Redaksi 17 Oct 2009 - 3:30 pm 
Forum Kiai Muda (FKM) NU menilai paham JIL cenderung membatalkan otoritas para 
ulama salaf. Namun mengajak menghadapi JIL dengan dialog


Kesimpulan Forum Tabayyun dan Dialog Terbuka
Antara Jaringan Islam Liberal dan Forum Kiai Muda (FKM) NU Jawa Timur
Di PP Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur
Ahad, 11 Oktober 2009
Dewasa ini sedang berlangsung perang terbuka dalam pemikiran (ghazwul fikri) 
pada tataran global. Melalui sejumlah kampanye dan agitasi pemikiran, seperti 
perang melawan terorisme dan promosi ide-ide liberalisme politik dan ekonomi 
neo-liberal, Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia berupaya menjinakkan 
ancaman kelompok-kelompok radikal, memanas-manasi pertikaian di antara kelompok 
radikal dan moderat dalam tubuh umat Islam, serta menyeret umat Islam dan 
bangsa ini ikut menjadi proyek liberal mereka. 

Dengan memperhatikan perkembangan global tersebut, dan terdorong oleh 
kepentingan membela tradisi Ahlussunnah Waljamaah yang dianut oleh warga NU 
sebagai bagian dari identitas dan jati diri bangsa ini, Forum Kiai Muda Jawa 
Timur memberikan kesimpulan tentang hasil-hasil dialog dengan Jaringan Islam 
Liberal (JIL) sebagai berikut:



1. Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori yang 
sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa 
kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai 
pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu 
(zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam tradisi berpikir 
masyarakat bangsa ini.

2. Pada dasarnya pemikiran-pemikiran JIL bertujuan untuk membongkar kemapanan 
beragama dan bertradisi kaum Nahdliyin. Cara-cara membongkar kemapanan itu 
dilakukan dengan tiga cara: (1) Liberalisasi dalam bidang akidah; (2) 
Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran; dan, (3) Liberalisasi dalam 
bidang syariat dan akhlak.

3. Liberalisasi dalam bidang akidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa semua 
agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan akidah Islam 
Ahlussunnah Waljamaah. Warga NU meyakini agama Islam sebagai agama yang paling 
benar, dengan tidak menafikan hubungan yang baik dengan penganut agama lainnya 
yang memandang agama mereka juga benar menurut mereka. Sementara ajaran 
pluralisme yang dimaksud JIL berlainan dengan pandangan ukhuwah wathaniyah yang 
dipegang NU yang mengokohkan solidaritas dengan saudara-saudara sebangsa. NU 
juga tidak menaruh toleransi terhadap pandangan-pandangan imperialis 
neo-liberalisme Amerika yang berkedok “pluralisme dan toleransi agama”.

4. Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran yang diajarkan JIL, misalnya 
al-Quran adalah produk budaya dan keotentikannya diragukan, tentu berseberangan 
dengan pandangan mayoritas umat Islam yang meyakini al-Quran itu firman Allah 
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan terjaga keasliannya.

5. Liberalisasi dalam bidang syari’ah dan akhlak di mana JIL mengatakan bahwa 
hukum Tuhan itu tidak ada, jelas bertolak belakang dengan ajaran Al Quran dan 
Sunnah yang mengandung ketentuan hukum bagi umat Islam. JIL juga mengabaikan 
sikap-sikap tawadhu’ dan akhlaqul karimah kepada para ulama dan kiai. JIL juga 
tidak menghargai tradisi pesantren sebagai modal sosial bangsa ini dalam 
mensejahterakan bangsa dan memperkuat Pancasila dan NKRI.

6. Ide-ide liberalisasi, kebebasan dan hak asasi manusia (HAM) yang diangkat 
oleh kelompok JIL dalam konteks NU dan pesantren tidak bisa dilepaskan dari 
Neo-Liberalisme yang berasal dari dunia kapitalisme, yang menghendaki agar para 
kiai dan komunitas pesantren tidak ikut campur dalam menggerakkan tradisinya 
sebagai kritik dan pembebasan dari penjajahan dan kerakusan kaum kapitalis yang 
menjarah sumber-sumber daya alam bangsa kita.

7.. JIL cenderung membatalkan otoritas para ulama salaf dan menanamkan 
ketidakpercayaan kepada mereka, sementara di sisi lain mereka mengagumi 
pemikiran orientalis Barat dan murid-muridnya, seperti Huston Smith, John 
Shelby Spong, Nasr Hamid Abu Zaid, dan sebagainya.

8. Menghadapi pemikiran-pemikiran JIL tidak dilawan dengan amuk-amuk dan 
cara-cara kekerasan, tapi harus melalui pendekatan yang strategis dan taktis, 
dengan dialog-dialog dan pencerahan.

Forum Kiai Muda Jawa Timur,
Tulangan, Sidoarjo, 11 Oktober 2009


Forum Membawa Bukti Tulisan, Ulil Mencatut Gus Dur 


TABAYUN: Ulil Abshar-Abdalla melakukan Tabayun di Pondok Pesantren Bumi 
Sholawat, Tulangan Sidoarjo, Minggu (11/10) kemarin. Tampak, sejumlah kiai 
muda, di antaranya, KH Abdurrahman Navis, KH Abdullah Syamsul Arifin, Ustad 
Romli dan KH Syaichul Islam.Ulil tak bisa menghindar penyataan sendiri ketika 
peserta telah menyiapkan pernyataan tokoh JIL itu di berbagai media dan buku.. 
Jurus menghindar lebih aman

Forum Tabayyun dan Debat Forum Kiai Muda (FKM) NU dengan Ulil berlangsung seru. 
Tak kurang dari 500 orang hadir dalam kesempatan itu. Mereka datang dari 
Jember, Banyuwangi, Situbondo, Pasuruan dan Probolinggo. Seolah-olah forum itu 
menjadi tempat penumpahan uneg-uneg warga NU terhadap gagasan dan pemikiran 
Ulil mengenai Islam liberal yang diusungnya selama ini.

Debat yang dimoderatori Kiai Abdurrahman Navis itu mengangkat dua pemikirian 
Ulil yang sangat kontroversial, yaitu soal pluralisme agama dan kesakralan 
Al-Qur’an. FKM diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan “uneg-uneg” terkait 
dengan pemikiran Ulil.

Peserta menanyakan hal urgen terkait masalah prinsip beragama. Diantaranya 
Masalah pluralisme agama, semua agama sama benar.

Dalam acara ini, nampak peserta sangat rapi menyiapkan berbagai bahan baik 
ucapan, tulisan dan pernyataan Ulil menyangkut paham liberal selama ini.

Ketika terpojok, Ulil malah berlindung kepada Gus Dur. Ia mengaku pemikirannya 
sudah dikembangkan oleh Gus Dur. “Sebenarnya pemikiran soal pluralisme sudah 
diungkap oleh Gus Dur, kenapa baru sekarang ramai,” ungkap Ulil dikutip situs 
www.nu.or.id

Gus A’ab, menyayangkan tulisan-tulisan Ulil soal pluralisme agama selama ini. 
Pasalnya, Ulil telah menyamaratakan semua agama. Menurut Gus A’ab, pemikirian 
Ulil yang menyatakan bahwa semua agama itu benar adalah salah besar. Yang 
betul, katanya, orang Islam wajib meyakini bahwa agama Islamlah yang benar, 
walaupun keyakinan itu tidak boleh sampai menghilangkan toleransi terhadap 
kebenaran agama lain sesuai keyakinan penganutnya.

“Jadi jangan pernah mengagggap semua agama benar. Kita harus tetap meyakini 
Islam itu yang benar tanpa harus menafikan kebenaran agama lain sesuai yan 
diyakini pemeluknya,” tukasnya Gus A’ab.

Mendapat serangan itu, Ulil menghindar. “Tidak benar saya mengatakan semua 
agama itu benar. Yang sama itu hanya agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Karena, 
tiga agama itu minimal mempunyai landasan teoleogi yang sama,” jelas Ulil.

Debat semakin seru, karena pengunjung banyak yang berteriak ketika Ulil 
lagi-lagi menghidari pernyataannya sendiri di berbagai tulisannya. Padahal, FKM 
membawa segepok foto copy tulisan Ulil yang berisi pemikiran kontroversial itu. 
[hidayatullah. com] 


Forum Ulama Muda NU: Pemikiran JIL Membatalkan Otoritas Ulama Salaf 
Muktamar NU belum dimulai, namun suasana sudah mulai menghangat. Ahad (11/10) 
lalu, berlangsung diskusi seru antara kalangan muda Nahdhatul Ulama (NU) yang 
dikenal Forum Kiai Muda (FKM) NU dengan pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) 
Ulil Abshar Abdala. Acara yang berlangsung di Pondok Pesantren Bumi Sholawat, 
Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur ini berlangsung hangat.

Dalam rilis yang diterima situs hidayatullah. com, forum diselenggarakan 
sebagai bentuk tabayyun kelompok muda NU yang selama ini hanya membaca pikiran 
Ulil Abshar dan kalangan JIL melalui media massa dan buku.

Dalam rilisnya, pihak FKM berkesimpulan, pemikiran Ulil dengan paham liberalnya 
tak memiliki landasan teori yang sistematis dan hanya plagiator.

“Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori yang 
sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa 
kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai 
pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu 
(zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam tradisi berpikir 
masyarakat bangsa ini,” ujar FKM.

Karena itu, FKM juga menilai, pemikiran Ulil dengan paham liberalnya juga 
membahayakan tradisi NU dan akidah ahulussunnah wal jamaah.

“Pada dasarnya pemikiran-pemikiran JIL bertujuan untuk membongkar kemapanan 
beragama dan bertradisi kaum Nahdliyin,” tambahnya.

Melihat hasil tabayyun dengan pihak Ulil, dalam pernyataannya yang dikutis 
situs resmi PBNU, juru bicara Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur KH Abdullah 
Syamsul Arifin (Gus A’ab) menyatakan, NU mempunyai garis-garis yang jelas.

Menurut Gus A’ab, pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh Jaringan Islam 
Liberal (JIL) tidak bisa dikaitkan dengan NU, meskipun beberapa orang dari 
kelompok ini adalah anak NU, bahkan menantu salah seorang tokoh NU.

Ia menyatakan, keberadaan JIL sangat merisaukan warga NU, karena salah seorang 
pentolannya, Ulil Abshar-Abdalla adalah warga NU.

“Kalau Ulil sudah bukan NU, ya silakan mau berkata apa saja. Tidak masalah,” 
ungkapnya usai mengikuti debat terbuka dengan Ulil. [hidayatullah. com

 


      

Kirim email ke