dari asma nadia, beliau tidak hanya sibuk dengan kegiatan menulisnya tapi juga 
perhatian sama fansnya. ini beliau copy dari tulisan2 para fans-nya yang sedang 
terkena musibah. semoga ada yang terketuk hatinya untuk membantu mereka juga.

\*bukan karena saya lebay menilai tapi memang beliau begitu baik.*/

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = 
Asw.

Apa kabar iman?
Semoga tetap indah bersemayam dalam hati.
Apa kabar cinta?
Semoga tetap dalam nikmat sehat dan perlindunganNya semata... diri dan keluarga.

Melalui email ini saya ingin berbagi cerita tentang tiga hamba Allah yang 
sedang mendapatkan ujian sakit
yang tidak ringan...
Mohon berkenan membacanya...
Mohon mendoakan mereka setelahnya. Menyelipkan nama mereka bakda shalat kita... 
setiap kali kita tersentak akan rasa syukur
atas nikmat sehat yang Allah berikan kepada kita, anak-anak, orang tua dan 
keluarga.

Semoga siapa yang memudahkan, nantinya mendapatkan kemudahan dari 
Allah...ketika kita begitu membutuhkan.
Siapa yang melapangkan dari kesulitan, semoga Allah lapangkan dia saat 
kesulitan menyapa.

3 kisah di bawah ini insya allah benar... tidak ada rekayasa dan bersumber dari 
pihak yang bisa dipercaya kebenarannya.


1. Kunang-kunang kecil itu...

Kaki-kaki kecil itu lincah bergerak. Ditangannya sepiring nasi ayam dan
sendok yang siap disuapkan. Berlarian ia mengejar bocah gembil 3
tahun-an yang sulit makan. Ia kakak yang baik. Ia kakak teladan, gumam
saya. Ia tak pernah lelah berkejaran, berlari berputar-putar seperti
gasing, berusaha segenap daya untuk menyuapkan makan siang itu di mulut
adiknya yang selalu riuh dan protes. Meski sang adik kerap menggoda
dengan berlari zig-zag dan tertawa-tawa menyemburkan makanannya
kembali, sang kakak tetap gembira menyuapinya. Berapa umurnya? Ah,
waktu itu usianya baru sekitar 9 tahun. Dan sang ibu sedang hamil tua,
terlalu lelah untuk bermain kejar-kejaran seperti itu. Dan ia dengan
tangkas mengambil alih peran ibu yang tengah letih.

Saya pernah bilang ke ibunya. “Mbak, Indun itu terlalu manis untuk
seorang anak-anak.” Tak ada maksud apa-apa. Hanya kekaguman spontan
melihat bocah kecil yang begitu terampil mengurus adik-adiknya. Sang
ibu hanya tertawa dan mengangguk. Dalam hati saya berkata, tentu karena
ibunya yang juga luar biasa mendidiknya. Seorang anak-anak, dalam
bayangan saya, tentulah memiliki potensi ‘kenakalan, kebandelan atau
pembangkangan-pembangkanga
n’ meski dengan kadar yang berbeda-beda. Tapi Indun terlalu manis,
terlalu penurut, dan ah… terlalu sempurna untuk seorang anak-anak. Ia
selalu bersegera ketika ayah dan ibunya meminta sesuatu. Tak pernah
sekalipun perintah itu diulang. Ia akan bergegas bahkan ketika ibu atau
ayah belum menyelesaikan kalimatnya.

Saya pernah tertegun mendengar cerita Mas Tomi, ayahnya. Sebagai anak,
Indun belum pernah sekalipun menyusahkan. Ia sudah terbiasa mandiri
sejak kanak-kanak, bahkan ia sendiri lupa apa ia pernah mengajarkan
hal-hal seperti itu padanya. Ketika ayah dan ibu masih berjuang membuka
kelopak mata yang berat dan adik-adiknya asyik bergelung selimut, si
sulung sudah terbangun berjingkat menyalakan lampu kecil di kamar
mandi. Kecipak air wudhu si Sulung yang rutin terdengar setiap pagi
menjadi alarm yang manyadarkan seisi rumah bahwa pagi telah menjelang.
Ia bagai kunang-kunang kecil yang terus berpendar membuka hari dengan
senyuman. Padahal waktu itu ia masih sekolah TK!

Jam enam pagi ia sudah bersih dan wangi. Padahal sang adik perempuan
yang akan berangkat bersamanya masih berdebat dengan sang ibu tentang
mengapa ia harus segera mandi dan sarapan. Ia selalu begitu. Setiap
pagi menunggu adiknya selesai berkemas sambil mengulang pelajaran di
ruang depan. Sesekali ia melongok ke kamar mereka, memeriksa apakah
perlengkapan sekolah adiknya sudah siap semua. Ia merapikan
berjajar-jajar di tempat tidur sambil menunggu waktu. Ah, siapa yang
meragukan ia bukan anak yang baik?

Sore hari sepulang sekolah pun begitu. Tak ada yang menyuruhnya
merapikan pakaian. Tak perlu ada yang mengingatkannya mengaji ke
masjid. Ia akan lakukan sendiri dengan riang gembira. Ia akan bergegas
memacu sepedanya ke surau belakang rumah yang berjarak sekitar 500
meter dan selalu menjadi murid pertama yang tiba di sana. Tikar
digelar, meja-meja kecil di letakkan berjajar. Lalu dengan takzim ia
menunggu sang ustdaz datang sambil lamat-lamat membaca Alqur’an.

Lalu tiba-tiba saja berita itu terdengar. Bagaimana mungkin saya tidak 
menggigil?

Indun, si kakak teladan, kunang-kunang kecil itu terserang stroke. Kaki
dan tangannya lumpuh. Ia tak bisa lagi bergerak licah berlarian
menyuapi adiknya. Ia harus berjuang keras untuk menggerakkan kaki dan
tangannya. Bagaimana bisa?? Ia masih sangat kecil? Bukankah penyakit
itu sewajarnya tidak menimpa anak-anak? Air mata saya kembali mengalir
mengingat pertemuan kami dua minggu lalu di Resto pecel Madiun. Ia
tampak sehat, momong 3 adiknya dengan lincah. Ia seperti anak-anak
lain. Tak ada yang berubah. Pipinya merona merah, matanya bersinar dan
senyumnya terus mengembang.

Ternyata, menurut sang ayah, sahabat baik keluarga kami, Indun stroke
karena penyakit jantung bawaan sejak lahir. Entah bagaimana penjelasan
medisnya, tapi kurang lebih karena jantungnya tidak berfungsi dengan
baik untuk memompa darah sehingga ada penyumbatan di pembuluh darah.
Menurut dokter, ada kemungkinan operasi namun dengan biaya yang sangat
mahal.

Sahabat, dari lubuk hati terdalam, saya memohonn keikhlasannya untuk
mendoakan ananda Indun, semoga segera disembuhkan, segera dilenyapkan
semua penyakitnya. Jika ada diantara para sahabat yang memiliki
informasi tentang rumah sakit yang dapat memberikan keringan atau
lembaga-lembaga yang dapat membantu, mohon dapat diinformasikan kepada
kami.

Saat ini Alumni Budi Mulia tengah menggalang dana untuk meringankan
beban Mas Tomi dan sekeluarga. Apabila ada sahabat yang berkenan
menyalurkan bantuannya mohon dapat dikirimkan ke Bambang Soetono, Bank
BCA no 3451644716 atau Bank Mandiri No 122-00-0486934-6

Kaki-kaki kecil yang berlarian itu kembali membayang. Ia si
kunang-kunang kecil, jangan biarkan sayapnya lemah dan ringkih...
biarkan ia tetap menjadi kunang-kunang yang berpendar membuka pagi
dengan senyuman....

Ia kunang-kunang kecil kebanggaan kami...
Muadz membutuhkan kasih kita... (sumber dari fb adesiti)
--

2. Muadz kecil kita membutuhkan bantuan...

Assalamualaikum,
Namaku Muad'z Jamaluddin Hamid, umurku sebentar lagi 2 tahun, tepatnya
Maret ini. Nama Abiku Marhaban Syaiful Hamid dan Umiku Iseu Siti
Aisyah. Kecil-kecil gini aku udah punya adik namanya Muhammad Athian
Hamid (9 bulan).
Kata Umiku dari sejak lahir aku didiagnosa tetraloggy fallot (kelainan
jantung bawaan), ah gak tau apa artinya.......Kata dokter ada empat
kelainan, penyempitan pembuluh darah ke paru-paru, bocor, harusnya dua
pintu ini malah satu pintu sama jantungnya bengkak.

Gak tau deh istilah kedokterannya banyak, ada PDA, VSD de.. el..el. Aku
sih gak mau dipusingkan dengan istilahnya, yang jelas yang aku rasakan
dada terasa sesak, kayak habis lari, itu tiap hari. Yang paling gak
enak kalo lagi batuk ama flu, dada ini terasa sesak sekali, sampai
kulitku terlihat hitam dan kuku-kukuku sama bibirku hitam. Makin
keliatan lagi kalo lagi nangis. Umiku selalu ngingetin aku jangan suka
nangis, soalnya kalo nangis jadi lemes. Tapi gimana yah kerjaanku
nangis melulu.
Rasa sakit kadang-kadang suka muncul, kalo tidur malem-malem suka
jerit-jerit. Sakit sih. Kadang Umiku gak ngerti apa mauku, makanya
nangis, maklum aku belum bisa ngomong, dan juga belum bisa jalan.

Ah, seharusnya aku sudah jalan seperti yang lainnya. Berat badanku juga
terus merosot, aku susah makan. Bukan aku gak mau, kalo makan suka
batuk-batuk trus muntah.
Aku sekarang kalah sama adikku, dia tumbuh makin besar dan cakep,
kulitnya putih. Dia suka nindihin aku, sampai hidungku berdarah. Aku
mudah sekali berdarah, darahnya item lagi. Aku gak mau dideketin dia,
bukannya aku gak sayang, tapi sakit badanku.

Kata dokter, aku harus segera dioperasi, mumpung masih bisa dilakukan.
Kalo sudah rusak gak bisa dioperasi, malah katanya bagian bilikku sudah
gak berkembang. Katanya operasinya dua tahap dan butuh dana 150 juta.
Sekarang abiku lagi ngurusin askeskin, tapi gak tau kabarnya sampai
sekarang. Denger-denger kabupaten Bandung udah habis kuotanya. Saat ini
hanya makanan kesehatan jadi andalanku buat bertahan. Aku merasa
semakin lemah, karenaku gak mau makan.
Please teman adakah yang mau bantu aku? Meringankan deritaku?
Terima kasih aku ucapkan sebelumnya.

(bantuan untuk Muadz bisa ditujukan ke:
Rekening a/n Marhaban
No Rek 1012746322
Bank Muamalat Indonesia
Cabang Bandung
Cp. Email Iseu: [email protected]
Telp: 081394079448)

3. Tentang Rita dan 4 kali perjuangan melawan kanker itu...

Assalamu'alaikum wr wb,
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Ijinkan melalui surat ini saya bercerita tentang : Kisah yang Benar-benar Nyata
Tentang Rita.
Rita*), berjilbab, 40 th, pada saat ini sedang berjuang melawan penyakit kanker
untuk yang ke tiga kalinya. Yang pertama: payudara 7 th yl (sudah diambi). Yang
kedua Desember 2009, rahim diambil (kanker servix). Sehat sebulan, meneruskan
bekerja, karena kecapean, drop. Saat ini ia terbaring di RS Dharmais sebagai
pasien Jamkesmasy. Sel-sel kanker sudah menyebar ke liver dan ginjal, perutnya
membesar, pernah disedot, dalam waktu 24 jam membesar lagi (isinya cairan).

Yang paling menakjubkan dari Rita adalah Semangat Hidupnya, sangat tinggi!
Ketabahan dan kesabarannya di atas rata-rata orang pada umumnya. Ketika serangan
sakit sedang datang, ia hanya meringis dan menyebut Allah, Allah, Allah, betapa
nikmat ujian Engkau. Tidak pernah mengeluh, senyuman terus mengembang pada tamu
yang bezuk. Katanya : Tidak Ada yang tidak Mungkin bagi Allah. Yang penting aku
berusaha semaksimal mungkin. Apalagi bagian-bagian dari tubuhku, nyawa sekali
pun, kalau Allah mau ambil, kuserahkan....Aku berterimaksih kepada Allah yang
telah memberi aku kehidupan, dan aku ikhlas Allah memberi sakit, asal Ia
mengampuni dosa-dosaku, tetapi sebagai hamba, izinkan aku melihat anak-anaku
dewasa, menikah, aku ingin melihat cucu-cucuku...

Bahkan saat terakhir saya membezuknya ia bilang ingin berangkat haji. Betapa
nikmatnya ya, shalat di Masjid Nabawi, thowaf dan semuanya... Ia juga berencana
keluar dari pekerjaannya dan menulis buku tentang kisah hidupnya, yang sejak
menikah sampai mempunyai dua orang anak, hanya KDRT yang ia alamai (secara
fisik, psychis, ekonomi dan sexual). Ia sungguh perempuan yang luar biasa! KDRT
yang terakhir dialami adalah ketika kepalanya dibentur-benturkan ke tembok dan
diseret ke luar rumah (halaman) sampai hidungnya berdarah-darah. Barulah ia
tidak sanggup dan pulang ke rumah Ibundanya. Pada waktu itu anak sulungnya 4 th,
adiknya 1 tahun. Pada saat itu barulah seluruh keluarga mengetahui bahwa ia
menikah dengan "orang sakit", karena selama ini ia tidak pernah mengeluh sepatah
kata pun! Kemudian ia menggugat cerai. Ketika menjanda itulah ia terkena kanker
payudara. Ia sudah berniat tidak akan menikah lagi (trauma)

Tapi Allah berkehendak lain, suatu hari ia berkenalan dengan seorang pemuda yang
lebih muda. Anak-anaknya jatuh hati kepada pemuda itu. Pemuda itu pun sangat
sayang pada mereka. Rita menganggap pemuda itu sekedar teman, tapi kedua anaknya
selalu merengek minta Ayah Sal*). Pemuda itupun meminta ia menikah demi
anak-anak. Neneknya menggoda, bagaimana kalau Bunda menikah dengan Ayah yang
dulu. Kedua anaknya dengan sangat tegas :m e n o l a k. Si Sulung pernah kabur
ke Terminal Grogol ketika melihat Ayah kandungnya mengunjungi mereka. Si Sulung
adalah saksi perlakuan ayahnya terhadap ibunya sejak balita. Setelah melalui
shalat istikharah berkal-kali, Rika mendapat isyarat bahwa Sal adalah sebuah
takdir.

Sekarang Sal adalah perawatnya yang sangat setia dan sabar. Inilah ternyata
rencana Allah. Ia sangat berterimakasih kepada anak-anaknya yang pernah
"memaksa" ia menerima Sal menjadi Ayah mereka. Saya pernah berkata kepada Sal :
" maafkan Rita ya, tidak bisa menjadi isterimu yang sempurna. Kasihani Rita ya.
Kalau kamu ikhlas, Allah telah menyiapkan hadiah buatmu, Sal..."

"Aku ikhlas dan ridha 1000 %. Justru aku sering merasa bersalah tidak bisa
memberi nafkah dengan baik pada anak-anak...". Itu jawaban Sal. Rita bercerita,
sebelum rahimnya diambil ia berkata pada suaminya : "Menikahlah lagi, Sal, asal
anak-anak tidak diberitahu dulu kerena mungkin mereka akan sangat kehilangan.
Nanti pelan-pelan kuberitahu, pasti ngerti, kok!". Tetapi ia menolak tawaran itu
dan menjawab "aku akan mendampingi dirimu sampai maut memisahkan kita".

Pada saat tulisan ini saya buat, Rita sedang menjalani berbagai tindakan medis.
Tubuhnya sudah penuh bekas suntikan. Dokter akan melalukan laparoscopy (kalau
tidak salah begitu istilahnya). Dari situ akan diketahui tindakan apa yang bisa
dilakukan: kemo atau operasi. Rita barusan mengirim sandek (sms). "Insya Allah
aku kuat, aku harus sembuh, anak-anak membutuhkan aku. Mereka mau ujian Bulan
Maret ini. Aku mau nulis. Aku akan bilang pada semua orang bahwaseberapapun
kesesuahan/kesulitan yang kita hadapi, Allah melarang kita putus asa. Usaha,
usaha, doa, doa. Allah tidak tidur, Mahamendengar. Apalagi banyak orang membantu
dan mendukung. Aku pasti sanggup menanggunya, kalau tidak, Allah sudah mengambil
nyawaku...."

Saudara-saudaraku, anak Rita, Sulung mau ujian kelas III SMU. Adiknya mau ujian
klas III SMP (laki-laki). Ayah kandung mereka sama sekali tidak peduli, bahkan
ketika Rita mengemis minta bantuan, khusus untuk bayar SPP. (Terpaksa Rita
lakukan karena kasihan melihat Sal banting tulang, kerja). Sulung sekolah sambil
jualan kue-kue....

Yang kuceritakan ini, sungguh-sungguh Kisah Nyata. Nyata dan Nyata, bukan fiksi.
Sungguh-sungguh sedang terjadi. Ijinkan saya memohon kepada saudara-saudara :
Panjatkan sepotong doa untuk kesembuhan, kekutan, ketabahan Rita menjalani
cobaan Allah. Panjatkan doa untuk Sal. Semoga mereka dapat melewati ujian berat
ini dengan hasil : LULUS. Doakan Rita, agar ceita-cita shalat di Masjid Nabawi
dan mengelilingi Ka'bah tercapai, amin ya Rabbal 'alamin...

(Seperti diceritakan Mbak Nening Mahendra-milis pembacaasmanadia-
Bantuan untuk Rita (Rika Adriana) bisa disampaikan melalui:
Rek BCA 3051242970 atas nama Rika Adriana E (Jakarta).


---

Nikmat sehat bagiku ya Allah
bagi anak-anak dan semua yang kucintai
Semoga bisa kuungkapkan rasa syukur
paling tidak dengan mendoakan sungguh-sungguh
setiap saudara yang sakit...
semoga Allah memberikan kesembuhan, kekuatan untuk berjuang...

amin ya Allah

wass

Asma Nadia


      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

Kirim email ke